Mari Menulis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masjarakat dan dari sedjarah.”

PROLOG di atas ialah tjara Ejang Pramoedya Ananta Toer menjampaikan pesan tentang begitu mulianja aktivitas menulis –melalui tokoh Minke dalam buku Rumah Katja, episode terachir tetralogi Pulau Buru.

Eksistensi manusia bisa senantiasa dikenali tanpa halangan ruang dan waktu melalui tulisan. Tanpa meninggalken teks, jang menceritakan diri atau idenya, seseorang akan musnah digilas roda sedjarah.

Memindjam istilah Rolland Barthez –linguistic Perantjis— huruf, kata, kalimat atau naskah adalah penanda ide manusia. Iaitu djembatan antara manusia dan realitas objektip. Melalui tulisan, ide tertular antar-manusia, berkembang ke antar-kelompok, komunitas, budaja, bangsa dan menembus batas waktu.

Dengan menulis, seseorang sama sahadja merawat eksistensinya sepandjang sedjarah. Tanpa tulisan, eksistensi seseorang bisa diragukan.

Sokrates, salah satu peletak dasar filosofi modern itu bahkan sempat diraguken, njata atau tidakkah dia. Sebab  Socrates tidak meninggalken selembar naskah pun. Bahkan ada yang menduga bahwa ia itu hanja tokoh karangan Plato, jang dihidupkan dalam “Republik”.

Tapi lain lagi halnja Plato dan Aristoteles. Semua orang yakin mereka ada sebab mereka menulis. Pramoedya djuga demikian, kendati raganya tak lagi ada di muka bumi, dia tetap eksis dalam karja tulis jang ditinggalkannja.

***

MENULIS adalah proses kreatip. Sekaligus sebagai sebuah upaja seseorang untuk mengutjap terima kasih pada Tuhan Jang Maha Esa, jang telah memberikan karunia berupa akal budi. Dalam proses menulis, seseorang akan menemukan gairah dan kebebasan. Melalui tulisan, mereka menawarkan ide dan menularkan ilmu. Jelas itu berguna untuk merias wadjah peradaban.

Karena sumbang ide dalam teks-teks itulah seseorang eksis pun langgeng. Ide-ide jang sangat berpengaruh untuk manusia-manusia jang sedang berusaha menudju kemanusiaan.

Tabik untuk mereka jang terus menulis. Sekalipun mereka mati setjara phisik, ide dan nama mereka terus hidup dalam karja jang ditinggalken.

Pramoedya Ananta Toer, Romo YB Mangoenwijaya, Oemar Kayam, Victor Hugo, dan sederet penulis-penulis besar dunia jang telah mangkat itu tetap abadi; bersalin wudjud dalam bentuk ide-ide dalam tulisan. Sedjarah membingkai nama mereka dengan tjantik.

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospection,” kata Anais Nin, seorang penulis Perantjis.

Marilah menulis demi kemanusiaan dan kehidupan jang abadi. (*)

Pram Ngetik

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Mari Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s