Jerit Antasari dari Balik Jeruji: Bongkar!

JIKA GUSTI ALLAH MENGIZINKAN, akhir November ini buku saya, Antasari Azhar: Saya Dikorbankan, didistribusikan oleh Penerbit Imania. Buku ini adalah “sekuel” dari buku yang pernah saya tulis bareng rekan-rekan saya sesama wartawan pada 2009 lalu; Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu. Tapi, dalam sekuel ini, saya menulis sendiri, karena hanya saya yang punya banyak waktu untuk menggali data dan menyusunnya menjadi buku yang, tentu saja, masih jauh dari sempurna ini. Karena kesempurnaan hanya kepunyaan Allah Swt.

Continue reading

Advertisements

Jangan Khianati Cita-Cita Bangsamu!

….ketika kita sibuk saling menghina dan menjauh, di bagian lain Indonesia ini, yang luput dari perhatian kita, benalu yang seharusnya kita sapu makin asyik memperkosa Ibu Pertiwi.

Buat apa saling menghujat? Buat apa bersibuk-sibuk diri membuang daya-upaya membangun jurang dengan saudara sendiri? Buat apa? Buat apa, ha?!

Continue reading

Hantu Genosida di Balik Kabut Propaganda #2

Massacre has begun!

Dennis Small, seorang penulis Amerika yang mencermati aktivitas intelijen dunia Barat, mencurigai adanya propaganda untuk membutakan publik dunia demi berdirinya Kekaisaran Kapitalisme Barat –yang dimulai dari Indonesia. Small adalah satu dari sedikit orang yang memperhatikan genosida di Indonesia dengan cermat. Beberapa kali ia mengulas temuannya soal kaitan propaganda dan pembantaian di Indonesia –di mana pada akhirnya nanti model pembantaian ini diterapkan juga untuk mereka yang menolak Barat: negara-negara Dunia Ketiga.

Continue reading

Hantu Genosida di Balik Kabut Propaganda #1

”Ini adalah sejarah orang-orang yang akrab dengan darah orang lain. Kolonialisme, apartheid, perbudakan, pembersihan etnis, perang kuman, senjata kimia –mereka melakukan semuanya. Mereka menjarah negara-negara, memadamkan peradaban, memusnahkan seluruh populasi. Mereka berdiri telanjang bulat di atas panggung dunia tapi tak punya malu, karena mereka tahu, bahwa mereka memiliki lebih banyak uang, lebih banyak makanan, dan memiliki bom lebih besar.” (Arundhati Roy, The Cost of Living, hal. 144)

Selama periode 1965-1969, terutama 1965-1966, serangkaian pembunuhan massal terjadi di Indonesia: pembunuhan yang mengarah pada pembentukan institusi kekuasaan kuku besi Suharto. Pembunuhan yang membukakan pintu Indonesia bagi kapitalisme Barat.

Continue reading