Perkenalken

Bahwasanja Sebenarnja Saja Ini…………..

  • Book Author & Editor
  • Archery Lover
  • I Was Born to Reading, Writing, and Exploring Any Text or Script and New Experiences.
  • Those People Said I’m too Creative, alias bocor halus… πŸ™‚
  • Mbois (kata orang-orang lho ja…)
  • Romantis-Religius
  • Kerandjingan Berpetualang
  • Djatuh Tjinta kepada Gunung, Hudjan, dan Busur
  • Kadang manis, kadang melankolis, kadang sinis, kadang sadis, tergantung musim dan hidajah…

Propil 5-N

Silahken hubungi saia djuga di sini:

Advertisements

24 thoughts on “Perkenalken

  1. Jadiiii.. kamu adalah salah satu prajurit langit? Tolong jangan peluk aku terlalu dini, senja sore ini terlalu manis untuk dilewati πŸ˜‰

    salam,

    nona pencinta senja πŸ˜€

    1. Oh, maaf, aku bukan prajurit. Aku adalah Senopati yang memimpin prajurit-prajuritku untuk memerangi hati yang kering di Bumi *angkuh Hahaha πŸ™‚

      Salam balik
      Pecinta Gunung & Hujan πŸ˜‰

      1. Mmmm, terlepas dari diksi dan pengucapan, beda senopati dan panglima itu apa ya? *garuk2 pala :p

        Siap, salah bu. Koreksi *sungkem πŸ™‚

      2. Senopati nggak masuk dalam dongeng Hujanku, yang ada Panglima haha.. *ngeles

        umm..nggak terima sungkem, terimanya kopi lamongan. gimana?

      3. Tapi Senopati hidup di dunia wayangku e. Sepertinya perlu kesepakatan untuk cari solusi mana yang dipakai. Bahasa kan soal kesepakatan saja :p
        Wah, sayang sekali, saya senang berbagi semua hal, kecuali cinta, rokok, dan kopi. Mereka adalah bagian dari pagiku yg sempurna :p Wong Jowo to jeng? πŸ™‚

      4. Setuju. Semua itu hanya masalah kesepakatan. Senopati untuk wayangmu dan Panglima untuk dongengku. Dan mungkin ksatria untuk cerita yang kita tulis bersama πŸ˜‰ hehe

        Kopi dan pagi. Selain kabut yang turun perlahan di atas bukit. they are too perfect to ignored!

        Mana aja bisa. Kalau di Jawa jadi orang Jawa, saat di Sulawesi jadiorang Sulawesi :p asal jangan waktu di RSJ jadi orang gila ajah πŸ˜€ hahaha..

      5. Deal! *salaman lagi

        Dan ketika kabut datang sebagai pengganti hujan yang tak jadi datang, saat itulah dia datang dalam penampakannya yang paling sempurna πŸ˜‰ Kalau waktu itu datang, sepertinya mood Tuhan sedang bagus; Dia seperti menjatuhkan sepeting surga pada pagi itu. *halah πŸ™‚

        Wah, idem. Sebagai nomaden yang paradoks; hidup berpindah-pindah, tapi masih nyimpen KTP di dompet πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

  2. wuih ini blog penulis profesional lagi. ikut2an sungkem ah… ini bener “Marhaen Kultural yang Suka Kopi” rupanya

    1. Nah iya, kekurangan dalam karya (salah satunya kurang ditulis) adalah bukti kalo manusia itu makhluk yg selalu luput. *malah khotbah*.
      Jangan terlalu serius lah, Bu. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s