Jerit Antasari dari Balik Jeruji: Bongkar!

JIKA GUSTI ALLAH MENGIZINKAN, akhir November ini buku saya, Antasari Azhar: Saya Dikorbankan, didistribusikan oleh Penerbit Imania. Buku ini adalah “sekuel” dari buku yang pernah saya tulis bareng rekan-rekan saya sesama wartawan pada 2009 lalu; Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu. Tapi, dalam sekuel ini, saya menulis sendiri, karena hanya saya yang punya banyak waktu untuk menggali data dan menyusunnya menjadi buku yang, tentu saja, masih jauh dari sempurna ini. Karena kesempurnaan hanya kepunyaan Allah Swt.

Kasus Antasari ini, terus terang, menggelitik insting jurnalistik saya sejak saya masih berkecimpung “secara resmi” dalam dunia kewartawanan mainstream, tahun 2009 lalu. Sebagai seorang (mantan) wartawan yang berangkat dari terminal desk hukum dan kriminal, saya melihat banyak yang (di)janggal(kan) dalam kasus tersebut. Namun, waktu itu saya tak bisa mengeksplorasinya lebih jauh karena terbentur kesibukan dan tanggung jawab saya terhadap institusi yang menghidupi saya. Juga karena kepentingan yang bla, bla, bla…

Setelah saya “pensiun”, naluri investigasi saya sebagai (mantan) wartawan untuk terus mencoba menguak kejanggalan-kejanggalan tersebut kian menendang-nendang. Makin liar. Apalagi saya juga lebih bebas untuk menyeruak-ruaknya karena saya tak lagi punya “tanggung jawab moral” terhadap institusi media manapun atau kepentingan apapun yang membekingnya. Ruang saya lebih luas. Tanggung jawab saya, sebagai individu maupun warga negara, hanya pada diri saya sendiri, masyarakat, dan terutama Gusti Allah, Sang Pemilik Kebenaran dan Rahmat Semesta Alam.

Dan, alhamdulillah, saya berhasil merampungkan buku ini dengan dukungan penuh dari tim pengacara Antasari Azhar. Sebisa mungkin saya berusaha untuk menempatkan posisi saya seobjektif mungkin, dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Tapi, jujur saja, saya sadar jika wacana yang saya suguhkan dalam buku ini condong ke Antasari. Semua itu tak lebih dari bentuk simpati saya terhadap dia–terlepas bagaimanapun rekam jejaknya di masa lalu.

Adakah orang yang tak pernah berbuat salah? Termasuk Antasari, juga saya, pernah berbuat salah. Tapi, ingat, semua manusia mendapat kesempatan yang sama untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Dan aturan main itu berlaku juga untuk Antasari. Juga saya. Juga Anda. Kita semuanya.

Dalam prosesnya memperbaiki diri, Antasari Azhar bersuara. Lantang, tak seperti lima tahun lalu ketika kasusnya baru saja “diletupkan”. Iklim politik berubah, demikian juga hukum. Seperti kata Daniel S. Lev, pakar hukum dan politik dari Amerika, realitas hukum itu berkelindan dengan kenyataan-kenyataan politik. Antasari sadar itu. Maka, dia tahu, kinilah saat ia bersuara!

Dan inilah jerit Antasari Azhar dari balik jeruji Lembaga Pemasyarakatan Tangerang, yang bakal disematkan sebagai kata pengantar dalam buku saya:

Bongkar….!!!!   Bongkar….!!!!

Sampai saat ini, kata-kata  itu terus terngiang dalam benak saya agar membuat terang kasus yang terjadi, yang sebetulnya tidak sulit membongkar hal tersebut. Sementara pintu masuk untuk membongkar kasus ini sudah terbentang di hadapan kita, antara lain: membongkar, menyelidik, dan menyidik SMS (short message service) yang, katanya, bersumber dari saya, sementara dalam persidangan tidak pernah terbukti.  

Hal itu sudah dilaporkan ke penyidik Polri 3 tahun yang lalu. Tetapi, sampai saat ini tidak ada ujung pangkalnya, serta tidak jelas apa alasannya, sehingga sampai sekarang hal ini belum dibongkar. Jika hal itu terbongkar, maka terlihatlah simpul permasalahan ini, yaitu apa yang menjadi motif pembuat SMS fiktif tersebut: apakah sekadar untuk menarik saya agar masuk dalam kasus ini?

Namun demikian, saya memberikan apresiasi terhadap terbitnya buku ini, yang telah memuat sebagian besar fakta, yang jika fakta tersebut disimak dengan cermat dan dengan pikiran jernih, maka tidak sepantasnya kami menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan sampai saat ini. Namun, sebagai orang yang beriman, kami menyadari bahwa semua ini adalah hal yang semestinya kami lalui sebagai umat yang tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, bukan dalam kasus ini, di mana telah terbunuhnya almarhum Nasrudin Zulkarnaen

Memang, kami tetap dinyatakan bersalah oleh beberapa proses peradilan yang telah dilalui dalam kasus ini. Namun, putusan yang menyatakan bersalah itu kami rasakan tidak berkeadilan. Apalah artinya penegakan hukum yang tidak berkeadilan?

Permasalah ini mungkin tidak akan berlarut-larut  sampai saat ini apabila seluruh proses  peradilan menaati alur sistem peradilan pidana yang sudah diatur dalam KUHAP,  sehingga dapat dikatakan bahwa proses peradilan pidana kasus ini tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Hal ini dapat dibuktikan dalam rincian sebagai berikut :

Pencekalan pasport saya yang diterbitkan pada tanggal 1 Mei 2009, padahal saya dinyatakan menjadi tersangka pada tanggal 4 Mei 2009 (mencekal sebelum menjadi tersangka);

Ketika saya dijadikan tersangka, saya masih berstatus Jaksa Aktif, yang menurut pasal 8 ayat 5 UU No. 16/2004 tentang kejaksaan RI, bahwa; “Dalam hal melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (4), jaksa diduga melakukan tindak pidana, maka pemanggilan, pemeriksaan, penggeledahan, penangkapan, dan penahanan terhadap jaksa yang bersangkutan hanya dapat dilakukan atas izin Jaksa Agung“. Hal itu diabaikan penyidik.

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, yang mempertimbangkan keterangan saksi untuk menjatuhkan pidana 18 tahun terhadap saya, padahal keterangan saksi tersebut, yang bernama Hendrikus, tidak pernah diperiksa di muka sidang.

Seandainya apabila kami uraikan dalam kata pengantar ini, terlalu banyak kejanggalan yang ada. Tetapi, pembaca dapat mencermati isi buku ini secara detail. Saya berharap, setelah pembaca maupun pihak-pihak yang berwenang membaca buku ini, akan tergerak nurani keadilannya dan kewenangan yang ada padanya untuk membongkar kasus ini secara tuntas, siapa pun yang terlibat di dalamnya. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat yang tidak hanya untuk saya saja, tetapi juga untuk masyarakat pada umumnya dalam mencari keadilan.

Harapan dan doa saya, semoga kasus serupa cukuplah terjadi pada diri saya saja, tidak terjadi pada masyarakat lain pada umumnya. Kebijakan menjadikan hukum untuk mengkriminalisasi dan membunuh karakter orang lain sudah selayaknya dihentikan.

 

SESEMPURNANYA REKAYASA DILAKUKAN, TETAP AKAN TERLIHAT KEJANGGALANNYA

LAILLAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADZALIMIN

 

 

Tangerang, 2 Agustus 2014

ANTASARI AZHAR

 Cover Antasari Azhar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s