Memugar “Pramisme”

PRAMOEDYA ANANTA TOER takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Kuasa waktu memang telah mengakhiri lakon tubuhnya di muka bumi dan kehidupan, namun ruh dalam tulisan-tulisannya, kalimat-kalimatnya, kata-katanya, petuah-petuahnya, akan senantiasa hidup dan menyisir zaman, tinggal dalam akal dan hati orang-orang yang masih peduli pada kemanusiaan, keadilan, keberanian, dan cinta.

Pram menulis, sebab itu ia abadi; dalam ingatan anak-anak bangsa yang masih peduli dan mengerti bahwa untuk bangsa sebesar Indonesia, harga diri wajib dipunyai. ”Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?”

Pram selalu mengajak kita agar selalu menjadi musuh ketidakadilan, penindasan dan kebodohan. Sebab, ”Dunia ini bukan surga. Ketidakadilan ada untuk dilawan. Itu memberikan semangat hidup.”

Pram

***

Ya, saya adalah pengagum Pramoedya Ananta Toer. Dan saya diam-diam menggendong sesal. Sebab, saya tak pernah sempat bertemu Pram langsung hingga wafatnya, 30 April 2006 lalu, atau sepuluh tahun sejak penggerebekan toilet itu. Padahal saya sangat ingin bertemu dan belajar lebih banyak, langsung darinya. Saya terus berusaha mencari cara untuk menemuinya. Sayang, nihil. Diam-diam saya merasa iri dengan wartawan dalam dan luar negeri yang berhasil mewawancarainya langsung. Namun, pada akhirnya saya harus mahfum pada salah satu kalimatnya dalam Kemudian Lahirlah Dia; “Kewajiban kita hanya berusaha. Tapi bila keadaan lain dari yang kita harapkan, itu bukan urusan kita lagi.” Ya, sudahlah, suratan tidak memungkinkan kami untuk bertemu langsung.

Secara pribadi, saya agak terpukul ketika saya ingat belum sempat berterima kasih padanya untuk segala pencerahan yang saya terima, kendatipun saya yakin dia tak butuh rasa terima kasih itu. Karena, seperti yang tersurat maupun tersirat dari tulisan-tulisannya, Pram hanya menulis apa yang ia ketahui, apa yang ingin dia tulis, untuk negerinya, untuk bangsanya, untuk kehormatan dan kedaulatan manusia, dan tak pernah memburu ucapan terima kasih dari siapapun. Namun, saya juga yakin, saya bukan satu-satunya orang yang ingin berterima kasih kepadanya.

Tapi, sebagai manusia yang tahu kewajiban berterima kasih, saya dan teman hidup saya yang juga sangat mengagumi Pram, tetap bertekat untuk melakukan sesuatu yang konkret untuk berterima kasih kepadanya. Hingga kami pun sepakat menyusun buku sederhana ini. Kami bahu membahu selama beberapa bulan untuk membaca kembali buku-bukunya, artikel tentangnya, dan tulisan-tulisan esai serta cerpennya, lalu menyaring kutipan-kutipannya yang, menurut kami, mengandung makna yang sangat dalam. Kami juga menukil pernyataan Pram dari hasil wawancara beberapa media dari masa ke masa. Tentunya, semua pilihan wishdom dalam buku ini berdasarkan subjektifitas kami. Karena itu, mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan di sana-sini, karena keterbatasan waktu dan ingatan kami.

Kami melakukan ini bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk menggurui. Bukan “sok radikal”. Tidak. Pikiran seperti itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kami. Tapi hanya untuk, sekali lagi, menunjukkan rasa terima kasih kami pada Pram atas segala pencerahannya, sekaligus mengikat ingatan kita pada “ajaran-ajaran” Pram tentang manusia dan kemanusiaan, terutama soal cinta.

Pram adalah pria romantis, begitulah menurut pasangan saya ketika kami membaca kembali buku-bukunya dalam proses penyusunan buku ini. Dia terpesona pada salah satu kutipan dalam Menggelinding 1: ”Bila cinta tak dapat memaafkan, tak adalah cinta yang berumur panjang.” Bijak dan romantis sekali, menurutnya. Memang, pasangan saya adalah “pengikut” Pram. Karena itulah, tak heran jika saya melihat sosok Ontosoroh padanya. Sosok yang lebih memilih cinta daripada “gemerincing ringgit”, persis seperti yang pernah diucapkan Sang Nyai dalam Bumi Manusia, di mana kutipannya kami cantumkan juga dalam buku ini.

Terima kasih sebesarnya untuk penerbit Edelweiss yang telah memberikan kami kesempatan untuk menganyam rasa terima kasih kami pada Pram, sekaligus menyuplai banyak buku Pramoedya Ananta Mastoer yang tak sempat masuk dalam koleksi pribadi kami—atau yang pernah kami miliki tapi entah ketlingsut di mana—sehingga isi buku ini lebih meriah.

Sastra adalah cermin dari kita dan kehidupan. Kadang kenyataan hidup memang pahit. Tapi dia ada. Begitu pula dengan sastra realisme sosialis, memang pahit untuk sebagian orang, tapi itulah cermin kehidupan. Saya hanya bisa berharap, semoga saja realisme sosialis itu tak harus kembali mengalami miris, ketika dia diharuskan kembali tergiring ke dalam ruang sunyi toilet dan diklasifikasikan sebagai karya pesing; hanya karena dia menolak tunduk pada lupa dan hura-hura pasar bebas yang kian melindas.

Semoga saja tidak. Semoga masih banyak penulis yang setia pada prinsip: “…berlaku adil sudah sejak dalam pikiran…”

Pram_2

Advertisements

One thought on “Memugar “Pramisme”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s