Yang Kita Lupa: Dari Papua, Freeport Mengganyang Indonesia

PAPUA JUGA INDONESIA!

GERBONG swastanisasi Indonesia berangkat pada tahun 1967. Dan perjanjian dengan Freeport di Papua adalah perjanjian eksploitasi tambang pertama yang dibikin Indonesia.

Jumat, 7 April 1967, Freeport Sulphur of Delaware menandatangani kontrak dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75-100 juta dollar AS. Dalam kontrak disebutkan tembaga, bukan emas[1]. Dan inilah kontrak pertambangan pertama yang ditandatangani di era Suharto.

Penandatanganan dilakukan di Departemen Pertambangan, di mana Pemerintah Indonesia diwakili Menteri Pertambangan kala itu, Slamet Bratanata. Freeport diwakili presidennya, Robert C Hills, dan Presiden Freeport Indonesia, Forbes K. Wilson.

Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektare untuk kontrak selama 30 tahun, terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972, untuk pertama kalinya dilakukan pengapalan 10.000 ton tembaga dengan tujuan Jepang.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan kontraktor pertambangan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA waktu itu, John McCone, punya saham di Bechtel. Sedangkan mantan Direktur CIA, Richards Helms, bekerja sebagai konsultan internasional perusahaan itu pada tahun 1978.

Penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No 11/1967, yang disahkan pada Desember 1967. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Sukarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Setelah itu ditandatangani juga kontrak eksplorasi nikel di Irian Barat dan di area Waigee Sentani. Kontrak ditandatangani oleh PT Pacific Nickel Indonesia dan Kementerian Pertambangan Republik Indonesia. Perjanjian dijalin oleh E OF Veelen dari Koninklijke Hoogovens, Soemantri Brodjonegoro –Menteri Pertambangan RI yang menggantikan Slamet Bratanata—, dan RD Ryan dari US Steel. Pacific Nickel Indonesia adalah perusahaan yang didirikan secara patungan oleh Dutch Koninklijke Hoogovens, Wm. H. Müller, US Steel, Lawsont Mining, dan Sherritt Gordon Mines Ltd.

Perjanjian-perjanjian pertambangan di Indonesia itu disusun dengan cara yang sangat ganjil. Terutama di Papua. Dalam perjanjian, seharusnya Freeport menambang tembaga. Namun, pada kenyataannya, mereka juga mengeruk emas dan perak. Freeport sangat bebas menjalankan aksinya sebab di masa awal pengerukan, mereka berhasil mengamankan situasi berkat bantuan ”prajurit-prajurit lokal teman baik mereka”. Apalagi di masa itu tak ada media yang sebebas kini. Dan, kendati distribusi informasi kini katanya ”sudah bebas”, toh, tidak ada berani menyerempetnya.

Perjanjian janggal lainnya adalah penambangan nikel oleh Pasific Nickel. Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar menambang nikel? Mereka diyakini sedang menambang perak, namun dalam perjanjian tertulis nikel.

Begitulah. Semua perjanjian eksploitasi tambang di Indonesia dilakukan dengan tak wajar, tak adil, dan terus-menerus. Perjanjian-perjanjian tersebut berlaku selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Kekayaan alam Indonesia digadaikan, terjual, dirampok, dibawa kabur ke negara-negara Barat, tanpa sedikitpun menyejahterakan rakyat Indonesia.

Pada tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran, sebuah perusahaan milik seorang taipan bernama Jim Bob Moffet, lalu menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Pada tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A. Maley, menulis sebuah buku berjudul Grasberg. Dalam karya tulis setebal 348 halaman itu, ia memaparkan jika tambang emas di Irian Barat memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan bijih tembaganya menempati urutan ketiga.

Menurut Maley, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga senilai 40,3 miliar dollar AS, dan masih akan menguntungkan untuk 45 tahun ke depan. Karena itu, tak heran jika pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono memperpanjang kontrak Freeport hingga 2041[2]. Sebab, sesuai dengan perhitungan Maley, emas di Freeport baru akan habis tahun 2040.

Freeport ingin mengeruk habis kekayaan Papua, tanpa menyisakan sedikitpun untuk Indonesia.

Maley dengan bangga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Papua Barat itu merupakan yang termurah di dunia! Prinsip ekonomi kapitalisme liberal benar-benar diterapkan Barat di Bumi Pertiwi: dengan modal sekecil-kecilnya meraup untung sebesar-besarnya!

Dan Indonesia, negeri ini, masih mempersilakan diri untuk diganyang.

Menurut kesaksian seorang reporter CNN, yang diizinkan meliput areal Freeport dari udara dengan helikopter, tahun 1995, ia mendapati gunung emas tersebut berubah menjadi lembah yang dalam. Emas, perak, dan tembaga di gunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua hingga ratusan tahun ke depan. Limbah inilah yang harus ‘dinikmati’ saudara-saudara kita di Papua sana.

Gunung emas yang telah terkeruk sebagai lembah, di Papua.

Menurut penelitian Greenpeace, Operasi Freeport-McMoran di Papua telah membuang lebih dari 200.000 ton tailing ke sungai Otomina dan Aikwa setiap hari, yang kemudian mengalir ke Laut Arafuru. Hingga 2006, Freeport diperkirakan sudah membuang tiga miliar ton tailing, yang sebagian besar berakhir di lautan. Sedimentasi laut dari limbah pertambangan hanyalah satu dari berbagai ancaman yang merusak masa depan lautan kita[3].

Sukarno menyadari segala dampak buruk itu sejak jauh hari. Jika Papua sampai jatuh dalam genggaman kapitalisme, urusan jadi ribet. Sebab itu ia menyatakan tegas menolak Forbes K. Wilson, ketika direktur Freeport itu menawarkannya investasi di Papua, pada tahun 1964. Sebab itu,Sukarno ingin Indonesia belajar sistem ekonomi di Rusia, dengan mengirimkan putra-putra terbaik bangsa untuk mendulang ilmu di Negeri Beruang Merah. Dia telah mengantisipasi segala kemungkinan buruk tersebut.

Namun, apa daya, Sukarno tersungkur lewat Gestapu. Rencananya kacau balau. Mahasiswa Indonesia yang diutusnya mengenyam ilmu di Rusia terpaksa menjadi orang tanpa kewarganegaraan alias stateless, setelah peristiwa itu. Mereka dituduh pro-Sukarno dan karena itu harus disingkirkan. Beberapa di antara mereka diburu untuk dibunuh, sementara sebagian yang tak berhasil ditemukan dicabut hak kewarganegaraannya. Skenario menerapkan sistem ekonomi sosialis di Indonesia pun tumpas.

Sukarno dan Indonesia bersusah payah merebut Papua dalam perjuangan panjang di jalur diplomasi dan infiltasi militer. Lalu, Suharto mengobralnya, mengatasnamakan bangsa Indonesia. Menyakitkan.

Ketika para calon presiden berdebat soal pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional, beberapa waktu lalu, tak sekalipun mereka melirik bab ini. Bocor dan kedaulatan dikoar berkali-kali, dengan semangat menggebu-gebu, namun, kelakuan Freeport tak diserempet secara eksplisit. Sementara tim hore sibuk saling menjatuhkan satu sama lain, tak ingat bahwa ada saudara kita, di timur jauh sana, tersungkur akibat atraksi eksploitatif kaum modal.

Pada siapa lagi Indonesia berharap? Di Papua sana juga tinggal saudara-saudara kita. Mereka dihantui kehancuran alam yang bisa berujung pada tergilasnya peradaban. Mereka sendiri.

Papua juga Indonesia!

Ah, demokrasi ini tak acuh pada mereka. Demokrasi ini tak acuh pada Indonesia.

”Tidak heran jika Sukarno sangat tidak menyukai kita.

Dia harus duduk bersama orang-orang yang mencoba menggulingkan dia.”

Presiden John F Kennedy, setelah berjumpa Sukarno, tahun 1961.


[1] Data tulisan ini disarikan dari buku The Assassinations: Probe Magazine on JFK, MLK, RFK, and Malcolm X, James DiEugenio, Lisa Pease, Judge Joe Brown, Februari 2003.

[2] Kontrak Freeport Diperpanjang sampai 2041, Ini Pertimbangan Pemerintah, Kompas.com, 8 Juni 2014. 

[3] Laut Indonesia dalam Krisis, Greenpeace

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s