Mengenang Benteng Ekonomi Sukarno

SUKARNO kukuh membentengi negeri ini dari kurang-ajarnya terkaman ekonomi liberal. Selama Sukarno berkuasa, niatan Barat untuk menggerayangi Ibu Pertiwi berhenti di tataran ilusi.

Sukarno mencintai rakyat dan negerinya. Dia tak rela jika kekuatan asing mengendalikan kehidupan ekonomi dan budaya Indonesia. Jangankan intervensi langsung—berupa intervensi fisik dan investasi—turut campur Barat hanya dalam bentuk pertanyaan pun disanggahnya mentah-mentah.

Ketika Monumen Nasional (Monas) didirikan pada tahun 1961, datang kritik dari Amerika. Duta Besar Amerika waktu itu, Howard P. Jones, bertanya pada Sukarno: ”Indonesia, kan, negara miskin, kenapa membangun monumen berpucuk emas murni yang melambangkan kemakmuran?”

Bung Besar menjawab lugas, “Rakyatku urusanku, bukan urusanmu!”[1].

Si penanya pun terdiam. Betapa tegasnya Presiden Indonesia waktu itu.

Bung Karno sadar pentingnya minyak. Hasil tambang ini mengendalikan perekonomian dunia di era industri. Dia paham, bahwa Indonesia memiliki banyak sumber energi, yang bisa membikin negeri ini disegani dunia. Bahwa Barat, khususnya Amerika, sedang berusaha menguasai sumber-sumber minyak, demi memperlekas derap industri mereka, di mana itu idem dito dengan menguasai dunia, Sukarno pun paham itu.

Barat ingin membangun Dunia Baru. Dunia tanpa batas-batas budaya dan ekonomi. Borderless world. Globalisasi yang dikemas dalam ilusi bernama demokrasi, yang makna sebenarnya ialah pengejawantahan keserakahan Barat. Sukarno menentangnya.

Setelah kunjungannya ke Amerika Serikat dan Uni Soviet, tahun 1959, Bung Karno kian sadar, bahwa negara-negara maju sedang rebutan minyak. Negara kecil penghasil minyak langsung disergap. Ada yang digasak dengan cara kasar, seperti Korea atau Vietnam. Ada yang didekati secara halus, seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, dan Negara Timur Tengah lainnya. Sukarno sadar, waktu itu Indonesia sedang dipengaruhi dengan cara halus, dengan rayuan investasi. Sukarno juga sadar tak mungkin Amerika bisa main kasar, mengingat posisi Indonesia yang sangat strategis di Asia Pasifik.

Bung Karno mempelajari bagaimana Amerika membangun kerajaan minyaknya. Ia merancang strategi untuk membendungnya. Ia tak sudi Indonesia menjadi persemakmuran minyak di bawah telapak kaki Paman Sam.

Kala itu ada tiga pemain besar yang menguasai industri minyak Indonesia, yaitu Shell, Caltex, dan Stanvac. Semua milik asing. Amrik. Menyikapi kenyataan tersebut, pada tahun 1959, Sukarno menyampaikan pidatonya yang sangat menggelora: Penemuan Kembali Revolusi Kita. Dalam pidatonya, Sukarno menyampaikan pesan, agar Indonesia kembali ”mengobarkan perang” untuk merebut lahan-lahan konsesi yang dikuasai asing. Ia merasa orang luar terlalu mendikte Indonesia[2].

Sukarno membenci konsensi, atau penguasaan, lahan secara total. Di Indonesia, kala itu, ada wilayah-wilayah yang menjadi kantong khusus perusahaan asing. Pemerintah Indonesia tidak bisa memasukinya. Pejabat setingkat menteri pun tak bisa menapaki wilayah tersebut. Inilah yang membuat Sukarno gerah. Indonesia tuan rumah, kenapa harus dihalang-halangi seperti maling?

Sukarno langsung berkomunikasi intens dengan orang kepercayaannya di kabinet, Chaerul Saleh, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan[3]. Atas instruksi Bung Karno, Chaerul menyusun UU untuk membatasi konsesi. Bung Karno dan Chaerul juga merancang strategi agar Pertamina membangun armada kapal tanker dan strategi bisnis brilian. Pertamina diproyeksikan menjadi perusahaan minyak terbesar di Asia dan dunia, yang berperan sebagai tambang modal dasar pembentukan BUMN. BUMN sendiri dipersiapkan menjadi kekuatan ekonomi-politik Indonesia.

Langkah mulai terayun. Chaerul merancang RUU anti-konsesi asing. Berkat lobi kawan-kawannya di Parlemen, RUU ini gol, lalu disahkan oleh Sukarno menjadi UU No. 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak.

Poin terpenting UU itu adalah pasal 3, yang berbunyi: “Pertambangan Minyak dan Gas Bumi hanya diusahakan oleh Negara, dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh Perusahaan Negara semata-mata”. Undang-Undang inilah yang jadi amunisi Sukarno untuk memaksa perusahaan minyak asing merevisi kontrak-kontrak pertambangan di Indonesia.

Isi UU inilah yang kemudian membuat perusahaan asing kelabakan. Sebab, karenanya, mereka harus menyerahkan 60% laba pertambangan pada Indonesia. Sukarno juga merebut Irian Barat dari Belanda. Pada 3 Mei 1963, setelah Irian resmi menjadi bagian Indonesia, Sukarno berpidato di depan Front Nasional: “Tidak ada lagi bayi-bayi yang kelaparan di bawah kemakmuran ekonomi Indonesia!” Ia ingin Indonesia makmur sepenuhnya. Untuk mencapai cita-cita itu, Sukarno memilih berdikari.

Atas dukungan Sukarno pula Chaerul Saleh tancap gas membangun industri di Indonesia. Krakatau Steel dibangun, Pupuk Sriwijaya dibangun, seluruh industri digerakkan dengan cepat. Indonesia digiring menuju negara Industri yang kuat dan diprediksi bakal mempunyai peran penting di muka Bumi.

Sukarno, dibantu Chaerul juga telah menetapkan program jangka panjang: pada tahun 1975 Indonesia jadi negara terkaya di Asia. Kaya bermodalkan minyak, gas, dan perkebunan yang dikuasai negara.

Atas dasar cita-cita itulah Sukarno menolak campur tangan investasi asing di negeri ini. Perusahaan minyak luar kebat-kebit. Di bagian lain, di luar urusan minyak, Freeport Sulphur kecele karena Sukarno tak memberikan mereka restu untuk mengobok-obok Papua. Pada tahun 1964, Direktur Freeport Sulphur, Forbes K. Wilson, datang menawarkan investasi penambangan emas di Irian Barat. Sukarno menyambutnya dengan senyum, dan menjawab tawarannya dengan ramah: “Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini. Coba tawarkan kepada generasi setelah saya.” Nada Sukarno memang ramah, tapi tentunya menyakitkan buat Freeport.

Sukarno membangun benteng ekonomi Indonesia.

Penolakan demi penolakan Sukarno pada rayuan kapitalistik itulah yang membuat para Barat pening sejuta keliling. Mereka marah. Mereka geram. Dan mereka merasa harus mendongkel Sukarno. Kepentingan bisnis membuat Barat gelap mata. Mereka tak rela jika pemerkosaan mereka terhadap hak bangsa lain terhalangi. Aktivitas intelijen meningkat. Sukarno dibidik sebagai musuh bersama.

Sayang, sejarah tak berpihak pada Sukarno. Ia terdongkel. Suharto mengambil alih singgasananya. Kiblat ekonomi Indonesia langsung berbalik arah. Suharto menyerahkan diri dalam cengkeraman liberalisme ekonomi Barat: yang sukses membangun kartel bisnis, menghadiahkan ketimpangan ekonomi-sosial di negeri ini.*

Jas Merah


[1] Pernyataan Sukarno tersebut seperti yang ditirukan oleh Muhammad Ramadhan Agung Yudhistira kepada penulis, Jumat 21 Maret 2014. Pernyataan itu tertuang dalam buku harian Sukarno yang sengaja ditiadakan oleh Pemerintahan Orba. Yudhistira adalah sejarahwan sekaligus penanggungjawab segala dokumentasi sejarah Sukarno yang sengaja tidak dilampirkan dalam sejarah. Ia pernah dipenjara oleh Pemerintahan Orde Baru selama 2,5 tahun di Penjara Cipinang, Jakarta, karena mendirikan partai berhaluan sosialisme dan marhaenisme. Ia dijerat UU Subversif dan ditahabiskan sebagai musuh politik Suharto. Setelah dibebaskan, hak-hak politiknya dicabut dan belum dikembalikan lagi hingga kini.

[2] Dari rekaman pidato Sukarno yang masih berbentuk pita kaset dan disimpan dengan rapi oleh Yudhistira. Isi kaset tersebut sengaja tidak dipublikasikan selama Orde Baru berkuasa.

[3] Chaerul Saleh Datuk Paduko Rajo adalah salah satu orang yang paling dipercaya Sukarno dalam membangun banteng perekonomian Indonesia kala itu. Chaerul lahir di Sawah Lunto, Sumatera Barat, 13 September 1916. Dia salah satu perumus naskah Proklamasi. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (1960-1965) itu pernah juga menjabat Wakil Perdana Menteri III, Kabinet Kerja IV dan Kabinet Dwikora I (13 November 1963-1966). Politisi yang dianugerahi pangkat Jenderal Kehormatan TNI AD, itu meninggal dalam status tahanan di Jakarta, 8 Februari 1967.Pendongkelan Sukarno, diiringi juga pendongkelan Chaerul Saleh,. Ia ditangkap di rumahnya dan dipenjara di RTM Salemba. Chaerul Saleh tiba-tiba meninggal di tahanan, kabarnya di dalam WC ia terjatuh. Ketika jenazah Chaerul Saleh dibawa ke rumahnya, Sukarni sahabat Chaerul Saleh marah-marah pada Adam Malik sesama anggota Partai Murba yang jadi anggota Triumvirat Suharto, karena Adam Malik tak mampu melindungi Chaerul Saleh.(Biografi Chaerul Saleh)

Advertisements

2 thoughts on “Mengenang Benteng Ekonomi Sukarno

  1. Mas tofik…
    Klo boleh tau…
    Da karya2nya MRA Yudhistira gak? Sbg ahli sejarah da karya tuk negeri gak dr Pak Yudhistira..?

    1. Sebuah karyanya pernah terbit di zaman era Orba, membahas sejarah melalui pendekatan sejarah agama. Tapi disidang sama MUI waktu itu, dan bukunya ditarik dari peredaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s