Membaca Kebajikan Nusantara dalam Sastra Majapahit

Dalam setiap budaya, ada sastra yang membahasakannya pada manusia. Sastra: ia semacam penanda, pedoman tentang bagaimana cara dan ke mana langkah sebuah peradaban terayun.

Sastra—atau ”shastra”—merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yang berarti ”teks yang mengandung instruksi atau pedoman”. Kata dasarnya ”śās”, yang berarti ”instruksi” atau ”ajaran”. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini biasanya mengalami penyempitan makna, karena semata-mata merujuk kepada ”kesusastraan”—atau jenis tulisan yang selalu membawa unsur keindahan dalam kemasannya. Misalnya, tulisan berbentuk puisi atau yang dikemas dalam majas-majas. Padahal, tak hanya itu.

Secara harfiah, semua tulisan yang memuat pesan-pesan dan petunjuk adalah sastra. Jika mengingat sastra—yang disampaikan melalui bahasa—merupakan hasil budidaya, pergulatan akal dan batin manusia, maka, bisa dikatakan jika sastra adalah petunjuk, penanda, yang mewakili budaya zaman di mana sastra itu hadir dan tumbuh. Budaya suatu zaman bisa dilacak melalui karya sastra yang dilahirkannya.

Jejak arkeologi Nusantara berkirim pesan pada kita, jika lembaran sastra tulis berbahasa Sansekerta di Nusantara dibuka sejak abad ke-5 Masehi, di mana Prasasti Mulawarman adalah penandanya. Prasasti Mulawarman, atau disebut juga Prasasti Kutai, adalah peninggalan Kerajaan Kutai. Prasasti terdiri dari tujuh yupa—yaitu prasasti yang dipahatkan pada tiang atau tugu batu—, namun baru empat yang berhasil dibaca dan diterjemahkan.

Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari, ditulis dalam puisi anustubh Sanskerta. Menceritakan Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan banyak sapi kepada para kaum Brahmana. Para sejarawan sepakat, prasasti ini merupakan bukti peninggalan tertua kerajaan Hindu di Indonesia.

Untuk sastra berbahasa Melayu, yang tertua adalah Prasasti Sojomerto, ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Wangsa Sailendra. Prasasti beraksara Kawi, berbahasa Melayu Kuna. Ia tidak menyebutkan angka tahun. Namun, berdasarkan taksiran analisis paleografi, diperkirakan ia berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.

Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isinya memuat silsilah keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra. Ayahnya yang bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati. Sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari, berpendapat, bahwa tokoh bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 sentimeter, tebal 7 sentimeter, dan tinggi 78 sentimeter. Tulisannya terdiri dari 11 baris, di mana sebagian barisnya rusak terkikis usia.

Itulah kelemahan karya sastra bermedia batu. Ia akan rusak disapu cuaca. Maka, pesan yang tertatah pun mengalami distorsi, sulit membentuk sebuah cerita utuh. Sulit untuk menjalankan tugasnya sebagai ”pemberi petunjuk”, sebagai sastra.

Sastra tulis yang terdokumentasi dengan baik baru dimulai oleh Majapahit, tepatnya di kala Rajasanagara alias Hayam Wuruk berkuasa pada abad ke-14. Sastra mulai ditulis di lembaran-lembaran daun lontar yang lebih terjamin keawetannya, sebab bisa dihindarkan dari godaan cuaca. Dua sastrawan besar masa itu ialah Mpu Tantular dan Mpu Prapanca. Mereka mengusung Sastra Jawa.

Tantular, ia terhitung masih saudara raja. Nama ”Tantular” terdiri dari dua kata: ”tan” (tidak) dan tular (tular atau terpengaruhi). Maka, nama itu bisa diartikan sebagai ”orang teguh”, tak terpengaruh. Orang yang mempunyai prinsip. Sedangkan kata ”Mpu” merupakan gelar dan artinya adalah seorang pandai atau tukang. Dari arti kata-per-kata, maka bisa disimpulkan, Tantular adalah seorang sastrawan yang teguh dalam berkarya, tiada yang memengaruhi karya-karyanya, kecuali dirinya sendiri. Artinya, ia berkarya tanpa tekanan.

Tantular adalah seorang Buddha, namun ia orang yang terbuka terhadap agama lainnya. Kala itu, Budha hidup berdampingan dengan Hindu-Siwa. Keterbukaan Tantular kentara betul melalui pesannya dalam dua kakawin atau syair–jenis sastra tulis yang tumbuh kala itu—”Arjunawiwaha” dan ”Sutasoma”.

Kakawin ”Arjunawiwaha” menceritakan kisah pertapaan Arjuna di Gunung Mahameru. Dalam ikhtiarnya mencapai kebijaksanaan tertinggi itu, Arjuna diuji oleh para Dewa. Tujuh bidadari dikirim agar menggodanya. Dua yang paling menonjol adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Sayang, misi makhluk-makhluk cantik itu gagal.

Bathara Indra, yang penasaran dengan keteguhan Arjuna, nekat datang sendiri, menyamar menjadi seorang brahmana tua. Ia ingin melakukan semacam tes langsung, ingin tahu sejauh mana keseriusan Arjuna dalam pertapaannya. Jika benar serius, tentu Arjuna bakal mengenal dirinya sendiri dan semesta. Untuk mengukurnya, Bathara Indra mengajak Arjuna berdiskusi soal agama. Seluruh jawaban Arjuna ternyata cukup memberikan alasan bagi Indra untuk meluluskannya. Indra pun membuka jati dirinya, setelah itu pergi.

Begitu Indra pergi, seekor babi datang mengamuk. Arjuna memanahnya. Di saat bersamaan, ternyata, ada seorang pemburu tua yang datang, yang ternyata juga memanahnya. Ternyata pemburu itu Bathara Siwa. Mereka pun berbincang tentang kebijakan. Seperti Indra, Siwa pun mengamini kebijakan si ganteng dari keluarga Pandawa itu. Setelahnya, Arjuna ditugasi membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Hanya Arjuna yang dinilai mampu menjalankan tugas itu, karena membunuh Niwatakawaca hanya bisa dilakukan oleh orang bijak berilmu tinggi. Arjuna berhasil dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari yang pernah menggodanya.

Kakawin Arjunawiwaha ini ditengarai berdasarkan ”Wanaparwa”, yaitu kitab ketiga ”Mahābharata”. Salinan teks Latin dari kakawin ini berada di Belanda, dalam Jurnal ”Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 82” (1926) halaman 181-305.

Secara garis besar, kakawin ini ingin menyampaikan pesan tentang keteguhan seorang pria dalam mencari kebijaksanaan–yang berbuah kebijakan, ketangkasan, dan kenikmatan berupa hadiah bidadari cantik. Ia juga menyampaikan pesan, bahwa seperti itulah seharusnya seorang pemimpin: teguh dan tangguh.

Sementara kakawin ”Sutasoma” menyampaikan pesan tentang keterbukaan dan persatuan dalam kebhinekaan. Semboyan Indonesia, ”Bhineka Tunggal Ika”, pun bersumber dari kitab ini. Tidaklah tanpa sebab kenapa motto tersebut terinspirasi dari ”Sutasoma”. Kakawin ini mengulas sebuah cerita epik di mana Pangeran Sutasoma ditempatkan sebagai protagonis. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar-agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha.

Mpu lain yang punya pengaruh dalam kehidupan sastra Majaphait adalah Prapañca. Ia hidup sezaman dengan Tantular. Namanya dikenal oleh semua orang di Indonesia, hingga kini. Ia adalah penulis kakawin Nāgarakṛtâgama yang termasyhur itu.

Kakawin menguraikan keadaan keraton Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk. Ia bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 Masehi, di masa puncak kejayaan Majapahit: kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.

Bagian terpenting teks ini menguraikan wilayah di bawah kekuasaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti secara rutin. Sederhananya, wilayah administrasi negara. Naskah kakawin terdiri dari 98 pupuh. Pupuh-pupuh disusun dengan sangat rapi, runtut, seperti daftar isi dalam kepustakaan modern.

Pupuh 1-7 menguraikan raja dan keluarganya. Pupuh 8-16 menguraikan tentang kota dan wilayah Majapahit. Pupuh 17-39 menguraikan perjalanan keliling ke Lumajang. Pupuh 40-49 menguraikan silsilah Hayam Wuruk. Rincian lebih detail silsilah ini terpapar dalam pupuh 40-44 yang berisi sejarah raja-raja Singasari, pupuh 45-49 tentang sejarah raja-raja Majapahit dari Kertarajasa Jayawardhana sampai Hayam Wuruk.

Pupuh 1 – 49 adalah bagian pertama dari naskah ini.

Bagian kedua juga terdiri dari 49 pupuh.

Pupuh 50-54 menguraikan kisah Raja Hayam Wuruk yang sedang berburu di hutan Nandawa. Pupuh 55-59 menguraikan kisah perjalanan pulang ke Majapahit. Pupuh 60 menguraikan oleh-oleh yang dibawa pulang dari pelbagai daerah yang dikunjungi. Pupuh 61-70 menguraikan perhatian Raja kepada leluhurnya, yang diwujudkan dalam berupa pesta srada dan ziarah ke makam candi.

Pupuh 71-72 menguraikan berita kematian Patih Gajah Mada. Pupuh 73-82 menguraikan bangunan suci yang terdapat di Jawa dan Bali. Pupuh 83-91 mengurai tentang acara yang rutin digelar setiap tahun di Majapahit, yakni musyawarah, kirap, dan pesta tahunan. Pupuh 92-94 berisi pujian para pujangga, termasuk Prapañca, kepada Raja Hayam Wuruk. Sedangkan pupuh 95-98 khusus menguraikan tentang pujangga Prapañca sendiri, yang menulis naskah tersebut.

Kakawin ini bersifat pujasastra, artinya karya sastra yang menyanjung dan mengagung-agungkan Raja Majapahit Hayam Wuruk serta kewibawaan kerajaan. Kewibawaan sebuah negara. Karya ini disusun bukan atas perintah Hayam Wuruk. Bukan untuk politik pencitraan diri, ataupun legitimasi kekuasaan. Karya ini dibikin murni karena kehendak Prapañca. Sang Mpu ingin menghaturkan bakti kepada sang mahkota, serta berharap agar sang Raja ingat pada sang pujangga yang pernah berbakti di keraton Majapahit. Naskah ini disusun setelah Prapañca pensiun.

Raja meluluskan keinginan abdinya itu. Buktinya, ”Nagarakretagama” tak dibuang, tapi disimpan dengan hati-hati, dan awet hingga kini. Hanya saja, sayangnya, kitab berisi kebijakan itu tersandera di negeri Belanda.

”Nagarakretagama” artinya adalah ”Negara dengan tradisi yang suci”. Negara yang kehidupan sosialnya tetap berasas pada nilai-nilai religi. Kata ”Nagarakretagama” itu sendiri tak terdapat dalam kakawin. Nama Nagarakretagama tercantum pada kolofon—catatan penulis—dalam ”Iti Nagarakretagama Samapta”, karya Dr. J.L.A. Brandes. Rupanya, nama ”Nagarakretagama” adalah tambahan dari penyalin Arthapamasah, yang menyalinnya pada bulan Kartika tahun 1662 Saka, atau 20 Oktober 1740 Masehi. Kata ”Nagarakretagama” ditulis dengan huruf Bali di Kancana.

Pada pupuh 94 bagian dua, Prapanca menyebut idenya tentang Deçawarnana, atau uraian tentang desa-desa dan bagaimana cara menata kehidupan di dalamnya, hingga bisa membangun sebuah harmoni kehidupan. Pola kehidupan yang rukun, gotong-royong, berbagi, dan saling mengerti. Namun, ide dan nama sistem tersebut telah dilupakan oleh umum.

Maka, ada baiknya jika Nusantara mengenali kembali kebijakan negeri ini melalui karya sastra. Seperti membaca kembali tiga karya dari dua empu itu. Karya-karya itu membawa pesan, bahwa kehidupan bernegara–dalam kakawin itu mengacu pada Majapahit—ialah tentang hubungan timbal-balik berdasarkan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial-religi yang sehat antara pemimpin dan rakyat.

Seorang pemimpin bijak—dan untuk itu perlu waras pikir—yang benar-benar bekerja untuk rakyat, akan selalu memelihara nawaitu mengayomi rakyatnya. Ia tak butuh sanjungan untuk itu. Ia tak perlu pencitraan.

Hayam Wuruk memberikan bukti bahwa kebebasan berpendapat harus dihormati, karena rakyat punya hak untuk itu. Karena itu, ia memberikan kebebasan untuk perkembangan ilmu pengetahuan –yang terejawantah dalam karya-karya sastra. Ia juga mendengarkan rakyatnya, dengan rutin menggelar musyawarah, juga menyenangkan mereka dengan menggelar pesta dan kirap tahunan –seperti yang terpapar dalam Nagarakretagama puluh 83-91.

Sementara rakyat, yang merasakan betapa menyenangkannya hidup dalam negeri yang gemah-ripah, pun tahu diri. Tak ngelunjak. Mereka menghargai pemimpinnya. Mereka tahu rasa terima kasih. Karena itulah pemerintahan Hayam Wuruk adem-ayem, tanpa gangguan benalu-separatis. Karena itu juga Prapañca, salah satu contoh rakyat, menghadiahkan karya dan pujian pada Hayam Wuruk, kendati Sang Raja tak pernah meminta.

Itulah ruh kehidupan Nusantara sebenarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s