Jangan Khianati Cita-Cita Bangsamu!

….ketika kita sibuk saling menghina dan menjauh, di bagian lain Indonesia ini, yang luput dari perhatian kita, benalu yang seharusnya kita sapu makin asyik memperkosa Ibu Pertiwi.

Buat apa saling menghujat? Buat apa bersibuk-sibuk diri membuang daya-upaya membangun jurang dengan saudara sendiri? Buat apa? Buat apa, ha?!

Cita-cita seperti apa yang bisa dibangun dengan saling tusuk? Tujuan macam apa yang bisa digapai dalam keguyuban yang remuk? Tak lain hanyalah permusuhan panjang, berlarut, yang membuat mimpi-mimpi damai kita, mimpi-mimpi makmur kita, mimpi-mimpi kedaulatan kita, hanya berhenti sebagai halusinasi tanpa wujud!

Kalian meneriakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalian mengaku membela kedaulatannya. Tapi, sadarkah kalian jika emosi dan nalar dangkal kalian itu telah mencabik-cabik persatuan itu sendiri?

Berpolitik itu wajar dalam sebuah iklim demokrasi. Ideologi politik silakan diadu dalam Pemilu, tapi bukan untuk saling membunuh. Adu program halal hukumnya, tapi adu domba itu haram! Devide et impera itu kelakuan imperialis!

Berpecah-pecah itu bukan Indonesia!

Berseteru itu bukan Indonesia!

Bisa, kan, kita memilih tanpa berselisih?

Negeri ini dibangun bersama semangat persatuan! Negeri ini dibangun untuk bersatu! Gotong-royong! Berpadu di bawah kibar wibawa Sang Merah-Putih! Berangkulan melawan eksploitasi imperialis yang meludahi harga diri negeri. Itu cita-cita kita. Itu cita-cita negeri ini sejak Sukarno-Hatta mengumandangkan Proklamasi! Jika kita waras, galibnya kita peduli masa depan bangsa ini, masa yang sangat panjang, bukan hanya lima tahun ke depan saja!

Mikir!

Hanya makelar-makelar politik, antek asing, makelar-makelar politik berpola pikir jangka pendek itu, makelar-makelar pengkhianat bangsa itu, yang sibuk mencabik-cabik keguyuban negeri ini!

Ingatlah: Sukarno muda, dengan berapi-api, mewasiatkan pada kita pentingnya persatuan. Dalam ’Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme’ di kolom ’Suluh Indonesia Muda’ bertarikh tahun 1926, Sukarno menyeru agar seluruh elemen di negeri ini bersatu—kendati asas ideologi mereka bertabrakan, demi berdikarinya negeri.

”Nasionalisme ialah suatu iktikad, suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu adalah satu golongan, satu bangsa,” katanya. Dengan bersatu, kita menjadi bangsa kokoh, demikian Sukarno menyimpulkan. Ia pun paham, elemen-elemen yang diserunya itu—nasion, religi, dan sosialisme—kerap bersimpang-jalan atas nama ideologi. Namun, Sukarno yakin, perbedaan itu bisa dicarikan jalan keluarnya.

Kepada golongan Nasionalis, Sukarno mengajak mereka belajar pada Karamcand Gandhi, ketika tokoh nasionalis legendaris India itu merangkul berbagai elemen—yang secara ideologi tak sejalan—dalam perjuangan kemerdekaan India. Gandhi sang ’Mahatma’—sang jurumudi—mempersatukan mereka yang Hindu, Parsi, Jarsi, Sikh, dan Islam di bawah panji nasionalisme. Islam India, yang berkibar di bawah gerakan Pan-Islamisme, yang dipimpin kakak-adik Maulana Mohammad dan Sjaukat Ali, pun meluruhkan ego mereka, melebur atas nama nasionalisme. Bersatu mereka melawan Inggris dalam boikot-damai. Cara ini efektif.

Kepada yang Islamis, Sukarno mengingatkan: ”Di mana-mana orang Islam bertempat, di situlah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya.” Sukarno menekankan kewajiban seorang muslim untuk bekerja demi negeri, mengenyampingkan ego golongan, bersatu dengan elemen lain yang bukan Islam, melawan musuh bersama, lalu mewujudkan hidup damai seperti cita-cita Piagam Madinah yang disusun Muhammad Saw. Umat Islam hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama lain, bahu-membahu membangun kehidupan sosial-ekonomi yang sehat atas nama negeri.

Kepada yang Marxis, Sukarno mengingatkan, jika dialektika materialisme-historis yang mereka anut pada dasarnya memiliki tujuan serupa dengan Nasionalis dan Islamis: kemerdekaan ekonomi dan hak menentukan nasib sendiri.

Sukarno melihat sintesis berdasarkan latar belakang dan tujuan tiga unsur itu—sama-sama merasa ditindas dan ingin bebas—lalu mempersatukan mereka. Berhasil. Dari persatuan itulah, perjuangan menuju kemerdekaan (fisik) tercapai. Para penyedot kekayaan negeri diusir.

Di masa kini, ruh anti-penjajahan itu tumbuh lagi. Kolonialisme yang pernah dilawan Sukarno –berbekal persatuan dulu—hadir kembali. Bukan secara fisik, tapi dengan mengendap-endap, lalu mencengkeram dengan cara yang lebih halus—melalui bantuan modal dengan jaminan sumber-sumber alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Jika meminjam salah satu judul album grup band Coklat, situasi ini ibarat “luka lama, rasa baru”.

”Selamanya yang menyebabkan kolonisasi ialah karena (bangsa yang menjajah) kekurangan sumber-daya di tanah airnya sendiri,” Kata Dietrich Shcafer, sejarawan Jerman. Bangsa penjajah senantiasa berusaha mencari sumber daya di negara lain, untuk kemudian menguasainya. Selama ada upaya suatu bangsa menguasai sumber rezeki bangsa lain, saat itulah penjajahan terjadi. ”Orang tak akan gampang melepaskan bakul nasinya jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya,” kata Sukarno.

Kaum penyedot sumber daya alam tak akan melepaskan Indonesia yang bergizi jika itu menyebabkan kolapsnya bakul nasi mereka. Mereka terus berusaha menguasai Indonesia dan menghisapnya habis. Caranya macam-macam. Dan neo-imperialisme ini masuk melalui jalur regulasi. Papua, Natuna, Cepu, hingga Blok Mahakam adalah bukti nyata bahwa negara-negara yang ”kehabisan sumber daya alam“ itu sedang menguasai kita.

Uniknya, kesadaran akan situasi ini mendadak tumbuh hanya ketika hajatan demokrasi digeber—sementara ketika sebuah rezim berkuasa, didesiskan pun tidak. Semangat Sukarno jadi jimat politik.

Respons positif publik terhadap sosok Bung Karno menunjukkan jika ia masih menempati posisi sebagai ’role model’ kepemimpinan ideal. Tegas dan bernas. Perjalanan politik-ekonomi pasca-Sukarno, yang menyerah pada neo-kolonialisme, yang membuat negeri penuh gizi ini megap-megap tanpa daya dalam jeratan utang imperialis, membuat publik kangen pada sosok Bung Besar yang mereka harap bisa memerdekakan kembali Indonesia. Reinkarnasi Sukarno dirindukan. Karena itulah, Sukarno menjadi komoditas politik yang seksi.

Tapi, di saat bersamaan, semangat Sukarno mempersatukan seluruh elemen bangsa untuk melawan penjajahan, malah dikhianati. Para ’penggembira’ dan pengusung calon berkoar-koar jika kandidat mereka adalah representasi figur Sukarno masa kini, tapi sembari itu, mereka berpecah-belah –berantonim dengan semangat Sukarno.

Serentetan kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan politik digas penuh. Jarak antar-elemen kian menganga. Isu SARA ditunggangi seolah bangsa ini tak kenal adab. Dulu Sukarno mempersatukan mereka yang Nasionalis, Islamis, dan Marxis, para petualang politik kini malah mencerai-beraikan mereka yang awalnya sejalan, dengan janji politik yang tak pernah diketahui publik.

Yang mengaku membawa panji-panji Islam terpecah dan saling nyinyir. Yang mengaku nasionalis cakar-cakaran di dalam, hingga pecah sudah. Yang Marxis, maaf, tak ada partai yang terang-terangan mengusung ideologi ini—mungkin negara ini masih trauma lantaran tragi-komedi sejarah 1965 dirasa terlalu getir.

Uniknya, bersama keterpecah-pecahan itu, mereka sama-sama meneriakkan lagi semangat Sukarno itu: lawan dominasi asing! Lawan neo-kolonialisme!

Melawan pakai apa? Kuat? Bisa melawan?

Kenyataannya, kan, terbelah-belah. Kekuatan-kekuatan politik membangun diaspora masing-masing—terpisah tembok tebal-kokoh sentimen ego. Energi habis untuk saling serbu dengan saudara sendiri. Dengan sebangsa sendiri saling tuding. Saling ganyang. Saling tikam.

Lawan politik dihujat sebagai antek asing, menurut versi masing-masing. Pakai bumbu fitnah biar tambah sedap. Media ambil tempat, bukan mendamaikan, malah mengipasi bara permusuhan itu. Ujung-ujungnya, calon pemilih di tataran akar rumput –yang mengenal para kandidat melalui sumber sekunder, media—ikut larut menebar kebencian.

Negeri ini di ambang perpecahan! Dan yang paling mengerikan itu jika permusuhan ini terbawa hingga kompetisi usai. Permusuhan permanen. Lalu, mau apa jadinya negeri ini..?

Jika kita sibuk saling hujat, akankah kita punya cukup waktu dan energi untuk memikirkan kembali kedaulatan negeri yang digerogoti ini? Kita tak menyadari, ketika kita sibuk saling menghina dan menjauh, di bagian lain Indonesia ini, yang luput dari perhatian kita, benalu yang seharusnya kita sapu makin asyik memperkosa Ibu Pertiwi.

Saling hantam dengan saudara sendiri itu bukan sifat sebuah negara-bangsa yang menghormati kebhinekaan! Bukan sifat BANGSA YANG BESAR! Berhantam dengan saudara sendiri hanya akan membuat para penunggang perpecahan itu bertepuk-tangan gembira!

Siapa penunggang itu? Yaitu mereka yang takut dengan terwujudnya persatuan kita, takut kita menjadi kuat, sehingga mereka tak bisa lagi menggeleparkan kita! Mereka yang selalu menyelusup di tengah-tengah hajatan demokrasi, menyulut kerusuhan, mengobarkan perang saudara sesama kita, demi mempertahankan kepentingan mereka memperkosa Ibu Pertiwi: yang demi perut, mereka merampas bakul nasi kita.

Yaitu mereka yang ingin ’membalas dendam’ pada persatuan kita yang dengan ampuhnya pernah mengusir mereka. Persatuan yang digalang oleh Sukarno, dulu. Dan ancaman keterpecahan ini adalah tepuk-riuh kegembiraan mereka.

Memang, iklim politik telah berganti, jauh berbeda dari masa ketika Sukarno menyerukan persatuan itu. Tuntutan zaman telah bermetamorfosa pula. Dan jangan lupa, penjajahan itu tetap ada, ikut bermetamorfosa bentuk juga.

Untuk membendungnya, persatuan adalah syarat pokok, ketika sebuah bangsa punya cita-cita untuk menjadi besar dan mandiri. Formula ini faktual sepanjang zaman. Dan kita punya modal dasar untuk menujunya. Bukankah pada dasarnya kita ini sama-sama membawa keresahan serupa, memimpikan masa depan yang sama pula? Bukankah para kandidat itu berikut pendukungnya, katanya, sama-sama bercita-cita memerdekakan kembali negeri ini?

Jangan khianati cita-cita bangsamu!

Bisa, kan, kita rukun-padu? Bisa, kan, memilih tanpa berselisih? Bisa, kan, kita mencari sintesis daripada buang-buang energi membikin-bikin antitesis?

Pemilu adalah kompetisi. Ada yang menang, ada yang kalah, itu wajar. Yang menang menghormati yang kalah, begitu pun sebaliknya. Itulah keniscayaan demokrasi. Lomba selesai, balik ke rumah masing-masing, besoknya bangun kembali, menyongsong matahari terbit, bahu-membahu membangun negeri, bersama-sama membabat benalu.

Itu yang pokok. Jangan malah saling gontok.

Ingat, di tengah gontok-gontokan kita dengan saudara sendiri, Freeport sukses mendapat perpanjangan kontrak sampai 2041. Itulah musuh kita sebenarnya! Musuh kita bukan saudara sendiri. Musuh kita bukan kandidat nomor 1 atau 2. Musuh kita adalah neo-kolonialisme!

“Jas merah,” kata Sukarno, ”Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.” Lupa—atau setidaknya memahami sejarah secara parsial dan picik—akan membuat kita gampang terpesona, lengah, ujung-ujungnya celaka. Lupa sejarah sama saja dengan memberikan panggung seluasnya untuk para pelacur politik.

Dengan menolak lupa, kita akan paham, jika saat ini semangat Sukarno dirindukan. Namun, sayangnya, bersama kerinduan itu, saat ini, ikhtiarnya menenun persatuan itu sedang dikhianati.

Perlu kita mengingat dan pelajari kembali: Sukarno tak mencibir –alih-alih nyinyir—pada saudara sebangsanya. Itulah yang seharusnya kita pahami, hingga nanti. Kita Indonesia. Kita semua saudara dalam aneka rupa kita masing-masing.

Tuhan menciptakan makhluk-Nya berbeda-beda agar saling mengenal, menjalin ukhuwah, bahu-membahu, bukan malah saling tikam! Sebersimpang apapun ideologi kita, ketika yang kita junjung adalah panji kehormatan Indonesia, persatuan ialah syarat yang tak bisa dielak!

Holobis kuntul baris!!!

Bung Karno Indonesia-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s