Tuhan Pun (Sepertinya) Mengisyaratkan Sosialisme

Manusia akan mengambil dan terus mengambil. Sampai suatu hari dunia akan berkata: ”Tidak lagi. Tak ada lagi yang bisa kuberikan kepadamu.”

PERNAH nonton film ”Apocalypto” besutan Mel Gibson? Bagi yang pernah, pembukaan tulisan ini adalah pengingat, dan bagi yang belum, anggap saja trailer. Film ini menceritakan tentang suku Indian Meso-Amerika terakhir sebelum Columbus mendarat di Amerika –yang pada akhirnya pendaratan itu melahirkan kapitalisme di Amerika Utara, hingga kini.

Dalam salah sebuah adegan, seorang tetua suku memberikan wejangan pada warganya: ”Dan seorang manusia duduk menyendiri. Terpuruk dalam kesedihan. Semua binatang mendekatinya dan berujar: ”Kami tidak senang melihatmu bersedih. Mintalah apa pun kepada kami, dan kami akan memberikannya.”

”Aku ingin penglihatan yang baik,” kata manusia itu, tanpa basa-basi.

”Ambillah mataku ini,” si burung elang memberikan matanya.

”Aku ingin menjadi kuat,” si manusia meminta lagi.

”Kau akan kuat seperti diriku,” kata macan tutul.

”Aku ingin mengetahui rahasia bumi,” si manusia masih juga meminta.

”Akan kutunjukkan rahasia bumi kepadamu,” sodor ular naga.

Begitulah, ketika manusia itu telah memperoleh sumbangan seluruh anugerah yang ada pada binatang-binatang itu, dia meninggalkan mereka.

Setelah manusia pergi, sekelompok hewan itu ’bergosip’: ”Sekarang Manusia mengetahui sangat banyak hal dan mampu melakukan sangat banyak hal .. ,” kata burung hantu.

”Manusia itu memiliki segala yang dibutuhkannya. Kini kesedihannya akan berakhir,” imbuh rusa.

”Tidak,” sergah burung hantu –yang kerap dijadikan perlambang kebijakan. ”Aku melihat ada sebuah lubang di dalam diri manusia… ,” lanjutnya, ”lubang dalam, seperti perut lapar yang tak akan pernah terpuaskan. Itulah yang membuat manusia itu bersedih dan membuatnya menginginkan banyak hal. Dia akan mengambil dan terus mengambil. Sampai suatu hari dunia akan berkata: ”Tidak lagi. Tak ada lagi yang bisa kuberikan kepadamu.”

Dialog film itu menggambarkan bahwa rakus, keinginan memperoleh lebih dan lebih banyak lagi dari dunia, adalah unsur yang ada dalam diri manusia. Tak bisa ditolak. Bawaan lahir.

’Modal’ keserakahan itu jugalah melahirkan faham liberalisme ekonomi –yang sangat jelas dijabarkan Adam Smith dalam bukunya “An Inquiry into the Nature and the Causes of the Wealth of Nations”, terbit tahun 1776. Buku ini lebih dikenal judul singkatnya: ”The Wealth of Nations”. Pengaruhnya luar biasa, mengembuskan semangat kapitalisme ke seluruh penjuru dunia. Smith, memang, adalah salah satu filsuf dan ekonom yang membidani lahirnya kapitalisme dunia –yang berujung pada imperialisme itu.

Smith menggambarkan manusia sebagai ’homo economicus’. Maksudnya, manusia senantiasa mengejar kepentingannya sendiri, guna memperoleh manfaat atau kenikmatan sebesar-besarnya dari apa saja yang dia miliki. Ego itu pasti ada dalam diri manusia. Menurut Smith, ego itu adalah ketetapan alam yang tak bisa dihindari.

Islam pun jelas menggambarkan keberadaan sifat ini sebagai bawaan manusia. Seperti firman Allah dalam Surah Yaa Siin: 36:

”Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”

Apa yang dimaksud ’ditumbuhkan dari diri’ itu dipertegas dalam Surah Asy-Syams: 8:

”maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.”

Dari ayat itu, jelas, pasang-pasangan itu tidak hanya yang ada di luar diri kita—seperti laki-perempuan, siang-malam, darat-laut, dst—tapi juga ada dalam diri kita yang dirupakan dalam bentuk sifat baik dan buruk. Sifat setaniyah dan malakiyah, kata para ulama. Dan dalam tulisan singkat ini, kita akan membahas salah satu sifat setan dalam diri manusia itu: keserakahan.

Sifat yang paling banyak mengambil tempat sebagai pemenang dalam dinamika kehidupan dunia.

Setan Ekonomi Liberal

Manusia memiliki kecenderungan egosentris dan individualistik –sebagai representasi sifat setaniyah. Dalam pencukupan kebutuhan ekonomi, jika sifat ini dibiarkan begitu saja, maka akan mendorong manusia untuk berbuat sekehendak hatinya. Ia akan menerapkan sistem yang disebut Smith sebagai trik untuk menjadi pemenang: ”dengan alokasi yang efisien dari faktor-faktor produksi, pemerataan dan keadilan, kebebasan, daya inovasi, dan kreasi berkembang sepenuhnya.” Singkatnya, dengan modal sekecil-kecilnya, raih untung sebesar-besarnya. Sebebas-bebasnya.

Dalam skala yang lebih luas, kecenderungan manusia inilah yang mendorong lahirnya ekonomi kapitalisme liberal.

Proses kelahirannya sebagai berikut: jika manusia-manusia pencari untung itu mendapati ada ada barang dan jasa yang harganya tinggi, sehingga memberikan laba yang sangat besar kepada produsennya, maka mereka tak akan mau kalah. Mereka akan tertarik memproduksi barang yang sama. Orang-orang berlomba-lomba memproduksi. Orang-orang berusaha mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi, seperti seorang Indian dalam ‘Apocalypto’ tadi, yang masih juga meminta kekuatan dan rahasia bumi, kendati ia telah mendapatkan tajam pandang burung elang. Akibat semangat kompetisi itu, saling mendahului dan saling sikut demi laba itu, suplai barang meningkat dan harga pasaran turun. Ketika harga turun, hingga merosot di bawah harga pokok, maka suplai pun menyusut. Akibatnya, nilai barang melonjak.

Begitulah cara mengendalikan naik-turun harga. Untuk menciptakan kebutuhan. Sekali lagi: demi ambisi manusia mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.

Fluktuasi harga perlu dikendalikan. Harga terlalu tinggi menyebabkan barang tak laku, terjadi penumpukan kapital karena merosotnya daya beli, hingga nilai ekonomisnya tergerus oleh waktu. Produsen pun bangkrut. Tentu, tak ada seorang pengusaha pun yang ingin itu. Makanya, fluktuasi harga pun dimainkan. Harga yang sehat akan berfluktuasi tipis pada kisaran yang memberikan laba sepantasnya, atau laba normal. Jika dalam konsep Islam, maksimal 30% dari nilai pokok barang (modal + ongkos tenaga kerja). Hal yang sama berlaku untuk jasa distribusi. Tapi, itu hanya terjadi ketika persaingan semakin ketat. Ketika longgar, atau ketika permintaan naik kembali seiring bertambahnya jumlah konsumen, mereka main genjot lagi.

Buku Adam Smith terbit setelah si penulis melihat situasi yang berkembang di tahun 1776. Ketika hampir semua barang, seperti gandum, gula, garam, katun, dan lain sebagainya diposisikan sebagai komoditi homogen. Semua produsen menjual barang yang sama. Untuk menyikapi situasi ini –berbekal semangat tak ingin kehilangan untung—beberapa produsen mulai berinovasi. Tujuannya tetap sama: agar keuntungan sebesar-besarnya bisa dilahap.

Beberapa produsen menjalankan diferensiasi produk. Misal, garam yang biasanya dijual apa adanya, dikemas ke dalam botol kecil praktis siap pakai di meja makan. Di dalamnya ditambahi beberapa vitamin, diberi merek yang dipatenkan. Produsen mempromosikan garamnya sebagai komoditas yang beda dari garam biasa. Lebih istimewa.

Konsumen pun terbujuk, lalu bersedia membayar lebih mahal dibandingkan dengan harga garam biasa. Produsen yang bersangkutan bisa memperoleh laba tinggi tanpa ada saingan untuk jangka waktu yang cukup lama –tentunya sebelum saingannya melakukan hal serupa. Selama masih tanpa saingan itu, ia menumpuk laba sebanyak-banyaknya, yang ujung-ujungnya menjadikannya kaya.

Karena dalam sistem kapitalisme-liberal semua diperbolehkan, maka produsen yang keteteran pun membikin produk serupa. Demi pasar. Demi mengejar ketertinggalan. Tapi, saat itu terjadi, produsen yang jadi pioner itu mulai menerapkan persaingan mematikan dengan cara kotor. Caranya: ia menjual produknya dengan harga yang lebih rendah dari harga pokoknya.

Memang, sepintas ia terlihat merugi. Namun, ingat, kerugian dalam aktivitas jual-beli dalam jangka waktu tertentu itu telah ditutupi oleh simpanan modal yang berhasil ia tumpuk kala menjadi pemain tunggal. Nah, ketika produsen itu banting harga, pesaingnya yang pusing. Seluruh saingan merugi dan bangkrut. Tapi, produsen itu tidak rugi, karena modalnya paling kuat. Setelah para pesaingnya pailit, ia mulai memonopoli pasar dengan menaikkan harga produknya sangat setinggi-tingginya.

Menurut Smith, prinsip persaingan itu halal dan ‘manusiawi’. Karena itu, ia menolak campur-tangan pemerintah dalam perputarannya. Karena, jika ikut campur, pemerintah ‘membatasi hak asasi manusia yang dibawa sejak lahir’, kata Smith. ‘Hak untuk menjadi rakus’ itu.

Mengingat apa saja boleh diterapkan oleh ekonomi liberal, pengusaha mulai kurang ajar. Mereka mempekerjakan manusia dengan gaji dan lingkungan kerja yang tak berperi-kemanusiaan. Puncaknya terjadi dalam era revolusi industri, pada abad ke-19, yang antara lain mengakibatkan anak-anak dan wanita hamil dipekerjakan di tambang-tambang. Wanita melahirkan dalam tambang di bawah permukaan bumi. Mereka dicambuki bagaikan binatang. Ini ulah kapitalis, pemburu untung itu. Di era tersebut, seluruh dunia juga mengenal perbudakan. Hal itu dianggap wajar karena pemerintah tidak boleh campur tangan melindungi buruh. Itulah bentuk kebiadaban kapitalisme yang paling telanjang. Hukum rimba berlaku penuh di sini: siapa kuat modal, ia menggilas habis yang lemah.

Dalam kondisi seperti ini lahir pikiran-pikiran Karl Marx. Karya Marx yang paling terkenal menentang Adam Smith adalah ”Das Kapital”, terbit tahun 1848. Marx menggugat semua ketimpangan yang diakibatkan mekanisme pasar yang tak boleh dicampuri pemerintah. Marx berkesimpulan, untuk membebaskan penghisapan manusia oleh manusia, tidak boleh ada lagi orang yang modalnya dipakai untuk berproduksi dan berdistribusi dengan maksud memperoleh laba individualistis semata. Semuanya harus dikendalikan oleh pemerintah, dan setiap orang adalah pegawai negeri, sehingga aktivitas ekonominya terkontrol. Dengan begitu, eksploitasi sesama manusia tak akan terjadi.

Setan Masih Jadi Juaranya

Dalam praktik sistem ekonomi kekinian, teori sosialisme cantik ala Marx itu dikalahkan oleh sifat setaniyah yang kian menjadi. Ekonomi liberal tetap berkibar, bahkan kian sangar. Pasar bebas menjadi semacam ’apocalypse’, wahyu yang tak boleh dibantah. Harus diikuti, atas nama ”demokrasi, kebebasan, persamaan, dan hak asasi manusia” –saya harus menyertakan tanda kutip karena maknanya yang membingungkan.

Sifat dasar manusia yang serakah, yang diusung ekonomi liberal –dengan Barat sebagai nakhodanya—tetap menjadi pemenang. Liberalisasi tetap diterapkan, hanya saja dengan cara yang lebih halus, namun tetap saja mematikan. Memang, secara konseptual, ekonomi diatur oleh negara. Oleh pemerintah. Namun, secara praksis, pemerintah yang dikendalikan oleh keuntungan modal. Jadi semacam lingkaran setan. Pemerintah suatu negara memilih tidak bisa apa-apa ketika sogokan pemodal menyodok-nyodok sifat setaniyahnya, sehingga pembuat kebijakan pun menerbitkan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada ekonomi liberal. Demi tuntutan nafsu yang rakus, membuang jauh-jauh bisikan hati untuk peduli sesama.

Kenapa pemodal bisa memegang kendali? Mengapa tambah jemawa? Karena setan selalu menang dalam urusan dunia. Itu dari sisi religi atau psikologis. Dari sisi ekonomi-sosial, Sukarno, dalam ”Indonesia Menggugat”, memberikan penjelasannya.

Kata Sukarno, semuanya berawal dari lahirnya industri besar yang modern di negara-negara maju. Negara-negara yang pernah nyaris diganyang Marx dan Lenin itu, namun gagal. Negara-negara bermodal besar jor-joran di dalam negerinya sendiri. Persaingan kian telanjang. Jenis komoditas kian heterogen, tak lagi sehomogen di zaman Smith. Industri negara maju saling adu balap. Dampaknya, tenaga produksi industri negara-negara itu menjadi menggelembung, tambun, tapi seiring itu, kemungkinan menjual hasilnya di negeri sendiri terbatas –sebab hasil produksi melebihi kebutuhan domestik. Maka, timbullah suatu keharusan: pasar di luar negeri.

Mengingat kian heterogennya kebutuhan seluruh dunia, dan semakin meningkatnya persaingan di luar negeri, maka para produsen itu memutar otak, bagaimana caranya dagangan mereka laku. Negara-negara itu pun menyusun rumus sendiri dalam pemasarannya: menaikkan harga di pasar dalam negeri dan menjalankan taktik dumping di luar negeri –dengan menjual barang di luar negeri dengan harga yang lebih murah dari harga di dalam negerinya sendiri. Tujuannya? Jelas, seperti yang dikatakan Adam Smith di atas, untuk memberangus pesaing mereka di luar negeri. Mereka memilih ”torok” dulu di luar, untuk menguasai pasar, tapi sembari itu menggenjot keuntungan dari pemasukan domestik sebagai back-up.

Mekanisme inilah yang meningkatkan suhu persaingan antar-negara maju. Dan mekanisme ini pula yang membuat negara-negara itu kian semangat menggarap Dunia Ketiga.

Selain perdagangan, tambah suburnya lembaga keuangan di negara-negara maju, bank khususnya, menjadi alasan lain dalam ekspansi kapital ke negara lain. Sebab, ketika bank makin besar, maka modal bertambah besar, sementara industri dan perdagangan dalam negeri mereka tidak cukup lagi untuk memutar kapital itu. Karena itulah kapital mengalir ke luar. Sasaran utamanya: negeri-negeri yang perekonomiannya belum maju dan miskin akan modal. Dan inilah yang dilakukan Barat, khususnya Amerika, pada Indonesia.

Menurut Pieter Jalles Troelstra, salah satu tokoh sosialisme yang dirujuk Sukarno, aliran kapital yang keluar itu tidak hanya berupa uang. Negara-negara maju menyalurkan modal dalam bentuk mesin, mendirikan pabrik-pabrik, membuatkan sarana transportasi, dan lain sebagainya. Tujuannya untuk ’merayu’ negara yang disasar. Bagi penanam modal, lebih menguntungkan memasukkan uangnya ke negara-negara yang ekonominya terbelakang, di mana di sana banyak tenaga buruh murah dan penetapan harga barang tidak dibatasi oleh undang-undang perburuhan. Lumayan, hemat ongkos produksi dan bisa main harga seenaknya.

Sedangkan menurut H.N. Brailsford, pengarang sosialis asal Inggris, di zaman sekarang, yang namanya kekayaan ialah, pertama-tama, kesempatan menanamkan modal dengan untung luar biasa, memburu konsesi-konsesi di luar negeri, dan membuka kekayaan-kekayaan terpendam dari negara-negara yang lemah. Seperti inilah yang diterapkan Barat di Indonesia.

Dari definisi-definisi itulah, Sukarno menyimpulkan, bahwa imperialisme adalah usaha untuk mewujudkan distribusi dan perkembangbiakan kapital di negeri lain.

Tujuan utama ekspansi tersebut adalah jangan sampai modal mereka beku. Jika beku, habislah mereka. Sebab, apabila modal yang beku, pecahan-pecahan kapital yang kembali ini ke perusahaan berjalan lambat. Itu bencana bagi kaum modal.

Untuk menghindari huru-hara ekonomi, perusahaan akan mengurangi alat-alat produksi dan tenaga kerja. Jika keputusan ini diambil, maka, sama artinya dengan merosotnya harga dan hilangnya keuntungan. Ujung-ujungnya, kaum pekerja tambah seret, upah kaum buruh turun.

Efek dari kedua peristiwa itu berpengaruh pula atas industri-industri yang membikin barang-barang keperluan sehari-hari. Permintaan akan berkurang, karena harganya terlalu tinggi, sementara daya beli buruh merosot. Jika sudah demikian adanya, pemodal akan bangkrut –dan inilah yang disebut Marx bahwa kapitalisme sedang menuju kematiannya sendiri.

Jika sudah ada gejala bangkrut, biasanya modal itu akan ditarik keluar dari suatu objek investasi, negara misalnya, untuk dialokasikan ke objek atau negara lain yang ”bisa diajak bekerjasama”. Picik memang, karena tak ada pemodal yang sudi rugi. Untuk menghindari rugi, mereka punya dua jurus: kabur atau mengancam. Tapi, dalam dunia ekonomi kontemporer, imperialis lebih memilih cara terakhir: intimidasi.

Dengan ’ancaman’ sistem seperti itulah negara-negara Dunia Ketiga diikat oleh negara-negara maju penganut ekonomi liberal. Negara-negara berkembang tergantung sepenuhnya pada mereka. Negara-negara itu, seperti Indonesia, sebenarnya bisa saja tak tergantung. Tapi, ada syaratnya: harus kuat menegakkan ekonomi berdikari. Untuk menuju itu perlu proses. Dan model inilah yang pernah dimulai oleh Sukarno dulu, tapi tumpas di tengah jalan setelah ia disikat oleh konspirasi kaum pemilik modal, tahun 1965-1966.

Kenapa metode Sukarno diganyang? Jawabannya adalah, balik lagi ke sifat setaniyah, manusia itu tak sabaran. Ingin serba cepat. Tak mau lama-lama menumbuhkan kemandirian domestik, negara pun mengambil jalan pintas: menerima utang dari negara industri yang jauh lebih kuat setelah termakan bujuk rayu ala iblis yang membujuk Adam mencicipi kuldi.

Tanpa disadari, ‘janji-janji surga’ si pengutang itu ternyata justru gerbang masuk menuju pintu neraka ketergantungan ekonomi. Kaum kapitalis tak pernah kehabisan metode –dan itulah kelebihan mereka. Licik. Karena itulah, pemerintah negara bersangkutan tidak berani ”neko-neko” pada negara yang memodali mereka. Mereka takut, jika ‘induk semang’ pergi, negaranya bangkrut, kemudian bubar. Walhasil, penanam modal dari luar negeri pun leluasa mengendalikan kebijakan ekonomi domestik –dengan menodongkan ancaman seperti yang dipapar di atas.

Memang, itulah tujuan utama politik kapitalis: menguasai negeri lain. Menciptakan ketergantungan. Menciptakan kesengsaraan dengan bujukan-bujukan yang bisa memancing keluar sifat setaniyah dalam diri manusia –seperti yang tergambar dalam ’Apocalypto’. Mereka memanfaatkan sifat manusia yang selalu ingin mengganyang apa saja yang menarik hawa nafsunya. Mereka memanfaatkan lubang besar yang tak pernah kenyang dalam diri manusia.

Lembaga pemerintah, yang diharapkan bisa mengontrol dinamika ekonomi di Dunia Ketiga, kan, manusia juga. Yang punya sifat rakus juga. Ketika manusia-manusia di situ memilih tanduk pada kerakusan, mau apa lagi? Inilah kehidupan di dunia: materialistis, egosentris, dan individualistis mendominasi kehidupan, di mana sifat-sifat itulah yang akan membawa manusia menuju kehancurannya sendiri.

“Bahkan manusia itu berkeinginan untuk berbuat maksiat terus menerus.” (QS. Qiyaamah: 5)

The Consumer Trap

 

Menarik Diri dari Hiruk Pikuk

Kita kerap terjebak dalam kekacauan yang tak pernah kita sadari. Dan kerap situasi itu membuat kita lelah, bahkan nyaris menyerah. Tapi, lebih baik jika kita tak menyerah. Tuhan masih memberikan jalan. Allah menyayangi semua umat-Nya.

Ketika kita sudah mulai merasakan kelelahan luar biasa di panggung dunia, ada kalanya kita perlu mengambil waktu sejenak untuk jeda, mengoreksi diri kita sendiri: sebenarnya apa yang salah dari kita? Perlu kita refleksikan situasi sekitar kita. Gunakan komponen utama yang menjadi alasan Tuhan menganugerahkan hak istimewa sebagai makhluk paling mulia ada pada kita: akal dan hati. Perlu sejenak kita ambil jarak dengan dunia, dan memikirkan: sebenarnya apa yang telah membuat kita takluk itu?

Kita tadi membicarakan sifat buruk setaniyah dan sifat baik malakiyah. Mungkin, bagi sebagian dari kita yang belum begitu jauh meneliti ilmu dalam kitab suci, apalagi yang tak beragama, menganggap analogi ini mengada-ada. Tidak ilmiah sama sekai. Jika ada yang beranggapan seperti itu, maaf, Anda salah. Pertarungan antara sifat setan dan malaikat dalam diri seseorang pun  bisa dijelaskan secara ilmiah.

Al-Quran menyebut jika tindakan buruk itu akibat “bisikan setan”. Memang, menurut Agus Mustofa, seorang ahli tasawuf ilmiah-modern dari Surabaya, Al-Quran sengaja menciptakan ‘sosok’ agar kita bisa mengimajinasikan atau mengasosiasikan sifat buruk manusia. Kita perlu asosiasi seperti itu karena terbatasnya daya otak kita. Allah mencintai kita, karena itu Dia memberi ilustrasi pada manusia.

Padahal, sebenarnya setan itu bukan sosok, melainkan karakter, alias dorongan sifat yang merusak. Bersifat setan, makanya disebut setaniyah, seperti kita menggambarkan alamiah untuk sesuatu yang bersifat alami. Sebab itulah, dorongan buruk ini disebut hawa nafsu –dari akar kata ‘nafsul hawa’, yang berarti nafsu yang merusak.

Dalam struktur kesadaran, hawa nafsu itu bersemayam di alam bawah sadar. Dan di titik ini kita mulai membicarakan psikologi, bukan ngomong klenik. Dari alam bawah sadar itulah persaan bersumber –demikian ujar para pengikut Sigmund Freud yang ateis itu. Masuk ke ilmu neurologi, dalam otak ada yang disebut sistem limbik. Dalam sistem itu, ada bagian yang namanya ‘amygdala’. Orang yang amygdalanya besar dan aktif, biasanya memiliki sifat temperamental. Dorongan untuk meluapkan emosi juga besar. Bagian dalam sistem inilah bentuk fisik dari sifat setaniyah.

Selain amygdala, dalam sistem limbik ada juga bagian yang namanya hippocampus. Bagian ini adalah penyeimbang bagian lainnya, amygdala. Hippocampus adalah bagian yang menyimpan memori rasional, terkait dengan kerja ‘cortex cerebri’ –atau permukaan kulit otak yang rasional. Bagian yang paling ‘bertanggungjawab’ terhadap fungsi luhur dan kepribadian seorang manusia dalam hippocampus ini disebut ‘prefrontal cortex’. Inilah sistem organ yang merepresentasikan sifat baik, malakiyah.

Dua sifat inilah yang ‘bertarung’ dalam diri manusia, di mana manusialah yang pada akhirnya mengambil keputusan akan menurut pada siapa. Banyak analogi tentang perang batin ini, seumpamanya ada malaikat dan iblis yang sedang membisik, seperti yang sering diilustrasikan dalam banyak adegan film. Sifat setaniyah selalu membisik manusia untuk mengejar rakusnya dunia, sementara malakiyah adalah penyeimbangnya –yang senantiasa mengingatkan tentang pentingnya mengendalikan diri dan hati.

Dalam salah satu pidatonya, Syeikh Hamza Yusuf, ulama besardari Iran, menjelaskan makna dunia sebagai berikut.

”Kita semua mengetahui arti ad-dunya dalam bahasa Arab. Ad-dunya adalah elemen ilusi di bumi yang akan menjauhkan manusia dari akhirat, dan hal itu merupakan permainan setan. Permainan ini dimainkan untuk menjauhkan umat manusia dari kebenaran. Setan bermaksud membuat jarak dan menjadikan kita merasa bahwa ad-dunya-lah yang berada dekat, dan bukannya al-akhirah”.

Dan dalam melihat kebuasan dunia ini, sebagian manusia digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:

”Jika seorang anak Adam (telah) memiliki sebuah gunung emas, maka ia akan menginginkan gunung emas yang kedua.”

Itulah dunia. Islam memperingatkan bahwa ad-dunya adalah hal yang jauh. Makna dasar dari ad-dunya adalah ”menjangkau sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar bisa dijangkau”, sebab sifat ad-dunya memang tidak terjangkau. Tak akan ada habisnya. Ad-dunya akan selalu mengelak dari siapapun yang mengejarnya. Seperti itulah nafsu yang dikobarkan oleh ekonomi liberal. Mengejar kerakuran, menjajah, menguasai, dan mengganyang siapa saja yang bisa mereka hisap ke dalam lingkaran setan tak berkesudahan. Seperti seseorang yang resah lantaran tak pernah merasa kenyang seperti ilustrasi dalam ‘Apocalypto’ tadi.

“dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kemaksiatan).” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Dalam keseharian, kita menyaksikan bagaimana orang-orang terus dan terus menumpuk benda dan harta, tapi selalu merasa kurang, dan kurang, dan kurang. Sebanyak apapun harta yang dimiliki, masih saja kurang, sehingga mereka selalu berusaha menambahnya, bahkan sering dengan menghalalkan segala cara.

Apakah yang sebenarnya mereka kejar? Tak lain ialah uang, kekuasaan, materi, kecantikan atau ketampanan fisik. Banyak sekali iklan yang menawarkan benda-benda atau ajakan untuk memperoleh kesenangan ragawi. Melalui bujukan iklan inilah kapitalisme bekerja dengan bernas. Contohnya, ”Sewa mobil impianmu” dengan ilustrasi sebuah mobil mewah yang disewakan, atau ”Gunakan Obat-obatan terlarang yang menawarkan kesenangan”. Kesenangan fisik yang semu.Dan ketika kita mengikuti bujukan itu, kita terjerumus kian jauh dalam pusaran ekonomi setaniyah –yang membawa jiwa dan raga manusia dalam kehancuran.

Jika kita mau menarik diri sekejap dari gegap-gempita kerakusan dunia, dan mengaca kembali pada Al-Quranul Kariim, sebenarnya Allah telah memberikan kita resep mujarab untuk membangun sebuah sistem kehidupan yang ideal dan adil, melalui Surah Ash-Shaff: 10-11:

”Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika mau mengetahui.”

Ya, hidup sesuai dengan petunjuk Allah. Jalan Ilahiah yang lurus. Apa petunjuk bagi kita untuk menyusuri jalan itu? Allah mengajarkan kita bersabar, tidak grusa-grusu, dan gampang mensyukuri sesuatu. Allah tidak menyukai manusia yang berlebih-lebihan –seperti berlebihan dalam menumpuk modal ala kapitalisme itu contohnya. Secukupnya saja. Allah tidak menyuruh kita untuk menolak dunia. Tidak. Allah, toh, menciptakan dunia juga untuk kebahagiaan manusia. Hanya saja, Allah menyuruh kita agar menikmati dunia sewajarnya saja, secukupnya, agar kita, manusia, bisa merasakan makna keindahan hidup yang sejati dan terhindar dari celaka.

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31)

Dari sisi kehidupan sosial, di luar agama, sosialisme menawarkan kita diktum dasar seperti ini: ”Dari masing-masing sesuai kemampuannya, untuk masing-masing sesuai kebutuhannya.” Bukankah pola seperti ini yang secara tersirat disarankan Allah pada kita melalui Al-Quran?

Allah senang ketika umatnya berbagi, maka dari itu Ia selalu memerintahkan kita untuk berzakat, bersedekah, agar rezeki terdistribusi dengan sehat. Agar sifat rakus kita terbunuh.

Allah memerintahkan kita untuk rukun. Allah mencintai umat-Nya yang mengerti cinta, dan akan membimbing mereka menjemput kebahagiaan dunia-akhirat. Dengan berpegang pada petunjuk inilah, niscaya kita selamat dari hasutan iblis kapitalisme liberal –iblis yang menyeret dan meluluh-lantakkan kemuliaan kita sebagai manusia karena diajak menyembah-nyembah kerakusan.

Dalam konteks kehidupan ekonomi-sosial, wujud titah Allah itu diaplikasikan dengan indahnya oleh Nabi Saw dalam masyarakat Madani. Ambil untung dagang tak lebih dari 30%. Sebesar 2,5% dari total keuntungan itu disumbangkan untuk mereka yang kurang beruntung sehingga tak punya kesempatan ikut dalam kompetisi perniagaan. Indahnya berbagi. Kehidupan sosial-ekonomi yang sehat, berdasarkan kesepahaman pada sesama.

Dan di zaman modern, semangat itu secara tersirat pernah diembuskan Karl Marx:

”Untuk membebaskan penghisapan manusia oleh manusia, tidak boleh ada lagi orang yang modalnya dipakai untuk berproduksi dan berdistribusi dengan maksud memperoleh laba individualistis semata.”

Rumus Karl Marx itu pun diterjemahkan dalam kehidupan Indonesia oleh Sukarno:

”Indonesia berbeda dari penduduk bumi lainnya. Sosialisme kami tidak termasuk konsep materialistis ekstrim, karena, terutama, Indonesia takut akan Tuhan, bangsa yang mencintai Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu campuran. Kami menarik persamaan politik dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Kami menarik persamaan spiritual dari Islam dan Kristen. Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Dari campuran ini, kami menambahkan identitas nasional: Marhaenisme. Kemudian kami taburi gotong royong, roh, esensi bekerja sama, hidup bersama dan membantu satu sama lain. Campur semuanya dan hasilnya adalah Sosialisme Indonesia.”

Dunia mengajarkan pada kita ihwal kekejaman kapitalisme liberal, agar kita belajar, agar kita tak terjebak dalam pusarannya, dan Allah telah memberi isyarat agar kita menuju ekonomi sosialisme yang adil. Sosialisme, bukan komunis.

Apakah kamu tak mengambil pelajaran? Apakah kamu tak memikirkan?

Lalu, kenapa kita tak bergegas menujunya? Kita tak ingin mengingkari nikmat Tuhan, kan?

Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza…..

 

Advertisements

One thought on “Tuhan Pun (Sepertinya) Mengisyaratkan Sosialisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s