Hantu Genosida di Balik Kabut Propaganda #3

Lalu, cermatilah, apakah Anda semua melihat ada media seperti ini di Indonesia? Yang seolah meneriakkan kebebasan pers, mengeksplorasi keindahan seni, menyajikan informasi dengan bahasa indah mendayu-dayu, tapi pada dasarnya melegitimasi kekerasan—kekerasan seksual misalnya? Jika iya, berarti CIA memang masih menancapkan kukunya di Indonesia.

Pasca-lengsernya Suharto, dan semakin giatnya upaya tipu-tipu Barat untuk cuci tangan perihal keterlibatan mereka dalam destabilisasi pemerintahan Sukarno, peneliti yang mengungkap perihal apa yang sebenarnya terjadi di masa peralihan kekuasaan itu bermunculan. Salah satunya adalah Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966.

Pada bulan Maret 2001, lembaga ini menyatakan bahwa: ”Setelah jatuhnya rezim militer Suharto, perlu dilakukan penelitian serius mengenai sejauh mana pembantaian, pemenjaraan, dan penyalahgunaan kekuasaan yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun oleh rezim Orde Baru, sebuah rezim yang telah membawa Indonesia bertekuk lutut secara ekonomi, moral, dan sosial.”

Sistem pemerintahan militer Suharto mulai diteliti. Tentu saja Suharto yang telah dicampakkan oleh Barat. Beberapa temuan didapat. Sepuluh tahun setelah pengambilalihan kekuasaan oleh militer tahun 1965, diperkirakan sekitar 100 ribu tahanan politik masih ditahan di sejumlah penjara, pusat penahanan, kamp kerja, dan unit militer (“Ten Years Military Terrorin Indonesia”, hal. 100). Mereka adalah para tapol. Penjara-penjara diisi ulang secara teratur dengan narapidana yang diseret dengan tuduhan keterlibatan dalam Gestapu, langsung maupun tak langsung.

Beberapa tahun kemudian, para peneliti menemukan bahwa lebih dari 15 tahun setelah upaya kudeta, propaganda anti-Komunis dijalankan oleh rezim dengan kampanye teror secara efektif dan terus menerus. (”Indonesia: Law, Propaganda, and Terror”, Julie Southwood & Patrick Flanagan, Zed Books, 1983, hal. 133). Pola ini berlangsung cukup lama dan memenangkan pertarungan sejarah Indonesia selama Orde Baru berkuasa.

Teror kepada mereka yang ”diduga” terlibat Gestapu –kendati tanpa bukti yang cukup—berlangsung hingga 1990-an. Rezim Suharto senantiasa ”mengingatkan” rakyat agar selalu taat dengan perintahnya, jika ingin selamat dan ’hidup tenteram’.

Dalam majalah Time edisi 4-17 Juli 1990, Joe Bleifuss membidik fenomena ini. ”Sejak tahun 1985, 20 orang telah dieksekusi karena peran mereka dalam kudeta atau keanggotaan dalam PKI. Kematian ini adalah produk sistem peradilan formal Indonesia. Sementara itu, dengan sebuah sistem yang disebut ’pembunuhan misterius’, sekitar 5.000 orang dieksekusi selama kampanye ”anti-kejahatan” 1983-1986,” tulis Bleifuss. Sementara dalam biografi Presiden Suharto yang dirilis tahun 1989, Sang Jenderal menyebut bahwa semua yang dieksekusi itu adalah pelaku kejahatan.

Apapun dalil Pak Harto, sederet data ini cukup untuk menjadi bukti bahwa selama 32 tahun pemerintahannya, ia telah memberikan kita warisan berdarah-darah; dengan genosidanya yang diterapkan dengan berbagai macam trik.

Dan dari pemberitaan Time itu, jelas, Barat telah mulai berancang-ancang mengganyang Suharto dengan wacana tersistematis –yang bertujuan untuk menimpakan kesalahan pada The Smiling General. Barat siap-siap cuci tangan –seperti yang saya singgung dalam artikel sebelumnya–untuk “sebuah rencana yang lebih besar” delapan tahun sesudah 1990 itu.

“Jakarta Is Coming!”

Kembali pada kekejaman Pak Harto. Ya, pembantaian itu fakta. Tragedi itu ada. Namun, pertanyaan yang sering luput dari benak kita adalah: kenapa Pak Harto bisa sekejam itu? Sebegitu kejamkah ambisi pribadinya? Psikopatkah ia?

Dan… ternyata, jawabannya adalah: Pak Harto sedang menjalankan metode khas yang dianjurkan Barat! Ia adalah bagian dari “skenario besar” yang memiliki metode yang sangat khas!

Mantan agen CIA Ralph McGehee mengakui jika operasi CIA 1965-1966 Indonesia digunakan sebagai model untuk operasi rahasia di belahan dunia lainnya. Metode yang diterapkan mencakup beberapa hal, yaitu: membentuk elemen militer sayap kanan; membangun opini publik tentang kekejaman ’sayap kiri’; manipulasi media untuk menghasut terjadinya reaksi terhadap ’kekerasan sayap kiri’; dukungan logistik untuk kelompok kanan agar bisa ’main hakim’; respons yang terkoordinasi cepat dan keras, dengan target penghapusan massa lawan atau lawan potensial; dan program disinformasi berkelanjutan. Dan terbukti, seluruh aspek itulah yang diterapkan oleh Orde Baru.

Menurut Denis Small—peneliti Amerika yang sempat saya singgung pada tulisan sebelumnya—prinsip-prinsip ini adalah pedoman standar untuk operasi rahasia AS. Dalam bukunya, ”Deadly Deceits”, halaman 57, McGehee menjelaskan bahwa aspek-aspek itu adalah metode yang diterapkan pada ”Operasi (satu kata dihapus) CIA”. Sementara menurut Peter Dale Scott, dalam bukunya ”Year 501”, halaman 123, kata yang hilang dalam tulisan McGehee itu adalah ”penipuan”.

Apapun itu, dalih apa pun yang digunakan, sehalus apapun bahasa yang disajikan, intinya Barat ingin menyampaikan pesan bahwa pemusnahan PKI adalah sebuah bentuk kepuasan terbesar Amerika Serikat.

Pada tahun 1986, Dennis Small bertemu McGehee di Aotearoa, Selandia Baru. Dalam pertemuan itu, McGehee dengan bangga menceritakan jika apa yang diterapkan di Indonesia tahun 1965-1966 sukses juga diaplikasikan dalam pengambilalihan pemerintahan Chili dari Presiden Allende ke Jenderal Pinochet, tahun 1973. Seluruh metode operasi yang dijelaskan McGehee di atas diterapkan pula oleh Pinochet. Dan, seperti yang telah dunia ketahui, peralihan kekuasaan Chili itu menelan korban ribuan nyawa. Lalu, setelah berdiri, sistem diktatoratlah yang diterapkan di sana, persis Orde Baru.

Yang tak dijelaskan sejarah pada dunia ialah: selama kudeta Chili berlangsung, kode yang digunakan untuk gerakan itu adalah ”Jakarta, Jakarta” dan ”Jakarta Is Coming!”. Maksudnya, Santiago, Ibukota Chili, akan ”di-Jakarta-kan”. Tentu saja, Jakarta yang dimaksud adalah Jakarta yang kacau di tahun 1965-1966. Soal kode ini terpapar dalam dokumen ”Covert Action in Chile: 1963-1973”, yang dilaporkan seorang staf operasi intelijen pada Komite Pilihan Senat AS (US Senate Select Committee).

Dokumen bertanda tahun 1975 itu berhasil dicuri oleh aktivis kebebasan informasi AS dari file rahasia pemerintah AS, yang kemudian dibaca Dennis Small. Pada halaman 15 dokumen itu tertulis: ”Selain dukungan bagi partai politik, CIA juga melancarkan kampanye propaganda anti-komunis besar-besaran memanfaatkan pers, radio, film, pamflet, poster, selebaran, surat, pita kertas, dan lukisan dinding. Itu adalah ’kampanye menakut-nakuti’…” Tujuan akhir kampanye itu adalah untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya agar militer Chili mengambil tindakan.

Cermatilah, cara yang pernah diterapkan di Jakarta efektif juga di Chili. Amerika memang biadab.

Majalah Time juga punya peran dalam pengkondisian Chili. Dalam kegiatan yang berhubungan dengan media, tulis halaman 25 dokumen itu, majalah Time telah ”diletakkan oleh CIA di jalur yang benar mengenai alur cerita yang terjadi di Chili”. Menurut CIA, dalam waktu enam minggu, 726 artikel, siaran, editorial, dan semua hal yang berkaitan dengan aktivitas media di Amerika Latin dan Eropa adalah hasil dari aktivitas agen rahasia. CIA terlibat aktif dalam ”operasi penipuan” untuk memengaruhi militer Chili agar mengambilalih pemerintahan Allende.

Ralph McGehee, dalam pertemuannya dengan Dennis Small, juga mengatakan bahwa keberhasilan di Chili itu sangat membanggakan CIA. Mereka bisa bermain dengan media-media di seluruh dunia, seperti sedang bermain dalam ”Wurlitzer” (jaringan pipa) raksasa yang saling terhubung. Salah satu staf editorial pers lokal Chili adalah seorang agen yang terlibat dalam operasi CIA selama Perang Dingin. Agen itu yang didukung penuh oleh Agency of Encounter –yaitu majalah bulanan seni, sastra, dan politik, yang didanai oleh Congress for Cultural Freedom (Kongres Kebebasan Budaya), sebuah front CIA mengorbitkan sejumlah penulis Barat terkemuka selama tahun-tahun Perang Dingin.

Dan, terbukti, wacana yang dibangun majalah itu luar biasa menguntungkan CIA, efektif mendukung patron operasional di zaman modern. Caranya melindungi ”rahasia” lebih jinak. Memang, wartawan-wartawan seperti ini sangat membantu CIA dalam ”menyelamatkan budaya Barat” dan tradisi kebebasan pers (Press, 9/8/2000).

Lalu, cermatilah, apakah Anda semua melihat ada media seperti ini di Indonesia? Yang seolah meneriakkan kebebasan pers, mengeksplorasi keindahan seni, menyajikan informasi dengan bahasa indah mendayu-dayu, tapi pada dasarnya melegitimasi kekerasan—kekerasan seksual misalnya? Jika iya, berarti CIA memang masih menancapkan kukunya di Indonesia.

Kalau menurut saya, sih, ada. Hanya saya enggak mau menyebut merek. Nanti saya di-bully bebek-bebek mereka yang bejibun. Bukannya takut, hanya malas saja menghadapi sekumpulan pengecut yang bisanya cuma membebek, keroyokan,. Bebek-bebek Amerika yang dengan riang gembira menjual kehormatan Indonesia pada kaum liberalis yang mengobral janji humanisme universal. Pret!

Kembali ke berbagai skenario kudeta. Selain tahun 1973 di Chili, banyak kudeta lain yang didalangi CIA—pasca-Indonesia 1965. Sebut saja salah satunya Kamboja pada tahun 1970, di mana banyak pengamat mencatat jika memang ada keterlibatan CIA di situ, dengan metode serupa yang diterapkan di Indonesia. Operasi itu juga melibatkan sebuah perkumpulan rahasia Jepang. Semua dilakukan demi kepentingan minyakdan sumber daya alam negara yang disasar.

Dalam kasus Indonesia, upaya pembenaran melalui pers ini melibatkan intelijen tentara Suharto –sebagaimana dipaparkan dalam ”Ten Years’ Military Terror in Indonesia”, halaman 239-240. Sementara dalam buku ”September 11”, Noam Chomsky, Allen, dan Unwin menulis jika Amerika menganggap Suharto sebagai ”jenis pria prototype kami”. Pemerintahan Clinton memanggilnya demikian. (”September 11”, Noam Chomsky, Allen and Unwin, 2001, hal. 78-79).

Ya, Suharto dibanggakan, karena ia telah berhasil menjalankan ”titah” Amerika dengan nyaris sempurna –melalui pembantaian dan pelanggaran hak asasi manusia. Suharto dan juga diktator-diktator lainnya di muka bumi ini –yang dipuja-puja di muka, lalu digilas ketika telah tiba masa sepahnya.

Persahabatan Fasis

Kini jelas, bahwa ”menghapus lawan” adalah tujuan utama dari operasi kudeta AS yang berulang kali diterapkan dengan sukses.

Dalam buku “Year 501”, Peter Dale Scott menulis, Marshall Green, mantan Diplomat AS untuk Indonesia tahun 1967, mengaku terlibat dalam pemboman Kamboja yang terjadi di tengah konflik Amerika dan Vietnam itu. Dalam konflik tersebut, Kamboja sebenarnya merupakan negara netral. Tapi Amerika ‘terpaksa’ melibatkannya untuk memberi tekanan pada Vietnam. Pasca-pemboman itu, Amerika menciptakan laskar yang menciptakan teror berkepanjangan di Kamboja itu: Khmer Merah.

”Pemboman pada tahun 1973 itu melangkah ke tingkat historis yang belum pernah terjadi sebelumnya: pembantaian puluhan ribu petani. Green bersaksi di depan Kongres bahwa pembantaian itu harus terus dilakukan karena itu adalah ”keinginan kami untuk mewujudkan perdamaian”,” tulis Peter Dale Scott.

”Perdamaian” yang dimaksud Green adalah memusnahkan komunis Vietnam. Tapi, sudah menjadi rahasia umum jika Amrik tak pernah berhasil menaklukkan negara kecil itu. Bahkan, mereka sampai gemas, hingga menciptakan tokoh fiktif Rambo yang berhasil mengobrak-abrik Vietnam seorang diri –sebagai pengalihan kekecewaan mereka karena tak pernah berhasil mendobrak Vietkong.

Karena itu, mereka menyusun skenario lain. Masuk langsung ke Vietnam tidak mungkin. Maka, mereka menunggangi Kamboja –tetangga Vietnam paling dekat. Pemboman Kamboja adalah provokasi Amerika, dengan bantuan pers tentu saja, untuk menciptakan permusuhan antara Kamboja dan Vietnam. Dan cara itu sukses (lagi). Bom itu membabat 600 ribu nyawa penduduk Kamboja dan cukup untuk membangkitkan kemarahan publik Kamboja pada Vietnam –yang oleh Amerika ‘diatur’ sebagai pengebom.

Amerika memberikan dukungan penuh pada Pol Pot agar membentuk Khmer Merah, yang tugas utamanya membendung arus komunisme dari tetangganya. Maka, seperti yang diterapkan di Jakarta, diciptakanlah pasukan diktator pembunuh untuk memberangus komunisme. Bahkan, pada tahun 1978, Pol Pot mendapat dukungan penuh oleh Barat dalam invasinya ke Vietnam.

Semua itu adalah mahakarya Marshall Green. Green memang seorang master. Dia juga punya ulah di Korea Selatan ketika ia dan CIA mensponsori penggulingan Presiden Syngman Rhee oleh rezim militer Park Chung Hee. Operasi itu berlangsung ketika Green masih menjabat sebagai US Foreign Service Officer di Seoul, Korea Selatan, tahun 1960 (”Ten Years’ Military Terror in Indonesia”, hal. 243).

Marshall Green dan Suharto, 1967.

Rhee mengundurkan diri karena aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang berujung pada anarkhisme. Menurut Peter Dale Scott,cara inilah yang juga diterapkan Greendi Indonesia pada tahun 1965: menggerakkan mahasiswa yang berujung pada kekerasan. Salah satu tokoh mahasiswa dalam aksi itu adalah Akbar Tandjung –yang kemudian sukses menjadi menteri sepanjang Suharto berkuasa.

”Mengingat peran mahasiswa dalam pengambilalihan militer (di Korea Selatan), Green dicurigai juga mendorong gerakan mahasiswa di Indonesia dalam pembersihan pasca-kudeta PKI,” tulis Dale Scott. Dan tidak menutup kemungkinan skenario ini juga yang ‘dijalankan secara efektif’ di Indonesia untuk kedua kalinya: tahun 1998.

Green juga merupakan Duta Besar AS pada saat jatuhnya pemerintah Partai Buruh Whitlam di Australia, tahun 1975. CIA dan lembaga aksi rahasia bentukan Green disinyalir telah melakukan rekayasa gerakan musim gugur, yang kata mereka dilakukan oleh Whitlam. Mereka menanam basis mata-mata AS Pine Gap di Australia. Dan, tentu saja, dengan bantuan medialah mereka merekayasa fakta di Australia, demi membangkitkan kebencian publik pada Whitlam.

Seorang Menteri Pemerintahan Partai Buruh Australia mengaku diancam oleh Green. ”Jika Buruh menyerahkan kontrol dan kepemilikan anak perusahaan multinasional AS untuk rakyat Australia, kita akan bergerak!” kata menteri itu. (”Rooted in Secrecy: The Clandestine Element in Australian Politics”, Joan Coxsedge dkk, Campaign Against Political Police, 1982, halaman 24)

Berkenaan dengan apa yang terjadi Indonesia, Green secara teratur menyampaikan ancaman halus pada publik Australia dengan mengatakan jika ia berada di sana pada pertengahan 1960-an. ”Kami melakukan apa yang harus kami lakukan dan Anda sebaiknya senang karena jika kita tidak melakukan itu, Asia akan menjadi tempat yang berbeda hari ini.” (”Ten Years’ Military Terror in Indonesia”, hal. 244; dan ”The CIA: A Forgotten History”, William Blum, Zed Books, 1986, hal. 220).

Hak asasi manusia yang didefinisikan Green secara pragmatis, yang terwujud dengan konsekuensi yang tidak menyenangkan, yang dibangun dengan ancaman-ancaman.

Pada 16 Maret 1988, ketika Green berkunjung ke Aoteroa, Selandia baru, Christopher Moore, seorang penulis fiksi Amerika, menulis sepak terjang Green di Indonesia dengan begitu ”cantiknya”: ”Selama hampir 40 tahun, ia memainkan politik dengan cara halus. Marshall Green memperlakukan hidup sesuai integritas pribadinya yang keras, mengatasi kebingungan dengan kekuatan, melakukan pendekatan tanpa basa-basi dalam menghadapi massa mahasiswa di Jakarta, dan politisi cerdas Washington DC, seperti seorang kepala sekolah yang ketat tapi jinak.”

Itulah cara seorang penulis Amerika menggambarkan Green –yang tangannya berlumuran darah orang-orang Indonesia dan Kamboja—dengan begitu ”indahnya”.

Lepas dari Dinas Luar Negeri, Green masih memainkan banyak peran manipulasi kudeta di berbagai negara Dunia Ketiga. Ia sempat menjabat sebagai direktur Population Crisis Committee, sebuah komisi yang bertugas ”mengendalikan keseimbangan populasi” di muka bumi. Dengan sentuhan manisnya, pers Barat –yang kemudian diikuti oleh pers seluruh dunia—menggambarkan Green dengan begitu cantiknya. Mereka mengutip pernyataan Green yang sangat “humanis”: ”Dari semua yang telah saya lakukan, saya tetaplah seorang humanis yang realistis.” Pernyataan manis untuk menutupi jiwa yang bengis.

Ironisnya, bersamaan dengan kunjungan Green ke Selandia Baru itu, di mana ia diagung-agungkan oleh pers Barat, buku Gabriel Konko berjudul ”Confronting the Third World/Menghadapi Dunia Ketiga”, terbit. Buku itu mengupas tuntas keterlibatan tangan Green yang berdarah-darah di hampir seluruh ’kudeta’ yang terjadi di Dunia Ketiga. Namun, buku itu tak dianggap karena kalah kuat dari propaganda positif tentang Green.

Sementara Dominion Sunday Times –koran terkemuka Selandia baru—edisi 28 Februari 1988, menyebut Green adalah sosok yang membanggakan. Richard Long, salah satu editor suratkabar tersebut berkomentar bahwa: “Dia (Green) diangkat sebagai Duta Besar untuk Jakarta pada tahun 1965 ketika kaum moderat berhasil mengalahkan usaha pengambilalihan pemerintahan yang dilakukan oleh Presiden Sukarno yang Komunis”. Long menuduh Sukarno komunis!

Wajar Long memuji Green. Sebab, seperti yang terpapar dalam bab 5 buku ”Year 501”, Long yang dikenal dekat dengan Kedutaan Besar AS di Wellington, Selandia Baru. Karena itu, wajar ia menjadi antek media Green yang rajin menyebarkan disinformasi untuk mendukung pembunuhan massal–khas gaya fasis-moderat Green.

Long juga menyebut Green sebagai”elang tua”–sebagai kiasan untuk mengidentikkan Green sebagai sosok yang lunak dalam menghadapi masalah (Dominion Sunday Times, 28/2/88). Long juga menyebut bahwa Green memuji Indonesia yang berani menentang Sukarno; dan mengatakan jika keberanian ini bukan hanya oleh militer, tetapi juga oleh unsur-unsur lain di seluruh birokrasi dan masyarakat Indonesia.

Selain semua propaganda dijelaskan sebelumnya, perlu dicatat bahwa pada pertengahan 1964 Presiden Sukarno dikabarkan sakit parah. Berangkat dari fakta itulah, Long berporpaganda bahwa adalah sebuah kekeliruan besar jika menyebut Washington ikut berkonspirasi dalam kudeta ini. Long juga menyebut jika Green tak terlibat dalam penggulingan Whitlam di Australia.

Jelas itu semua hanya propaganda Barat untuk mencuci tangan Green yang berdarah-darah itu. Sebab, hampir semua penelitian yang objektif tentang kudeta di Indonesia, yang kemudian menular ke banyak negara lain, merupakan mahakarya Mr. Green.

Mahakarya yang didukung oleh kekuatan pers. Sebuah parade kekuasaan yang berdarah-darah, yang disamarkan dalam kosmetika kemanusiaan—humanisme universal—yang terkesan cantik, halus, dan WAJIB diamini oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Perang yang berlangsung hingga kini, dengan menempatkan barisan media massa di garda terdepan untuk membangun propaganda.

Dan perang wacana itu masih terjadi di Indonesia.

Peperangan Baru

Pemerintahan Bush di Amerika adalah penyebab kekacauan yang ditimbulkan oleh proyek penciptaan ”Dunia Baru”. New World Order. Korbannya sudah banyak, sangat banyak, di mana Irak dan Afganistanlah yang paling menonjol. Dan cita-cita Bush itu masih diteruskan oleh Presiden Amerika berkulit hitam pertama, Barrack Obama—yang diyakini sebagai simbol demokrasi dan humanisme universal sejati.

Apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, dan Suriah sepertinya telah menjelaskan pada kita bagaimana Obama yang sebenarnya. Sama saja. Ia tetap orang Amerika –bangsa yang selalu panik menghadapi arus dunia yang mereka nilai berlawanan dengan proyek New World Order yang ”demokratis” itu.

Di Indonesia, Orde Suharto, yang disahkan oleh Amerika Serikat, telah berakhir dengan aib. Aib yang menyisakan bencana dengan ketidakpastian yang mendalam dalam semua sendi kehidupan. Apakah setelah Orba runtuh urusan Amerika selesai? Belum.

Negara ini bisa menjadi sasaran berikutnya untuk drama ”perang melawan terorisme” AS—mengingat muslim Indonesialah yang terbesar di dunia. Sasaran empuk, tentu saja. Amerika tetap cawe-cawe melalui perpanjangan tangan mereka, Australia dan Selandia Baru. Dan Amerika berhasil menciptakan ketakutan. Lihatlah, betapa Presiden SBY tak kuasa apa-apa kendati jelas-jelas Australianya Tonny Abbot itu meludahi kedaulatan Indonesia dengan menyadap pembicaraan petinggi negara.

Perdagangan bebas dan investasi –inti globalisasi AS dan Barat untuk menguasai Dunia Ketiga—menemui perlawanan dari negara-negara Muslim. Mereka paranoid pada negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Terutama Indonesia, tentu saja.

Indonesia wajib ditaklukkan. Sebab, dilihat dari sisi proyek jangka panjang Amerika, Indonesia adalah negara yang dianggap akan memberikan manfaatpaling besar dari GATT (General Agreement on Tariff and Trade) yang digagas di Uruguay pertengahan 1990-an. GATT ini akhirnya berubah menjadi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Berbanding lurus dengan semangat perdagangan ini, semangat konflik dengan ”pengkreasian” perang teroris di abad ke-21 juga kian bersemangat. Untuk memancing agresivitas muslim, Amerika kembali melakukan provokasi. Caranya: mengekspor teknologi militer ke seluruh dunia, yang memungkinkan negara-negara lain untuk memperkuat pertahanan, dan akhirnya menantang AS. (”Virtual War”, hal. 210).

Dan, mungkin ini yang jarang diketahui kita, bahwa, seperti yang terungkap dalam dokumen Wikileaks, Amerika telah menyusun daftar korban mereka secara berurutan: berawal dari Irak, Afganistan, Tunisia, Libya, Mesir, Suriah, dan…. Indonesia. (Bukti cawe-cawenya Amrik bisa dilihat di sini)

Pembenaran invansi mereka didukung penuh semangat oleh propaganda media-media Barat dan media di Dunia Ketiga –termasuk media di Indonesia sendiri–yang memperhamba pada Barat. Media pelacur seperti ini gampang ditengarai: yaitu mereka yang selalu mengusung tema kebebasan dan humanisme universal, tapi mendukung penuh pelembagaan kekerasan, terutama kekerasan politik, budaya, dan seksual.*

 

Advertisements

4 thoughts on “Hantu Genosida di Balik Kabut Propaganda #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s