Hantu Genosida di Balik Kabut Propaganda #2

Massacre has begun!

Dennis Small, seorang penulis Amerika yang mencermati aktivitas intelijen dunia Barat, mencurigai adanya propaganda untuk membutakan publik dunia demi berdirinya Kekaisaran Kapitalisme Barat –yang dimulai dari Indonesia. Small adalah satu dari sedikit orang yang memperhatikan genosida di Indonesia dengan cermat. Beberapa kali ia mengulas temuannya soal kaitan propaganda dan pembantaian di Indonesia –di mana pada akhirnya nanti model pembantaian ini diterapkan juga untuk mereka yang menolak Barat: negara-negara Dunia Ketiga.

Salah satu artikelnya diterbitkan dalam Jurnal Peace Researcher edisi I, No. 13, Juni 1987. Judul artikelnya adalah ”The Free Press dan CIA”. Artikel tersebut mengungkap temuan Small tentang pengaruh CIA dan pers Barat dalam memengaruhi pembentukan wacana pasca Gestapu, yang kemudian disebarluaskan oleh pers Indonesia.

Small menyertakan pernyataan seorang analis Inggris kelahiran Kanada, Peter Dale Scott, yang menyebut bahwa upaya kudeta itu dimanipulasi oleh Suharto dan CIA. Dengan adanya wacana yang menjadi ’pembenaran’ tentang ’kudeta Komunis’, yang ’membuktikan’ bahwa komunis benar-benar telah melakukan kudeta, maka Suharto mempunyai alasan untuk membabat mereka. Begitulah logika sederhananya. Penalaran sederhana untuk hasil yang biadab.

Sebelum diterbitkan Peace Researcher, artikel tersebut pernah dikirimkan Small ke redaksi Press Editor, sebuah suratkabar terbitan Amerika yang cukup berpengaruh, pada September 1986. Tapi, berhubung memuat materi yang ’sangat riskan’, artikel Small mengendap di redaksi. Ia pun bertanya-tanya, kenapa? Akhirnya ia mendatangi si Editor. Pada Small, Editor beralasan artikelnya membahayakan dan bisa menimbulkan kekacauan.

Ternyata bukan hanya artikel Small yang diendapkan Editor. Artikel-artikel lain yang juga menaruh perhatian yang sama dengan apa yang dicermati Small pun ditahan. Dari kejadian itu Small bisa menarik kesimpulan, bahwa pers Barat mendukung cuci tangan dari pembantaian yang terjadi di seluruh dunia itu, dengan selalu menutup-nutupinya. Semua demi ”perdamaian”.

Pada tahun 2000, setelah Suharto lengser dibabat krisis ekonomi, Small merasakan sebuah dejavu ketika membaca sebuah artikel dalam suratkabar Press Editor. Ia merasa aneh dengan artikel yang ditulis oleh seorang politisi konservatif Inggris bernama Peter Fry itu. Artikel tersebut membahas genosida di Indonesia yang melibatkan Suharto, tapi tidak melibatkan CIA.

Karena merasa ada yang kurang beres, Small mengirimkan surat pada Press Editor, mempertanyakan sudut pandang artikel itu. Ia berharap suratnya dimuat untuk membenarkan informasi yang dirasanya telah dipelintir oleh Fry.

Namun, media itu menolak dengan alasan jika tulisan Small itu ”tidak berguna dan tidak terhormat”. Mereka juga mengklaim jika mereka bertugas untuk ”menangani semua masalah”. Small tak putus asa. Jika sebelumnya surat ia kirim melalui pos, berikutnya ia mencoba mengirimkan langsung ke redaksi. Namun, hasilnya sama saja: ditolak.

Dennis mencoba berdebat dengan editor tentang alasan penolakan itu. Namun, dari perdebatan itu, Dennis semakin yakin jika pers Barat ingin menutupi peran partisipasi Barat dalam genosida yang diulasnya. Pers Barat bertugas mencari kambing hitam untuk menutup-nutupinya. Media itu memilih artikel yang menyudutkan Suharto sendirian, tanpa ada peran Barat di sana, yang ditulis dengan indahnya oleh Peter Fry.

Ilusi Informasi

Artikel Peter Fry menyalahkan Suharto dalam genosida Komunis, warga keturunan Tionghoa, dan pembunuhan lainnya yang terjadi di Indonesia selama 1965-1967 (Press, 2/10/00, hal. 9). Dalam artikel itu, Fry menyebut pembantaian tersebut direncanakan dan diatur oleh pasukan Intelijen dan militer Indonesia, yang ’kebetulan’ beraliansi dengan Barat.

Barat mengkambinghitamkan Suharto.

Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, dan rezim Suharto runtuh, Barat lepas tangan terhadap rezim bentukannya itu, dan menimpakan semua kesalahan atas kesengsaraan Indonesia pada keluarga Suharto. Dari perlakuan Barat ini, khususnya Amerika, yang jauh berbeda pada Suharto setelah si penguasa Orba lengser, Dennis pun berkesimpulan, kendati Barat mendukung masa lalu si penguasa, tapi mereka tidak akan mendukung untuk selamanya. Dukungan tergantung situasi dan kondisi. Ketika rezim bentukannya ambruk, maka Barat akan meninggalkannya dan mendukung rezim baru yang lebih ’sesuai dengan kondisi dan situasi’.

Apa yang terjadi pada Suharto ini persis sama dengan yang menimpa Ferdinand Marcos di Filipina, Jean-Claude ”Baby Doc” Duvalier di Haiti, dan Mobutu Sese Seko di Zaire/Kongo. Ketika awal berdirinya rezim mereka diangkat tinggi-tinggi oleh Barat, ketika rezim runtuh, mereka diempas keras-keras.

Menjelang pergantian milenium, Time menghancurkan Suharto dengan mengangkat isu penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia. Time sok mengkritik model pembangunan Bank Dunia, yang menjerat negara Dunia Ketiga dengan utang itu, di mana model pembangunan tersebut diterapkan oleh Suharto. Dalam sajian utama edisi Mei 1999, Time mengangkat isu harta Suharto yang jumlahnya tak terhitung lagi, hasil dari menilap utangan dari Bank Dunia, sementara rakyatnya miskin dijerat krisis ekonomi. Berita itu, jelas, bermaksud untuk membangkitkan kebencian dunia pada Suharto—dengan mencapnya sebagai diktator rakus harta yang ’bermain sendirian’.

Time menghujat Suharto. Ini ironis. Sebab, Time-Life Corporation, induk perusahaan yang menaungi majalah Time, adalah tuan rumah dalam ”pesta potong kue” sumber daya alam Indonesia setelah Suharto berhasil menyingkirkan Sukarno, yang digelar di Swiss pada tahun 1967. Dari konferensi bisnis itulah Barat leluasa masuk dan mengeduk Indonesia –sebagaimana yang sudah saya bahas dalam tulisan ”Keep Indonesians Pot Boiling”.

Tapi, itu dulu. Situasi telah berubah. Suharto kalah. Dan Barat memilih untuk bersikap kejam pada mantan kliennya yang telah menjadi pecundang. Suharto, yang melindungi investasi mereka selama lebih dari tiga dasawarsa, pun mereka gilas dengan isu ”pelanggaran hak asasi manusia”. Propaganda Barat bermain lagi: melemparkan kesalahan pada anak didik yang telah habis manisnya. (Soal bagaimana teknik Barat ini diterapkan di bagian lain dunia, pernah saya bahas dalam tulisan ”Akhir Tragis Kisah Asmara Politis” di bagian lain blog ini).

Peter Fry, oleh Press Editor, disebut-sebut sebagai mantan kolonel Angkatan Darat dan atase pertahanan Inggris di Indonesia ketika genosida meletus. Ia dianggap lebih paham peristiwa itu dibanding Small. Artikel Fry mengangkat isu-isu miring tentang Suharto, antara lain: Suharto adalah agen ganda, korupsinya yang menggurita selama berkuasa, dan perannya secara umum dalam kudeta 1965.

Menurut Small, artikel Fry itu cukup menarik, sebab sama sekali tidak menyebut keterlibatan Barat dalam seluruh episode peralihan kekuasaan di Indonesia. Dalam gonjang-ganjing di Indonesia, menurut kacamata Fry, Suharto si pengkudeta, PKI, dan Sukarno sama-sama melakukan kesalahan. Namun, dalam artikel itu, ia khusus mengupas kesalahan Suharto. ”Di malam kudeta, PKI telah yakin berhasil mengambil-alih kekuasaan dari Sukarno dengan cara damai. Tapi, di sisi lain, mereka punya musuh, yaitu ABRI yang berseberangan dengan Sukarno,” Fry memulai analisa ala propagandisnya.

Menurut Fry, cerita tentang rekayasa keterlibatan PKI dalam Gestapu tidak masuk akal. ”Tampaknya tidak mungkin jika PKI, dengan melihat kekuatan mereka, melakukan kudeta dengan kekerasan. Jadi, kudeta itu dilakukan oleh tentara yang sakit hati, lalu melibatkan PKI dalam tahap akhirnya di malam kudeta, dan menjanjikan keamanan pada PKI,” kata Fry.

Fry juga menyatakan bahwa sebenarnya kudeta itu telah direncanakan matang dalam sebuah ”konspirasi”. Menurutnya, Sukarno mengetahui dan merestui kudeta itu, dan di saat yang tepat –sebut Fry—Sukarno akan mengeluarkan pernyataan yang dukungan terhadap aksi tersebut. Fry juga menyebut bahwa konspirasi itu seharusnya memasukkan Mayor Jenderal Suharto sebagai salah satu jenderal yang akan dibersihkan. Sebab, seperti kata Fry, Suharto adalah double-agent. Karena dia tidak disapu, maka Suharto mengambil kesempatan di tengah carut-marut koordinasi gerakan. Suharto pun masuk dan mengkhianati semua pihak yang terlibat: Sukarno, PKI, dan jenderal pendukung mereka.

Selanjutnya, untuk menyelamatkan citra Angkatan Darat, Suharto pun mengkambinghitamkan PKI. Sebab, menurut Fry, Suharto memandang PKI lah yang paling mudah dikorbankan mengingat partai itu tidak didukung kekuatan militer. Dengan melenyapkan PKI, maka Suharto sukses menghapus jejak keterlibatan Angkatan Darat dalam kudeta tersebut. ”Karena itu, cerita horor genosida harus dimainkan,” simpul Fry.

Fry menekankan bahwa: ”Pasukan balas dendam pun dilepaskan, seolah-olah tindakan itu merupakan spontanitas balas dendam masyarakat”. Dan, menurut Fry, apapun peran Suharto, dia sukses memanfaatkan segala kesempatan dalam situasi itu lalu menghancurkan PKI dengan kejam. Analisa Fry ini, menurut Small, sejalan dengan pendekatan Barat dalam memandang Suharto pasca-lengser, di mana mereka semua kompak menimpakan semua kesalahan pada mantan penguasa Orde Baru itu. Barat sedang cuci tangan.

***

Pers dan Barat memanipulasi fakta dengan membangun wacana bahwa justru Suhartolah yang menyeret CIA dari dalam. Suharto bermain dengan Angkatan Daratnya. Menurut Dennis Small, kesan itu perlu dibangun untuk menyelamatkan citra CIA dan Barat. Agar ”kelakuan” mereka tak terdeteksi masyarakat dunia secara luas. Ya, sebab, peran CIA dalam operasi itu sangat sensitif. Jika terbongkar, mereka akan kesulitan untuk menjalankan ”operasi selanjutnya” di negara Dunia Ketiga lainnya.

Jika rencana itu terendus, tak mungkin mereka bisa menjalankan skenario 9/11/2001 itu dengan lancar jaya. Sudah hampir menjadi rahasia umum jika ditabraknya menara kembar WTC Amerika itu adalah rekayasa Barat sendiri, untuk membuka pintu invansi ke Afganistan, dengan menciptakan propaganda drama ”perang melawan terorisme”, yang menempatkan Osama bin Ladin sebagai kambing-hitam (baca juga tulisan lain di blog ini, ”Akhir Tragis Asmara Politis”). Politisi dan pemerintah Amerika perlu memagari diri mereka dengan propaganda untuk menghindari ”balas dendam” dari negara-negara yang pernah mereka kadali.

Wajar jika Amerika takut bakal menjadi sasaran balas dendam. Mereka terlalu banyak mencampuri urusan rumah tangga negara lain, mengacau-balaukan urusan domestik negara-negara berdaulat. Yang harusnya tenteram, gara-gara ulah mereka, jadi kacau balau.

Ada lagi bukti keterlibatan Amerika pada kisruh di Indonesia. Pada tahun 1994, sebuah dokumen Departemen Luar Negeri AS yang cukup panjang dirilis. Isinya adalah rincian operasi rahasia besar CIA di Indonesia selama tahun 1950. Dokumen ini membuktikan bagaimana Presiden Eisenhower diam-diam mengintervensi Indonesia dan mendukung kelompok oposisi bersenjata di pulau Sulawesi (Permesta) dan Sumatera (PRRI). Amerika berperan sebagai penasihat serta penyedia senjata dan peralatan komunikasi untuk gerakan separatis. Trik busuk ini adalah bagian dari upaya Barat untuk menggulingkan Sukarno –yang memilih untuk memagari sumber daya alam Indonesia dari rakusnya kapitalisme. Upaya serupa terus dijalankan oleh Barat melalui rangkaian kasak-kusuk busuk dan propaganda yang menemui puncaknya pada 1965-1966.

Pada bulan Juli 2001, Amerika geger. Sebuah buku yang mengungkap peranan Departemen Luar Negeri AS dalam banyak pembantaian di berbagai negara, terungkap, dan disiarkan oleh Radio NZ (29/7/01) serta dimuat dalam jurnal Independent di London (20/7/01). Salinan buku itu didapatkan oleh sebuah organisasi yang mengampanyekan akses kebebasan informasi –yang selalu berusaha menguak dokumen-dokumen rahasia AS—dari Arsip Keamanan Nasional Amerika Serikat.

Dokumen ini adalah lanjutan kabel diplomatik yang membuktikan jika cerita Fry itu seribu persen bohong. Dokumen membuktikan jika Kedubes AS terlibat. Kedubes memberikan nama-nama anggota PKI kepada tentara Indonesia di bawah komando Suharto, dan mendanai penuh pasukan pembantai. Dari sokongan inilah, militer kubu Suharto dan ormas-ormas bentukannya menghabisi lebih dari 100.000 anggota PKI.

Salah satu dokumen yang dikirim ke Washington menyatakan: ”The chances of detection . . . of our support in this instance are as minimal as any black bag operation can be” (Independent, 20/7/01). Menurut buku itu, pada bulan Desember 1965, Marshall Green, Duta Besar AS, memberikan dukungan sebesar Rp50 juta (£ 3.500) untuk ongkos gerakan Kap-Gestapu.

Kap-Gestapu –secara harfiah berarti ’perintah untuk menghancurkan Gestapu’—adalah kelompok anti-komunis militan yang khusus dibentuk oleh Angkatan Darat untuk menjadi ujung tombak genosida. (Arsip ini bisa dilihat di http://www.gwu.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB52/ )

***

Operasi tersebut adalah bukti bahwa Amerika selalu campur-tangan dalam urusan Dunia Ketiga –yang mereka pandang sebagai ancaman rencana globalisasi mereka. Saat ini, keikutcampur-tanganan itu direpresentasikan dalam ”perang melawan terorisme”. Intinya, siapapun yang menghambat gagasan Barat dibabat dengan propaganda dan pembantaian.

Pada tahun 1990, majalah Time memuat wawancara dengan mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia tahun 1967, Marshall Green. Green menceritakan percakapannya dengan Wakil Presiden waktu itu, Richard Nixon pada wartawan Time bernama Tad Szulc. Green mengatakan jika apa yang terjadi di Indonesia waktu itu sangat menarik bagi Nixon –yang waktu itu menjadi wakil Presiden Eisenhower—karena berjalan dengan baik. ”Saya pikir dia (Nixon) tertarik dengan cara yang berhasil diterapkan di Indonesia, dan memikirkan bagaimana agar cara ini diterapkan di seluruh Asia Tenggara, mungkin juga dunia saat ini (1990),” kata Green.

Gagasan Nixon ini pun dijalankan dengan gemilang oleh George Bush sejak awal 1990, dimulai dengan provokasi Perang Teluk-nya, isu senjata pemusnah massal Irak yang tak pernah terbukti, dan tragi-komedi 9/11. Lalu dilanjutkan dengan berbagai operasi ”perang melawan terorisme” ke seluruh negara Dunia Ketiga.

Massacre has begun! (bersambung)

Demon Bush

 

Pasukan Sekutu di Afganistan
Advertisements

One thought on “Hantu Genosida di Balik Kabut Propaganda #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s