Sosialisme adalah Cinta

Konsep sosialisme kami bukan termasuk materialistis-ekstrim, karena Indonesia takut pada Tuhan: bangsa yang mencintai Tuhan.

SOEKARNO

SAYA bukan komunis. Saya tak pernah bersimpatik dengan faham itu. Saya termasuk orang yang memilih untuk menghargai bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Jadi, ya, tidak bisa dipukul rata. Sama rata sama rasa itu, menurut saya, cara penempatan manusia paling keblinger.

Apalagi ketika faham ini mengeluarkan fatwanya itu: “agama adalah candu”. Kebutuhan yang membikin ketergantungan, memabukkan, dan membuat manusia lupa pada tugasnya. Secara harfiah, pandangan ini menistakan sisi religi dan spiritualitas manusia. Pandangan ini sangat tak saya setujui, secara pribadi. Saya tak setuju, sebab, dia mengingkari adanya ruh dan sumber ruh di alam semesta ini.

Sebab, memang, seperti asas filsafat Karl Marx, bahwa energi –ruh—itu tak bisa mendahului materi. Ruh ada setelah materi ada. Berat pada batu tak akan ada jika batunya tak ada. Panas pada api tak akan ada jika apinya tak ada. Begitulah sederhananya. Ruh terikat dengan materi. Itu mutlak, kata mereka yang mengaku komunis. Dan, ruh yang tak terikat atau terwujud dalam materi –seperti konsep umum umat manusia tentang Tuhan—berarti gugur dengan sendirinya.

Saya pikir, picik sekali pandangan itu.

Dari sudut pandang saya, justru ruh atau energi –yang secara gampangnya adalah “sesuatu” yang tak bisa dideteksi oleh panca-indera—itulah yang membentuk materi. Kita coba tengok “filsafat lego” ala Demokritus, beratus tahun sebelum bilangan tahun memasuki masa Masehi, yang kemudian disempurnakan oleh Einstein dengan penyelidikannya terhadap atom.

Materi itu, yang bisa diinderai itu, disusun oleh bagian terkecil yang sangat kecil, yang tak terhitung jumlahnya. Ya, seperti permainan lego itulah. Sebuah bentuk disusun oleh berbagai komponen, oleh bentuk yang lain. Karena disusun, maka ia pun dapat diurai. Buktinya, sesuai dengan hukum ilmu pengetahuan modern, semua materi bisa diurai hingga satuan terkecil bernama atom, proton-neutron, DNA, mitokondria, dst, dst, dan itu pun masih bisa diurai lagi hingga bagian terkecil yang tak terinderai saking halusnya –yang oleh ilmu pengetahuan modern disebut quantum, sementara Islam menyebutnya zarah.

Nah, karena tak terinderai itulah—tak empiris jika meminjam istilah mazhab Frankfurt—maka dia terkesan “tidak ada”. Padahal dia ada, tapi sangat kecil. Lembut. Amat sangat terlalu lembut. Ia “menipu” indera manusia. Sekaligus bukti bahwa indera manusia itu sangat terbatas.

Terlalu banyak hal yang tak kita ketahui apabila kita terlalu takluk pada panca-indera. Maka, ketika kita terlalu materialistis, inderawi, kita hanya akan menjadi pribadi yang kerdil. Perspektif kita akan terbatas. Untuk tak menjadi kerdil, Immanuel Kant mengingatkan kenyataan filsafatnya pada kita semua: bahwa apa yang diketahui manusia itu, yang terinderai, yang “ada”, ialah konsep yang sangat terbatas. Konsep ini untuk kemudian disempurnakan oleh filsafat eksistensialis-egoistis ala Sartre: Manusia hanya ingin mengetahui apa yang ingin ia ketahui. Kata kuncinya: ingin. Subjektivisme. Ketika manusia berlutut pada ingin, maka ketika itulah ia menjadi sempit.

Saya, jelas, tak setuju filsafat itu.

Sebab, sejauh pengetahuan saya, di luar konsep manusia itu ada pula “kenyataan-kenyataan” lain yang berlangsung, di luar kesadaran konsep yang disadari oleh manusia. Itu sebenarnya kenyataan materi, namun tak tercakup dalam pengetahuan indera kita secara kasat. Maka dari itu, Kant menyuguhkan analogi: “Moral di dalam diriku, sementara bintang berputar di atas kepalaku.” Moral adalah sesuatu yang disadari manusia, menjadi perhatian, maka ia “dianggap ada”. Sementara pergerakan bintang, kendatipun ia tak ada dalam “prioritas perhatian” kita, ia tetap ada, bergerak dengan lintasan-lintasan yang kerapkali tak pernah kita sadari.

Seperti itulah manusia-manusia materialis: kerapkali tak menyadari keberadaan energi. Namun, kita sadari atau tidak, energi itu ada. Energi itu kekal. Ia tak dapat diciptakan, pun tak dapat dimusnahkan. Ia berubah bentuk –bersama maupun di luar kesadaran manusia. Setidaknya itulah fondasi gagasan Einstein yang diamini ilmuwan eksakta generasi-generasi sesudahnya karena bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.

Contoh-contoh perubahan energi itu, seperti yang kita pelajari dalam ilmu hayat, ialah mencair, menguap, memadat, memuai, mengkerut, atau menyublim, dan sebagainya, dan sebagainya. Dalam definisi sublim inilah, dari benda gas menjadi padat, alam semesta memberi kita pelajaran yang nyata tentang energi: bahwa benda padat, materi, disusun dari energi yang sangat halus.

Materi ialah energi yang bisa diinderai. Dengan adanya materi inilah manusia berkesempatan untuk “berkenalan” dengan energi. Dengan adanya benda orang bisa mengenal berat. Dengan adanya api orang bisa mengenal panas. Begitulah untuk seterusnya, dan seterusnya. Maka dari itulah, pemahaman yang menyebut agama ialah “candu” hanya karena dia tak bermateri, menurut saya, adalah pandangan yang terlalu kerdil.

Sebab itu saya tak setuju dengan komunisme yang materialistis itu. Karena saya percaya adanya Tuhan. Sang Maha Segala Maha Energi, yang dengan kebaikan-Nya menghadiahkan energi untuk manusia agar makhluk paling mulia ini membangun sejarahnya sendiri. Agama bukan candu. Agama bukan ilusi. Ia adalah kenyataan. Karena Tuhan adalah energi yang membentuk kita. Ia adalah kenyataan: kenyataan energi.

Berangkat dari asumsi inilah maka saya percaya bahwa cinta itu pada hakikatnya ada dalam diri manusia. Cinta adalah energi. Cinta itulah sumber gerak. Minimal cinta pada diri sendiri. Jika cinta pada diri, manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya –hingga tuntutannya. Karena itulah ia bergerak. Namun, dalam konteks cinta individualistis, yang menuntut, cinta itu malah menjadi kerdil. Cebol, karena ia tak dibagi. Ia sempit. Ia tak luas. Dan ia akan menjadi penyakit.

Cinta ialah energi; energi untuk bahagia dan membahagiakan. Energi untuk berbagi. Energi yang tak ditimbun. Energi yang didistribusikan, karena sesuai hukumnya sendiri, energi harus mengalami perubahan bentuk. Itu hukum semesta. Jika cinta hanya dimiliki, diperam, ditimbun, dia akan menjadi destruktif. Merusak diri manusia. Belajarlah pada perut: ia akan menyodokkan isinya menjadi muntahan atau cepirit jika kita terlalu banyak menumpuk makanan di dalamnya.

Kembali ke cinta sebagai energi. Cinta yang saya maksud ialah cinta yang luas; yang universal –bukan cinta yang obsesif, bukan cinta yang terikat pada objek-objek yang terbatas. Cinta yang membawa semangat, membawa energi memberi inilah yang saya yakini akan membentuk wajah peradaban manusia dalam komposisinya yang paling cantik.

Saya bukan komunis. Tapi, saya adalah seorang sosialis. Ya, saya nyatakan, saya seorang sosialis. Sosialisme dengan diktum dasarnya itu: “Dari masing-masing sesuai kemampuannya, untuk masing-masing sesuai kebutuhannya.” Menurut saya, ini adalah konsep perikehidupan yang adil. Manusia, dengan bantuan energi, berusaha sesuai dengan energi yang ada padanya, dan mendapatkan sesuai dengan energi yang ia lepaskan. Hukum timbal-balik. Keseimbangan. Aerodinamika. Karena keseimbangan ini pulalah alam bergerak dalam harmoni.

Konsep distribusi energi cinta sosialisme itulah yang ideal. Tak memaksa menjadi manusia untuk menjadi bebek-bebek berbaris sebagaimana komunis, tak pula memaksa manusia untuk menjadi musang yang culas layaknya kapitalisme.

Saya bukan komunis. Dan saya tak suka pula pada kapitalis –karena konsep konsentrasi dan penumpukan kapitalnya yang memujua eksistesialisme-individualistis itu antonim dari hukum distribusi atau pergerakan energi yang saya yakini. Karena itu saya menolaknya.

Karena kelakuan para kapitalis ini pula –yang memperbudak manusia-manusia yang mereka paksa kehilangan hak dengan segala tipudaya, bahkan memelintir konsep kebaikan Tuhan, sehingga membuat pekerja menjadi “terasing” dari dirinya sendiri—orang-orang yang bekerja itu menjadi apatis, putus asa pada keadilan Tuhan, dan akhirnya mengambil jalan sesat dengan menjadi menjadi seorang komunis. Atau ketika mereka yang pernah ditindas itu mendapat kesempatan untuk menjadi seorang borjuis, ia akan membalas dendam pada masa lalunya, menjadi rakus, dan menindas pula, hanya karena trauma pada masa lalu. Kelakuan lumrah manusia: timbal-balik energi alam-semesta yang dipahami secara salah kaprah. Perilaku seperti ini tak pernah saya sukai. Ini prinsip.

Saya adalah seorang sosialis. Setidaknya, mencoba untuk menjadi sosialis sesuai dengan kapasitas saya. Sesuai batas energi yang ada pada saya: yang bisa saya lepas, yang bisa saya bagi.

Saya percaya Tuhan, dan Tuhan yang saya percayai senantiasa memerintahkan saya untuk berbagi.

Sesederhana itu saja.


Indonesia berbeda dari penduduk bumi lainnya.

Sosialisme kami tidak termasuk konsep materialistis ekstrim karena, terutama, Indonesia takut akan Tuhan, bangsa yang mencintai Tuhan.

Sosialisme kami adalah suatu campuran.

Kami menarik persamaan hak politik dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika.

Kami menarik persamaan spiritual dari Islam dan Kristen.

Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx.

Dari campuran ini, kami menambahkan identitas nasional: Marhaenisme.

Kemudian kami taburi gotong-royong, roh, esensi bekerjasama, hidup bersama, dan membantu satu sama lain.

Campur semuanya dan hasilnya adalah Sosialisme Indonesia.

~Soekarno~

Advertisements

One thought on “Sosialisme adalah Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s