Dari Soekarno untuk Kawan Tjipto: Maju, Terus Maju!

Hari Kebangkitan Nasional. Tak salah kiranya jika kita mengingat kembali hebatnya perjuangan tokoh-tokoh pembangkit semangat Nasionalisme Indonesia ini. Dan inilah tulisan Soekarno muda yang dipersembahkan khusus untuk dr. Tjipto Mangunkusumo; tulisan yang menghantarkan kepergian kawan Tjipto ke Digul –untuk menjalani masa pembuangannya yang ke sekian kali. Tubuh boleh dibelenggu, tapi maju harus terus maju!


 

SAMPAI KETEMU LAGI!

…Muting, Digul,… Banda!… Dan kawan kita Tjipto Mangunkusumo berangkat, membawa keluarganya, diiring oleh istrinya yang berani dan berbesar hati –meninggalkan kita yang buat beberapa tahun lamanya berdiri di samping-sisinya, dengan persamaan asas, persamaan tujuan, dan persamaan tindak. Buat ketigakalinya maka Tjipto masuk ke dalam hidup-pembuangan, menjalankan hukuman yang dijatuhkan padanya oleh hak-luar biasa dari pada kaum pemerintah; buat ketiga kalinya, ia mempersembahkan pengorbanannya terhadap pada Tanah-Air dan Bangsa yang ia abdikan, dengan kepala yang tegak dan hati yang besar.

Dan kita, kawan-kawannya yang ia tinggalkan, kita kaum nasionalis Indonesia, kaum nasionalis Sumatera, kaum nasionalis Sunda, kaum nasionalis Jawa, kaum nasionalis lain-lain; –kita mengucap selamat jalan padanya, dengan kepala yang tegak dan hati yang besar juga. Sebab fajar mulai menyingsing; ayam jantan karenanya sudah mulai berkokok. Tjipto dibuang, atau Tjipto tidak dibuang… pergerakan maju, ke arah yang ditujunya, matahari tak urung akan terbit.

Sebagai yang kita tuliskan dalam “Suluh Indonesia Muda” yang ke-satu: kita percaya akan keharusan segala hal yang terjadi; kita percaya bahwa semua hal yang terjadi itu ada baik dan berfaedah bagi kesudahannya. Karena itulah kita berbesar hati!

Kita, kawan-kawannya, kita akan senantiasa memperingati kata-pesannya, yang ia maktubkan dalam ia punya surat terbuka di muka ini. Kita akan camkan ia punya pesanan, bahwa kita tak boleh “melupakan ikhtiar, walau bagaimanapun juga kecilnya, untuk membikin indahnya hari-kemudian menjadi seindah-indahnya”. Kita akan menunjukkan pada anak-cucu dan turunan kita, bahwa hidup kita ialah “bukan hidup yang sia-sia”, bahwa hidup kita ialah hidup berjuang.

Apakah pengajaran yang harus kita ambil dari pembuangan kawan Tjipto ini? Apakah cermin yang diperlihatkannya?

Pertama-tama: Caranya kawan Tjipto menjalankan pembuangan ini adalah mengajarkan pada kita, bahwa ikhtiar membikin indahnya hari-kemudian itu ialah bukanlah ikhtiar yang gampang dan ringan, akan tetapi ikhtiar yang susah-payah dan berarti; –suatu ikhtiar yang tak sudi akan penyerahan diri yang setengah-setengah, suatu ikhtiar yang menuntut penyerahannya segenap kita punya diri, segenap kita punya nyawa. “Men moet zich geheel geven: geheel. De hemel verwerpt het gesjacher met meer of minder.”[1] Tjipto Mangunkusumo telah menunjukkan jalan dalam caranya mengabdi pada rakyat dan Bangsa itu. Ia menuntun: ia memberi contoh… Walaupun ia menderita kesengsaraan rezeki; walaupun ia merasakan kemelaratan yang terjadi oleh matinya ia punya perusahaan tabib; walaupun lijdensbeker[2] ada sepenuh-penuhnya, maka dengan roman muka yang bersenyum ia memikul segenap beban yang ditimbulkan di atas pundaknya oleh pengabdiannya kepada rakyat dan Bangsanya. ” Laten wij er niet om huilen, en met droge ogen ook dit aanvaarden; verdiend of onverdiend… De geschiedenis van ons land vervolgde haar weg. Eist zij, om zich naar eis te kunnen afwilkkelen, offers, welnu, wij geven haas vreugdevol die offers ook. En waarom ik dat koffer niet zou mogen wezen, zou ik niet begrijpen. Meer! Ik zou jaloers zijn op degene, die offeren nog, wanneer ik veroordeeld werd tot enkel toezien…”[3] begitulah ia menulis pada Ir. Sukarno.

Inilah contoh dan pengajaran, yang kawan Tjipto Mangunkusumo berikan pada kita: pengajaran pengorbanan dan pengajaran kewajiban, der leer van het offer, de leer van den plicht, pengajaran yang menyerapi segenap Baghavad Ghita[4], menyerapi segenap nasihat-nasihatnya Sri Khrishna dengan arti, bahwa tiada suatu hal yang besar bisa tercapai bila tidak dibeli dengan pengorbanan yang mahal. –dan menyerapai nasihat-nasihat Sri Krishna itu dengan arti pula, bahwa tiap-tiap manusia harus melakukan kewajibannya dengan tidak menghitung-hitung apa yang nanti akan menjadi buahnya, tidak membilang-bilang apa nanti yang akan berikut.

Di dalam pengabdian terhadap kepada Ibu-Indonesia; di dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya patriot, maka putra-putra Indonesia itu harus mempersembahkan iman yang besar dan hati yang ridha segala pengorbanan-pengorbanan, walaupun bagaimana juga pahitnya, dan walaupun bagaimana juga getirnya. Selama putra-putra Indonesia belum cukup mempunyai kekuatan bersenyum manakala Ibu-Indonesia minta kebesaran-iman dan keridhaan hati atas pengorbanan yang sepahit-pahitnya, dan segetir-getirnya, selama itu maka merekapun belum cukup kekuatan menerima hadiah yang diingininya. Selama mereka belum kuat memikul susah, selama itu mereka belum kuat memikul senang!

Di dalam arti inilah maka pengorbanan kawan Tjipto itu harus kita artikan. Apakah pengorbanan ini tidak akan sia-siia? Apakah ia akan berfaedah? Tiada pengorbanan yang sia-sia; tiada pengorbanan yang tak berfaedah; tiada pengorbanan yang terbuang. “No sacrifice is wasted,” begitulah Sir Oliver Lodge[5] berkata.

Dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang itulah maka hari-kemudian akan terjadi; dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang itulah maka hari Indonesia Baru akan terlahir, lebih besar dan lebih mulia dari pada Indonesia sekarang, ya, lebih mulia dari pada Indonesia dahulu. “No sacrifice is wasted!” Karenanya putra-putra Indonesia, bekerjalah, bekerja, dan janganlah putus asa!

Bekerjalah, agar supaya pergerakan kita, usaha kita mencari keselamatan bisa menjadi kuat. Sebab pembuangan kawan Tjipto Mangunkusumo, jatuhnya korban yang tiada berhentinya, adalah suatu bukti yang senyata-nyatanya, bahwa pergerakan kita itu, walaupun maju masih lembek; –suatu bukti yang senyata-nyatanya, bahwa habislah kini temponya hidup berenak-enak dan habislah pula temponya bekerja setengah-setengahan. Bekerja sepenuh-penuhnya, membanting tulang, memeras tenaga untuk menyusun kekuatan-kekuatan pergerakan kita dibikin menjadi sekuat-kuatnya, merapatkan golongan-golongan itu satu per satunya pula, itulah yang kini harus menjadi semboyan dan iktikad semua patriot Indonesia!

Tidakkah menyedihkan hati kiranya, bila satu pihak membela sampai habis-habisan sampai dimasukkan penjara atau diasingkan, sampai dimasukkan neraka jahanam, sedang pihak yang dibelanya tak tahu akan menghargai pembelaan itu, tak tahu akan menyambut pengorbanan itu, dan tinggal enak-enak saja atau hanya bekerja setengah-setengahan? Tidakkah memutuskan asa kiranya bila satu pihak menarik-narik dan menghela-hela sampai habis-habisan tenaga dan habis-habisan nyawa, sedang pihak yang lain hanya mau ditarik dan dihela saja dan tidak mau ikut menarik dan ikut menghela juga?

Tetapi syukurlah yang keadaan tidak begitu. Sebagai tanda-hidup dan tanda-sadar, sebagai tanda bahwa fajar memang sudah menyingsing, maka di mana-mana terdengarlah semboyan ”bekerja” tadi. Di mana-mana asyiklah barisan-barisan kita memperkuat dirinya masing-masing, menggabung-gabungkan dirinya satu sama lainnya. Di mana-mana dimulainyalah usaha zelf-reconstructie[6] dan usaha persatuan. “Suluh Indonesia” dan “Indonesia-Merdeka” digabungkan menjadi “Suluh Indonesia Muda”, dan kekuatan-kekuatan partai-partai kita digabung-gabungkan dan dikumpul-kumpulkan dalam PPPKI[7].

Dengan sesungguhnya! Tiadalah alasan buat berkecil hati… Tiadalah layaknya buat berputusasa –bahkan makin kencanglah rasanya darah kita berjalan dan makin hangatlah pukulan hati kita, kalau kita menengok fajar ini. Maju, maju… terus maju saja dengan tidak mundur selangkah, tidak berkisar sejari… maju, terus maju ke arah keselamatan, begitulah jalannya pergerakan kita.

Karenanya, maka tiada seteteslah air-mata kita yang jatuh pada saat kawan Tjipto Mangunkusumo minta diri; tiada seteteslah air-mata yang menyuramkan penglihatan kita pada saat saudara ini berpisah.

Dengan kepercayaan yang sepenuh-penuhnya akan jayanya hari-kemudian; dengan yakin bahwa satu kali saatnya pasti datang, yang matahari itu terbit, maka kawan-kawannya sefaham menyambut salamnya Tjipto Mangunkusumo itu dengan kata-kata: bukan “selamat berpisah”, tetapi “sampai ketemu lagi”!

“Suluh Indonesia Muda”, 1928

Soekarno Muda


 

Catatan Kaki:
[1] “Satu hal yang harus diberikan: keseluruhan. Surga tidak menerima yang kurang atau lebih.”
[2] “Secangkir kesedihan”, dalam bahasa Belanda.
[3] “Janganlah kita menangis, dengan mata yang kering kita terima ini semua; layak atau tidak layak … Sejarah negara kita masih melanjutkan perjalanan. Tuntutan, untuk menyelesaikan perjalanan itu kita dituntut melakukan pengorbanan, juga dengan sukacita. Dan mengapa aku tidak boleh melakukan itu, aku tidak mengerti. Lebih banyak berkorban! Aku akan cemburu pada mereka yang mengorbankan diri, bahkan jika aku harus dihukum karena itu …”
[4] Bhagavad Gita, secara harfiah berarti Kidung Bhagavan, sering juga hanya disebut Gita, adalah kitab suci 700-ayat yang merupakan bagian dari epik Mahabharata, yang juga merupakan teks suci Hindu. Isinya menerangkan dan menunjukkan cara menempuh kebijaksanaan hidup.
[5] Sir Oliver Joseph Lodge (1851 – 1940) adalah seorang ahli fisika dan penulis Inggris yang terlibat berperan dalam mengembangkan telegrafi nirkabel.
[6] “self-reconstruction”, membangun kembali diri sendiri.
[7] Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia merupakan salah satu organisasi kunci Indonesia yang menerapkan politik anti-kolonial. Organisasi ini adalah payung politik dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. PPPKI menyatukan berbagai gerakan politik-reformis dan nasionalisme, seperti Partai Sosialis Indonesia, Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Paguyuban Pasundan, Jong Sumatranen, Pemuda Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia.
 

*ditulis ulang dari “Di Bawah Bendera Revolusi” volume 1.

 

Advertisements

One thought on “Dari Soekarno untuk Kawan Tjipto: Maju, Terus Maju!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s