Ilusi Damai Karya Si Maniak Perang

RAJA MEDIA Elliot Carver, pimpinan Carver Media Group Network (CMGN), memulai rencananya untuk memicu perang antara Inggris melawan China. Inggris berencana menggantikan pemerintahan China dengan pemerintahan baru. Carver mendukung rencana itu dengan kekuatan propaganda medianya demi mendapatkan hak siar eksklusif di China.

Dengan bantuan seorang agen rahasia bernama Gupta, ia mengacaukan sinyal GPS dan membuat kapal perang Inggris HMS Devonshire keluar jalur menuju perairan milik China di Laut China Selatan, di mana kapal siluman Carver, dikomandani antek Carver, Mr Stamper, menenggelamkan kapal itu dengan cara mengebor lambungnya. Mereka juga mencuri salah satu rudalnya, kemudian menembak jatuh sebuah MiG-21 (Chengdu J-7) milik China dan membunuh korban selamat Devonshire dengan persenjataan China. Setelah mendengar pemberitaan CMGN, Panglima Angkatan Laut Inggris mengirim armada untuk menyelidiki dan mengevakuasi kapal tersebut. Dari situ Inggris punya alasan untuk menyerang China. Genderang perang telah ditabuh.

Sinopsis film serial superagen rahasia flamboyan dari Inggris James Bond, Tommorow Never Dies, yang dipertontonkan ke publik tahun 1997 itu dengan detail dan cerdiknya mencerminkan kenyataan yang kini berlangsung di sekitar kita: bagaimana industri media berkolaborasi dengan kekuasaan modal mengkreasikan sebuah “fakta” untuk memuaskan libido kekuasaan mereka. Kekuasaan atas negara, yang otomatis kekuasaan atas modal.

Propaganda perlu dikoar-koarkan guna mencari pembenaran untuk perilaku yang sebenarnya meludahi kebenaran itu sendiri. Kebenaran dari sisi kemanusiaan, bukan kebenaran dari sisi modal kapital. Media borjuis terang-terangan dan telanjang memamerkan dirinya sebagai bagian dari industrialisasi, mengumbar kebuasaannya dalam berburu rating, dengan menciptakan propaganda tentang “kebenaran” yang harus diiyakan publik dunia.

Mereka berhasil membetot perhatian publik untuk mengamini hal palsu ketika hal yang sebenarnya terjadi luput dari atensi khalayak. Hal yang jelas sangat mengerikan, berbanding terbalik dengan ilusi yang sedang dinikmati masyarakat luas melalui edukasi media. Upaya pengendalian pikiran sedang berlangsung dengan akurat, ketika masyarakat dunia sukses dibikin terlena oleh dunia ilusi industri media.

Pada tahun 1990-an di Amerika Serikat, seorang komedian yang terkenal, George Carlin (12 Mei 1937-22 Juni 2008), muncul di berbagai stasiun televisi, memaparkan materi tentang kondisi yang tak pernah disadari masyarakat luas. Dia mengupas bagaimana proses pengendalian pikiran berlangsung dengan gayanya yang segar. Carlin dikenal dengan humor-humor politis dan satir, serta observasinya terhadap tata bahasa, psikologi, dan agama.

Materi komedi George Carlin umumnya menyindir pola hidup modern Amerika. Ia kerapkali mengambil topik politik di Amerika yang sedang populer dan menyindir secara tajam efek-efek negatif dari kebudayaan Amerika.

Dalam sebuah acara televisi tahun 1991, Carlin mengatakan;

“Bentuk pengendalian yang paling hebat adalah ketika kalian merasa bebas, padahal kalian sedang dimanipulasi dan didikte. Salah satu bentuk kediktatoran adalah ketika kalian berada di sel penjara dan kalian bisa melihat jerujinya, tapi kalian tidak bisa menyentuhnya. Bentuk lainnya adalah ketika kalian berada di dalam sel penjara, tapi kalian tidak bisa melihat jerujinya, dan kalian berpikir bahwa kalian merdeka. Apa yang dialami oleh umat manusia sekarang ini adalah hipnotis massal. Kita dihipnotis oleh mereka, yaitu pembaca berita, politisi, guru, dan dosen. Kita terjebak dalam sebuah negara dan sebuah dunia yang diatur oleh orang-orang gila. Ada jurang yang sangat lebar antara apa yang mereka katakan akan terjadi dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hipnotis terbesar yang terjadi di muka bumi ini dilakukan oleh sebuah kotak ajaib yang ada di hampir semua pojok ruangan rumah kalian. Secara terus menerus kotak tersebut mendoktrin kita bahwa apa yang mereka suguhkan adalah nyata. Kotak itu adalah televisi.”

Televisi adalah salah satu contoh media yang dikonsumsi masyarakat secara luas dan terus menerus. Di samping ‘kotak ajaib’ tersebut, ada suratkabar dan portal berita. Mereka juga merupakan benda-benda ajaib yang “memenjarakan” kita dengan propaganda halusinatifnya, namun kita terima dengan riang gembira. Menyedihkan.

David Vaughan Icke (Leicester, 29 April 1952) atau lebih dikenal dengan David Icke, seorang penulis asal lnggris yang telah menisbatkan dirinya sejak tahun 1990 untuk meneliti “siapakah orang yang mengendalikan dunia”, juga menganalisa fenomena kini. Begini:

“Ditilik dari sisi sejarah, pengendalian dan manipulasi opini politik adalah senjata utama kelompok “yang ingin menguasai dunia” untuk mengendalikan negara-negara di dunia. Begitu mereka berhasil mengendalikan para pemimpin dan politisi, maka hukum negara dan struktur politik dapat berubah sesuai agenda mereka. Meskipun begitu, kelompok itu sadar bahwa mengekang tubuh bukan berarti bisa mengekang pikiran. Agar bisa menjalankan rencana mereka untuk membentuk sebuah pemerintahan global, terlebih dulu mereka harus menaklukkan massa dan melenyapkan pihak oposisi yang menghalangi.

Ancaman terbesar yang bisa menggagalkan rencana mereka adalah bukanlah tentara atau hukum. Tetapi, sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu, yaitu ancaman yang berasal dari pikiran terbuka (open minded). Untuk melenyapkan ancaman tersebut, dan mencapai tujuan, kelompok tersebut telah merancang sebuah rencana terhebat yang pernah dibuat dalam sejarah, yaitu pengendalian total terhadap semua aspek kehidupan umat manusia. Hidup kita. Dan senjata yang mereka gunakan untuk melakukannya, kini ada di dalam rumah kita sendiri. Menghibur kalian dan anak-anak kalian. Dan pada akhirnya mereka berhasil mendoktrin kita tanpa disadari.”

Fenomena serupa juga telah dikupas tuntas oleh pakar linguistik dari Amerika, Avram Noam Chomsky dalam bukunya; Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda. Dipaparkan pula oleh Neil Postman dalam Menghibur Diri Sampai Mati. Bacalah buku-buku itu, dan Anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini. Dunia yang penuh ilusi “perdamaian” produk propaganda media.

Dengan pertimbangan itu, ketika AP, BBC, EPA, atau Reuters yang dipunyai taipan media itu menceritakan tentang “misi kemanusiaan” di Afganistan, Irak, atau Suriah, atau “membantu misi kemanusiaan dalam pencarian MH370” itu –yang dirujuk oleh media di Tanah Air– benar-benar “fakta yang terjadi sesungguhnya”? Ataukah hanya propaganda ilusi ala Elliot Carver dengan CMGN-nya demi rating tertinggi dan mempersilakan kekuasaan yang rakus mencaplok kedaulatan sosial dan ekonomi sebuah negara seperti yang diceritakan gamblang dalam Tommorow Never Dies?

Ingat jargon Joseph Gobbel, propagandis Nazi itu; “Jika kita mengulang-ulang kebohongan sesering mungkin, maka lama kelamaan rakyat pasti akan mempercayai kebohongan itu sebagai kebenaran.”

Kebohongan demi kebohongan sedang berlangsung di sekitar kita. Melalui “kotak ajaib” maupun “halaman-halaman dan laman-laman ajaib”. Wacana yang berangkat dari semangat industrialisasi dan profit. Wacana yang menutupi kenyataan, membuat kita terlena dan menerimanya sebagai “kebenaran”. Itu ilusi. HALUSINASI. Yang melenakan kita sehingga kita tak pernah menyadari bahwa sebenarnya kita sedang DITERKAM. Dan ketika kita sadar, kita tak lagi mampu berbuat apa-apa, alih-alih berontak.

Semoga kita tetap menjadi makhluk yang sudi berfikir, berzikir, dan mengambil pelajaran.

*Disarikan dari berbagai sumber.

Ilusi Perdamaian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s