Pengamen Melihat Demokrasi (Kini)

SAYA adalah pengamen, warga negara yang mencoba untuk menyusun harapan baru tentang masa depan Indonesia yang lebih baik. Saya hanyalah pengamen dari kampung yang mencoba berani memimpikan Nusantara saya ini lebih gemah ripah daripada masa-masa lampau yang telah berlalu. Namun, untuk saat ini, saya miris.

Saya miris melihat kehidupan jalanan, tempat saya ikut nimbrung hidup di dalamnya. Saya miris melihat balita dan bocah-bocah berkejaran dengan angkot di sekitaran Pasar Rebo, Jakarta Timur, lalu memaksakan diri hinggap di angkot yang berjalan dengan kecepatan sedang, dengan risiko jatuh dan terseret, lalu membagi-bagikan amplop kumal pada penumpang yang menerimanya dengan muka masam, lalu mengeluarkan suara yang mereka sebut nyanyian, tapi bagi saya terdengar lebih mirip gumaman. Sementara di sekitaran mereka baliho caleg superbesar berdiri berjajar, yang mungkin saja ongkos untuk mendirikannya jauh lebih besar dari duit yang bisa dikeluarkan untuk memberi makan dan menyekolahkan anak-anak itu.

Saya miris melihat seorang tunanetra yang berdagang koran hingga pukul 3 dinihari di sekitaran kawasan Cipete, Jakarta Selatan, dan hanya bisa menerima berapapun uang yang dibayarkan pembeli padanya, karena ia tak bisa memastikan berapa besarannya, sudahkah sesuai dengan harga koran atau jauh di bawahnya. Dia buta, dan dia hanya bisa menerima sembari berharap rezeki yang ia dapatkan itu benar-benar pantas. Sementara di ruang redaksi sana, di tempat koran-koran yang dijual si tunanetra itu diproduksi, taipan-taipan media sedang sibuk mengkalkulasi berapa rupiah yang mereka dapatkan dengan melacurkan diri pada politik dalam hura-hura berjudul demokrasi ini.

Saya miris melihat jalur Pantura sepanjang Indramayu-Jatibarang yang penuh lubang di sana-sini dan menyebabkan kemacetan mengular saban hari, padahal di jalur itulah ekonomi negara ini berharap pada lekas laju lalu-lintasnya, sementara kepala daerah dan partai berkuasa di wilayah yang dilaluinya sibuk mengintimidasi warganya agar tak memilih partai atau calon lain.

Saya miris setiapkali melintasi Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, dan mendapati paradoksnya pesan tanggung jawab yang belum selesai dari tanggul lumpur yang congkak itu. Sementara di bagian lain, seorang yang harusnya bertanggungjawab atas semua itu yakin nyapres sejak jauh-jauh hari, lepas tanggung jawab karena sibuk jual diri, dan liburan ke Maladewa dengan artis papan atas Indonesia, dan sebelumnya menyebut UUD 1945 banci.

Saya bingung ketika Komisi Pemberantasan Korupsi tak juga memanggil putera kesayangan Presiden untuk dimintai keterangan, kendatipun namanya kerap disebut dalam kisruhnya kasus korupsi proyek Hambalang. Lebih heran lagi saya ketika penegak hukum kita tampak kebingungan, mungkin kerepotan, mengusut dagelan drama penyelamatan ekonomi negara via bailout Bank Century itu. Jauh lebih heran lagi ketika hakim dalam sidang kasus kecelakaan yang melibatkan anak seorang menteri dan menyebabkan tewasnya orang lain memanggil si terdakwa dengan sebutan β€œMas”.

Saya heran; apakah kesamaan kedudukan di depan hukum dan pemerintahan dalam UUD 1945 itu telah dihilangkan?

Saya hanya pengamen bodoh yang selalu melihat kehidupan di jalanan dan tak pernah paham apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok birokrasi itu. Namun, sebagai warga sebuah negeri yang pernah berkibar bersama bendera gula-kelapanya, saya masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti keyakinan tentang kartaraharja Nusantara yang selalu saya jaga di dalam dada ini akan menjadi kenyataan.

Ketika semua pertanyaan dan keheranan saya itu terjawab, dan kutubusuk-kutubusuk yang menggerogoti optimisme negeri ini diberangus oleh ketetapan Tuhan Yang Maha Ada.

gambar-bendera-indonesia

Β Gambar utama dipinjam dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s