Mbak Tutik Ngomong Politik

Namanya Mbak Tutik. Ia punya cara pandangnya sendiri terhadap politik.

Awal Maret ini saya mudik ke Jawa Timur untuk suatu urusan. Ada acara keluarga. Dalam momen tersebut, saya bersua dengan seseorang yang sudah sangat lama sekali tidak saya jumpai. Ia adalah Mbak Tutik. Dulu, ketika saya masih kecil, ia yang dipecayai almarhum Ibu untuk membantu menjaga saya. Setelah saya mulai masuk usia sekolah, Mbak Tutik mudik ke kampungnya, di Desa KA, Kecamatan B, Kabupaten M, Jawa Timur. Ia kembali ke kehidupan lamanya; menjadi buruh tani.

Profesi yang tekun ia jalani hingga pertemuan kembali kami waktu itu.

Ketika kami sedang berbincang santai, saya tanya dia tentang aktivitasnya kini. “Masih tani, Mbak?”

“Ya, iya. Bisa apalagi aku?” jawabnya lugu dengan logat Jawa yang sangat kental. Mbak Tutik belum berubah, baik cara hidup maupun gaya bicaranya. Sangat lugu.

“Enggak pingin usaha lain?”

“Ya kepingin. Tapi usaha apa? Modalnya dari mana?”

“Lha, kan, kalau ndak salah, di Kabupaten M itu ada program pemberdayaan masyarakat desa dari Dinas Peternakan dan Perikanan, to?”

“Iya.”

“Kenapa ndak ikut?”

“Ikut gimana, lha wong duitnya sudah dibagi-bagi buat saudara dan kenalan pak kades kok.”

“Masa’ to, Mbak?”

“Buat apa to aku bohong….”

“Hmmm…,” saya manggut-manggut.

“Kalau suami sampean, sekarang kerja apa?”

“Ya, sama kayak aku.”

“Lalu, hasil itu cukup untuk keluarga?”

“Cukup ndak cukup, ya, dicukup-cukupkan. Alhamdulillah selalu cukup, kok,” jawabnya tawakal.

“Tapi,” katanya, “akhir-akhir ini lumayan. Ada tambahan.”

“Apa, Mbak?”

“Aku dipercaya menjadi saksi partai A pas coblosan nanti. Aku dijanjiin dapat uang Rp200 ribu hanya buat duduk dan melihat coblosan,” katanya polos tapi bangga. “Lumayan, kan, dapat 200 ribu tanpa harus nyangkul, hehehe….”

Ya, ya, ya….

“Lho, kok sampean yang didaulat, Mbak? Apa sampean kader partai?”

“Ya bukan. Ngapain jadi anggota partai. Daripada ngurus partai mending nyangkul, dapat hasil. Yang nyuruh aku kepala dusun. Aku didatangi lalu ditawarin, mau enggak jadi saksi partai? Pas dia bilang dapat 200 ribu, ya, aku mau to..”

“Ooo….”

“Selain itu, aku juga disuruh rapat sosialisasi rutin sekali seminggu. Setiap pertemuan dapat 50 ribu. Tinggal duduk, dengar orang partai ngomong, pulang dikasih duit. Enak to?”

“Wah, ya iya, Mbak.”

“Malah aku sempat kerepotan, lho. Lha sudah dipercaya satu partai, dipanggil pak kepala dusun lagi, disuruh jadi saksi empat partai lain. Ya aku bingung. Masa’ jadi saksi lima partai? Kan ndak propesonal…”

“Wah, sampean benar-benar orang kepercayaan kasun ya, Mbak?”

“Hehehe… Soalnya kalau disuruh apa-apa aku nurut. Aku sering diminta untuk mengkoordinir warga pas ada kegiatan apa saja.”

“Hmmm. Tapi, ngomong-ngomong, kalau lima partai, kan, berarti dapat sejuta, Mbak. Lumayan to? Toh, enggak ada yang tahu juga. Masa’ KPPU sampai ke desa sampean?”

“Iya, sih. Tapi aku tetap ndak enak. Ya namanya ada rezeki, dibagi-bagi to. Aku kasih saja satu ke suamiku, satu ke Mbak Lis (adik Mbak Tutik), satu buat suami Mbak Lis, dan satunya buat Ibuk. Pas, to, satu satu…” katanya sembari senyum. Mungkin dia senang karena merasa telah berbuat adil dan tak serakah.

Saya manggut-manggut lagi.

“Tapi aku minta ke pak kepala dusun, biar kami tidak jadi satu di TPS yang sama. Ndak enak sama warga lain. Masa’ satu keluarga jadi saksi bareng? Kan, nepotisme itu namanya. Pak kepala dusun mau ngerti, akhirnya kami ditempatkan di TPS terpisah yang jaraknya jauh-jauh. Hehehe….”

“Hmmm….”

“Kalau partai yang sampean jadi saksi menang, sampean dijanjiin apa?”

Ndak apa-apa.”

“Lha, terus?”

“Ya ndak terus. Sudah, gitu aja. Yang penting dapat uang.”

“Buat ke depannya?”

“Halah, ndak ngarep aku. Udah berkali-kali pemilu, udah bolak-balik dijanjiin ini itu kalau partai menang, sama saja. Ndak ada yang berubah. Desa KA tetap kering. Sering gagal panen. Ndak ada yang dibangun. Bantuan pemda cuma dimakan orang-orang dekat pak lurah. Ya buktinya, dari dulu sampai sekarang, aku masih mburuh tani, ndak ningkat-ningkat. Mau usaha ndak ada modal. Mau minta bantuan ya dijanjiin terus, ndak pernah sekalipun wujud. Makanya, kalau dijanjiin pas sosialisasi, ya, manggut-manggut saja. Tapi kita semua tahu kalau omongan politik itu nggedabrus, omong kosong. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Ndak peduli mereka ngomong apa, yang penting dapat duit. Beres.”

 “Tapi, kalau presidennya ganti, umpamanya Jokowi yang katanya dapat dukungan banyak orang itu, gimana, Mbak? Percaya kehidupan desa sampean bakal lebih baik?”

Podo wae. Sami mawon. Sama saja. Memang, kalau kepilih jadi presiden, Jokowi mau blusukan ke KA? Halah, pasti ndak!”

“Lalu, apa yang sampean harapkan dari pemilu? Masa’ sampean ndak punya harapan pada wakil rakyat dan pemimpin baru nanti?”

“Halah, Dik, ngomong yang lebih penting saja lho. Siapa pemimpin itu ndak penting. Yang penting, gimana caranya sawah yang aku dan suamiku garap dan puso lagi, ndak gagal panen lagi. Siapapun presidennya, asal tanam dan panen lancar, itu sudah cukup buat kita orang desa. Biarpun presidennya Jokowi, tapi kalau kita gagal panen terus, kita mau makan apa? Pak Jokowi memang mau beliin kita beras?”

Ya sudah. Perbincangan tentang pemilu dan harapan-harapan kami cukupkan sampai di sini.

Ya, itulah Mbak Tutik. Seorang perempuan yang konsisten melakoni hidup sebagai buruh tani sejak 35 tahun lalu dan keadaan tak pernah berubah meski berkali-kali pemilu digelar dan bolak-balik ganti pimpinan. Desa KA, ya, tetap seperti itu-itu saja.

Bagi Mbak Tutik dan orang-orang di sekitarnya, pemilu bukanlah saat untuk menyusun harapan-harapan baru. Karena, berharap pada janji politik itu, bagi mereka, sama saja menunggu unta bertelur.

Biarlah keserakahan politik hidup merajalela di kota-kota sana. Biarlah desa tetap bersahaja menerima segala apa yang diberikan alam untuk mereka. Dan biarlah orang-orang desa itu memandang politik dengan cara pandang mereka sendiri.

Bagi mereka, pemilu berarti adanya penghasilan tambahan. Mereka adalah orang-orang yang memandang uang 50 ribu adalah jumlah yang sangat besar. Jika ada hasil berlebih, itulah saat berbagi rezeki dengan saudara-saudara. Mereka bukan orang-orang serakah yang korup. Mereka adalah orang-orang bersahaja yang selalu bisa merasa hidup mereka sudah cukup.(*)

 Money Politics

Advertisements

6 thoughts on “Mbak Tutik Ngomong Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s