Ah, Anas Enggak Kayak Dulu, Deh…

“TAK ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang ada hanya kepentingan.” Adagium itu masih, dan masih, dan masih, dan selalu akan berlaku di dunia perpolitikan di manapun ia ada. Termasuk di Indonesia ini. Sikap Anas Urbaningrum adalah contoh paling mutakhir.

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang dijerat KPK dengan kasus dugaan korupsi proyek Hambalang itu mengaku pernah ditugaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengamankan kasus bailout Bank Century. Pengakuan Anas itu disampaikan pengacaranya, Handika Honggowongso.

Sebagai Ketua Fraksi Demokrat di DPR, ketika itu, Anas mengaku diminta mencegah agar Panitia Khusus (Pansus) Bank Century di DPR tidak mengarah ke SBY, baik secara hukum maupun politik.

“Disampaikan (oleh Anas), jika saya (Anas) dipanggil SBY di Cikeas. Dalam pertemuan tersebut, SBY memberi pengarahan ke saya (Anas) untuk mencegah supaya Pansus Century DPR tidak mengarah, baik secara hukum maupun politik, ke SBY,” kata Handika, menirukan pengakuan Anas.

Handika menambahkan, kliennya pernah diminta melobi fraksi partai lain untuk mengamankan SBY, sekaligus membangun opini di media massa jika SBY tidak terlibat. Terkait tugas tersebut, kata Handika, Anas diminta berkoordinasi dengan Wakil Presiden Boediono, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta beberapa pihak terkait lainnya. Informasi tersebut disampaikan Anas kepada tim penyidik KPK dalam pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Hambalang.

Dalam pernyataan tersebut, kentara bahwa Anas sedang berusaha membuka ‘lembaran berikutnya’ dari buku catatan rahasianya selama rukun dengan SBY. Lantaran sakit hati karena merasa dikorbankan? Bisa jadi.

Siapa tak sakit hati jika dijerat sebagai tersangka ketika masih merasakan nikmatnya jadi ketua partai. Ditahan lagi. Tak ada pembelaan dari partai lagi. Apalagi, jika Anas mengingat ketika masih menjadi ketua partai pernah membela mantan bosnya itu mati-matian, ia bakal tambah sakit hati.

Menjelang akhir Juni 2009 lalu, SBY sempat keseleo lidah. Dalam kunjungan di redaksi Kompas, 24 Juni 2009, dari mulutnya muncul pernyataan pengundang protes. “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati,” kata Presiden SBY2. Lalu, kesan yang muncul adalah, ada ketakutan yang dipaksakan, dikemas dalam ucapan santun, agar terkesan akademis. Tapi, tetap saja kekhawatiran itu tak bisa sembunyi.

Lalu terbitlah wacana Presiden takut KPK. Lalu digiringlah isu menjadi ada upaya Presiden membatasi KPK. Ada juga yang mengaitkan pernyataan ini dengan upaya balas dendam karena merasa telah dipermalukan komisi ketika Aulia Pohan, besannya yang mantan deputy Bank Indonesia itu, dijebloskan ke bui gara-gara korupsi.

Ucapan Presiden didukung BPKP, yang berusaha masuk mengaudit KPK untuk menelisik kewenangan menyadap dan pengadaan alat untuk keperluan mengumpulkan informasi. BPKP menerabas pagar dengan berusaha menyeruak ke dalam tubuh institusi independen.

Yang lebih mengejutkan lagi, ketika itu muncul pernyataan dari Kepala BPKP Didi Widayadi, bahwa upaya asal terabas itu atas permintaan lisan Presiden. Nah, kalau dua fakta yang tampil terpisah itu dijahit jadi satu, muncullah kesimpulan; “Presiden takut KPK yang superbody dan memerintahkan BPK untuk mengaudit komisi dan mencari-cari kesalahannya. Tujuannya adalah untuk menggembosi pembasmi koruptor itu.” Yah, lagi-lagi beliaunya terpojok.

Ketika itulah Anas Urbaningrum sebagai Ketua DPP Partai Demokrat tampil di depan, gagah berani membela Mr Presiden. Seperti yang pernah dituangkan penulis dalam buku Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu, halaman 319, Anas buru-buru menggelar klarifikasi soal pernyataan juragannya. Menurut Anas waktu itu, pernyataan Yudhoyono tentang KPK adalah penegasan betapa pentingnya akuntabilitas penyelenggaraan kewenangan.

“KPK, Yudhoyono, dan kita semua pasti setuju dengan terjaganya kepercayaan publik terhadap institusi terkuat pemberantasan korupsi di Indonesia ini,” katanya.

Bahkan, menurut Anas kala itu, pernyataan Yudhoyono tentang KPK yang superbody itu telah dipolitisasi kompetitornya di Pemilihan Presiden 2009. Padahal, menurut dia, pernyataan SBY itu justru sebagai dukungan terhadap pemberantasan korupsi yang harus menjaga kredibilitas dan akuntabilitas pelaksanaan kewenangannya.

“Jadi, kalau ada yang menganggap Yudhoyono ingin membubarkan KPK, itu adalah anggapan yang berbasis pada logika terbalik,” kata Anas yang masih Ketua DPP.

Ah, yang bener, Nas? Masa si Bapak sebersih itu? Mungkin, jika pertanyaan ini diajukan pada Anas sekarang, ia bakal menjawab, “Ah, itu kan dulu…”

Ya, dulu lain dari sekarang. Semesta senantiasa bergerak membentuk perubahan-perubahan. Apalagi semesta politik, perubahannya bisa terjadi setiap detik. Dulu membela, kini mencela, itu sudah biasa. Begitu to, Mas Anas?

Mungkin kita juga mahfum, bahwa kemarahan seseorang yang sakit hati itu sangat mungkin berujung pada pembalasan yang berkali lipat. Tak puas hanya bapaknya, anaknya pun disasar. Ibas juga dilibas, berupaya diseretnya menyusul dalam tahanan via isu hambalang.

Yo, ayo, tambah rame…

Tapi, terlepas dari siapa benar-siapa salah, terlepas dari kepentingan politik apapun itu, dalam memandang pertarungan Anas melawan Cikeas itu, sepertinya saya tetap konsisten: njago Anas!

Ilustrasi Demokrat-1

Silakan klik gambar untuk memperjelas dialog, hehe…

Advertisements

2 thoughts on “Ah, Anas Enggak Kayak Dulu, Deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s