Bersama Damai Alam Kami Berkenalan dengan Kalbu

DI ANTARA pelukan embun yang menggulung Gunung Salak dalam damainya, ditingkahi hujan yang enggan berhenti, kami berkenalan dengan kalbu.

Semesta alam memberi kami kesempatan untuk mendapatkan transfer ilmu dari seorang ulama yang memilih untuk hidup tenang bersama alam.

“Seperti halnya pikiran, yang mempunyai bentuk fisik berupa otak, begitu pula kalbu,” ulama tersebut mulai membuka keran transfer ilmunya pada kami. “Dia memiliki bentuk fisik. Saya mendapatkan petunjuk, di antara kesunyian alam Gunung Salak ini, bahwa kalbu itu ada di dalam tubuh kita. Dia punya bentuk fisik seperti pikiran. Bentuknya seperti telur puyuh, dan besarnya sebesar ujung ruas jari telunjuk tangan kanan.

“Saya bukan orang medis, jadi masih kabur tentang apa yang dimaksud oleh bisikan itu. Seperti telah dituntun oleh Penguasa Semesta Alam, ketika saya sedang kebingungan, seorang dokter bedah, teman dekat saya, berkunjung. Saya seperti mendapat kesempatan untuk menuntaskan rasa ingin tahu saya.

“Saya bertanya padanya, ‘Apakah di tubuh kita ini ada organ seperti telur puyuh, sebesar ujung ruas jari telunjuk kanan kita?’ Dan dia menjawab, ‘Ada’.

“Benda yang saya maksud itu memiliki nama medis SA node, akronim dari sino atrial node. Organ ini ada di balik jantung kita, di dada kiri, dan fungsinya sebagai pengisi energi jantung. Jika jantung itu diumpamakan sebagai ponsel, SA node ini adalah charger-nya.

“Seperti halnya otak, SA node memiliki syaraf yang sangat halus. Jika pikiran dalam otak berasal dari syaraf tersebut, maka perasaan kita juga digerakkan oleh syaraf yang sangat halus itu. Bahkan, kehalusan penampang syaraf SA node jauh lebih halus dari syaraf otak. Dokter-dokter belum bisa menjelaskan kepastiannya. Ada yang berspekulasi, penampang syaraf ini baru bisa dilihat dengan skala pembesaran 200 ribu nanomikro. Sangat halus. Karena itulah, bagian ini sangat peka. Di situlah kita merasakan perasaan.

“Islam adalah agama yang bisa dijelaskan. Allah memberikan banyak tanda-tanda pada manusia agar mereka mengenal kalbunya, SA node itu, seperti mereka mengenal pikiran mereka dalam otak. Namun, saking halusnya penggerak rasa, atau syaraf dalam SA node itu, manusia sering mengabaikannya.

“Padahal, di situlah pusat kehidupan kita, pusat kedamaian kita, jika kita mau mendengarkan petunjuknya. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, maka yang muncul adalah amarah.

“Ketika bakal bayi dalam kandungan berumur sekitar 100 hari, saat itulah mulai muncul kehidupan yang terdeteksi melalui detakan. Saat itulah ruh ditiupkan. Beberapa ayat Al-Quran menerangkan kejadian manusia itu, yang diperjelas dengan sebuah hadis; ‘Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezekinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia’ (HR Bukhari dan Muslim). Sekerat daging itulah SA node. Cikal bakal kehidupan kita. Tempat ruh, Rabb kita bersemayam di dalam diri kita.

“Otak dan SA node saling memengaruhi satu sama lain. Namun, kebanyakan manusia sekarang memilih untuk tunduk pada perintah otak, pikiran, bukan pada petunjuk hati atau rasa. Dari sisi biologis, fisik, hal itu wajar, karena penampang syaraf otak lebih tebal dari hati. Mungkin pengaruhnya lebih kuat.

“Kenapa SA node ini sebesar ujung ruas jari telunjuk tangan kanan? Karena, kedua bagian tubuh itu memang saling berhubungan. Ketika ujung ruas jari telunjuk kanan kita terluka, pancaran darahnya akan sangat kuat, lebih kuat dari ruas-ruas lainnya. Ya, karena dia berhubungan langsung dengan pusat penggerak sirkulasi darah dalam tubuh, dalam jantung.

“Tentang hubungan organ ini dengan psikologis, coba ingat-ingat, setiap kali amarah seseorang meledak, biasanya dia akan menunjuk objek yang dia nilai memancing amarahnya. Sebab, telunjuk adalah simbol rasa ke-aku-an. Simbol inti dalam diri. Kalbu. Atau, dalam bahasa medisnya SA node.

“Emosi biasanya tumbuh ketika kita tak bisa mengendalikan kalbu, karena pikiran menuntut kita untuk meluapkan emosi. Ketika kita memilih tunduk pada kuasa pikiran, maka kuasa hati kita akan lemah. Kita lupa pada rasa peka. Kita lupa pada hakikat kita. Kita lupa pada ruh kita. Dan kita lupa pada Rabb kita.

“Itulah kenapa ketika kita, umat muslim ini, tiap salat mengangkat telunjuk jari kita ketika bersyahadat dan salawat dalam duduk tahiyat. Kita diajak mengingat diri kita. Mengingat bahwa Rabb ada dalam dirimu. Lebih dekat dari urat nadimu, karena dialah pusat urat nadi itu. Sekaligus sebagai bentuk kesaksianmu terhadap ketauhidan, keesaan-Nya. Dan ketika kau menyadari itu, kau akan tergetar. Ujung jarimu akan tergetar. Tergetar betulan, bukan digetar-getarkan.

“Bisikan kalbu itu tak pernah salah. Dia selalu membawa pesan-pesan kebaikan. Sayang, seringkali bisikannya kita abaikan dan memilih tunduk pada perintah akal kita yang terbatas ini.

“Secara biologis, SA node adalah organ paling aman, paling bersih, di dalam tubuh kita. Seperti itulah keterangan yang saya dapat dari teman dokter saya. Sepanjang peradaban manusia, tidak pernah ditemukan adanya gangguan penyakit pada organ ini. Kalau penyakit jantung, banyak. Tapi, kendati jantungnya sakit, SA node sebagai pengisi energinya ini tak pernah tertular sakit. Dia bersih. Itulah tanda bahwa pada dasarnya kalbu setiap orang itu bersih. Nafsu dan pikiranlah yang mengotori.”

Kami tercenung. Kami meresapi pesan-pesan ulama tersebut, bersama suara aliran air, bisikan angin, dan dendang serangga-serangga malam Gunung Salak.

Kami malu, ketika kami sadar, bahwa kami adalah orang-orang picik yang sangat mendewakan logika dan kerap menolak bisikan hati.

Astaghfirullahaladzim…

ALAMI. Batu berbentuk lambang cinta di Gunung Salak.
ALAMI. Batu berbentuk lambang cinta di Gunung Salak.
Advertisements

2 thoughts on “Bersama Damai Alam Kami Berkenalan dengan Kalbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s