Dialog: Menafsir (Kembali) Al-Baqarah 155-157

“KIAI, saya resah…”

“Resah kenapa, to, Ngger?

“Hidup ini serasa semakin sulit, Kiai?”

“Sulit bagaimana?”

“Cobaan ini sepertinya tak pernah berhenti, Kiai. Malahan, sepertinya kian menjadi-jadi. Apa saya sedang diazab? Apakah memang sedemikian besarnya dosa saya, Kiai?”

Kiai tersenyum. “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Ngger…”

“Lalu, kenapa kesulitan ini sepertinya enggan pergi dari saya, Kiai? Apa salah saya?”

“Soal salah atau benarmu, hanya Gusti Allah yang tahu. Aku tidak tahu, Ngger. Yang kita wajib tahu, Dia Maha Pengampun dan Penyayang. Sebesar apa salahmu, selama kamu bertaubat dengan yakin, insya Allah Gusti Allah mengampunimu, Ngger.”

“Lalu, sebenarnya apa yang salah dengan diri saya, Kiai….”

“Mungkin, ini mungkin lho, ya, Ngger. Mungkin salahmu itu kamu lupa pada tafsir Quranul Kariim yang dulu pernah kita bahas.”

Aku diam.

“Kamu masih ingat bagaimana aku sampaikan padamu tafsir Al-Baqarah: 155-157?”

“Mohon maaf, Kiai, saya lupa….”

“Jangan minta maaf ke aku. Minta maaflah ke Rabb-mu.”

Astaghfirullah….”

“Baiklah, Ngger, sudah menjadi kewajiban kita sesama muslim untuk saling mengingatkan. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Aku terdiam ketika mendengar Mbah Kiai ber-muraja’ah. Coba mengingat arti yang disebutkannya.

Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Seperti yang pernah aku jelaskan dulu, Ngger, Imam Ibnu Katsir Ra mengatakan, pada ayat ini, Allah Swt memberitahukan bahwa Dia menguji dan menempa para hamba-Nya. Terkadang mengujinya dengan kebahagiaan, dan suatu waktu dengan kesulitan, seperti rasa takut dan kelaparan.

“Senada dengan keterangan sebelumnya, Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menyatakan: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia pasti akan menguji para hambaNya dengan bencana-bencana, agar jelas siapa yang sejati dan pendusta, yang sabar dan yang berkeluh-kesah. Ini adalah ketetapan Allah Swt atas para hamba-Nya. Seandainya kebahagiaan selalu menyertai kaum mukminin, tidak ada bencana yang menimpa mereka, niscaya terjadi percampuran, tidak ada pemisah dengan orang-orang tidak baik. Kejadian ini merupakan kerusakan tersendiri. Sifat hikmah Allah Swt ini menggariskan adanya pemisah antara orang-orang baik dengan orang-orang yang jelek. Inilah fungsi musibah.

“Ketakutan yang dimaksud adalah takut kepada orang-orang yang memusuhimu, seperti yang menggunjing atau mengolok-olokmu karena ketetapan hatimu menuju-Nya. Dan kelaparan yang dimaksud adalah kelaparan ringan, atau kekurangan dalam pencukupan hidup sehari-hari. Sedangkan kekurangan harta mencakup berkurangnya harta akibat bencana, hanyut, hilang, atau dirampas oleh sekelompok orang zalim. Misalnya, kau kehilangan sumber nafkah karena ulah orang yang tak suka padamu.

“Sementara itu, bencana yang menimpa jiwa adalah kematian orang-orang yang dicintai. Misalnya, seperti anak-anak, kaum kerabat dan teman-teman. Atau terjangkitinya tubuh seseorang, atau orang yang ia cintai, oleh berbagai macam penyakit.

“Berkaitan dengan kekurangan pada buah-buahan, adalah karena bergulirnya musim dingin, salju, terjadinya kebakaran, gangguan dari belalang dan hewan lainnya, sehingga kebun-kebun dan ladang pertanian tidak menghasilkan sebagaimana biasanya. Atau dalam kehidupan sekarang, mungkin, kehilangan pekerjaan atau proyek-proyek karena faktor-faktor yang terjadi di luar kuasamu.

“Semua bencana itu merupakan ujian dari Allah Swt bagi para hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, niscaya ia akan memperoleh pahala. Dan orang yang putus asa akan ditimpa hukuman-Nya. Karena orang putus asa akan dihantui berbagai macam pikiran buruk, yang membuat hidupnya semakin sempit.

“Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat ini dengan berfirman: Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Maksudnya, berilah kabar gembira atas kesabaran mereka. Pahala kesabaran itu tiada terukur, Ngger. Akan tetapi, pahala ini tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesabaran pada saat pertama kali mengalami kegoncangan akibat musibah.”

Aku coba menyerapnya. Lama nian aku tak mendengar penyejuk seperti ini.

“Selanjutnya, Allah Swt menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar. (Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kata-kata ini dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.

“Imam Ibnu Katsir Ra berkata, ’Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini bahwa mereka milik Allah. Allah berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu amalan baik yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”

“Allah menjadikan kata-kata itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan untuk menjaga orang-orang yang sedang diuji. Karena kata-kata itu mengandung makna yang penuh berkah. Firman Innalillahi ini mengandung nilai tauhid dan pengakuan penghambahaan diri, dan di bawah kepemilikan Allah. Sedangkan inna ilaihi rajiun mengandung makna pengakuan terhadap kehancuran yang akan menimpa manusia, dibangkitkan dari kubur, serta keyakinan bahwa segala urusan kembali kepada Allah.

“Sudah mulai ingat, Ngger?”

“Insya Allah, Kiai….”

Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya. Ini kupasan selanjutnya. Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Zat yang mengatur alam semesta ini.

“Kata Imam al Qurthubi Ra, ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud selawat dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata rahmat diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan.”

“Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah atau ampunan. Sedangkan menurut Ibnu Katsir, rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Swt.

“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Di samping karunia yang telah disebutkan, mereka juga termasuk golongan orang-orang muhtadin, atau orang-orang yang menerima hidayah. Berada di atas kebenaran. Mengatakan ucapan yang diridhai Allah, mengerjalan amalan yang akan membuat mereka menggapai pahala besar dari Allah. Itulah keberhasilan mereka bersabar karena Allah.

“Ayat ini menunjukkan pula balasan bagi orang yang tidak mampu bersabar, yaitu akan mendapat balasan dalam bentuk celaan, hukuman dari Allah, kesesatan dan kerugian.”

“Astaghfirullah… Apa saya termasuk orang yang tidak bersabar, Kiai, yang dicela Allah?”

Wallahu a’lam, Ngger. Tapi, kita berharap nauzubillahimindzaliikk untuk itu. Banyak-banyaklah istighfar.”

Astaghfirullahaladzim….”

Kami terdiam sesaat. Malam sedang melantunkan sunyinya dengan syahdu. Hujan masih turun, menyembunyikan bintang-bintang di balik hamparan awannya.

“Kadang kita lupa apa itu sabar, Ngger.”

“Mohon ingatkan saya, Kiai.”

“Kata sabar berasal dari shabara. Artinya, menahan dan menghalangi. Mengandung makna mengekang jiwa dari menolak ketetapan takdir, menahan lisan dari keluh-kesah dan murka, serta mengendalikan anggota tubuh dari tindakan memukuli pipi, merobek-robek baju, dan reaksi-reaksi lainnya yang bersifat jasmani, dengan maksud menggugat takdir.

“Dalam at-Taghabun ayat 11, Allah berfirman, Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Ayat ini, sebagaimana disampaikan Syaikh Shalih al-Fauzan, adalah dalil, bahwa amalan termasuk dalam lingkup keimanan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kesabaran merupakan pintu hidayah bagi hati. Dan, seorang mukmin membutuhkan kesabaran dalam segala keadaan.

“Yang lebih penting lagi, saat dilanda berbagai macam musibah, maka kesabaran benar-benar harus dikuatkan. Tidak bisa tidak. Karena, musibah-musibah yang terjadi tidak lepas dari ketentuan Allah Ta’ala. Ketidaksabaran justru akan menggoreskan cacat pada keimanan seseorang terhadap rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bahkan, hakikatnya, musibah itu mendatangkan berbagai kemanfaatan. Seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ra: ‘Bencana-bencana merupakan kenikmatan, sebab menggugurkan dosa-dosa dan menuntut adanya kesabaran, sehingga memperoleh pahala. Juga mengharuskan inabah (kembali) kepada Allah, menghinakan diri kepada-Nya, berpaling dari sesama manusia dan kemaslahatan penting lainnya. Terhapusnya dosa dan kesalahan dengan adanya musibah-musibah, (juga) termasuk kenikmatan yang besar…”

“Sabar ya, Kiai. Sabar…”

“Bener, Ngger. Jangan suka mengeluh. Karena, mengeluh adalah perbuatan orang-orang jahil atau bodoh. Orang yang jahil mengadukan Allah kepada sesama manusia. Ini merupakan tindakan yang sangat bodoh dan parah terhadap Dzat yang Maha Agung. Seandainya ia mengenal Allah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan mengeluhkan perbuatan-perbuatan Allah. Dia juga tidak akan mengeluhkan Allah kepada sesama manusia.

“Sementara orang yang berilmu, ia akan mengadu hanya kepada Allah saja. Dia menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain.

“Kadang, jiwa perlu dididik dengan bencana, Ngger. Bencana atau musibah yang melanda memiliki peran besar dalam mendidik jiwa. Ia akan memiliki kekuatan yang tegar, keteguhan sikap, terlatih, selalu respek dan waspada terhadap lingkungan sekitar.

“Kesulitan-kesulitan yang dialami jiwa, sesungguhnya, akan menghasilkan potensi luar biasa. Potensi itu dalam bentuk kekuatan besar yang tersembunyi. Kesulitan-kesulitan itu mampu membuka celah-celah hati, yang bahkan tidak diketahui oleh seorang mukmin sekali pun, kecuali melalui bencana atau musibah yang menderanya.

“Saat musibah itu terjadi, seorang manusia harus segera menyadari, bahwa yang paling penting ialah iltija`, yaitu mencari perlindungan kepada Allah semata, ketika seluruh tempat bergantung mengalami kegoncangan. Tidak ada tempat berlindung kecuali naungan-Nya. Tidak ada pertolongan, kecuali dari-Nya. Di saat-saat genting itulah, tabir kepalsuan kekuatan makhluk tersingkap. Tidak ada kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah. Tidak ada daya kecuali daya-Nya. Dan tidak ada tempat perlindungan kecuali kepada-Nya. Wallahu a’lam.”

“Saya jadi malu, Kiai. Malu pada Allah…”

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Ngger. Minta maaflah, insya Allah, Gusti Allah akan memaafkanmu.”

Kami diam lagi beberapa detak-detik.

“Ngger, apa masalahmu ini terkait dengan pilihan hidup yang sudah kau tentukan sendiri?”

“Sepertinya demikian, Kiai..”

“Kau masih menulis, kan, Ngger?”

“Insya Allah, Kiai…”

“Teruskan, Ngger. Allah memuliakan penulis yang menulis untuk kemanusiaan. Tanpa adanya penulis-penulis hebat di kalangan sahabat Kanjeng Nabi, kabar gembira dalam Al-Quran tidak pernah kita baca, Ngger.”

“Tapi, sepertinya saya harus mulai realistis, Kiai. Kehidupan sebagai seorang penulis, di Negeri ini, tidak akan menjamin kehidupan ekonomi saya. Banyak kebutuhan yang harus dicukupi….”

“Hmmm….”

“Saya terimpit ambigu dua pilihan sulit, Kiai. Di sisi lain, sebagai muslim, saya mengemban amanah untuk mengikuti titah iqra’ dalam Quranul Kariim. Tapi, di sisi lain, ada beberapa perut yang harus saya hidupi, Kiai. Namun, seperti pernah saya sampaikan ke Kiai dulu, bahwa saya ragu ketika harus menulis untuk institusi, Kiai. Saya khawatir, sangat khawatir, tulisan saya akan ditunggangi lagi untuk membangun prasangka. Saya punya pengalaman untuk itu, dan saya merasa berdosa sampai kini, Kiai. Saya tak ingin terjerumus lagi. Namun saya harus memperhatikan kebutuhan dunia saya juga….”

“Kau masih yakin dengan pilihanmu?”

Kuanggukan kepala, meski ada sedikit ragu di dalam. “Insya Allah, Kiai…”

“Kembalilah pada Quran, Ngger. Kembalilah pada tafsir yang baru kita bahas. Istiqamah. Tetaplah berjalan menuju Gusti Allah dengan ilmu yang Dia anugerahkan padamu, wujud dari kemurahan-Nya itu. Jangan kau khianati kemurahan itu, Ngger. Sejauh kau teguh berjalan di jalan-Nya, insya Allah, Dia akan mencukupkanmu.

“Celoteh orang itu biasa. Ingatlah kisah Luqman Al-Hakim. Gusti Allah sedang menggemblengmu, Ngger. Itu bukti kasih sayang-Nya padamu. Dia tidak ingin kamu hanya menjadi manusia yang setengah-setengah. Rezeki sudah ada yang mengatur. Pasrahlah dalam ikhtiarmu. Di tengah kesempitan, selalu ada jalan yang lapang.”

Setitik air sepertinya jatuh dari sudut mataku.

“Menangislah pada-Nya, Ngger. Ungkapkan keluh kesahmu. Mengadulah. Mintalah. Dia Maha Mendengar. Dia Maha Pengasih. Dia Maha Penyayang.”

***

Ash shalaatu khoirum minannaumSalat lebih baik  daripada tidur.

Aku terjaga. Sisa air masih tergenang di sudut-sudut mata. Kiai misterius itu datang lagi dalam mimpiku. Gusti Allah selalu memiliki cara yang cantik untuk mengingatkan hamba-Nya yang lupa. Alhamdulillah…

Kuhapus sisa-sisa airmata itu. Kubawa tubuhku bangkit. Kujelang air, kubasuh mulutku, hidungku, wajahku, lenganku, telingaku, kepalaku, dan kakiku. Air pagi begitu segar, bersama hujan gerimis di luar.

Kupatut diri sepantas mungkin. Kusemprotkan parfum terbaikku. Kuhadapkan wajahku pada-Nya. Kuhela napas,

Allahu Akbar…..

Sesungguhnya salatku, hidupku, dan matiku hanya untuk Rabb-ku, rahmat semesta alam….

andrewcomiskey.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s