Demi Masa, Demi Kita

BERSAMA mencapai bahagia. Inilah hal yang tak setiap orang mau melakoninya, kendati pada dasarnya mampu. Siapa orang yang tak mau hidupnya tenang dalam kebersamaan? Siapa orang yang enggan bahagia bersama-sama, seperti sehamparan pucuk-pucuk rumput yang basah oleh embun pagi, diembus manja oleh semilir? Semua ingin seperti itu. Semuanya.

Tapi…

Tak semua orang (mau) tahu caranya. Termasuk aku, mungkin.

Orang memiliki definisinya sendiri-sendiri tentang kebahagiaan. Orang punya egonya masing-masing. Itu halal hukumnya, karena setiap orang dianugerahi akal budi, untuk menafsir bagaimana hidupnya dan apa yang dia tuju. Untuk itu bersyukurlah, sebab, Penguasa Semesta memberimu prerogatif untuk menafsir hidupmu sendiri. Karena itulah, kamu disebut makhluk paling mulia.

Bagaimana cara mendefinisikan kebersamaan, masing-masing orang membangun persepsinya sendiri-sendiri. Sehingga, tak jarang, tujuan kebersamaan itu justru hilang fokus ketika masing-masing orang –yang pada dasarnya, fitrahnya, ingin menuju kebersamaan– mengalami benturan definisi, ketika kebersamaan itu diikat dalam paket duniawi.

Kebersamaan berlandasan materi. Kekayaan. Kapital. Kebendaan. Celakanya, kita tak bisa memungkiri, bahwa sebagian besar kita mendefinisikan kebersamaan dalam kerangka tersebut. Budaya kapitalisme telah begitu buasnya meracuni persepsi-persepsi masyarakat industri, masyarakat kita kini. Masyarakat satu dimensi, kata Herbert Marcuse.

Ya, memang, orang hidup butuh materi. Sejauh kita butuh makan, berpakaian, bernaung, kita butuh materi. Butuh uang. Butuh hitung-hitungan.

Tapi, bagiku, itu bukanlah segalanya. Bukanlah tujuan. Itu hanyalah perantara. Untuk mendapatkannya, tak perlu membabi-buta. Cukup ikuti petunjuk ilahi dalam hati dan akalmu.

Kebahagiaan tidak bisa dibeli, pun tak pantas dikalkulasi. Jika kebahagiaan masuk dalam hitungan untung-rugi, maka dia akan kehilangan esensinya sendiri. Bahagia yang dikalkulasikan tak akan kekal abadi, sebab dia akan datang dan pergi seiring datangnya untung dan tibanya rugi.

Itulah kebahagiaan materi. Secara materi. Namun, kita lupa, materi itu tidak kekal, setidaknya itulah yang aku pahami dari hukum fisika, yang dipertegas oleh ajaran agamaku, Islam. Ajaran yang dibawa Rasulku tercinta, Muhammad Saw.

Materi tak abadi, namun tak demikian dengan energi. Energi tak dapat diciptakan, pun tak bisa dimusnahkan. Energi berubah bentuk, kata Einstein. Energi telah ada sejak terjadi ledakan besar pembentukan semesta dulu, hingga nanti di akhir waktu. Kebahagiaan adalah energi. Lebih mulia kedudukannya daripada materi. Energi abadi. Yang tak musnah. Yang selalu berubah bentuk.

Perubahan-perubahan bentuk energi kebahagiaan itu akan selalu bisa kita ikuti sejauh kita mengikuti geraknya menggunakan akal juga kalbu. Gerak perubahan yang tak tarpatok pada materi. Sehingga, ketika materi itu musnah, kebahagiaan itu tak ikut lenyap. Dia tetap ada. Ada. Dan terus ada.

Tanpa perlu direpotkan ambisi pada materi, kebersamaan antara kita bisa berlangsung, langgeng abadi. Setidaknya, itulah hasil pembelajaranku selama melakoni banyak hal dalam hidup. Perkawanan, bahkan persaudaraan, tak akan pernah kekal selama ia tumbuh bersama kesadaran terhadap benda-benda. Dia akan lenyap seiring lenyapnya benda-benda yang mengikatnya.

Kau berteman karena uang, kau tak akan punya teman kala kau tak punya uang. Sementara tak selamanya uang kita genggam. Roda dunia berputar. Siang selalu berganti malam. Kemarau berganti giliran dengan hujan. Sebagai bagian dari semesta, kita, manusia yang berakal, seharusnya sadar perubahan-perubahan itu, termasuk perubahan kondisi kepemilikan terhadap materi.

Ketika kita tak mau menerima keadaan itu, akhirnya kita menuntut diri sendiri untuk terus dan terus mencari uang, demi mempertahankan perkawanan yang terbangun dari fondasi keliru. Kita tak mau menerima kenyataan bahwa malam tak bisa digantikan siang, begitu pula sebaliknya. Kita memaksakan. Walhasil, kita akan terjerumus dalam situasi yang ditentang oleh hukum semesta: korup. Maling. Makan hak orang lain, asal kita bisa mendapatkan uang itu. Naudzubillahimindzaliikk.

Kebersamaan itukah yang kita inginkan? Tidak. Setidaknya, menurut aku, tidak. Aku tak mau merendahkan energi kebahagiaan yang ilahiah itu dengan menggadaikannya pada materi. Aku yakin, puncak kebahagiaan tertinggi bukanlah itu. Tapi, ia adalah situasi ketika kita bisa menikmati indahnya bersama dan berbagai, dengan atau tanpa materi. Sebab, dengan materi, hidup yang seharusnya damai-damai saja menjadi begitu rumit.

***

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Begitulah kata Pramoedya Ananta Toer, yang aku juga yakini. Quranul Kariim juga menjelaskan itu dalam banyak ayat.

Kebahagiaan, seperti halnya hidup, pun juga sederhana; yaitu ketika kita bisa merasakan damai dalam kebersamaan. Manusia butuh manusia lain, karena itu Islam mewajibkan silaturahim. Dalam fondasi ilahiah. Tapi, kita akan menjumpai banyak tantangan ketika kita berusaha untuk mewujudkannya. Menuju yang haq itu bukan perkara mudah.

Berhalaisme materi ala Samiri tidak pernah rela kita bisa hidup dalam kebersamaan yang tulus. Sejarah membuktikan itu, jauh hari sejak Samiri memecah-belah kebersamaan kaum Musa dengan patung sapi emas. Kapitalisasi materi menggiring hidup kita menuju egoisme ruang mewah, megah, namun sunyi dalam kesendirian yang gelisah.

Cibiran pemuja-pemuja berhala duniawi itu tak akan pernah henti-henti pada kita yang percaya bahwa kebersamaan itu ada dan indah. Namun, sejauh kita yakin bahwa energi ilahiah itu bisa tercapai, sepertinya kita wajib mengabaikan cibiran-cibiran itu. Fokus pada tujuan –tujuan yang tak akan menghinakan Tuhanmu.

Agar kebersamaan dan kebahagiaan itu bisa kita capai di antara derasnya upaya yang ingin mematahkan niat, kita bisa belajar dari sebuah riwayat Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu karya Ali bin Hasan al-Athas.

Pada suatu hari Luqman Hakim masuk ke pasar menaiki seekor keledai. Anaknya mengikuti dari belakang. Melihat itu, orang dalam pasar pun berkata, “Lihat itu, orangtua yang tidak bertimbangrasa. Anaknya dibiarkan berjalan kaki.”

Setelah mendengarkan desas-desus itu, Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkanlah anaknya di atas tunggangan. Melihat yang demikian, orang di pasar berkata pula, “Lihat, orangtuanya berjalan kaki, sedangkan anaknya sedap menaiki keledai. Sungguh kurang ajar anak itu.”

Mendengar itu, Luqman naik ke atas keledai bersama-sama dengan anaknya. Selanjutnya, orang ramai berkata lagi, “Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai. Adalah sungguh menyiksakan keledai itu.”

Karena tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari keledai. Tapi, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai itu tidak dikendarai.”

Bapak dan anak itu pulang ke rumah. Di sana, Luqman Hakim menasihati anaknya tentang sikap manusia dan celoteh mereka. Katanya. “Sesungguhnya, tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka, orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu keyakinan.”

Luqman juga Hakim berpesan kepada anaknya, “Wahai, anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu; tipis keyakinannya tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang), dan hilang kemuliaan hatinya. Dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah, orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.”

Celakalah orang yang tidak yakin pada kebahagiaan dalam bersama, lemah akal, dan mengingkari kata hati yang membimbingnya menuju kedamaian ilahiah. Kedamaian yang bisa diraih dalam kebersamaan, dalam silaturahim, tanpa embel-embel tuntutan materi duniawi. Ketika kita bisa mencintai orang lain seperti kita mencintai diri sendiri. Lebih dari cinta kita pada materi. “Belum sempurna imanmu sebelum kau bisa mencintai saudaramu seperti kau mencintai dirimu sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk menujunya, menuju kebersamaan itu, kita wajib yakin, memanfaatkan kekuatan akal, dan meminta pertimbangan pada hati. Butuh proses yang tak sebentar. Untuk itu, kita perlu keberanian. Berani menuju yang haq. “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” (Pramoedya Ananta Toer)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS 103: 1-3)

“Saya selalu percaya –dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis– bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang.” (Pramoedya Ananta Toer)

Wallahualam bissawab.

 

Advertisements

One thought on “Demi Masa, Demi Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s