Melawan Angin Kencang Penerpa Antasari

ANTASARI AZHAR telah divonis 18 tahun bui. Namun, bukan berarti kasus pembunuhan menjelang Pemilu 2009 yang oleh hakim dinyatakan sah dan meyakinkan melibatkan dia itu telah tuntas.

Kecurigaan yang muncul sejak awal mencuatnya kasus itu mulai mendapatkan jawaban, perlahan namun pasti. Bukti-bukti baru terkumpul dari banyak pihak, mulai dari ahli hukum, ahli forensik, bahkan hingga dari keluarga korban sendiri, Nazsrudin Zulkarnain. Bukti-bukti itu seolah menjadi pelemah keputusan hakim yang memvonis Antasari Azhar bersalah dalam ‘drama pembunuhan yang janggal’ tersebut.

Kami sendiri sudah merasa curiga sejak kasus mencuat, sekitar lima tahun lalu, sehingga kami pun mencoba menganalisisnya dan menyajikannya dalam sebuah buku, ‘Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu’ (Pustaka Iiman/Mizan Grup, 2009). Dan, pada perkembangannya, seolah kecurigaan kami ‘mendapatkan restu’ dengan munculnya bukti-bukti baru yang mengarah pada kejanggalan kasus tersebut.

Bukti-bukti itu terutama dari kondisi jenazah korban yang dirasa aneh sejak masuk ke ruang bedah mayat forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Dokumen-dokumen dan kesaksian yang membuktikan kejanggalan itu bermunculan, satu persatu. Salah satu rentetan kejanggalan tersebut telah dituangkan dengan bernas oleh salah satu pengacara Antasari, Maqdir Ismail, dalam buku ‘Keputusan Sesat Kasus Antasari Azhar’ (Verbum Publishing, 2012).

Hakim yang memvonisnya pun langsung ‘disidang’ oleh Komisi Yudisial karena dinilai telah melakukan kecerobohan. Sementara polisi-polisi yang terlibat menangani kasus itu mendapatkan promosi jabatan dalam waktu yang sangat lekas –seolah mendapatkan hadiah atas sebuah ‘keberhasilan’.

Berangkat dari situasi yang dirasa tak betul itulah Antasari menempuh jalan peninjauan kembali tentang kasusnya, setelah upaya kasasinya kandas. Antasari masih yakin dia tak bersalah, di mana keyakinan tersebut seolah dibenarkan oleh Andi Syamsuddin, adik korban, yang menyatakan bahwa dia sempat diintimidasi oleh dua orang perwira menengah polisi agar ikut ‘menjebloskan’ Antasari dengan keterangan-keterangan yang dipaksakan.

Sayang, upaya Antasari untuk membuktikan bahwa dia tak bersalah masih saja tersandung-sandung. Upaya kuasa hukumnya untuk mengajukan peninjauan kembali selalu mental. Bahkan, seorang tokoh hukum yang dikenal khalayak luas sebagai tokoh yang bersih pun –yang saat itu sedang menjadi seorang pemimpin lembaga hukum tertinggi di Indonesia–, ogah meladeni permohonan Antasari. Dia ketakutan.

Materi PK Antasari yang ditolak.
Materi PK Antasari yang ditolak.

Dalam sebuah pertemuan saya dengan dr Mun’im Idries –yang kala itu masih sehat–, pada bulan April 2013 lalu, pendekar kedokteran forensik Tanah Air yang menangani mayat Nasrudin waktu itu hanya punya satu komentar soal kasus ini; “Anginnya kencang.” Dialog tentang ini juga telah saya tuangkan juga dalam buku ‘Dunia Forensik Itu Lucu’ (NouraBooks, 2013).

Kasus Antasari masih dan selalu menarik. Pasalnya, kekuatan hukum tetap yang ditimpakan padanya masih memunculkan kontroversi berkepanjangan. Banyak cerita-cerita yang belum terungkap. Pada suatu hari yang tak lama lagi, niscaya cerita itu akan terkuak.

Kebenaran hukum harus terbuka gamblang. Sebab, Indonesia adalah negara hukum, bukan panggung dagelan badut-badut politik.

Salam.

Antasari Azhar
Advertisements

One thought on “Melawan Angin Kencang Penerpa Antasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s