“Cuma” Seorang Penulis

SEORANG kawan pernah bertanya, ”Sebenarnya, apa, sih, bidang yang kamu tekuni?

Dengan lugas saya jawab; “Menulis”. Biasanya, jawaban saya mengundang kerut di dahi si penanya.

 Pertanyaan diulangi lagi; “Apa bidang yang kamu tekuni?”

 Dan saya menjawab dengan jawaban serupa; “Menulis!”

Setelah itu, biasanya, muncul lagi pertanyaan; “Iya, saya tahu menulis. Tapi menulis apa?”

 “Ya menulis tulisan, lah….”

 “Iya, tulisan apa…?”

 “Ya tulisan yang bisa dibaca….”

 “Maksudku, tulisan di bidang apa…?”

 “Semua bidang.”

 “He?”

 “Iya, semua bidang. Aku, terus terang, asal menjawab. Di awal tadi kamu sudah tanya, aku sudah menjawab. Kamu tanya, aku menekuni bidang apa, aku jawab “menulis”. Sebenarnya jawaban itu sudah final. Kenapa kamu terus nguber?”

 “Begini, lho, Bro. Maksudku, kan, menulis itu adalah upaya mengomunikasikan suatu informasi atau ilmu. Nah, bagiku, menulis itu hanyalah proses, bukan tujuan. Yang aku tanyakan tujuanmu itu, bidang apa yang kamu tulis. Misalnya, kamu menulis dengan tema sosial, hukum, ekonomi, sains, budaya, dsb….”

“Lah, kan tadi sudah aku jawab, semua bidang.”

“Masa’ bisa?”

“Jika Gusti Allah mengizinkan, apa yang tidak mungkin?”

 “Jawabanmu terlalu jauh, Bro….”

 “Itu jawaban paling realistis. Dan, aku menjawab apa adanya. Terus terang saja, ketika kamu menyebut menulis adalah proses, aku sangat setuju. Seribu persen setuju!”

 “Jadi, kamu hanya menjalani proses, tapi tak tahu tujuanmu….”

 “Lho, aku tahu.”

 “Apa tujuanmu?”

 “Lama-lama kamu itu seperti jaksa saja, Bro.”

 “Lha, aku bingung….”

 “Kalau bingung, cari tiang, Bro. Pegangan.”

 “Hmmm…..”

 “Baiklah, kalau kamu mau tahu tujuanku, aku jawab: aku bertujuan untuk menikmati proses. Hidup itu proses, Bro. Dinamis. Berkembang. Mengikuti gerak zaman. Maka dari itu, orang yang mematok tujuan tertentu –apalagi mematok harga mati—menurutku, sih, itu orang-orang yang celaka.”

 “Kok bisa…”

 “Ya, iya. Sepengetahuanku, orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak menikmati proses. Aku pernah mengalami itu, Bro. Ketika kita merasa “harus” mencapai suatu hal, fokus kita hanya di hal itu, dan kita tidak menikmati proses, hidup rasanya kayak dikejar penagih utang. Kita malah memenjarakan diri sendiri dengan menutup diri kita terhadap hal yang mungkin lebih menarik. Kita serasa hidup dengan kacamata kuda.

Kita sering cemas ketika di tengah proses tiba-tiba kita merasa putus asa, karena kita merasa target kita itu terlalu jauh, sementara kita tak punya alternatif pilihan lain. Dan, tanpa kita sadari, kecemasan demi kecemasan itu membuat mental kita kempes, putus asa, akhirnya ngawur menempuh segala cara asal tujuan itu tercapai. Itu kita lakukan karena ketakutan yang kita ciptakan sendiri, takut karena target tersebut tidak tercapai. Ketakutan itu terjadi karena kita tak punya pilihan selain target itu. Takut karena ketaksadaran kita telah mengerdilkan diri kita sendiri.

Punya target itu bagus. Semua orang harus punya tujuan dalam hidup. Tapi mbok ya yang wajar-wajar saja. Senyampang kita berusaha mencapai tujuan itu, alangkah baiknya kita juga menikmati prosesnya. Kalau tercapai, syukur. Kalau tak tercapai, setidaknya kita mendapatkan banyak pembelajaran dari proses yang kita tempuh, dan kita bisa merevisi tujuan kita…”

 “Bagaimana. Bukankah wajar manusia punya satu cita-cita, agar dia punya tujuan dalam hidupnya? Kalau harus menyiapkan pilihan alternatif, berarti tidak konsisten, dong…”

 “Aku ingat pesan almarhum Pramoedya Ananta Toer, Bro. “Kewajiban manusia itu hanya berusaha. Jika yang terjadi di luar kehendak, itu sudah di luar urusan kita.” Kalau target kita tak tercapai, sementara kita sudah mengerahkan segala cara, ya sudah. Mungkin itu jalan kita…”

 “Ah, kamu sih, dikit-dikit Pram, dikit-dikit Pram…”

 “Lah, silahkan, lho, kalau kamu enggak setuju. Kalau aku setuju. Karena itulah aku menikmati proses, Bro. Soal hasil akhir, itu bukan prerogatif kita. Benar kata Bang Iwan Fals, “Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya.”

 Maka dari itu, Bro, aku setuju kalau kamu bilang menulis itu adalah proses. Proses yang harus dinikmati. Sebab itulah, aku memilih menekuni proses itu.

 Dengan menulis, tanpa membatasi diri sendiri dengan bidang tertentu, hidup kita akan kaya, Bro, tidak bakalan terbonsai hanya dalam satu bidang. Hidup manusia ini kan bukan hanya satu bidang saja, Bro. Kamu makan, minum, itu ekonomi. Kamu ingin diperlakukan adil, itu hukum. Kamu memperhitungkan kebutuhanmu sehari-hari, itu matematika dan akuntansi. Kamu peduli dengan kesehatanmu, itu biologi. Kamu pilih-pilih makanan untuk tubuhmu, itu kimia. Kamu menyusun jadwal, mempertimbangkan waktu, itu fisika. Kamu hidup bersama masyarakat, itu sosiologi. Kamu bertingkah laku, itu budaya atau antropologi. Kamu beribadah, itu agama. Jadi, kalau hidup manusia itu sendiri terdiri dari banyak bidang, kenapa kita harus membatasi bidang-bidang itu?

 Pada dasarnya, Bro, semua ilmu –baik sosial maupun sains—itu saling melengkapi. Saling menunjang. Ilmu fisika dan kimia tak akan berguna tanpa diterapkan dalam kehidupan sosial, secara sosiologis atau antropologis. Ujung-ujungnya, semua perhitungan itu untuk mencukupi kebutuhan manusia sebagai makhluk ekonomis, kan?”

“Hmmm… Jadi panjang kalau tanya kamu itu. Ribet. ”

“Sebenarnya enggak bakal terasa panjang kalau kamu enggak tanya macam-macam. Kalau kamu enggak memburu tergetmu untuk mengetahui ‘bidangku’, dan ketika aku jawab ‘menulis’ itu kamu enggak meneruskan pertanyaan, ya sebenarnya pembicaraan kita selesai, Bro. Selanjutnya adalah proses percakapan yang mengalir saja. Proses, Bro, proses. Kayaknya kamu tak bisa menikmati.”

“Ya sudah, sekarang begini saja, apa yang ingin kamu cari dari menulis itu? Apa tujuanmu?”

“Halah, tanya lagi. Aku menulis apa yang ingin kutulis. Aku menikmatinya sebagai sebuah proses.”

“Lalu, apa tujuan hidupmu? Makin bikin bingung saja kamu ini.”

“Menikmati proses.”

“Ya, sudahlah….”

livinglifetwice-alwrite.blogspot.com

livinglifetwice-alwrite.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s