Di Dalam Kedamaian Ilahiah bersama Seorang Bocah

KALA pertama menapakkan kaki di dalam bangunan itu, awal September 2013, hanya satu perasaan yang bisa saya definisikan: Takluk. Takluk dalam kenikmatan surgawi.

Saya dibawa hanyut dalam sebuah suasana illahiah ketika ayat-ayat suci itu tak henti-henti melantun, menyelusup dengan indahnya ke dalam gendang telinga saya, lalu bersemayam dalam hati saya menghadirkan kedamaian. Ayat-ayat itu mengalun syahdu dari sebuah bangunan sederhana yang disewa sebuah keluarga sederhana di pusat Kota Bogor –kota yang tak pernah henti dibayangi rinai-rinai.

            Suasana illahiah yang begitu kuat menancap di dalam diri saya ketika saya coba memulai untuk menyatukan diri dengan keluarga Maman Firman, seorang ustadz yang mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk menyebarluaskan keindahan Al-Quranul Kariim, ketika saya memutuskan untuk bermalam beberapa hari bersama keluarga itu untuk kepentingan penyusunan buku ini.

Kedamaian itu tak pernah kering dari rumah tinggal, yang sekaligus berfungsi sebagai lembaga pengajaran pendidikan baca dan hafalan Al-Quran bernama Rumah Tahfidz Durunnafis, di salah satu sudut kota tersebut. Sepertinya malaikat-malaikat enggan pergi dari sana.

Sebagai seorang muslim, saya mendapat banyak pelajaran berharga di sana. Pelajaran yang begitu menggebuk kedalaman saya.

Pertama, saya merasa ditarik jauh lebih dalam menyelami kenikmatan Islam –di mana saya tak mampu dan tak mau menolaknya. Ketika hari-hari saya yang biasanya dijejali kesibukan duniawi itu beralih rupa dalam suasana surgawi. Ketika saya dipaksa takluk oleh kenikmatan hakiki dalam ayat-ayat Allah yang tak pernah henti terlantun.

Kedua, saya merasakan nian sebuah keluarga yang begitu kompak bahu-membahu membangun jalan menuju surga. Sebuah keluarga yang sangat indah, begitu sakinah, jauh dari kesan mewah, dan terikat begitu kuatnya dengan tali Allah. Dari situ saya mendapatkan bukti sahih, yang bisa diterima pancaindera juga akal –terutama kalbu saya–, bahwa kedamaian itu justru hadir dalam bentuknya yang begitu sempurna ketika manusia-manusia memutuskan untuk tidak berdamai dengan nafsu duniawi yang fana.

Ketiga, betapa malunya saya ketika bocah 11 tahun bernama Muhammad Alvin Firmansyah itu dengan begitu luwesnya melanggamkan pesan-pesan Allah bersama keindahan yang begitu komplit, tanpa membaca teksnya. Dia hafal luar kepala. Sementara saya? Hanya sekelumit surah-surah pendek yang berhasil disimpan dengan baik oleh ingatan saya. Sekelumit, lebih sedikit dari sedikit. Sementara lidah saya yang sudah berumur ini begitu kaku ketika coba mengikuti irama lantunan si bocah yang hafal Quran.

            Paparan demi paparan itulah yang membuat akal dan hati saya lebih terbuka, secubit demi secubit. Hingga akhirnya, bersama dengan kesadaran illahiah yang mulai bangun sepercik demi sepercik dalam jiwa saya, saya mencoba untuk menghadirkan sebuah diorama surgawi dalam buku ini, membingkai fragmen demi fragmen yang ditempuhi oleh pasangan Maman Firman-Sophia Nur Mila, bersama permata mereka yang begitu indah: Muhammad Alvin Firmansyah, bocah 11 tahun yang hafal lafal17 juz Al-Quran dan sebagian artinya. Bersama mereka, ada juga “operet surga” yang senantiasa diisi oleh lantunan ayat-ayat Allah dari tiga adik Alvin; Alvina Ghina Imania, Sabrina Rizki Amalia, dan Muhamad Adnan Firmansyah. Ya, bocah-bocah itu senantiasa mengaji tanpa harus disuruh. Benar-benar rumah yang sarat dengan keindahan permata-permata Allah.

Ucapan terima kasih setulusnya saya ucapkan pada Alvin si Hafidz cilik dan keluarga Ustadz Firman semua; Ustadzah Mila, Vina, Sabrina, dan si bontot Adnan yang telah memberikan dukungan penuh untuk penulisan buku ini. Terima kasih juga terhaturkan untuk Ustadz Agung Rahmattullah, paman Alvin sekaligus salah satu ustadz di Rumah Tahfidz Durunnafis, dan Ustadz Agus Setyawan yang telah memberikan banyak bantuan juga dukungan untuk menyempurnakan buku ini.

Terima kasih untuk perpustakaan Noura Books yang memberikan ajang seluas-luasnya untuk saya mencoba menumpahkan dan menjabarkan keindahan dari salah satu sudut Kota Hujan itu dalam buku ini. Dengan dukungan penuh itu lah buku ini bisa hadir di hadapan sidang pembaca sekalian; kitab sederhana yang mengisahkan upaya dan ketekunan sebuah keluarga dalam mengukir permata-permata Allah, demi terus terlantunnya firman-firman yang menuntun manusia menuju kebahagiaan.

 

Cover
Cover

NB: Segera terbit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s