Miris Menyambut Beras ‘Made In China’

NOVEMBER sudah di depan mata. Sebuah era baru industri agrobis atau agraris segera dimulai. November adalah saat diawalinya sebuah megaproyek agrobisnis prestisius senilai lebih dari Rp20 triliun di atas ratusan ribu hektare lahan di Subang, Jawa Barat. Nahkoda dari megaproyek itu adalah…. China.

Sesuai dengan kesepakatan antara perusahaan perkebunan China, Liaoning Wufeng Agricultural dengan Malaysian Amarak Group dan sebuah perusahaan lokal Indonesia, Tri Indah Mandiri, pertengahan Juli 2013 lalu, sebuah proyek agrobisnis yang cukup besar dan prestisius telah oke. November adalah saat di mana mereka memulai.

Wufeng adalah pemodal utama dalam proyek prestisius pengolahan padi dan kedelai ini. Sementara Amarak tercatat memiliki saham sebesar 20%. Perusahaan lokal Indonesia? Mereka hanya memiliki secuil saham.

Sesuai dengan hukum dunia bisnis, pemegang saham mayoritas bisa disebut sebagai pemilik sebuah objek atau aktivitas industri. Dialah yang akan menentukan rambu-rambu produksi. Dengan adanya fakta perjanjian tersebut di atas, bisa dikatakan bahwa perusahaan China itu telah MENGUASAI lahan pertanian yang cukup luas di Indonesia, dibantu oleh perusahaan Malaysia dan anak negeri sendiri. Yah, singkat kata singkat cerita, kita telah menyerahkan lahan pertanian kita –masyarakat agraris ini– pada pihak asing.

Ketika industri ini mulai membuahkan hasil, sesuai hukum bisnis, siapa pemilik modal terbanyak dialah yang menentukan ke mana industri itu akan dibawa. Singkat kata, pemilik lah yang bakal menentukan metode teknis industri dan harga jual produknya. Keuntungan terbesar menjadi milik pemodal terbanyak. Bisa dikatakan, sebagian besar hasil penjualan padi tadi mutlak milik para pebisnis, negara hanya ketiban secuil dari pendapatan pajak. Dan para pekerja agraris, para petani itu –meminjam istilah Karl Marx– akan terasing dari pekerjaan mereka.

Kebudayaan agraris tradisional kita selama ini mengenal hukum balas jasa dalam proses penanaman padi dalam bentuk yang bersahabat. Biasanya, petani yang ikut menggarap sawah mendapatkan upah beberapa karung beras yang mereka hasilkan. Dalam bahasa Jawa, upah tersebut dinamakan ‘bawon’. Tapi, itu adalah sistem bagi hasil ketika sebuah kegiatan produksi membawa azas gotong royong. Ketika semangat industri yang diusung, jelas lain lagi.

Ya, China memang sebuah negara yang mengusung sistem ekonomi sosialis. Dengan sistem ekonomi itulah mereka mendunia dan menjadi salah satu ancaman paling serius bagi iklim bisnis Amerika dan Eropa.

Namun, sesuai dengan hukum industri –terlepas itu diusung semangat kapitalisme maupun sosialisme– target utama aktivitas itu adalah mencari keuntungan finansial. Aktivitas industri itu memburu selisih dari ongkos produksi dengan nilai jual –seperti yang pernah dirumuskan Karl Marx secara sederhana namun tepat. Walau bagaimanapun, perusahaan tetaplah perusahaan. Semangat yang diusung cuma satu dan pasti; mencari untung. 

Para pekerja dalam industri agraris itu (baca: buruh tani) pada akhirnya juga ditempatkan sebagai aset industri sekaligus konsumen atas produk yang mereka olah sendiri. Mereka bekerja untuk mendapatkan upah yang besarannya ditentukan oleh pemilik modal –berdasarkan perhitungan-perhitungan ekonomis dari sisi bisnis. Petani ikut menanam padi dan kedelai, tapi ketika yang mereka kerjakan itu membuahkan hasil, mereka harus membeli untuk bisa mengkonsumsinya. Yang menentukan harga jual adalah pemilik.

Dalam analogi, kondisinya bakal sama saja seperti dengan yang digambarkan Marx; ketika buruh dipaksa bekerja dan membeli produk yang pernah mereka kerjakan sendiri. Mereka bekerja bukan untuk eksistensi mereka sendiri. Mereka bekerja untuk modal. Mereka terasing.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, yaitu negara, kondisinya tak kalah miris. Aset negara kita jelas DISERAHKAN kepada modal asing. Potensi keuntungan yang terdapat dalam aset tersebut, jelas dan nyata-nyata, akan terkeruk oleh si penanam modal. Indonesia hanya dapat sedikit. Bukankah aneh ketika Indonesia, pemilik aset yang sangat potensial dari sisi ekonomi bisa mendatangkan keuntungan luar biasa besar dan bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran negeri ini, justru menyerahkan aset tersebut kepada koloni bisnis asing? Belum cukupkah kita mengobral Freeport, Natuna, Blok Mahakam, dan banyak lagi sumber alam lainnya?

China menanam modal di sini dengan mengusung semangat untuk pencukupan kebutuhan bahan makanan domestik dan internasional. China memilih Subang, di Indonesia ini, karena di situlah China melihat sebuah potensi dalam industri agraris. Pertanyaannya, apakah kita sebagai negara agraris sudah sebegitu bodohnya sehingga kita tak mampu melihat potensi di bidang pertanian dan perkebunan yang kita miliki, lalu mengolahnya sendiri untuk memberikan kemakmuran pada bangsa sendiri? Lalu, apa fungsi Kementrian Pertanian atau fakultas-fakulta pertanian yang selalu mencetak sarjana setiap tahun itu, ketika ternyata lahan-lahan yang sangat berpotensi itu akhirnya jatuh pada pengelolaan asing? 

Seharusnya China kita rangkul bukan sebagai partner produksi dan mereka tidak berhak atas keuntungan di rumah kita, namun sebagai konsumen yang membeli produk-produk pertanian yang kita produksi sendiri, yang akan menguntungkan bangsa ini. Tentu kita masih ingat bagaimana ketika beras membantu Indonesia mendapatkan pengakuan de jure atas kemerdekaan negeri ini, ketika Sutan Sjahrir mengirimkan bantuan beras untuk India di masa-masa awal kemerdekaan kita. Negara itu mengakui kita sebagai bangsa merdeka yang mampu membantu negara lain dengan produksi beras Indonesia yang lakukan sebagai negara berdaulat. Beras adalah salah satu produk utama untuk mendiplomasikan kedaulatan kita sebagai bangsa agraris yang merdeka dan punya harga diri!

Apakah ini yang dinamakan kemerdekaan? Apakah ini kedaulatan ekonomi itu? Hei, kita bangsa yang besar! Semua ada di sini, di Tanah Surga kita. Bukankah seharusnya kita mengolah Bumi, air, dan sumber daya alam itu untuk sebesar-besarnya kemakmuran bangsa kita sendiri? Lalu kenapa kekayaan itu dijual eceran? Apalagi, tidak menutup kemungkinan bukan hanya China yang mendapat kesempatan untuk menikmati kesuburan Ibu Pertiwi. Negara lain juga sudah mulai mengambil nomor antrean.

November di depan mata. Industri itu siap dimulai; industri agro asing yang mengeruk keuntungan dari dalam perut Bumi Pertiwi sebuah negeri yang oleh dunia dikenal sebagai masyarakat agraris. Dan, hampir bisa dipastikan bahwa harga beras domestik pun bakal melambung. Industrialisasi modal tak pernah mau rugi. Warteg bakal sama dengan restoran kelas menengah.

Sepertinya bakal terasa aneh ketika suatu saat kita membeli beras yang dihasilkan oleh Bumi Indonesia ini, namun pada kemasannya tertulis jelas; “Made In China”.  Dan itu niscaya akan terjadi.

image

Salah satu aktivitas pertanian di Ciamis, Jawa Barat. Haruskah mereka kita serahkan pada asing? (dok. pribadi)

Sumber Data: Liputan6.Com

Tofik Pram

Advertisements

2 thoughts on “Miris Menyambut Beras ‘Made In China’

    • Beberapa teman dari sebuah lembaga non-profit sedang berusaha menggalang dana untuk menyelamatkan beberapa lahan yang sudah diincar asing yang tersebar di Sumatera dan Jawa Timur. Tugas kita sementara menggalang wacana soal bahaya laten pencaplokan lahan dan menggalang dukungan. Itu neo-feodalisme. Bahnaya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s