Lah, Kok Marah…

SEPERTINYA bos-bos lembaga eksekutif negara ini sensi agak ‘terlalu’ deh. Keserempet sedikit saja langsung menyala-nyala. Kayak lagi pra-menstruasi (PMS) saja.

Pak Presiden marah-marah di Bandara Halim Perdana Kusuma pas dituding Lutfi Hasan Ishaq mengenal Bunda Putri, 10 Oktober 2013 malam. Dengan muka yang disangar-sangarkan, di hadapan rakyatnya, Pak Presiden menyatakan dengan suara tinggi; “Dua ribu persen itu (SBY kenal Bunda Putri) bohong!” Waduh. Pakai nunjuk-nunjuk lagi.

Apa enggak bisa ngomong yang kaleman sedikit? Kan, selama ini beliaunya sudah kadung merasa dirinya sopan, karena itu dia dengan susah payah mencitrakan dirinya sendiri santun. Orang santun kan enggak marah-marah di depan umum. Presiden lho…

Kalaupun perkenalan antara SBY dan Bunda Putri yang dimaksud LHI adalah perkenalan formal, di mana SBY sebagai presiden, kan bisa dijelaskan baik-baik. Tak perlu marah-marah langsung lah. Presiden sebagai lembaga kan punya protokoler, punya juru bicara. Suruhlah Bang Julian Aldrin Pasha menjelaskan baik-baik; “Bapak Presiden SBY tidak mengenal Bunda Putri,” dengan gayanya yang khas kalem itu.

Kalau pun perkenalan yang dimaksud itu konteksnya  pribadi, ya jangan pakai fasilitas protokoler negara kalau mau klarifikasi. Fasilitas keterangan pers di Halim itu kan untuk SBY sebagai presiden, bukan secara pribadi. Pak Presiden tahu bedanya apa tidak, sih? Kalau memang tidak kenal, ya sudah, diamkan saja. Tak perlu dibantah. Biar saja yang menuduh itu sendiri yang membuktikan omongannya. Kalau bohong, toh, yang ngomong itu tentu tak akan bisa membuktikannya. Gitu aja kok repot…

Sudi Silalahi ikut-ikutan marah, Selasa, 22 Oktober 2013. Menteri Sekretaris Negara itu merasa dirugikan oleh pernyataan Nazarudin yang menyebut ada aliran dana proyek Hambalang ke Menteri SS. Nazar hanya menyebut inisial, tidak menyebut nama jelas. Kan, menteri yang namanya ada unsur ‘SS’ bukan cuma Sudi Silalahi. Ada Salim Segaf Al-Jufri (Menteri Sosial). Bisa juga SuSwono (Menteri Pertanian –ini sih agak maksa). Bisa juga Soy Suryo, Sita Sirjawan, Soko Suyanto, dan SS-SS lain (kalau ini dijamin ngawur). Tapi, terlepas dari awur-awuran itu, yang jelas Nazar tidak menyebutkan nama. Kenapa juga Sudi harus merasa ‘ketembak’ dan mengancam akan mempolisikan Nazarudin?   

Agak ke belakang, Agustus lalu, Hatta Rajasa juga marah-marah. Gara-garanya, Elda Davine Adiningrat, salah satu saksi dalam kasus dugaan suap daging sapi impor, menyebut dengan lugas dan jelas bahwa dia mengenal Hatta secara pribadi. Bahkan, untuk membuktikan kedekatan itu, dalam percakapan dengan seorang bernama Maria Elisabeth Liman, Elda menyebut nama Hatta dengan sandi ‘uban’.

Nah, ketika menanggapi kabar itu, Hatta kelihatan menyala-nyala. “Sudah enggak kenal, enggak pernah nyebut soal itu, kok bisa-bisanya dia nyebut uban. Itu kan enggak baik. Enggak boleh. Saya itu, bagaimanapun, menteri. Menterinya Anda, menterinya semua,” begitu jawabab ‘Pak Menterinya Kita Semua’ ketika dikonfirmasi wartawan, 22 Agustus lalu.

Masa’, jawabnya kok ya kayak gitu. Kalau sadar sebagai menteri, pejabat tinggi, jawablah dengan kepala dingin, tidak perlu mengumbar-umbar status kementeriannya. Kalau tidak kenal, ya sudah jawab saja tidak kenal. Tak perlu esmosi –kata almarhum Asmuni.

Kenapa sih bos-bos itu jadi gampang tersungging, eh, tersinggung? Kalau menurut Syaikh Fauzi Said dan Dr Nayif Al-Hamd dalam buku ‘Jangan Mudah Marah’, esmosi yang berlebihan disebabkan beberapa hal, yaitu; rasa bangga terhadap diri sendiri; perdebatan yang disebabkan perselisihan pendapat; senda gurau; ucapan yang tidak sopan dan keji; dan pengkhianatan/pelanggaran janji atau hasrat yang menggebu-gebu untuk mempertahankan kelebihan harta, jabatan, dan harga diri.

Soal esmosi para bos itu, sepertinya, seluruh unsur itu kompak menyatu menjadi penyebab kemarahan mereka. Para bos itu mungkin merasa harga dirinya tercabik-cabik oleh pendapat yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, ucapan yang tidak sopan –bahkan mungkin sekadar bercanda– dan karena itu mereka merasa ‘kewibawaan’ mereka sedang terancam. Atau juga mereka sedang ‘berusaha mempertahankan kelebihan harta, jabatan, dan harga diri’. Wajarlah, mereka sudah kadung kerasan di kursi empuk kekuasaan, sementara pernyataan-pernyataan yang berkembang di sekitar mereka itu dirasa sebagai ancaman yang bisa menghela mereka dari empuknya kursi. Wajar mereka khawatir, kursi empuk itu enak kok. Orang hidup itu kan cari yang enak-enak –kata para Epicurian.

Tapi, kalau dikipir-kipir, eh, dipikir-pikir, kalau memang pernyataan-pernyataan itu bohong, kenapa mereka harus takut? Kalau kabar-kabar itu tidak benar, bukankah itu bukan ancaman untuk pantat mereka yang sudah kadung cocok sama empuknya kekuasaan?

Mereka baru beneran ketemu masalah kalau ternyata pernyataan itu benar. Kalau tidak benar, ya tidak masalah kan. Kalau yakin bakal tidak masalah, kenapa harus khawatir? Kalau tidak khawatir, kenapa marah? Kalau memang mereka tidak seperti yang ditudingkan, sebenarnya mereka tak punya alasan untuk marah kok. Masa’ marah-marah hanya karena ‘perkara sepele yang tidak mengancam perikehidupan’ mereka?

Soal beliau-beliau yang mudah marah itu, mungkin, penyebab persisnya bisa ditanyakan pada cendekiawan muslim Imam Al-Ghazali. Niscaya dia akan menjawab;

“Termasuk motif paling kuat yang dapat membangkitkan kemarahan kalangan orang-orang bodoh adalah anggapan mereka bahwa rasa marah merupakan simbol dari keberanian, kejantanan, kemuliaan diri, serta tingginya cita-cita.”

Atau sensi tingkat tinggi itu muncul gara-gara beliau-beliau itu memang lagi PMS (pra-masuk sel)? Allahu’alam bishshawab.

*Dari berbagai sumber.

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s