Para ‘Pendobos’ Itu Bukan Bos

PEMILU baru digelar tahun depan. Tapi, proyek ‘perdobosan’ (dari kata dasar berbahasa Jawa ‘ndobos’ yang berarti ngomong doang) untuk menyebarkan ‘optimisme yang aneh’ sudah dimulai. Bukan, bukan dari para calon legislator atau kandidat pemimpin. Tapi dari orang-orang biasa yang, rupanya, juga sudah keterlaluan ndobosnya, ketularan wakil mereka di gedung parleman atau pemimpin mereka yang duduk dengan gaya disopan-sopankan di lembaga eksekutif sana.

Contohnya ini: Pak Momon (bukan nama sebenarnya, untuk menghargai optimismenya) adalah seorang ‘purnawirawan’ sebuah lembaga keuangan negara yang mengurusi duit pensiun. Katanya, dia dulu salah satu pejabat yang punya posisi basah. Singkat cerita, dia tersingkir oleh sebuah momen yang disebutnya ‘konspirasi’. “Saya difitnah, sampai saya harus keluar dan menanggung hutang,” curhatnya pada suatu pagi, sekitar empat bulan lalu.

Katanya dia hidup dalam bayang-bayang teror debt collector. Karena itulah dia cabut dari Medan, tempat di mana keluarganya berada, dan menyelamatkan perasaan amannya ke Jakarta. Misinya ke Ibukota cuma satu; cari duit sebanyak-banyaknya untuk membayar rasa aman dan pulang kembali ke pelukan istri. Masih katanya, dua tahun dia mencari alamat si duit, tapi enggak ketemu juga.

Hingga akhirnya, dia mengaku bertemu dengan seseorang yang –konon– punya duit puluhan miliar rupiah dalam bentuk dollar Amerika yang masih tersimpan di salah satu bank di Jawa Tengah. Ceritanya, si pemilik duit tidak tahu cara mencairkan uang itu karena dia adalah awam yang seratus persen ‘ndeso’. Si owner minta bantuan Pak Momon, sebagai orang yang tahu cara kerja lembaga keuangan, untuk membantu mencairkan dana itu. Pak Momon mengaku, si pemilik duit menjanjikan upah lima persen dari total duitnya. Kalau dirupiahkan, masih kata Pak Momon, nilainya sekitar Rp1 miliar. Cling! Pak Momon melihat solusi untuk masalah utang yang menghantuinya selama bertahun-tahun.

Tapi, belum juga kerja, belum melakukan apapun untuk mencairkan duit yang katanya miliaran itu, dia sudah koar-koar. Ndobos. Duit belum jelas, sudah disebarluaskan ke mana-mana bahwa dia adalah orang yang segera kaya raya. Pak Momon menduga dia bisa jadi milarder dalam waktu singkat dan mudah. ‘Kabar gembira’ itu pun dengan penuh optimisme dia gerojokkan kepada saya. Tiap hari ngomongnya duit am, em, am, em (‘m’ untuk menyebut miliar) melulu. Dia optimistis duit itu bisa cair dalam dua minggu, terhitung sejak dia ‘menyampaikan kabar gembira’ pada saya.

Awalnya saya terpesona pada keberuntungan yang menaungi orang yang menduga dirinya sendiri bakal kaya mendadak itu. Siapa tak terpesona? Saya yang sudah bertahun-tahun bekerja saja sulit untuk menabung karena terus dikejar harga sembako dan BBM yang konsisten merayap naik itu, dia yang tak perlu kerja dapat duit semiliar. Yah, rezeki kan sudah ada yang menentukan, batin saya. Tiap orang punya jatah sendiri-sendiri, enggak boleh iri sama jatah orang lain…

Waktu bergegas bersama optimisme Pak Momon. Setiap pagi saya selalu disuguhi dongeng tentang duit miliaran rupiah yang segera cair dalam waktu singkat. Nah, sepertinya, ‘waktu singkat’ bagi Pak Momon itu fleksibel, sesuai dengan kebutuhannya. Enggak ada batasan tegas. Sudah empat bulan sejak dia mendongeng tentang duit yang bisa cair cepat itu, tapi sampai kini tak serupiahpun terciprat.

Dia semakin rajin datang ke kamar kontrakan saya untuk terus dan terus mendongeng tentang uang miliaran yang dia sinyalir segera menjadi miliknya –tapi tak kunjung terwujud itu. Tiap pagi lepas Subuh dia rutin mendongeng panjang lebar. Sembari itu, dia juga konsisten mencomoti rokok saya. Klepas, klepus sambil terus mendongeng tentang optimismenya. Ngaku bakal punya uang miliaran, beli rokok eceran saja tak mampu. Dia yang punya mimpi, saya yang rugi. Nombok bos, keluarin ongkos rokok buat menjamu sang pendobos….

Itung-itung Latihan

Orang ngomong tanpa bukti, dan kerapkali bikin rugi, sepertinya memang telah tumbuh lestari di sekitaran lingkungan kita hidup dan bernapas ini. Lakon para pendobos telah merajalela ke mana-mana, merasuk ke sendi-sendi perikehidupan masyarakat. Apalagi di saat-saat menyongsong pesta demokrasi ini, weh, di mana-mana isinya berdobos-dobos ria…

Kalau kita sejenak menengok ke belakang, banyak bukti sahih tentang riwayat para pendobos ini kok. Pada Pemilu periode sebelum ini, banyak orang yang mendongeng pada kita, para pemilih ini, tentang yang indah-indah; sembako murah, swasembada pangan, penegakan supremasi hukum, berantas korupsi, dsb, dsb. Buktinya? Yah, nilai sendirilah.

Dulu jelas-jelas ada yang tegas-tegas bilang “Katakan tidak pada korupsi!” Tapi, buktinya, orang-orangnya malah berbondong-bondong kompak masuk bui. Ada yang bilang ‘pasti bersih, religius’, buktinya ketiban duit haram daging sapi. Ada yang bilang swasembada pangan bakal jadi prioritas, nyatanya kedelai saja masih impor. Pas harganya naik, pengrajin tahu-tempe pun megap-megap. Ndobos

Para pendobos masa lalu masih sehat lestari, ealah, pendobos masa depan sudah pada bermunculan lagi. Ada yang bilang siap menghadirkan pembaharuan dan mendongkrak ekonomi Indonesia, tapi ngurus lumpur saja enggak becus. Ada juga yang mendongeng mau mensejahterakan rakyat, tapi lebih memilih beli puluhan kuda yang seekornya berharga Rp3 miliar daripada membangun sekolah alternatif –setelah banyak sekolah negeri yang tak terurus. Ada lagi konglomerat yang berjanji berantas korupsi tapi hidupnya disokong oleh perusahaan-perusahaan yang ngemplang pajak. Ndobos…

Yah, mau tak mau, kita harus menerima ‘pendobosan masal’ sebagai sebuah keniscayaan ajeg tiap kali pesta demokrasi digelar. Itu kenyataan yang tak bisa dihindari. Kerap kita muak, tapi mau bagaimana lagi? Pendobosan itu mungkin dirasa perlu untuk menjala simpati. Soal bukti, ya kalau belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, kita harus berani untuk selalu berbesar hati hingga batas waktu yang belum ditentukan. 

Karena itulah, dengan didobosi orang-orang biasa seperti Pak Momon, yah, kita sebagai jelata yang seharusnya punya hak memilih –sejauh tidak ada lagi kisruh DPT– coba memandangnya secara positif. Itung-itung mulai membiasakan diri mendengar pendobosan itu. Tahun depan, aksi dobos-mendobos itu jelas digelar lebih massif. Pak Momon juga tak bisa disalahkan, kok. Yah, mungkin dia juga korban dari pendobosan massal yang menyikapinya dengan kurang bijak. Dendamnya pada para pendobos dibalasnya dengan ikut mendobos, dengan konsisten mengobral mimpi yang tak pasti.

Itung-itung kita juga melatih diri untuk bersabar agar tidak ikut arus dalam barisan penghujat para pendobos. Kalau sudah biasa didobosi, kan, kita lama-lama tahu mana yang nyata dan mana yang maya kan? Dengan begitu, kita bisa mengambil sikap yang lebih bijak berdasarkan akal sehat dan hati nurani yang luhur. Sebisa mungkin jangan ikut-ikutan latah mendobos.

Masih Banyak yang Serius Kok

Kita bisa memilih untuk mengabaikan pendobosan itu dan ikut mengambil bagian dalam berbagai tindakan nyata untuk memakmurkan negeri ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang tanpa mendobos langsung beraksi untuk membangun Ibu Pertiwi. Aksi untuk swasembada daging mulai digalakkan beberapa lembaga non-pemerintah. Sekolah-sekolah untuk anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah juga terus dibangun oleh yayasan-yayasan yang –mudah-mudahan– dikendalikan orang-orang yang masih percaya dengan akal sehat.

Aksi-aksi seperti itu jelas lebih berfaedah bagi bangsa ini. Sekaligus menyuguhkan pada kita kenyataan yang menggembirakan tentang masih banyaknya kepedulian terhadap sesama di negeri ini. Nah, daripada ikut menghujat para pendobos, bukankah lebih baik kita abaikan saja mulut-mulut yang konsisten nyerocos itu, lalu mengambil bagian dalam aksi nyata untuk mendongkrak derajat kemakmuran negeri ini.

Biarlah para pendobos itu terus mendobos. Karena memang hanya itu yang mereka bisa. Siapa tahu mereka memang dilahirkan sebagai pendobos. Urusan kodrat, kan, tak bisa dilawan. Toh, kita juga tidak diwajibakan untuk menempatkan mereka sebagai bos yang harus ditaati semua instruksi perdobosannya itu.

Yah, kita anggap saja para pembual itu adalah hiburan di tengah upaya keras kita berbuat nyata, sebagai wujud cinta pada Indonesia. Anggap saja mereka adalah ujian kesabaran untuk kita, masyarakat berbudaya, kreatif, sedikit bicara banyak bekerja, yang masih percaya Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa.   

Begitu.

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s