Balada Badut-Badut Sirkus ‘Politik’

POLITIK Tanah Air kini adalah pertunjukan sirkus. Hiburan yang penuh dengan badut. Setidaknya itu menurut saya. Saya ini sedang mencoba sekuat tenaga tidak nyinyir lho. Saya hanya sedang berusaha menatap fenomena politik yang membuat banyak orang miris itu dengan lentur dan gembira.

Jika seniman Sudjiwo Tedjo mengatakan bahwa perempuan adalah tentang yang tak terkatakan, saya menyebut politik itu selalu tentang yang tak terduga. Banyak prediksi yang kerap keliru. Banyak dugaan yang akhirnya menyuguhkan kenyataan bahwa hasil akhir tak seperti yang kita perkirakan. Antiklimaks. Sebab, dalam upaya meraih dan mempertahankan kekuasaan –definisi sederhana politik itu– banyak manuver-manuver yang seringkali luput dari prediksi.

Apalagi ketika kita menyimak sepak terjang para pelakonnya, banyak kisah yang tidak berjalan linear sama sekali. Banyak improvisasi. Penuh kejutan. Dan, pada akhirnya, menyuguhkan hasil yang jelas-jelas mengobrak-abrik pemahaman kita yang umumnya prediktif-linear. Persis seperti pertunjukan sirkus dan badut-badutnya.

Ketika Anda menonton sirkus, Anda disuguhi banyak adegan  yang tak pernah anda simak dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian yang berlangsung di luar hukum nalar massif. Misalnya, orang-orang bergelantungan di ketinggian sepuluh meter dan mengayun dari tali satu ke tali lainnya berpindah-pindah dan tidak jatuh. Jika itu dilakukan orang pada umumnya, biasanya akan jatuh. Tapi, orang-orang sirkus itu berhasil membalik pemahaman umum kita tentang hukum sebab-akibat.

Atau ketika orang yang memasukkan kepala ke mulut singa dan si singa tidak mengatupkan rahangnya. Atau ketika ada gajah berjalan menunggangi bola raksasa, atau ketika ada singa melompati lingkaran berapi, dan lain-lain, dan lain-lain. Itulah atraksi sirkus, hal yang tidak umum terjadi tapi bisa terjadi, dan kita memandangnya sebagai hiburan di luar kehidupan nyata –yang umumnya mengikuti hukum sebab-akibat yang linear.

Begitulah politik Tanah Air sekarang ini. Tak terprediksikan. Yang kerapkali terjadi adalah hal yang keluar dari rel pola pikir pakem, setidaknya pakem publik mayoritas.

Andi Alfian Malarangeng akhirnya ditahan KPK. Padahal di awal-awal munculnya pada masa awal reformasi, dulu, dia berhasil membuat banyak orang terpesona. Sosok muda yang independen, cerdas, pengamat politik yang jeli, dan paras yang enak dipandang –hingga kumisnya ditahbiskan sebagai idola kaum Hawa. Ada kesan bersih, konsisten, dan vokal dalam penampilan dan cara bicaranya. Juga, ada kesan ‘bebas kepentingan’.

Kini? Dia harus mengenakan seragam khusus tahanan KPK. Suguhan di awal kebintangannya ditutup dengan sebuah babak yang memilukan, ketika dia memutuskan untuk nyemplung dalam partai politik. Status hukumnya ada kaitan dengan politik? Entahlah. Politik selalu tentang yang tak terduga. Seperti sirkus.

Tahun 2005 kita dikejutkan dengan penangkapan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mulyana W Kusumah oleh KPK. Kala itu, Mulyana adalah orang yang disinyalir bersih. Tapi, apa lacur, dia tertangkap tangan ketika berusaha menyuap auditor BPK. Dan, keterpesonaan publik pada integritas Mulyana pun berakhir di luar prediksi.

Kala itu kita seperti disuguhi sebuah akrobat sirkus; ketika hal yang awalnya kita prediksikan tak mungkin terjadi –mengingat citra bersih dan integritas Mulyana– tapi akhirnya kejadian juga. Sebagai orang KPU, sudah hampir pasti profesinya itu bercelemong aroma politis. Ada partai yang diprediksi mendalangi drama itu. Siapa? Tanyakan pada rumput yang bergoyang. Namun, sekali lagi, politik selalu tentang yang tak terduga. Seperti sirkus.

Tahun 2004 adalah masa di mana Susilo Bambang Yudhoyono sedang mekar-mekarnya. Pria yang dinilai ganteng dengan citra sopan yang membawa pembaharuan. Harapan publik pun tertumpu padanya dengan mengamanahkan mandat sebagai presiden  –ketika masyarakat sudah jenuh dengan muka-muka lama. Partai Demokrat yang dibangunnya membawa citra sebagai partai reformis yang akan membawa negeri ini menuju surga kebahagiaan.

Kini? Fakta hukum di Tanah Air menunjukkan bahwa partai Pak Beye dihuni banyak oknum kader yang diduga maupun dinyatakan korup. Sebutlah nama-nama seperti Nazarudin, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, atau Andi Malarangeng –mereka yang pernah diprediksi akan menjadi bintang itu.

Citra pribadi Pak eSBiWay pun kian terusik ketika Lutfi Hasan Ishaq bernyanyi di persidangan tindak pidana korupsi bahwa ada ‘hubungan khusus’ antara SBY sebagai presiden dengan seorang bernama Bunda Putri. Sampai-sampai kesan sopannya yang dibangun Pak Beye kala awal tampil di permukaan panggung politik Tanah Air pun resmi luruh kala dia mengumbar kemarahan dalam keterangan pers soal Bunda Putri di Bandara Halim Perdanakusuma itu.

Ketika dulu kita terpesona pada Pak Beye, apakah kita memprediksi  kemarahan itu akan mencuat ketika pribadinya sebagai negarawan diusik? Lalu, apakah benar Pak Presiden punya hubungan dengan Bunda Putri seperti yang dikoarkan LHI? Entahlah, itu urusan penyelidik KPK. Saya tak mau coba-coba menduga, sebab, kendati saya mungkin orang bodoh, saya belum siap dibodoh-bodohkan sama Bu Ani. Sekali lagi, politik selalu tentang yang tak terduga. Seperti sirkus. 

Penganut sinisme menyebut politik itu kotor. Kotor yang bagaimana? Entahlah. Yang jelas, terlepas halal-haram dunia politik, saya pribadi melihatnya dengan cara sederhana saja; panggung politik itu adalah ajang pertunjukan sirkus. Banyak yang tak terduga. Memandang politik dengan kacamata yang prediktif-linear itu, menurut saya, sepertinya akan membuat kita kecewa. Namun, jika kita memilih sudut pandang yang lebih fleksibel, politik itu seru, penuh kejutan, dan banyak hal yang pantas ditertawakan. Anggap saja hiburan.

Jika Thomas Jefferson pernah berujar; “Jika masuk surga itu harus melalui partai politik, maka saya memilih tidak masuk surga,” itu mungkin karena Pak Thomas lebih memilih menjadi negarawan, bukan pemain sirkus.

Sepertinya dia tahu, bahwa negarawan itu bukan badut sirkus.

   

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s