Melacak Jejak Narkoba di Ruang Pak Ketua

DUA hal kentara kurang beres soal pembentukan fakta penemuan ganja dan sabu spesial di ruang kerja Akil Mochtar. Pertama, perihal informasi yang simpang siur perihal di mana tepatnya narkoba itu ditemukan. Kedua, dari sisi forensik, Akil dinyatakan tidak mengonsumsi alias negatif.

Baiklah, coba kita urai ketidakberesan-ketidakberesan itu, lalu coba melakukan analisa sederhana saja.

Awalnya, barang memabukkan itu diberitakan ditemukan petugas KPK di dalam laci Akil. Pada kabar setelah itu, berita yang muncul menyebut benda itu ditemukan di atas meja. Mana yang betul? Hanya petugas KPK yang tahu. Kalau ingin memastikan, ya tanyakan saja pada orang KPK yang ikut menggeledah ruang Akil. Yang pasti, jika locus delicti saja simpang siur, pada akhirnya akan berbuntut kesimpangsiuran dalam menetapkan pemilik narkoba tersebut. Untuk mengungkap sebuah tindak pidana, locus delicti (lokasi kejadian) dan tempus delicti (waktu kejadian) harus akurat dan selaras untuk menghindari alibi. Jika salah satunya tak konsisten, alibi akan sangat mudah disusun. Alhasil, pelaku lolos. Sesederhana itu saja.

Jadi, mana yang benar? Di mana narkoba itu ditemukan? Tergeletak begitu saja di atas meja atau tersimpan rapi di dalam laci? Kenapa keterangannya kok plin-plan? Soal ini, kan saya sudah bilang, tanya pada petugas yang mengaku menemukan! Haduh, tanya mulu nih..! (Mulai kumat monolog :D)

Oke, kembali lagi ke bahasan.

Soal hasil tes pada urin dan rambut Akil, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut negatif. Tak ada jejak narkotika baik pada air kencing maupun rambut. Jika memang Akil menghisap ganja, sementara ada barang bukti berupa ganja yang sudah diisap, tentunya akan terdeteksi dalam urin Akil. Sebab, hampir pasti ganja setengah pakai itu belum lama dikonsumsi dan jejaknya masih menempel pada kandung kemih si pemakai minimal tiga hari.

Secara psikologis, pemakai tak akan membiarkan ganja dalam bentuk puntung lebih dari sehari. Sebab, kenikmatan ganja, setidaknya dari sisi rasa, menjadi tidak enak. Itu akan mengganggu kenikmatan konsumsi. Setidaknya, seperti itulah alasan pengguna ganja kelas akar rumput.

Selain itu, menyimpan ganja dalam bentuk puntung juga berisiko terpergok sebagai barang bukti. Malu dong kalau tertangkap memakai narkoba dengan barang bukti sepuntung ganja. Jadi, dengan logika sederhana itu, semestinya barang bukti puntung ganja di ruang Akil itu belum lama digunakan dan penggunanya akan mudah terdeteksi dari urinnya. Faktanya, setidaknya menurut BNN, urin Akil negatif.

Untuk zat methampethamin, yang disebut sebagai sabu spesial dari Thailand tersebut, jejaknya bahkan lebih kuat lagi. Seperti yang pernah dijelaskan oleh dr Mun’im Idries kala beliau masih sehat, zat itu akan terus menempel di rambut pemakainya, bahkan hingga si pemakai meninggal. Bahkan, ketika dia sudah tinggal belulang dengan sisa sedikit rambut di dalam kubur, zat itu masih bisa dideteksi pada rambut belulang itu. Pernah ada penelitian soal ini.

Seorang teman bekas pengguna narkoba bahkan pernah gagal masuk tes PNS karena terdeteksi pernah mengonsumsi sabu ketika rambutnya diuji. Padahal, dia sudah berhenti mengonsumsi lima tahun sebelum tes tersebut. Nah, kalau Akil mengkonsumsi narkoba khusus itu, tentu jejaknya akan tertinggal di rambut. Tapi, lagi-lagi, hasil tes BNN menyebut, rambut Akil juga negatif narkoba.  

Sepertinya itu cukup untuk membuktikan barang itu bukan milik Akil. Sebab, buat apa menyimpan barang konsumsi jika tidak dikonsumsi? Koleksi? Ah, narkoba bukan perangko! Apalagi jelas ada barang bukti yang baru saja dikonsumsi.

Lalu pertanyaan selanjutnya; milik siapakah narkoba itu? Bagaimana bisa sampai ke ruang Akil? Untuk  ini, ada dua kemungkinannya.

Pertama, ada orang dekat Akil yang biasa keluar-masuk ruang Ketua MK –yang aksesnya terbatas itu– dan meminjam ruang Akil untuk nge-drug. Alasannya tentu wajar, karena ruang itu aman. Tak perlu khawatir digerebek ketika nyabu atau ngganja di situ. Dan, ruang itu juga dinilai aman untuk menyimpan narkoba –setidaknya sampai sebelum Akil tertangkap tangan KPK.Yah, bisa saja ada orang nitip. Nggak mungkin polisi mengobok-obok ruang Ketua Mahkamah.

Kalau ini yang terjadi, ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Bisa saja Akil memang permisif pada semua kliennya –terutama yang ngantar duit– dan mempersilakan mereka berbuat sesuka hati di ruangannya. Ini zaman duit berkuasa, punya duit bebas apa saja, termasuk mengonsumsi narkoba di ruang Ketua MK.

Atau memang Akil tak pernah tahu ada yang menggunakan narkoba di ruangannya, tapi dia memberikan akses khusus pada orang-orang tertentu agar bisa masuk kendati dia sedang tidak berada di tempat, dan orang itu memanfaatkan ruang kosong tersebut untuk menggunakan narkoba. Bisa saja Akil  membebaskan orang tertentu keluar masuk, terutama yang sering setor melalui sopirnya –setidaknya pola setoran seperti inilah yang terlacak KPK.

Untuk melacak kemungkinan tersebut, petugas bisa melacak siapa-siapa saja yang masuk ke ruang Akil selama 2×24 jam sebelum Akil tertangkap. Di sekitar ruang Ketua MK tentu ada CCTV dong. Dari situ sudah kelihatan siapa saja yang datang. Kalau mengacu pada buku tamu, sepertinya itu kurang efektif. Mungkin saja ada orang dekat yang masuk dan tak perlu mengisinya, sebab sudah biasa. Apalagi ketika ada yang masuk ketika Akil tidak ada di tempat. Tentu dia tak mengisi buku tamu.

Dan, kalau terbukti ruang Ketua MK digunakan untuk konsumsi narkoba, jelas heboh –kendati empunya sendiri tidak berpartisipasi. Kewibawaan mahkamah bakal kian amblas. Akhirul kata, wacana yang mengemuka sudah hampir pasti: bubarkan MK! Dan perkara Pilkada pun –yang paling sering jadi langganan MK– kian sengkarut.

Kemungkinan kedua, ada semacam konspirasi di mana ada sengaja menaruh narkoba di ruang Akil untuk semakin membenamkannya. Nah, kalau sudah ngomong soal itu, pasti seru! Konspirasi itu tema yang seksi. Spekulasi akan merajalela. Pertanyaan-pertanyaan tentang kepentingan apa yang melatari konspirasi itu akan jadi pembicaraan paling panas. Dan, lama-lama, publik akan abai pada kasus dugaan suap sendiri karena terlalu sibuk ikut berspekulasi soal berbagai kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu mungkin soal “konspirasi narkoba” tersebut.

Baiklah, jika memang kemungkinan itu yang harus terjadi, setidaknya yang pertama perlu dilacak adalah kemungkinan siapa yang meletakkan barang tersebut. Soal motivasi pelaku, nanti dululah. Kita bahas satu persatu.

Mengingat akses ruang Akil yang terbatas, perlu memeriksa siapa-siapa saja yang pernah masuk ke situ. Jika mengabaikan kemungkinan ruang Akil digunakan untuk pesta narkoba –seperti yang dibahas di atas–, dan benda haram tersebut  hanya sengaja ditaruh untuk kian menjerumuskan Akil, tetap perlu melacak siapa saja yang pernah masuk ke situ. Nantinya, data tersebut dicocokkan dengan data forensik berupa sidik jari atau bekas air liur pada ganja yang sempat terhisap. Kalau sudah cocok, tinggal angkut saja orangnya.

Sepertinya yang menaruh barang itu –jika memang sengaja ditaruh– adalah orang spesial yang tajir. Sebab, ada sabu spesial yang tak bisa didapatkan sembarang orang di situ. Narkoba yang tentunya hanya dikonsumsi orang-orang spesial. Dan, orang yang bebas keluar-masuk ruang Akil, hampir pasti, orang-orang spesial dong. Coba cari rekaman CCTV siapa saja yang masuk ruang Akil, terutama orang terakhir yang masuk sebelum KPK. Kalau CCTV-nya mati, cari petugas keamanan, tanya, siapa yang nyuruh dia matiin dan jam berapa itu terjadi.

Jika semua itu sudah dilakukan, dan tetap tidak ada kecocokan bukti forensik pada barang bukti dengan orang-orang yang keluar-masuk ruang Akil –bahkan hingga orang terakhir yang masuk sebelum petugas KPK–, ya ada satu kemungkinan terakhir; barang itu ditaruh ketika terjadi penggeledahan oleh KPK. Siapa yang menaruh? Jika saat penggeledahan tersebut ruang hanya terisi petugas KPK, mereka kah yang meletakkannya? Apa kepentingannya?  Tapi, jika memang ini yang terjadi, ya sudahlah. Kita bisa apa lagi? Harapan terakhir kita dalam penegakan hukum pun akhirnya runtuh.

Namun, jangan buru-buru dulu lah. Coba cari siapa orang di luar KPK yang mendampingi penggeledahan itu. Bisa saja ada seorang profesional yang sengaja mengaturnya, agar muncul kesan bahwa petugas KPK lah yang sengaja meletakkan narkoba itu, agar kemudian petugas KPK lah yang dituduh, untuk menghancurkan kredibilitas tim Anti-Rasuah. Begitu? Ah, entahlah. Kalau ngomong soal konspirasi, bakal sulit menemukan ujungnya. Untuk saat ini tak perlu ngomong motif dulu. Paling penting itu melacak siapa pemilik “narkoba misterius” tersebut.

Tapi, siapapun pelakunya, saya berani menebak bahwa dia bukan orang ceroboh. Dia adalah orang yang banyak duit, mengenal Akil sangat dekat, merasa hatinya disakiti, dan piawai menunggangi momentum. Ingat, Pilkada di beberapa daerah sedang seru-serunya, dan tahun depan ada pesta yang jauh lebih seru: Pemilu. Saya juga berani menebak ganja yang ditemukan itu sengaja “dipuntungkan” sebagai bukti atau alibi, karena memang ada yang “dibidik”. Seperti kata Profesor Komaruddin Hidayat dalam salah satu kicauannya di jejaring sosial Twitter; demokrasi kita kini adalah demokrasi jual-beli. Untung-rugi secara materi jadi perkara sensitif.

Biar saja waktu yang menjelaskan semuanya, nanti. Dan, biarlah hukum pasti dalam dunia kriminal itu yang menentukan;

“Tidak ada kejahatan yang sempurna. Serapi apapun sebuah kejahatan, pasti ada jejak yang ditinggalkan.”

*NB: Ah, andai saja dr Mun’im masih ada, tentu kejadian ini akan menjadi tema pembahasan yang seru…..   

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s