Semangat di Ujung Napas

“SEKITAR dua tahun lalu, waktu saya menunggu giliran tampil di salah satu stasiun televisi swasta, seorang purnawirawan perwira tinggi nyeletuk pada saya; ‘Dok, ini bukannya saya nyumpahin Dokter cepet mati ya. Tapi, mumpung masih ada kesempatan nih, tulis semua yang Dokter tahu. Biar semua orang tahu kebenaran’.”

Begitulah dr. Abdul Mun’im Idries SpF mengisahkan ihwal keberaniannya berterus terang pada dunia soal upaya tipu-tipu massif yang pernah melibatkannya. Kala itu kami terlibat dalam perbincangan seru yang asyik, pada sebuah hari di bulan April 2013.

“Waktu mendengar saran itu, saya seperti disadarkan bahwa ada tanggung jawab yang belum saya tuntaskan,” katanya. Celetukan itu jugalah yang memotivasinya menyusun semacam “laporan pertanggungjawaban” melalui tulisan-tulisannya dalam Indonesia X-Files.

“Mumpung masih ada umur, sekaranglah saatnya untuk membuka kebenaran,” dengan suara lirihnya, Mun’im mengucap yakin kala itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menumpahkan segala uneg-uneg yang diperamnya sendiri selama lebih dari empat dasawarsa –senyampang dia menjalani peran sebagai ikon kedokteran forensik Tanah Air– kepada saya, untuk dituangkan dalam sebuah “buku putih”. Semacam curhat profesional.

Mun’im pernah ikut menyamarkan kebenaran-kebenaran itu dengan dalih protecting society. Di bawah cuaca Cibubur yang kala itu panasnya keterlaluan, dia mengakui miris ketika harus terlibat dalam bhineka skenario tipu-tipu massif dalam anekaragam perkara; pembunuhan Ditje di tahun 1986, ketika dia harus mengurus korban penembak misterius alias petrus demi “ketertiban umum”, dan ketika dia harus “mengamankan” jenazah seorang pejudi yang tewas dihajar petugas keamanan sebuah kasino yang tetap buka di bulan Ramadan.

“Kebenaran harus terbuka. Kebenaran harus terbuka. Mumpung masih ada umur,” pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 66 tahun lalu itu terus menerus mengulang kalimat tersebut sepanjang percakapan kami. Dan dia, setidaknya, berhasil menyelesaikan sebagian besar amanahnya untuk membuka kebohongan-kebohongan itu, sebelum akhirnya Sang Pemilik menjemputnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, di dua pertiga malam terakhir sebuah Jumat, 27 September 2013.

Berkata jujur, apa adanya, sesuai dengan aturan yang berlaku, itulah perilaku etis dalam definisi Mun’im. “Etis itu beda dengan tak enak hati,” katanya. Etis itu lain dari basa-basi. Etika bukan jargon, bukan verbalistik. Perilaku etis adalah berbuat, penting jujur sesuai aturan. Prinsip itulah yang diterapkannya sepanjang melakoni profesinya hingga usianya tertutup. Pilihan sikap itu pula yang akhirnya menganugerahkan status nyentrik untuknya.

Mun’im blak-blakan bukan demi popularitas. Tanpa bukunya itu pun dia sudah kondang. Dia menulis buku bukan karena fulus, sebab –seperti yang dia pernah katakan sendiri pada saya dan karibnya, psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel– sebagian besar royalti dari buku itu hendak dia sumbangkan pada lembaga penyaluran dana untuk kaum papa. Motivasi Mun’im untuk berkata jujur itu hanya satu; bahwa kekeliruan-kekeliruan itu harus diluruskan. Kekeliruan yang dia pernah punya peran di antaranya –sebab dia berada dalam posisi yang tak mungkin menawar.

Dia sadar telah melakukan kekeliruan. Dia terngiang pesan ayahnya, Letkol Iskandar Idries, dan gurunya, Profesor Slamet Imam Santoso. Pesan agar selalu jujur. Dua figur itulah yang memahat pribadi sangar karena benar dalam tubuh kecil Mun’im.

Mun’im telah berusaha menebus masa lalunya yang digumuli rasa bersalah. Dia nian bersemangat dalam upaya “penebusan” tersebut. Dia bahkan begitu antusias menyambung rantai upayanya untuk menguak kebenaran dengan menyusun rencana sekuel Indonesia X-Files. Semangat itu membuncah ketika dia terkulai lemah karena gangguan batu empedu.

Sebagian  berkas milik dr Mun'im.
Sebagian berkas milik dr Mun’im.

Mun’im telah melepaskan sebagian besar amanah yang harus digendongnya sendiri lebih dari 40 tahun, selama dia hidup di bawah bayang-bayang suram kuku besi Orde Baru hingga pasca-Reformasi kini.

Sepanjang hampir dua pekan dirawat di rumah sakit, dia sempatkan membawa bukti-bukti kebenaran yang belum sempat dia sampaikan ke samping ranjang. Dia merasa masih ada amanah yang belum dia jalankan. Trengginas masih memancar kuat di balik muka pucat dan tubuh lemahnya. Demi kebenaran yang harus tersuguh.

Sayang, antusiasme pria yang pernah punya cita-cita menjadi ahli farmasi ini tak sepenuhnya terwujud. Manusia dikuasai oleh batas-batas, terutama oleh waktu. Di ujung napasnya, Mun’im masih merawat semangatnya. Dia tahu, Indonesia sudah lelah oleh aneka kebohongan yang senantiasa diproduksi secara kontinu.

Selamat jalan, Dok!(*)

1014450_10202120210752681_1938531969_n

*Tulisan ini dimuat dalam kolom ObituariΒ Majalah GATRA

edisi 3-9 Oktober 2013

Tofik Pram

Advertisements

5 thoughts on “Semangat di Ujung Napas

  1. sudah 2x ke gramed…..beberapa bulan lalu sejak almarhum masih hidup mau beli buku x files,ga nemu ….sedih,turut berduka cita meskipun telat ya..soalnya.baru bisa nge blog lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s