Drama Akil Mochtar: Masturbasi Orang-orang yang Diduga Bersih

ENTAH kesimpulan apa yang harus ditarik ketika Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia pernah diduga bersih dan berkomitmen menjunjung tinggi supremasi hukum, karena itu dia didaulat menggantikan posisi Mahfud MD sebagai Ketua MK. Namun, momen Rabu malam itu membuka mata kita, bahwa bersih itu hanya dugaan.

Akhirnya, sebagai awam, saya hanya bisa berhipotesa soal tragedi Akil tersebut; bahwa hukum materiil Tanah Air sedang sakit parah. Parah sekali. Namun demikian, setidaknya kita masih punya harapan; bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi masih setia pada komitmen mereka. Ada penyakit, tentu ada obat.

Ketika kita, terutama para awam ini, menjadi korban dari akal-akalan para kadal regulasi, kita hanya punya satu harapan: MK. Pada lembaga itulah kita banyak berharap. Dan, setidaknya menurut subjektifitas saya, rasa aman itu senantiasa terjamin di masa-masa lalu, terutama ketika biduk mahkamah tersebut dinahkodai oleh Prof Mahfud MD. Banyak keputusan melegakan terambil kala itu, salah satunya adalah keputusan untuk menggelar pemilihan umum di Madura, kala terjadi gonjang-ganjing Pilkada di Jawa Timur, tahun 2008 lalu.

Namun, kini, dalam konteks yang sama –ketika MK mengambil peran sebagai penengah dalam konflik Pilkada di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah– terungkaplah sebuah momen yang menyadarkan kita bahwa konstitusi itu masih sangat mungkin dibeli. Pagar api mahkamah telah meredup ketika Ketua MK Akil Mochtar tertangkap tangan oleh KPK dengan barang bukti uang yang diduga suap senilai Rp2-3 miliar dalam bentuk dollar Singapura, di rumah dinasnya Jl Widya Chandra, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2013) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Akil diamankan bareng anggota DPR dari Fraksi Golkar Chairun Nisa dan seorang pengusaha berinisial CN –setidaknya inilah yang tersitat dari beberapa portal berita di internet.  Dua nama terakhir diduga sebagai mediator.

Memang, suap yang melibatkan Akil itu baru sebatas dugaan. Tapi, sepanjang sejarah sepak terjang Komisi Anti-Rasuah, dugaan selalu berujung pembuktian. KPK adalah lembaga profesional yang bergerak hanya dengan pertimbangan yang sangat matang –setidaknya sampai saat catatan ini tersusun. Setiap yang tertangkap hampir bisa dipastikan terbukti bersalah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Biasanya begitu.

Kita semakin cemas; ke mana lagi kita akan membawa harapan ketika konstitusi serasa menggencet arogan? Penangkapan ini seperti menumbuh-suburkan pesimisme kita terhadap komitmen penegakan hukum di Tanah Air. Kita sudah muak dengan ulah rayap-rayap politik yang mengerat fondasi hukum Indonesia hingga makin keropos dari kala ke kala. Penangkapan Akil membuat kita semakin muak. Muak, semuak-muaknya.

Kerap kita dibuat kecewa oleh sosok-sosok yang (semestinya) menjadi tempat kita menitipkan harapan. Sosok-sosok yang pernah diduga bersih. Sebelum Akil, masih di saat yang belum begitu jauh, Rudi Rubiandini –Ketua Satuan Kelompok Kerja Minyak dan Gas yang kita percayai bersih karena sering bertauziyah di salah televisi nasional sepanjang Ramadan lalu– dibekuk terlebih dulu. Lutfi  Hasan Ishak, ketua partai berbasis agama yang selalu mengklaim diri sendiri bersih, tertimbun suap daging sapi. Orang-orang muda yang sempat membawa optimisme untuk bangsa ini, seperti mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Malarangeng, juga jauh lebih awal berurusan dengan Abraham Samad dkk.

Akil adalah salah satu sosok yang pernah diduga bersih, ketika beberapa waktu lalu dia mengutuk kasus Rudi Rubiandini dan kasus-kasus serupa, di mana Akil menyebutnya sangat memalukan bangsa, dalam kicauan-kicauannya di jejaring sosial Twitter. Tapi, akhirnya dia sendiri turut memperpanjang daftar orang-orang memalukan yang dihujatnya, dalam drama Rabu malam itu.

Franz Kafka, tampaknya, memang seorang analis yang jitu. Dalam Before the Law dia bernas menyebut; penjaga pintu keadilan tak pernah membuka pintu untuk jelata yang senantiasa menunggu. Dan itu terbukti saat ini, setidaknya dalam momen-momen sinetron penegakan hukum di Bumi Pertiwi.

Pantas saja dr Abdul Mun’im Idries, pernah mengucap sinis; “Penegakan hukum hingga langit runtuh itu cuma masturbasi!” ketika kami terlibat dalam diskusi santai, lima bulan sebelum dia mangkat pekan lalu.

Pesimisme mungkin tumbuh saat ini. Namun, kita masih dihalalkan untuk merawat harapan. Momen-momen memalukan itu sebaiknya kita pandang bukan sebagai akhir harapan kita yang rindu keadilan. Justru inilah saat-saat untuk membersihkan borok-borok parasit konstitusi, sebelum keadilan itu benar-benar terwujud. Setidaknya, sampai saat ini kita masih punya KPK. Setidaknya saat ini kita masih bisa menduga bahwa KPK itu bersih. Tentu kita berharap itu bukan cuma dugaan, namun kenyataan.

Kita berharap KPK tidak sedang bermasturbasi dalam upaya bersih-bersih rayap-rayap hukum dan konstitusi itu. Kita berharap, upaya cukur habis ala KPK ini adalah cara Abraham Samad dkk untuk membuka pintu keadilan bagi jelata yang masih menunggu. Semoga dugaan-dugaan kita tentang komitmen penegakan hukum yang masih ada itu benar-benar nyata. Sebab, ketika dugaan kita pada KPK pun akhirnya terbukti keliru, pada siapa lagi kita menitipkan harapan?

Salam.

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s