Sahabat Lima Bulan

PERJUMPAAN saya dengan Abdul Mun’im Idries sepertinya diatur oleh sebuah skenario semesta  yang unik.

Empat tahun lampau, di 2009, ketika saya masih aktif sebagai jurnalis di sebuah surat kabar nasional, sempat terpantik keinginan kuat untuk bisa berdiskusi dengan Pak Dokter Nyentrik itu. Tepatnya ketika teroris paling diburu kala itu, Nordin M Top, dikabarkan telah berhasil ditembak mati oleh Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri. Keterangan polisi yang sering salah terkait kematian Nordin –seperti ketika mengumumkan Nordin telah berhasil ditembak, ternyata tes DNA membuktikan bukan– membuat saya penasaran untuk mencari kepastiannya dengan bertanya langsung pada ahlinya. Maksud saya, ya dr. Mun’im itu.

Namun, batas-batas wewenang dalam lingkup bidang pemberitaan dalam kantor saya waktu itu akhirnya membatalkan semua hasrat keingintahuan saya. Berita Nordin itu jatah desk nasional, sementara saya mendapat tanggung jawab dalam desk daerah.Ya sudah.

Setelah resmi melepas status jurnalis media mainstream, saya ‘mengembara’ dan bahkan lupa dengan niatan saya itu. Hingga akhirnya sebuah law of attraction membawa saya kembali menginjakkan kaki di Ibukota dan mempertemukan saya dengan Mun’im, April 2013 lalu. Saya sudah lama kenal Mun’im, tentu saja. Siapa tak kenal dokter kondang itu? Tapi, Mun’im baru mengenal saya april itu. Kami berbincang dan berdiskusi tentang banyak hal, di mana akhirnya cangkrukan tersebut tertuang dalam buku.

Sepertinya pertemuan kami memang telah ditakdirkan. Dalam perjumpaan pertama itu, 11 April 2013, kami langsung terlibat dalam obrolan dan diskusi yang renyah tentang banyak hal di dunia hukum dan kriminal. Omongan kami nyambung terus. Dan saya mengetahui banyak hal tabu namun nyata. Tak hanya soal Nordin –hal pertama yang ingin saya ketahui dari Mun’im yang empat tahun lalu tak kesampaian– tapi juga tentang peristiwa kematian Ditje, korban petrus, dan kematian-kematian lain. Mungkin, latar belakang saya sebagai wartawan desk hukum dan kriminal dan keahlian Mun’im di bidang forensik yang membuatnya banyak berhubungan dengan dunianya para bandit dan aparat itu adalah musabab kecocokan kami. 

Kami  juga sama-sama menemukan kepuasan dalam interaksi kami. Saya mendapat semua jawaban atas berbagai pertanyaan yang senantiasa membebat saya selama menjalani profesi sebagai wartawan hukum dan kriminal –di mana saya menemui banyak keanehan dalam fakta-faktanya–, sementara dia puas karena telah menumpahkan semua uneg-uneg yang dipendamnya selama empat puluh tahun lebih. Singkat kata, kecocokan itu menjalar menjadi kedekatan. Kami pun bersahabat.

Kami sering berkirim pesan untuk saling bertukar kabar di tengah kesibukan kami masing-masing. Dan saya merasa mendapat kehormatan ketika dipercayainya untuk menguak seluruh kebenaran yang dia ketahui. Bahkan, setelah buku Indonesia X-Files dan Dunia Forensik Itu Lucu, kami sepakat untuk menerbitkan buku ketiga yang berisi tentang hal heboh lain –yang ternyata masih sangat banyak  dan belum tertuang dalam dua buku terdahulu.

Saya merasa terhormat karena mendapat amanat untuk menyimpan berkas-berkas lama beliau yang berisi tentang data-data sensitif, hasil tulisan mesin ketik beliau sendiri. Saya juga ingat betul ketika naskah Dunia Forensik Itu Lucu dicoretnya di sana-sini, seperti seorang dosen pembimbing yang mengoreksi skripsi mahasiswanya. Di mana koreksi itu dia tuliskan dengan tulisan tangan khas dokter, yang membuat saya harus pandai-pandai berdamai dengan kesabaran saya ketika berusaha untuk bisa memahami tulisan serupa hieroglif itu.

image

Naskah Dunia Forensik Itu Lucu yang dikoreksi Mun'im.

Namun, dari segala upaya seru itu, akhirnya kami pun semakin cocok. Dia cocok dengan gaya bahasa yang saya pilih, saya cocok dengan tema yang dipaparkannya. Kecocokan inilah yang memacu kami untuk terus melahirkan sebuah kolaborasi karya untuk masa-masa selanjutnya.

“Pokoknya saya minta kamu yang nulis ya,” katanya pada saya. “Siap, Dok!” jawab saya yakin.

Namun, pada akhirnya optimisme kami harus menyerah pada ketetapan takdir. Belum sempat kami memulai proses pengerjaan buku itu, saya menerima pesan singkat di hari Jumat, 27 September 2013, yang membuat kesiap saya terbetot: dr. Mun’im mangkat! Inalillahi wainailaihi rojiun…

Ya, saya memang tahu dia dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat, selama hampir dua pekan karena gangguan batu empedu. Saya juga menerima pesan singkat dari dia pada hari Rabu, 18 September 2013, yang isinya Mun’im mengabarkan hendak menjalani operasi dan dia minta dukungan agar prosesnya dilancarkan. Namun, belakangan saya ketahui bahwa operasi itu terus ditunda karena kondisinya terus menurun.

Yang sangat saya sesalkan, saya belum sempat menjenguknya langsung, kendati pun kami senantiasa bertukar pesan pendek selama dia terbaring sakit. Rencananya Sabtu, 28 September 2013 ini saya bermaksud menjenguknya. Namun, saya harus datang sehari lebih cepat karena ketentuan takdir menghendaki lain.

Diorama-diorama itu langsung berkelebat dalam benak saya ketika saya tatap peti jenazah Mun’im yang tersemayam di Masjid RSCM itu. Saya ingat optimismenya di masa-masa akhir durasi hidupnya; optimisme menguak kebenaran sekuak-kuaknya. Saya ingat bagaimana kami sering bertukar pesan tentang tema-tema sensitif ataupun sekadar kelakar untuk menertawakan kelucuan dunia forensik bersama-sama. Saya ingat optimismenya menerbitkan buku ketiga yang belum sempat terwujud.

Dan yang paling saya ingat adalah persahabatan kami yang begitu singkat; hanya lima bulan, sepanjang April-September 2013. Singkat namun dekat. Dan bermanfaat.

Akhirnya saya mengenang Mun’im yang nyentrik itu melalui rekaman wawancara dan pesan-pesan singkatnya yang masih saya simpan rapi dalam perangkat telepon seluler pintar saya.

Mun’im “memaksa” saya selalu mengenangnya melalui berkas-berkas tulisannya yang “diwariskan” pada saya.

Mun’im menghadiahkan pada saya sebuah kenangan yang terbingkai dengan cantik; tentang persahabatan singkat yang dibentuk oleh skenario semesta yang begitu unik.

Sayonara, Dok.

image

Jenazah Mun'im di Masjid RSCM

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s