Etika Nyentrik ala Pak Dokter

ORANG-orang bilang dia itu dokter nyentrik.

Gaya bicaranya, tema yang disampaikannya, berdandannya, dan cara pandangnya terhadap banyak hal dirasa aneh oleh orang kebanyakan. Sama sekali lain dari kebiasaan mereka yang secara ajeg ikut, mungkin tepatnya larut, dalam sebuah kebudayaan yang terbentuk melalui proses yang sangat panjang di negara ini. 

Orang-orang yang terheran-heran melihat dokter Abdul Munim Idries itu, sepertinya, adalah mereka yang pola pikirnya terlanjur dibentuk oleh logika keliru yang dianut dengan gembira, terutama soal bagaimana cara memaknai etika atau perilaku yang seharusnya etis.

Mun’im menyebut makna etis yang dimaksud itu tersesat sangat jauh dari makna harfiahnya. Maka dari itu, perlu penekanan serius untuk meluruskan kembali definisi yang kadung dibengkok-bengkokan itu.

“Etika itu beda dengan sungkan. Beda dengan tak enak hati. Etika itu melakukan segala sesuatu berdasarkan peraturan dan menerapkannya dengan jujur. Kalau gara-gara sungkan tapi melanggar aturan, itu bukan beretika namanya.”

Begitulah pemahaman dokter Munim Idries soal etika. Persepsi itulah yang dijadikannya landasan segala tindak-tanduknya dalam menjalani profesi sebagai ahli forensik. Sayang, pilihan sikapnya itu malah dibilang nyentrik bin aneh.

Memahami dulu apa sebenarnya etika itu sepertinya cara paling tepat untuk mengenal sosok Munim Idries dengan wajar, sebelum buru-buru melihatnya dalam bingkai yang aneh.

Dokter berdedikasi dengan jam terbang tinggi tak mungkin tak paham tata krama. Kegemarannya mengatakan penyebab peristiwa kematian apa adanya, yang kerap tidak sesuai dengan kehendak mereka-mereka yang punya kepentingan dalam kematian itu, pun berdasarkan etika.

Dia berkata apa adanya semata-mata karena tanggung jawab profesi yang sesuai tuntutan regulasi. Tidak ada yang dia terabas. Namun, kenapa orang-orang lalu memvonisnya dengan sebutan aneh?

Dalam buku ini, saya coba menghadirkan sosok nyentrik itu dengan gaya tutur dalam bincang santai. Ketika berbincang dengan saya, gaya Mun’im begitu nyantai, sederhana, kadang bercerita menggunakan istilah prokem elu, gue, namun segala penjelasannya bisa diterima dengan akal sehat.

Memang begitu itu adanya dia. Blak-blakan. Sepertinya urat takutnya sudah putus, terutama ketika menceritakan banyak hal yang mungkin menurut kebudayaan politik kita dipandang tabu. Dia melandaskan segala macam kepatutan sikap pada penalaran atau logika yang sederhana saja.

Ketika kita mau memahami Munim dengan logika tanpa emosi, sepertinya mudah saja kita memahami contoh sebuah sikap, yang sepertinya memang seharusnya ditempuh oleh manusia-manusia yang terpesona pada etika.

Dengan mengenal Mun’im yang ceplas-ceplos, kita diajak untuk ‘bertamasya mengenal hal-hal baru’. Kita digiring pada pemahaman faktual terkait fakta-fakta lama yang akan kita pahami dalam versi baru. Mungkin kita akan mengumpat, sedih, atau malah senang. Yang pasti, pada akhirnya kita hanya akan bisa berkata; ‘Oh, begitu…’

Dari seluruh paparannya, yang diceritakan dengan bahasa tutur itu, kita akan disuguhi kenyataan bahwa banyak hal yang selama ini kita pahami secara keliru.

Dari seluruh lakonnya itu, seperti yang disimpukan oleh Mun’im sendiri, kita akan diajak mengenal dunia forensik yang tak semenyeramkan dibayangkan orang. Dunia forensik itu lucu, dalam bingkai Mun’im. Dan forensik itu adalah realita.

Realita yang lucu dan seru.

image

*Catatan: Insya Allah berkeliaran di toko buku Awal September

Tofik Pram

Advertisements

3 thoughts on “Etika Nyentrik ala Pak Dokter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s