Dagelan Pengemban Amanah

SAYA bisa mengambil uang empat peti yang sekarang diamankan di sebuah hutan daerah Bogor.”

“Empat peti? Uang apa itu Mbah?”

“Itu harta Soekarno yang sengaja disembunyikan di hutan-hutan dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya empat peti yang sekarang saya amankan dulu di Bogor.”

Hmmm… Harta Soekarno? Kok bisa ada di Mbah? Mustahil.”

“Ada buktinya! Ini! Saya menariknya dari alam gaib!” si Mbah bernama Mulyadi –pria berusia 60-an yang mengaku datang dari Jawa Tengah bersama segenap ‘kesaktiannya’– dengan kepercayaan diri tingkat dewa menunjukkan selembar foto agak kumal yang menggambarkan setumpuk uang pecahan Rp100 ribuan dan Rp50 ribuan, yang disusun dalam sebuah ruang.

“Itu foto di mana, Mbah?”

“Rahasia. Ini uang amanah, tidak bisa saya beritahukan lokasinya. Nanti kalau sampean tahu lokasinya, lalu sampean ambil sebagian, wah, cilakak saya…”

Hmmm… Tapi mana petinya?”

Lho, itu pas belum dimasukkan peti.”

“Sebentar, sebentar. Itu uang pecahan sekarang kan?”

“Iya.”

“Laku?”

“Laku dong.”

Lha katanya itu warisan Soekarno… Waktu Soekarno dinyatakan meninggal kan tahun 1970, Mbah. Yang namanya harta warisan kan yang dia punyai semasa hidup di masa sebelum tahun 1970-an. Masa’ di masa itu sudah ada uang pecahan sekarang?”

Nah, itulah saktinya Bung Karno! Dia bisa berbuat apa saja yang dia mau! Nyetak duit tahun 2050 saja dia bisa kok!” Mbah Mulyadi menjawab dengan takaran konfidensi yang masih belum juga berkurang.

Oh….” hanya itu respon yang saya bisa. Itu sudah di luar akal saya. Jadi, saya rasa pertanyaan soal fisik “harta warisan Bung Karno” itu saya cukupkan saja. Saya alihkan ke peran si Mbah.

“Apa hubungan Mbah dengan uang itu?”

“Saya ditugaskan mengawal.”

“Siapa yang menugaskan?”

“Perintah langsung dari Yang Mulia Paduka Soekarno!”

Mantap…!

“Ada upahnya?”

“Saya tidak mengharapkan upah. Ini adalah harta amanah untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Saya tidak punya hak.”

Wah, berarti Mbah hebat dong!” Mendapat sanjungan itu, Si Mbah hanya senyam-senyum simpul dengan aroma muka yang menurut saya aneh. “Lalu, Mbah, sekarang uang itu mau dibawa ke mana?”

“Ya mau diangkut buat disetorkan ke bank, lalu didistribusikan untuk kesejahteraan rakyat.”

“Kenapa masih ada di Bogor? Tidak segera dimasukkan bank? Atau langsung dibagi-bagikan untuk orang yang membutuhkan?”

Nah, itu masalahnya. Butuh dana Rp3 juta untuk mengangkutnya.”

Lho, buat apa, Mbah?”

“Ya buat sewa kendaraan, akomodasi pengawal, dan lain-lain…”

Lha, Mbah tidak punya duit?”

“Tidak.”

“Mbah bagaimana bisa sampai ke sini?”

“Saya jalan kaki dari Cibinong sampai Kelapa Dua sini. Demi kesejahteraan rakyat!”

Wow banget….

“Sebentar, sebentar, Mbah muslim?”

“Ya, saya Islam tulen. Sampean tahu sendiri saya selalu menjawab telepon dengan assalamualaikum, bukan ‘halo’,” Percaya diri Si Mbah itu lho konsisten banget….

Nah, Mbah, sepengetahuan saya, kalau mendengar cerita Mbah, sampean ini amil yang mendapat amanah untuk membagikan sedekah. Amil kan punya hak juga. Kenapa tidak diambil sebagian untuk ongkos angkut dan ongkos perjalanan Mbah?”

“Wah, tidak boleh itu!”

“Kenapa?”

Kan sudah saya bilang, saya ini mengemban amanah! Tidak bisa menggunakan uang itu!”

“Tapi kan Islam memperbolehkan itu Mbah. Sampean mendapat amanah yang berat untuk mengawal uang yang mau disedekahkan. Itu jelas tugas yang berat dan sampean layak mendapat upah. Bukankah Allah berfirman kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali apa yang kita kerjakan? Jadi, Mbah sudah bekerja, dan Mbah layak mendapat upah. Wong amil yang cuma ngawal beras apa uang jutaan saja berhak dapat upah, apalagi sampean yang harus menarik duit empat peti dari alam gaib dan mengawalnya. Bung Karno kan muslim Mbah, dia tentu tahu soal itu ketika meninggalkan amanah untuk Mbah Mul…”

Wah, nggak bisa kayak gitu! Ilmu sampean cetek, Mas!”

Ebusyeeettt… Baiklah.

Sampean ada dana tiga juta? Kalau sampean punya, sampean bisa bantu rakyat Indonesia ini dengan menyumbangkan uang itu untuk ongkos distribusi amanah. Sampean bakal dapat pahala!” Sial, Si Mbah mulai jualan pahala nih

“Maaf, Mbah, saya sekarang tidak punya. Sebenarnya saya juga kepingin berbuat untuk rakyat. Sayang sekali, saat ini saya belum mampu. Duit saya hanya cukup buat ngongkosin hidup saya sendiri.”

Wah, sampean tidak punya kepekaan sosial! Tidak nasionalis! Lihat saya ini, saya tidak punya duit, tapi saya ikhlas mengawal uang empat peti demi rakyat!”

Lha, keluarga Mbah bagaimana?”

“Saya tidak punya anak istri. Saya meninggalkan kepentingan pribadi demi rakyat! Nggak seperti sampean!”

Wih, sedddaaappp….

“Iya, ya Mbah. Mungkin karena ilmu saya cetek. Ngurus kesejahteraan sendiri saja saya tidak becus, apalagi ngurus kesejahteraan rakyat…”

Si Mbah diam, lalu mencomot rokok saya yang sengaja saya taruh di depan kami, tanpa bilang permisi. Ironis, katanya mengawal duit empat peti, beli rokok saja tidak mampu…

Demi rakyat ya, Mbah….

“Sekarang, apa rencana Mbah Mul?”

“Ya nyari orang yang mau menyumbang tiga juta untuk membawa duit itu dari Bogor.”

“Hati-hati, Mbah. Pasal 378 KUHP itu….”

“Apa itu?”

“Penipuan..”

Saya tinggalkan saja Si Mbah yang tampaknya tersinggung mendengar pernyataan terakhir saya. Modus. Saya ngeloyor sembari membawa sisa rokok saya sebelum dihabiskan pengemban amanah itu. Sebelum saya ikutan gila.

***

BUKAN cuma sekali itu saya bertemu orang-orang seperti Mbah Mul, yang merasa “sakti” dan mengaku-ngaku mengemban amanah dari Bung Karno, tapi UUD; ujung-ujungnya duit. Cari orang yang “ilmunya cetek” biar mau sukarela menyumbangkan beberapa juta rupiah untuk “misi” mereka yang berbau uka-uka. Tak sedikit orang yang kena tipu rayuan maut ala Mbah Mul dan sejenisnya. Menurut catatan saya, di daerah Jabodetabek saja, sudah ada selusin orang yang termakan gendam dagelan amanah.

Orang seperti Mbah Mul inilah yang menjadikan fakta sejarah tentang aset raja-raja Nusantara yang diamanahkan pada Soekarno –bukan harta Bung Karno pribadi– yang sekarang tersimpan di Bank Swiss menjadi salah kaprah. Bahkan sejarah tentang itu hanya dijadikan cemoohan dan dianggap mitos –kendati ada fakta-fakta arkeologis yang membuktikan kebenarannya. Baca saja prasasti di Gedung Linggarjati, di situ tertulis jelas soal aset Nusantara tersebut. Atau cari dokumen perjanjian Renville di arsip nasional. Atau surat wasiat Bung Karno yang kini terkemas rapi di Istana Cipanas.

Fakta-fakta itu jadi anekdot gara-gara ulah Mbah Mul dan teman-teman “seperjuangannya”; yang katanya “berjuang” untuk kesejahteraan rakyat namun gagal memperjuangkan kesejahteraannya sendiri dan keluarganya. Umumnya, para “pengemban amanah” itu adalah pengangguran atau orang yang dikejar utang. Umumnya juga, ujung-ujungnya keluarga mereka berantakan karena terlalu sibuk mencairkan “harta warisan Bung Karno” melalui alam gaib hingga anak dan istri terabaikan. Tak hanya satu dua orang seperti itu. Banyak. Banyak sekali.

Edan.

Kasihan Bung Karno. Dia dikultuskan, dijadikan berhala. Bung Karno yang cerdas dan dalam buku hariannya nyata-nyata menyatakan diri sebagai seorang muslim itu, yang segala sikap pun keputusannya berdasarkan Alquran dan Hadits,  ditunggangi orang-orang “berilmu tinggi yang selalu berburu receh”, tapi tak paham sejarah. Banyak juga orang jadi gila gara-gara merasa menjadi “pengemban amanah”. Ya mungkin seperti Mbah Mul itu.

Al-Faatihah untuk Bung Karno. Dan semoga Mbah Mul segenap spesiesnya segera mendapatkan hidayah.

Amin.
 

  

Tofik Pram

Advertisements

11 thoughts on “Dagelan Pengemban Amanah

  1. prihatin dengan maraknya penipuan berkedok amanah dan atas nama harta peningalan “bung Karno”. semoga saja wawasan masyarakat Indonesia mengenai sejarah negerinya terus terbuka terus terupdate…

  2. Astagfirulloh’aladzim
    Kyk abang saya,sedih rasanya.
    rumah tangga berantakan, anak terlantar.
    Semoga ALLAH membawa kembali abang saya ke jalan yg benar.

  3. Hati- hati… Sudah banyak orang yang tertipu dan menghabiskan sisa hidup mereka untuk si “amanah” ini..
    keluarga berantakan..
    Harta terkuras…
    Hutang menumpuk..
    Karna tergiur dengan iming2 keuntungan besar dan kekayaan..
    Yang saya herankan, kenapa sampai hari ini belum ada yang berani menyeret kasus ini ke pihak berwajib???? Padahal mereka tertipu sampai ratusan juta bahkan milyaran..

    1. Bukanya g brani klo menurut saya rang dia ngerasa tertipu juga tidak mas.
      si korban ga ngerasa tertipu.
      dan kalau d seret k pihak berwajib pun g ada bukti nya itu yg bikin ribet menurut saya.
      kalau ada jalan keluar untuk menyeret pelaku bisa d share mas soalnya keluarga saya juga termasuk korban dan sudah 7tahun belum juga sadar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s