Menggulung Damaskus

SEJAUH yang saya tahu, sedang ada pembantaian di Suriah. Kabar itu saya dapat dari media barat maupun media nasional yang menyadur atau mengalihbahasakan media barat, di mana kabar-kabar itu senantiasa berkelanjutan menampilkan kabar terbaru versi barat. Asal-usul informasi itu dari media barat yang dipunyai oleh kapitalis — paham yang selalu ditolak di Suriah sana. Pastinya, sudut pandang yang disuguhkan harus sesuai selera si pemilik; barat.

Pertanyaannya; mana kabar yang bukan versi barat? Benarkah demikian yang sedang terjadi di Suriah? Benarkah Assad tega membantai rakyatnya sendiri?

Dunia tahu Presiden Suriah Bashar al-Assad adalah seorang sosialis yang bersahabat dengan Iran, Rusia, dan China. Tiga negara tersebut berkiblat pada sosialisme modern dan itu membuat Amerika kalang-kabut dan paranoid permanen.

Perang saudara di Suriah telah memasuki tahun ketiga. Sepanjang kurun waktu tersebut, Paman Sam terus menerus berusaha merecoki urusan domestik Assad. Namun, selama kurun itu pula Obama dan sekutunya gagal untuk ikut campur lebih jauh. Dalil mereka untuk menyelusup ke pusat Damaskus kurang kuat. Apa kepentingan Amerika di Suriah? Menjaga perdamaian dunia? Ah, kalau itu dalilnya, saya yang awam ini hanya punya satu kata untuk dalil tersebut: pret!

Urusan domestik Suriah, mungkin saja, juga bikinan Amerika dan pion-pion CIA-nya, agar mereka punya dalil untuk mengobok-obok kedaulatan Assad. Saya membicarakan kemungkinan tersebut jika mengingat tetangga Suriah, Irak, yang dikacau-balaukan dengan fitnah senjata kimia –yang hingga kini tak pernah terbukti itu. Fitnah perlu disusun sebagai pembenar tuntutan nafsu Amerika dan konco-konconya. Dan fitnah senjata kimia dibangun ketika George W. Bush kala itu tak lagi punya dalil untuk merecoki Saddam Hussein.

Kembali ke Suriah. Seperti yang sudah saya singgung di pembuka celotehan saya ini, tampaknya sosialisme di Suriah lah yang membuat Amerika harus merasa repot. Bagi kekaisaran kapitalisme dunia yang mega-rakus itu, sosialisme adalah virus yang harus dibasmi. Celakanya, kian mereka kalap melakukan pembasmian, kian menyebar-rata lah paham tersebut. Perlawanannya kian menggila. Masyarakat dunia yang semakin cerdas ogah terus-terusan dikibulin. Perlahan namun pasti, secara sadar diri, manusia-manusia beralih mazhab menuju sosialisme.

Sosialisme, bukan komunis. Dua paham itu beda kendati berangkat dari fondasi yang sama. Komunisme memang kejam karena membabat habis hak individu di bawah totaliter sistem. Sebab itulah mereka gagal. Sedangkan sosialime itu memberi kesempatan pada individu-individu untuk sejahtera, namun menolak praktik penindasan yang dilakukan kelompok-kelompok ekonomi elitis –dan poin inilah yang membuat sosialisme bertentangan dengan kapitalisme. Karena itulah sosialisme semakin hidup.  Kekaisaran modal pun mengobarkan bendera perang pada upaya pemerataan kesejahteraan sosial.

Kapitalisme tak pernah ridho ketika kesejahteraan bisa disesapi merata oleh semua umat manusia tanpa perkecualian. Mereka selalu mengkultuskan hegemoni dan perbudakan modern –yang dibangun melalui metode “santun” berupa pinjaman modal disertai perjanjian yang irasional ala IMF dan World Bank.

Dalam konteks perang bipolar dua paham tersebut di zaman modern, Amerika punya pengalaman buruk di Venezuela. Mereka gagal  membabat Hugo Chavez yang telah berhasil memerdekaan perekonomian rakyatnya dengan menasionalisasi tambang minyak dan memulangkan aset emas mereka dari luar negeri. Fondasi yang dibangun El Commandante itu masih teguh dijalankan penerusnya, Nicholas Maduro. Amerika sudah nyaris kehabisan akal untuk menyerangnya. Amerika menggonggong, Venezuela berlalu. Dan belajar dari Venezuela, Amerika memandang sosialisme masih sangat mungkin untuk kembali berkibar. “Virus” sosialisme kian menyebar-rata di penjuru dunia. Kata Paman Sam, “wabah penyakit” itu wajib dibasmi.

Sebagai upaya “preventif”, dicarilah bibit-bibit “virus sosialisme” di bagian lain dunia. Pilihan pun jatuh pada Suriah, negara yang awalnya mereka pandang belum kuat-kuat amat, belum seperti Venezuela, Iran, Rusia, pun China. Sayangnya, Paman Sam keliru. Assad, si dokter itu, terlalu cerdas untuk bisa ditipu mentah-mentah.

Yahudi memang banyak akal. Khasnya perang modern (ala Amerika), agresi tidak langsung main gebuk demi “tata krama dunia modern”. Wacana harus dibangun dahulu, untuk memberikan dalil pembenar atas sebuah upaya invasi. Propaganda yang sifatnya doktrinasi-hegemonik tak putus-putus digerojokkan pada masyarakat dunia, melalui kekuatan media-media barat mengkonstruksi realitas yang pada akhirnya “harus dipahami sebagai sebuah kebenaran mutlak”. Seperti itulah “kebenaran” tentang konflik Suriah dan adanya penggunaan senjata kimia yang “katanya” digunakan Assad untuk membasmi warganya sendiri.

Sebuah negara sosialis membantai warganya sendiri –yang ingin disejahterakan itu? Hanya logika sesat dan hati berkarat yang mengamini wacana tersebut. Itu hanya bangunan jurnalisme propaganda ala barat, Amrik –setidaknya menurut akal sehat saya.

Amerika berharap dunia mau menerima wacana itu sebagai sebuah kebenaran, sehingga mereka punya pembenar untuk melakukan agresi militer yang “sesuai dengan ketentuan yang berlaku”. Dan sekarang mereka pun menyiapkan kekuatan militernya setelah mempunya “dalil swakarya”.

Ingat, apa yang terjadi di Suriah kini, sebagian besar kita mengetahuinya dari media-media barat yang inkonsisten –terutama soal jumlah korban jiwa di Suriah yang jumlahnya berubah-ubah. Cobalah simak artikel tentang Suriah yang mengambil sudut pandang anti-media barat, maka biarlah akal dan hati Anda sendiri yang menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di Suriah sana. Setidaknya menurut saya, kerakusan Paman Sam sedang mengamuk di Damaskus.

Dan keangkaraan ini telah diramalkan jauh-jauh hari.

Sekadar refleksi, mungkin perang di Suriah ini adalah salah satu tanda akhir zaman seperti yang pernah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad Saw. Salah satu nubuat Beliau, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ra. menyebut bahwa salah satu perang besar jelang akhir zaman adalah perang di Damaskus. Dan masih menurut nubuat Beliau lainnya, Imam Mahdi atau Mesiah kelak akan muncul dari Masjid Damsyik atau Damaskus, ketika kelakuan manusia sudah benar-benar durjana –terutama di sekitar  titik munculnya Sang Penyelamat.

Sejarah umat manusia membuktikan bahwa nubuat Rasulullah Saw. tak pernah meleset, karena itu adalah mukjizat yang dikaruniakan Allah Swt pada Beliau. Shalawat dan salam untuk Rasulullah Saw, kekasih umat manusia.

Mungkin dunia sedang menjalani takdirnya. Alahu’alam bishshawab

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s