Tafsir #1: Ke-Aku-an Menuju Pembekuan

MALAM Jumat mendekap. Dalam sebuah proses menuju katarsis ruh pribadi, sekonyong-konyong saya diingatkan pada fenomena miris dalam fabula manusia di muka Bumi ini; pembunuhan-pembunuhan di sekitar kita sampai tragedi berbalut maut di Mesir, Suriah, atau Palestina. Sepertinya nyawa manusia sama sekali tak ada nilainya ketika makhluk paling mulia ini telah mengkultuskan nafsu.

Lalu saya seperti diingatkan pada pemaparan mengenai hari akhir –kiamat– oleh seorang kiai yang ilmunya saya sesap, beberapa waktu lalu. Saya merinding.

Pak Kiai yang ilmu tafsirnya dahsyat itu –setidaknya menurut akal dan hati saya– memaparkan pada saya bahwa Alquran adalah kalam Tuhan yang menjelaskan hukum fisika dan keterkaitannya dengan perilaku manusia, terutama menjelang hari akhir. Saya terbengong sekaligus bergidik.

Kiamat, seperti yang disebutkan dalam Alquran, adalah momen matinya Bumi. Momen ini, kata Pak Kiai, bisa dijelaskan dengan ilmu fisika. Bumi dikatakan mati ketika magma yang ada di dalamnya memadat. Ketika itu terjadi, Bumi akan kehilangan gravitasinya. Kita yang pernah belajar fisika tentu ingat bahwa pengikat gravitasi Bumi ialah energi panas magma yang terdapat pada intinya atau perutnya (Isaac Newton; Law of Gravitation).

Ketika magma benar-benar padat, maka Bumi akan dingin dan kehabisan gravitasinya. Ketika itulah manusia dan hewan yang melekat di muka Bumi karena adanya gaya gravitasi, akan berhamburan dan berterbangan seperti bulu yang disebarkan (QS al-Qaria’ai: 1-5)

Proses habisnya panas Bumi akibat pembekuan magma berlangsung secara berangsur-angsur dengan berbagai hukum alam yang mengikutinya. Proses pendingingan Bumi diikuti oleh terjadinya gempa-gempa di muka Bumi. “Fenomena ini merupakan peringatan bagi orang yang mau berfikir,” kata Pak Kiai.

Proses mendinginnya magma ini, Pak Kiai melanjutkan –dan saya semakin bergidik– memiliki pengaruh kuat pada kehidupan manusia, di mana yang paling kentara adalah perubahan kejiwaan. “Ketika Bumi berangsur memadat, manusia akan terserap ke nafs lauwwamah-nya. Artinya, manusia akan benar- benar menjadi “aku” dari unsur tanah — yang merupakan manifestasi ke-aku-an mutlak yang hanya mengenal dirinya sendiri (QS al-Abasa: 34-37).”

Keadaan yang digambarkan ahli tafsir itu didahului oleh melemahnya nur-i-rahmani atau cahaya kasih dalam kalbu manusia. Ketika hari itu benar-benar datang, sifat pengasih dan penyayang manusia benar-benar ludes. Egonya menjadi-jadi dan menggila. Ibu-ibu lupa pada bayi susuannya, bayi-bayi dalam kandungan digugurkan, dan manusia hidup tak tentu arah ibarat manusia mabuk (al-Hajj: 1-2).

“Sebab itu, di akhir usia Bumi nanti, manusia benar-benar lupa pada Rabb-nya. Ingatan mereka tentang Tuhan dan Alquran terhapus sama sekali. Proses menuju itu ditandai oleh semakin biadab dan gilanya manusia: orang-orang akan membunuh anak, istri, saudara, dan kerabat sendiri demi kepentingan mereka sendiri. Pada tahap paling menentukan, yaitu ketika gravitasi benar-benar habis, ditandai dengan gunung-gunung yang berguncang dan memuntahkan magma, samudera tumpah ruah ke angkasa dengan batu dan pasir berterbangan (QS. al-Muzammil: 14).”

“Sesungguhnya manusia tidak mendapatkan apa-apa selain yang mereka usahakan,” Pak Kiai melanjutkan. “Hal kematian Bumi ini tak lepas dari usaha-usaha manusia menguras isinya. Tapi engkau mesti mengetahui, bahwa manusia tidak bisa diberi petunjuk dengan ilmu karena keterbatasan akal makhluk ini. Tuhan sudah menetapkan hukum pasti, di mana keberadaan Bumi di tengah hamparan jagat raya bersuhu 273 derajat celcius di bawah nol ini makin lama akan semakin padat dan dingin. Kematian Bumi pasti akan datang sebagaimana kematian alam semesta yang sudah ditentukan waktunya. Apa yang diuraikan kitab suci pada hakikatnya adalah hukum yang dengan terang menjelaskan Kalam-i-Nafsii dari alam semesta ini dalam wujud Kalam-i-Lafdzii.”

Ego manusia yang kian menjadi-jadi pada masa-masa ini –yang meruapkan pertikaian dan menumpahruahkan pembantaian sesama– adalah pengaruh berlangsungnya proses pembekuan itu? Ulama keren itu hanya menjawab, “Wallahualam bishawab.” (*)

————–

*Dari tafsir Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s