Kahat

DIKSI yang saya pilih untuk judul di atas mungkin tak begitu intim dengan pendengaran sebagian dari kita. Namun, diksi itu eksis, ada, dan masih punya hak untuk diterakan sebagai salah satu bagian dari serangkaian kalimat yang kita utarakan dalam dialog sehari-hari. Dia masih tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kok.

Kahat, menyitir yang termaktub dalam KBBI, berarti ‘kering’, ‘kemarau’, ‘kelaparan’. Ada makna yang dibawanya. “Siang ketika saya menganyam tulisan sederhana ini serasa begitu kahat,” adalah salah satu contoh penerapan diksi itu dalam sebuah kalimat. Bukankah dari sisi pengucapan ‘kahat’ tak kalah renyah dari ‘kering’? Silahkan menyimpulkan menurut penalaran dan afeksi Anda sendiri. Setidaknya, menurut selera berbahasa saya, kata itu cukup dikara (indah–red, dan diksi ini juga termasuk yang mulai punah, digilas oleh merajalelanya gulma ‘beautiful’ dalam perbendaharaan kita sehari-hari).

Adanya kata-kata yang dilupakan adalah salah satu tolok ukur bahwa budaya berbahasa kita kian melemah sebab dibombardir oleh diksi-diksi asing atau kata modifikasi yang aneh (contoh; lebay, alay, di ,mana kemudian diksi tersebut menjadi semacam ‘aliran berbahasa’. Ciyus? Enelan…. *halah….).

C. Kluckhohn dalam Universals Category of Culture (Kategori Umum Kebudayaan), menyebut ada tujuh unsur utama dalam sebuah kebudayaan; bahasa, religi, kesenian, sistem pengetahuan, sistem ekonomi, peralatan, dan sistem kemasyarakatan. Salah satu unsur hilang, goyahlah fondasi sebuah kebudayaan.

Budaya adalah identitas, karya cipta, dan bisa disebut harga diri dalam suatu kelompok masyarakat. Jika salah satu fondasinya ranggas, maka goyahlah harga diri kebudayaan itu. Apalagi jika terkontaminasi oleh gulma-gulma budaya asing yang menggerogoti akar budaya, amblaslah fondasi budaya kita. Sebuah bangsa atau masyarakat tanpa akar budaya yang kukuh hanya akan menjadi sekelompok pengekor primitif yang hanya berhak untuk menghamba-hamba pada tuannya ‘yang lebih berbudaya’. Atau, dengan alias: budak. Mana harga diri kita jika kita begitu gembira diperbudak oleh bisa budaya asing? Ah.

Bahasa Ibu, perlahan namun pasti, sedang dipisahkan dari kita melakui sebuah metode ultra-halus bernama modernisasi dan globalisasi. Tidak ada proses pengakraban Bahasa Ibu dalam komunikasi sehari-hari. Media massa, yang dalam banyak situasi menjadi imam perbahasaan kita, cenderung murtad pada bahasa Ibu sendiri. Cermati saja, sebagian besar media yang memiliki banyak penyimak (audiens) lebih sering memilih kata ‘setting’ daripada ‘atur’. Atau lebih percaya diri mencantumkan kata ‘over’ daripada ‘berlebihan/kelebihan’. Juga, dengan bangganya memilih istilah ‘SMS/mesenger’ daripada ‘pesan singkat’. Media, yang oleh Bill Kovach difatwakan sebagai pengusung misi budaya yang menyeroja di lingkungan di mana media tersebut tumbuh dan mengakar, sepertinya telah murtad dari khitahnya –terutama dalam hal berbudaya dalam bahasa.

Saya tidak menolak bahasa Internasional. Bagi saya pribadi, itu wajib hukumnya untuk dipelajari. Namun, sebatas sebagai jembatan diplomasi kita untuk mengukuhkan harga diri budaya kita di mata dunia internasional, bukannya untuk mempersilahkannya meluluhlantakkan harga diri budaya kita. Bagi saya, English itu hanya media, bukan tujuan. Bahasa Inggris dipelajari, Bahasa Indonesia dikukuhkan. Namun, pada kenyataannya, banyak orang Indonesia yang menyimpan kamus Bahasa Inggris dalam daftar pustakanya, tetapi alpa pada KBBI.

Terus terang saya risau. Dan kerisauan saya ini, oleh beberapa orang dicap sebagai bentuk penolakan terhadap laju zaman –dengan dalil pun logika yang membuat saya terbengong-begong. “Ah, ente nggak gaul,” kata mereka. Gaul? Bahkan sampai sekarang saya masih gagap menyerapi makna dan tujuan diksi itu.

Ketika Bahasa Inggris dengan semena-mena mengklaim diri sebagai simbol modernisasi, apakah Bahasa Indonesia atau Melayu tidak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tempat dalam dunia modern? Apakah Bahasa Indonesia, dengan banyak bentuk penerapannya yang begitu aduhai dalam puisi, sajak, pantun, gurindam, prosa, bahkan percakapan sehari-hari, diharamkan berpartispasi dalam modernisasi? Kuno? Jika iya, tolok ukurnya apa? Landasan ontologis mana yang dikenakan untuk premis itu? Jika Bahasa Indonesia dilarang lestari oleh dunia modern –dan itu idem dito dengan invasi alias penjajahan budaya–, apa faedah fakultas-fakultas Sastra Indonesia yang masih rutin mencetak sarjana itu?

Spada…. Ke mana saja sarjana Sastra Indonesia…? Adakah jawaban yang bisa diterima akal sehat dan hati nurani yang luhur untuk pertanyaan berikut: kenapa serbuan bahasa serapan (kuota, cuit, konter, dll) begitu leluasa dan jumawa membabat bahasa Ibu yang murni?

Ah, semoga bukan hanya saya saja yang merasa gundah oleh fenomena Bahasa Indonesia yang saya rasa semakin kahat –yang kelamaan bisa terseret menuju liang lahat.

Semoga masih ada yang sadar diri, senyampang lenggang modernisasi dan globalisasi yang makin berderap ini, senantiasa meraut keindahan budaya Indonesia dalam berbahasa, agar selalu dan semakin rancap-runcing-bertaring. Bukan hanya dana yang butuh reksa (pengawal–red) –yang istilah padunya kita kenal dengan reksadana–, namun budaya dan bahasa kita juga perlu para reksa; reksabahasa, reksabudaya.

Semoga akal dan hati putra-putri Nusantara ini tak semakin kahat.

Sekian.

Tofik Pram

Advertisements

8 thoughts on “Kahat

  1. saya jadi inget beberapa tahun lalu pernah didebat (atau tepatnya diberi pencerahan) ama eko endarmoko ttg beberapa lema. memang kesadaran berbahasa yg baik dan benar mesti ditumbuhkan. apalagi saat modernitas sudah menggerus tradisi berkomunikasi

    1. Nah, lema. Soal itu, coba tanyakan pada sarjana-sarjana. Saya duga kebanyakan mereka kurang tahu itu.

      Oiya, soal modernisasi, banyak yang mendefinisikannya secara kurang hati-hati. Modernisasi itu membawa kesetaraan, bukan peniadaan atas kedaulatan suatu bangsa/masyarakat. Mungkin banyak dari kita yang lupa itu, dan dengan sembrono mendefinisikan modernisasi = barat. Celaka duabelas…

      1. nah ini dia, di sini saya diingatkan lagi, he. apa proyek global kapitalis ini, awalnya, tidak diarahkan untuk menihilkan. karena lambat laun bentuk komunikasi berubah dan bahkan hilang. misal, perjalanan sejarah berkomunikasi sejak jaman batu hingga sekarang, semua berubah, dan tentu itu bukan faktor tunggal waktu, tapi karena ada kemajuan berpikir manusia (teknologi) yg membawa pada cara berkomunikasi yg berbeda pula. dan cara lama pun ditinggalkan. hmmm.. senang bisa berdiskusi di sini. ah, ini mengenang masa mudaku, kawan tofik.

      2. Ada yang perlu sedikit saya luruskan soal komunikasi, sepertinya. Komunikasi itu adalah; siapa – menyampaikan (pesan) apa – melalui (media) apa – kepada siapa – apa efeknya (Harrold D Laswell). Yang kawan Rusydi singgung itu soal poin ketiga (melaui (media) apa), dan saya setuju jika itu mengalami perkembangan, dampak kemajuan berpikir manusia –dari yang awalnya hanya berupa isyarat gestur berkembang hingga akhirnya menjadi bahasa verbal yang ragu dan terstruktur. Namun, jangan lupa, bahasa itu adalah esensi pesan (poin kedua), di mana masing-masing komponen yang terlibat komunikasi, terutama komunikator (penyampai pesan) memiliki kedaulatan bahasa yang dilatari identitas budaya masing-masing. Komunikasi adalah soal aksi dan reaksi. Mulai luruhnya budaya dalam berbahasa, setidaknya menurut saya, bukan lantaran kemajuan teknologi saja, namun karena piawainya hegemoni mempropagandakan misinya untuk berkuasa dan menhhomogenkan masyarakat dunia.

        Soal modernisasi, sejak awal fondasinya dibangun (banyak yang menyebut sejak zaman renaisans Eropa) tujuannya adalah persamaan yang ekstrim; persamaan derajat manusia namun mengarah ke homogenisasi budaya (Manusia Satu Dimensi/Herbert Marcuse). Dan program ini dikomandoi oleh penganut faham kapitalis, yang punya prinsip hukum rimba; persaingan bebas, siapa kuat dia menang. Menang-kalah ini tergantung dari kecakapan diplomasi (salah satu bentuk komunikasi) masing-masing budaya yang terlibat dalam dialog, dalam upaya mereka memperkenalkan (dalam kondisi tertentu mendoktrinkan). Budaya-budaya yang terlibat dalam upaya itu sebenarnya sedang ‘bertarung’ dalam upaya diplomasi tersebut. Yang cerdik dan jeli jadi pemenang, di mana pada akhirnya budaya mereka dipahami dan diterima secara luas. Yang kalah, dalam sebuah proses yang sangat halus, ‘dipaksa’ menjadi pengikut. Sepertinya, itulah yang sekarang terjadi dalam fenomena modernisasi/globalisasi ini.

        Dengan sering berbagi, kita akan selalu merasa muda, kawan.

  2. Hmm..mungkin kita bisa sedikit ikuti sikap ‘sombong’ nya Prancis yg selalu meminta siapa saja yg bertandang ke negaranya wajib tahu bahasa mereka. Mereka enggan berbahasa inggris meskipun mereka bisa. Kalau ditanya mereka akan jawab, tolong hormati kami warga prancis dg berbahasa prancis selagi anda berada di sini (prancis). Keren kan?! 😀

    1. Kadang sombong itu perlu untuk menghadapi kesombongan. Metode yang cakep itu. Ya karena sombong itulah bahasa Prancis menjadi salah satu bahasa yang perlu dipelajari masyarakat internasional, di samping Inggris dan Mandarin kan? Coba kalau kita bisa (atau berani) menyadurnya, tentu seronok nian. Amboi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s