Haq

Dus, makin hari saya merasa makin pandir. Tapi saya justru berterimakasih sebab alam semesta –dengan mekanismenya yang penuh rahmat– mengingatkan saya bahwa sebagai manusia akal saya sangat terbatas.

Saya, sejak bayi sampai dewasa menyantap berbagai bentuk pendidikan formal maupun nonformal tentang banyak hal –baik sains maupun sosial, bahkan filsafat dan agama– yang membuat saya pernah merasa sudah mengetahui banyak hal. Bahkan, kuasa kecongkakan dan ke-aku-an saya sempat membujuk akal saya agar saya merasa mengetahui segalanya. Ambisi memaksa saya untuk menganggap remeh orang lain dan menempatkan diri saya sebagai orang yang paling banyak tahu. Hingga tanpa saya sadari, saya terjerumus dalam kerakusan nafsu yang menjadikan qalbu saya membusuk bersama ke-aku-an yang menjadi-jadi, ketika saya dengan kecongkakan yang dungu menolak semua hal di luar akal saya.

Namun, seperti yang telah saya sebut terdahulu, semesta dan mekanismenya yang aduhai telah menampar arogansi saya. Kerakusan saya terhadap pengetahuan membawa saya untuk lebih ganas melahap kitab-kitab. Dan, kerakusan itulah yang akhirnya justru menampar saya. Semakin rakus saya, semakin banyak hal yang saya baca, saya merasa semakin pandir dan tak tahu apa-apa. Zarahustra, Zabur, Taurat, Injil, dan paling utama Alquran, bahkan Vedha dan Tripitaka yang akhirnya harus saya lahap semua atas nama rakus ingin tahu, mau tak mau telah membawa saya pada pembacaan yang seharusnya. Bahwa rentetan kitab yang dihadiahkan Tuhan untuk umat pada zaman yang berlainan itu saling terkait dan menjelaskan hal yang sama; tauhid dan hukum-hukum semesta alam.

Dan pada satu kulminasi, akhirnya saya menyadari, bahwa ke-aku-an itu sama dengan kebodohan. Ke-aku-an, alias ego, telah membangun jarak antara saya dan Yang Illahiah, yang dengan ke-MahaCerdas-annya telah menjelaskan diriNya dengan sempurna melalui banyak tanda-tanda di semesta penuh rahmat ini –bagi orang yang mau berpikir dan tawakal. Saya bodoh, karena merasa berilmu namun mengabaikan sumber ilmu itu sendiri.

Saya yang dengan awam dan kejahiliyahan saya dengan semena-mena pernah memisahkan antara ilmu fisik dan metafisik dipaksa untuk tunduk pada kebenaranNya; bahwa kitab-kitab Tuhan yang jika dibaca dengan pembacaan sekilas itu kesannya tak logis –tak masuk nalar– ternyata sangat tertib dan runtut jika kita benar-benar menggunakan akal untuk membacanya. Akal yang lahir dari qalbu, bukan nafsu. Sebelumnya terkesan tak nalar untuk saya sebab nalar saya memang sangat terbatas. Yang fisik adalah metafisik, begitu pula sebaliknya. Sebelumnya saya gagal memahami itu karena saya, sebagai manusia, memang bodoh di hadapan Kalam Illahi.

Ilmu itu milikNya. Dialah Kalam Illahi, yang ilmunya tak akan pernah bisa terpapar meski tinta kita untuk menuliskannya semelimpah lautan. Manusia adalah makhluk yang senantiasa bodoh sejauh dia menolak untuk berfikir dan berzikir. Seperti saya yang pernah menolak untuk melakukan dua perintah ketawadukan itu.

Ilmu itu hanya milikNya; Sang MahaCerdas, MahaPemurah.

Haq. Haq. Haq.

Tofik Pram

Advertisements

2 thoughts on “Haq

  1. kesadaran itu diperlukan setiap manusia agar tak terjerumus. pun manusia punya titik balik dan meyakini yg haq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s