Gus

BEBERAPA hari terakhir saya terlibat diskusi ringan dengan beberapa orang yang ‘tak terkenal’ tapi paham betul seluk beluk politik di negeri ini. Banyak fakta tersamar yang terbuka, di mana akhirnya membuat saya panas dingin dan (maaf) mencret-mencret. Kelakuan para elite negeri ini, auzubillah setan. Akidah seperti bukan lagi barang penting. Permusuhan dikobarkan di segala lini dengan pola pikir yang rumit. Padahal Bapak-Bapak itu mengaku muslim.

Begitu mengetahui peta kelakuan para politisi (yang mengaku) muslim tersebut, mendadak saya langsung kangen pada Gus Dur.

Jujur, sejak mendapat pelajaran, tepatnya dogmatisme, tentang Indonesia dalam pelajaran PMP –yang bermetamorfosa sebagai PPKn– saya baru betul-betul melihat pengejawantahannya pada pucuk tahun 2009 lalu. Kala itu saya melihat sendiri gambaran yang paling nyata tentang bangsa ini ketika saya –yang waktu itu masih berstatus sebagai penguasa halaman salah satu surat kabar nasional– mencuri-curi waktu bolos ngantor untuk kabur ke Jombang, demi memberikan penghormatan terakhir untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, 31 Desember 2009 itu, semua suku, semua agama, semua golongan masyarakat, berbaur dalam sebungkus suasana yang sama, yaitu nuansa kehilangan sesosok luar biasa. Penganut Budha duduk berjajar rukun dan takzim di antara ribuan santri yang Islam. Pendeta Nasrani berbaur bersama ribuan wanita berjilbab dan pria bersongkok serta bersarung. Yang Tionghoa, mereka nyaman di antara pribumi. Yang militer berbincang akrab dengan sipil.

Tak ada sikut yang bermain. Atribut, status, keyakinan, seolah kalis, bukan lagi portal yang memutus kanal sebuah dialog. Suasana seperti inilah yang dulu diakrabkan pada kita melalui buku PPKn; dialog antarumat beragama –yang dalam banyak kasus ternyata hanya jadi dusta belaka dalam kenyataan.

Konflik agama yang terkesan dilestarikan di Ambon dan Poso, atau bentrokan berdarah antara suku Dayak-Madura di Sambas, atau konflik antara Suni dan Syiah di Madura, seolah menjadi antitesis isi buku pelajaran itu, seolah-olah menunjukkan bahwa apa yang diceritakan teks itu bohong.

Tapi, Gus Dur berhasil mengajarkan kita bahwa kenyataan seperti itu benar-benar ada, bukan cuma bualan guru PPKn di dalam kelas. Setidaknya melalui momen kematiannya kala itu.

Bentrok antarpandangan yang rutin jadi santapan penduduk Nusantara kala itu –bahkan mungkin hingga kini– didamaikan di Tebu Ireng pada penghujung 2009 itu, ketika semua orang menanti datangnya jenazah sang Guru Bangsa. Suasana seperti itulah yang selalu ingin diwujudkan Gus Dur melalui pandangan politiknya yang akomodatif dan bersahabat. Celakanya, tak jarang cara berpolitik Gus Dur itu jadi bahan olokan mereka-mereka yang memandang sepotong seragam kesatuan atau sebuah mazhab adalah pagar yang tak mengizinkan mereka untuk menyapa mazhab atau mereka yang berseragam lain.

Oleh Gus Dur yang Islam, seluruh agama diakomodir. Gus Dur menepis kesan bahwa Islam adalah keyakinan yang kolot. Itu benar, karena sejarah republik ini membuktikan bahwa Islam datang bersama perdagangan dan semangat silaturahim, bukan dengan nafsu gold, gospel, dan glory Eropa yang membawa meriam dan tipu muslihat.

Islam tak pernah mengajak umatnya untuk menekuni hobi meledakkan bom atas nama dogmatisme culun, buah dari pemikiran cetek untuk membinasakan mereka yang tak seiman –bahkan seiman sekalipun. Gus Dur mengajak bangsa ini agar berpaling dari cara berpikir yang aneh menjadi paradigma bersahabat. Gus Dur menjinakkan prasangka menjadi persahabatan.

Gus Dur berhasil mewujudkannya. Setidaknya, momen wafatnya Gus Dur telah membukakan mata bangsa ini, bahwa Indonesia sebenarnya masih sehat. Kebhinekaan itu tak seharusnya didefinisikan sebagai ancaman. Apa yang dilakukan Gus Dur bukanlah sesuatu yang sia-sia.

Saya yang pada dasarnya kagum pada tokoh ini sempat dipaksa sinis ketika dia memutuskan untuk nyemplung dalam politik praksis. Setelah Si Gus berstatus politisi, saya tak lagi begitu peduli lagi pada sepak terjangnya ketika masih hidup, karena saya sempat berpikir kalau dia tak ada bedanya dengan politisi umumnya di negeri ini, yang senantiasa menyembunyikan tangan berdarah-darah di balik jubah suci.

Tapi, begitu dia pergi, sontak saya jadi mahfum, betapa besar apa yang telah diperbuat kiai satu itu. Terjun ke dunia politik dan melepaskan sejenak atribut guru bangsa mungkin adalah salah satu pilihannya yang salah. Ah, tapi itu bisa dimaklumi, karena Gus Dur juga manusia, yang tak luput dari alpa.

Momen wafatnyalah yang membuktikan bahwa Gus Dur adalah sosok yang besar. Sangat besar, setidaknya untuk ukuran negeri ini. Dan karena itulah dia dipanggil ‘Gus’: sebagai seorang muslim dengan cara berfikir simpel-akomodatif.

Semua orang merasa memiliki kematiannya, bukan hanya yang Islam saja. Yang Muslim mengumandangkan doa di masjid atau surau, yang Nasrani memanjatkan mohon di gereja, yang Budha khusyuk di wihara, yang Hindu takzim di pura. Semua menjadi satu ketika berkirim doa untuk Gus Dur.

Kepergian Gus Dur sekaligus membukakan mata saya, bahwa Indonesia masih ada –bukan hanya sebuah bangsa yang ramahnya hanya konon, di mana kenyataannya disembunyikan dalam teks-teks bohong yang disusun dengan alasan politis, yang tersusun rapi tapi kaku di dalam buku PPKn. Dialog antarumat beragama atau antarsuku bukanlah hal yang musykil diwujudkan.

Seringkali kematian mengajarkan pada kita tentang banyak hal. Sekonyong-konyong mengentak kesadaran kita, betapa besar peran si orang mati, yang kerapkali tak pernah kita sadari, bahkan kadang kita cemooh, ketika dia masih lestari.

Terima kasih, Gus. Kami merindukan sosok sepertimu; yang sangat memahami akidah, yang bisa berperilaku sebagai muslim yang shahih dan mabrur.

Yang tahu bagaimana cara menjadikan negeri ini Indonesia sebenar-benarnya. Indonesia yang bisa dikembalikan pada khitahnya dengan cara sederhana; toleransi dan tahu diri. Itulah pola fikir sederhana seorang Gus aseli.

Gitu aja kok repot…

kangulumuddin.blogspot.com

kangulumuddin.blogspot.com

Advertisements

2 thoughts on “Gus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s