Bangsakoe adalah Bangsa jang Besar

NUSANTARA ini kaya raya. Setidaknya ada dokumentasi sejarah yang cenderung membuktikan itu.


Adanya kekayaan mantan Presiden Republik Indonesia, Soekarno atau Bung Karno, yang tersimpan di Bank Swiss telah lama menjadi kabar ’seksi’ yang menumbuhkan harapan Indonesia. Setidaknya, dengan kekayaan berupa batangan emas dan platina yang konon jumlahnya mencapai Rp 2000 triliun jika dikurskan dengan nilai rupiah sekitar tahun 1940-an, Indonesia berani berharap keterpurukan ekonomi negeri ini bisa selesai. Indonesia masih punya harapan.

Akan tetapi, bukti keberadaannya selama ini selalu simpang siur dan membawa aroma kontroversi yang begitu tajamnya. Keterangan seputar harta itu hanya bersifat spekulatif. Hingga akhirnya muncullah sebuah bukti yang ‘nyaris’ autentik. Saya katakan ‘nyaris’ karena pembuktian kesahihannya masih dalam proses hingga sekarang.

Bukti tersebut adalah sebuah dokumen yang dikeluarkan Lembaga Investasi Proyek Kemanusiaan (Institute for Investment Humanitarian Project), yang berjudul Salinan “Surat Keterangan” No 002/PPTAPRI/SKR/’48. Harta yang dimaksud, setidaknya menurut dokumen tersebut, benar-benar ada.

Salinan Soerat Wasiat Soekarno. (repro/dok pribadi)

Salinan Soerat Wasiat Soekarno. (repro/dok pribadi)

Surat keterangan tersebut melampirkan dua surat wasiat –wasiat terakhir dibuat untuk merevisi wasiat sebelumnya– yang diklaim diterbitkan oleh Soekarno menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama. Soerat Wasiat itu ditandatangani oleh Bapak Bangsa tersebut. Isinya menerangkan tentang adanya harta warisan 114 kerajaan Nusantara yang dipercayakan pada Soekarno, di mana seluruh aset tersebut disimpan di Bank Swiss.

Terlepas dari otoritas keilmuan saya, mungkin jika diizinkan sedikit mengoreksi, ’harta karun’ yang dimaksud itu bukanlah milik Soekarno pribadi, melainkan milik seluruh kerajaan Nusantara yang digabungkan menjadi satu dan diamanahkan pada Soekarno.

Menurut beberapa informasi yang berhasil terhimpun, gara-gara urusan aset inilah Indonesia jadi negara yang mati kutu. Indonesia sengaja dicitrakan negara yang tak berdaya oleh Amerika. Karena itu, negara-negara lain berpikir ulang jika hendak segan atau memberikan dukungan pada kita untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Mereka lebih takut pada adikuasa Amerika. Kalau negara kita punya pengaruh, itu artinya bahaya bagi dollar dan Amerika.

Pasalnya, kolateral atau jaminan yang diterbitkan atas aset emas dan platina inilah, yang ditandatangani para penguasa amanah Soekarno yang tercantum dalam surat wasiatnya, masih dijadikan acuan negara-negara seluruh dunia untuk mencetak uang hingga kini. Amerika termasuk negara yang memerlukan aset itu untuk memproduksi dollar.  Dengan jaminan aset ini pula Amerika mendirikan World Bank alias Bank Dunia tahun 1944, di mana di kemudian hari hingga kini lembaga itu menciptakan teror kemiskinan yang membabibuta di seluruh penjuru dunia demi langgengnya kekuasaan mereka.

Awalnya, menurut salah satu sumber yang tak bisa saya sebutkan namanya,  Soekarno bersedia menerbitkan colateral untuk pendirian Bank Dunia itu sebab Amerika berjanji akan memberikan hak kesejahteraan bagi Indonesia. Namun, pada perjalanannya, semua itu hanya tipu-tipu Yahudi. Amerika dan Yahudi selalu berusaha menghalangi upaya Soekarno yang beberapa kali punya minat untuk mencairkan aset tersebut.

Menurut beberapa dokumentasi sejarah yang sifatnya ‘tersembunyi’ lainnya, kemesraan Soekarno dan John F. Kenedy itu adalah salah satu tahap dalam proses pencairan aset Indonesia itu. Kemesraan tersebut terjadi di tahun 1960-an. Tapi apa yang terjadi? John F Kenedy ditembak mati tahun 1963 setelah penandatanganan The Grren Hilton Memory –di mana motif pembunuhannya dikesankan kabur hingga kini–, dan Soekarno terguling melalui peristiwa Gerakan 30 September/PKI 1965.

Upaya pencairan pun gagal, dan sejarah membuktikan berapa beratnya lakon ekonomi negeri yang kaya raya ini.

Dokumen The Green Hilton Memorial (peopledefense.blogspot.com)

Jadi, bisa disimpulkan singkat begini; Indonesia lah yang punya ‘jasa’ mendirikan Bank Dunia dengan colateral yang diterbitkan berdasarkan nilai aset tersebut, tapi sekarang ini Indonesia malah dimiskinkan oleh utang unreasonable berkepanjangan melalui program ‘Bos Duit Dunia’ itu. Terlalu…

Masalah sembelit ekonomi negeri ini bisa dituntaskan andai aset tersebut berhasil dicairkan. Masih ada harapan untuk mencairkannya. Karena, key paper untuk mencairkan aset itu dipegang oleh seseorang yang masih hidup hingga sekarang di Indonesia, namun dia tak bisa leluasa bergerak karena terus diburu oleh George Soros dan Yahudinya untuk dihabisi. Maksudnya, tak lain tak bukan, agar aset tersebut terus berada di Bank Swiss dan tak bisa dicairkan, sehingga Yahudi dengan valasnya bisa tetap mempermainkan nasib umat manusia di muka Bumi ini.

Menurut orang yang seharusnya bisa mencairkan itu, tapi tak bisa saya sebutkan namanya demi keselamatannya dan keselamatan saya sendiri, kalau sampai aset tersebut berhasil dicairkan, sudah pasti Bank Dunia pindah ke Indonesia, dollar ambruk, Amerika dan Yahudi miskin mendadak. Sebab itu tak heran jika dia sampai dua kali ditembak di Swiss. Tapi, alhamdulillah, dia masih hidup. Tuhan Maha Pengasih.

Kita semua tentunya berharap masa indah itu akan datang pada suatu masa. Tapi, entahlah, Yahudi selalu mengintai di mana-mana, bersiap untuk menghabisi siapa saja yang bisa mencairkan aset tersebut.

Karena itulah fakta-fakta tentang kejayaan Nusantara selalu dikaburkan oleh propaganda Barat. Novel Arus Balik Pramoedya Ananta Toer dan buku Atlantis: The Lost Contonent Finally Found besutan Profesor Arysio Santos, Geolog dan Fisikawan asal Brasil, di mana kedua buku itu memamparkan bukti-bukti sahih kejayaan dan kekayaan Nusantara sebagai pusat peradaban umat manusia dari dahulu hingga nanti, tak pernah meledak di pasaran, kalah jauh dengan roman-roman picisan. Jumlah cetaknya dibatasi. Pengetahuan kita sedang dikekang.

Kita sebaiknya terus memelihara keyakinan bahwa kebesaran Nusantara ini, yang kini sedang dimiskinkan oleh Barat, akan kembali pada khitahnya.

Soerat ini bisa boeat siaar jang menjatakan bahwa Bangsakoe adalah Bangsa jang Besar.”

Saya yakin, dalam penutup soerat wasiat itu, Soekarno tidak bohong. Dan kita masih dihalalkan untuk berharap.

Wallahualam bishawab.

Advertisements

One thought on “Bangsakoe adalah Bangsa jang Besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s