Titik Balik

”SESAL itu tak pernah di depan. Karena itu, blangkon benjolnya di belakang,” Bas, seorang desersi Pasukan Pengamanan Presiden alias Paspampres dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memulai kisahnya. Malam Ramadan itu kian jauh, menyisakan sisa-sisa tadarus yang bermelodi di tengah kesunyian ketika jarum jam melata menuju waktu sahur.

Bas yang duduk di samping saya saat itu adalah orang yang sedang bingung. Saat itu dia berstatus pengangguran murni. Dia tak punya seperak pun untuk penunjang hidupnya. Dia hidup sebagai ‘abdi’ dari seorang ahli spiritual yang baik hati dan berusaha membantunya untuk mengembalikan puing-puing harapannya yang telah lebur.

Mengutip lirik lagu yang sempat nge-hits, Pria 41 tahun itu sedang ‘terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tenggelam dalam lautan luka dalam’. (Halah…)

Masa peralihan Orde Baru ke era reformasi adalah puncak kejayaan Bas. Dia adalah prajurit Corps Polisi Militer (CPM) dengan pangkat sersan satu. Dia tercatat sebagai salah satu anggota Paspampres. ”Waktu itu semua hal bisa saya dapatkan,” kenangnya, masih sembari menikmati rokok pemberian orang yang menyelamatkannya.

Posisi bagus dan segala kemudahan sebagai anggota pasukan khusus membuat Bas menjadi pribadi yang liar. Jika meminjam istilah Jawa, dia itu ‘gak kuat derajat’, keblinger. Dia memanfaatkan ‘aji mumpung’, mumpung punya posisi, mumpung punya kekuatan. Segala kelakuannya hanya untuk pencukupan kesenangan duniawi yang hanya lewat sekelebat itu.

Dalam dinasnya, Bas mengakui bahwa dia adalah tentara yang biadab. Beberapa kali dia mendapatkan tugas khusus untuk menghabisi nyawa orang setiap kali datang komando dari Bapak Presiden; ”Amanken”.

”Beberapa kali saya mendapat tugas untuk menjemput orang yang dianggap membahayakan. Orang itu kami datangi di rumah, dan kami pamit baik-baik pada keluarganya ketika membawanya keluar. Seperti teman yang hendak mengajak pelesir. Tapi, begitu di luar, kami bawa ke tempat sepi. Di situ kami siapkan pistol lengkap dengan peredam. Jleb, kami tembak tepat di perutnya. Untuk menghilangkan bukti, kami memutilasinya. Pernah suatu kali bayonet yang saya bawa tidak terlalu tajam. Kami semua kesulitan memotong-motong tubuh yang sudah mati itu. Akhirnya kami menggergajinya. Setelah terpotong-potong, kami masukkan dalam karung lalu kami buang ke laut. Beres.” Semudah itu untuk Bas. Karena kebuasannya itulah Bas ditakuti.

Di luar dinas, dia menghabiskan banyak waktu untuk kelayapan di dunia hiburan malam di kawasan Jakarta Kota. Semua tempat indehoi dia jelajahi hingga ke dalam sedalam-dalamnya. Hanya dengan mengatakan ”Anggota,” sembari menyodorkan kartu tanda anggota ABRI –apalagi ada embel-embel Paspampres—wes, ewes, ewes, padang dalane. Segalanya menjadi mudah untuknya. Kesenangan-kesenangan selintas itu direguknya seperti membalikkan telapak tangan saja.

Kenikmatan dunia malam mengarahkan dunianya menjurus jalur gelap. Dia memilih untuk hanyut. Tidur dengan banyak wanita, makan inex dan mengisap sabu-sabu itu seperti makan wajib tiga kali sehari saja untuknya. Semua keistimewaan itu dia dapatkan karena label ‘anggota’.

Apalagi dia sering mendapatkan job di luar dinas untuk mengawal beberapa artis papan atas Indonesia yang butuh rasa aman ketika hendak dugem. Dia menyebut beberapa nama, dan beberapa yang disebut membuat saya nyaris tak percaya. Sebab, nama yang disebut itu selalu berhasil memunculkan kesan alim di depan publik. ”Yang benar-benar bersih narkoba itu, setahu saya, hanya almarhum Basuki Srimulat dan Haji Mandra,” katanya.

Dari aktivitas tambahan mengawal artis itu, dia kenal banyak bandar narkoba di dunia tempat hiburan malam Jakarta. ”Mereka semua leluasa berbisnis karena ada ABRI di belakang mereka. Saya pernah mendapatkan tugas dari komandan untuk menjamin keselamatan salah satu bandar besar.” Hmmm.

Dus, lama-lama kewajibannya sebagai pasukan khusus terabaikan. Dia sering mangkir dari tugas dinas lantaran badannya drop setelah semalaman ajib-ajib dan pengaruh narkoba habis. Atau karena masih ingin berindehoi menikmati tubuh-tubuh wanita yang direntalkan gratis untuknya.

”Untuk aktivitas saya itu, sebenarnya saya sudah mendapatkan izin komandan. Banyak anggota seperti saya waktu itu, yang memilih untuk mengawal pejabat atau artis dan mangkir dari dinas Paspampres. Biasanya, kami yang mangkir ini menyerahkan seluruh gaji bulanan kami pada komandan. Itu tak masalah. Jumlah yang kami dapatkan dari mengawal pejabat, artis, pengusaha, sampai bandar narkoba itu berlipat-lipat kali dari gaji yang kami terima setiap bulannya.”

Awalnya dia bermain cantik. Tapi, kenikmatan duniawi kerapkali membuat seseorang makin ngawur, dan itulah yang terjadi pada Bas. Cantik permainannya lama-lama amburadul. Komandan yang awalnya mau kongkalikong dengannya lama-lama takut juga membekingi. Prestise dan karir jadi taruhan. Walhasil, dia pun dilepas dan jadi akrab dengan penjara militer.

”Di ABRI itu, kamu belum diakui sebagai tentara selama belum pernah masuk ke dalam tahanan militer. Sekali masuk saja sudah cukup untuk mendapatkan pengakuan itu. Tapi saya, masuk sudah 12 kali, hahaha…” kenangnya sembari tertawa nyinyir.

Yap, Bas adalah prajurit yang paling sering merasakan nikmatnya penjara militer dan sebuah tempat hukuman khusus untuk tentara bernama ‘kolam susu’. Setiap tahanan harus direndam di dalamnya biar kapok. Kolam susu adalah sebuah kubangan berdiameter satu meter, dengan kedalaman satu setengah meter, berisi air comberan penuh lintah. Setiap anggota nakal wajib hukumnya dicemplungkan ke situ. Termasuk Bas, tentu saja. Saking seringnya, lintah-lintah yang menempel di tubuhnya yang terendam dalam kolam susu itu dianggapnya sebagai gelitik genit wanita penggoda saja. Dia malah bisa menikmatinya.

Selain narkoba, Bas juga gila perempuan. Dia tercatat telah dua kali kawin cerai. Dia punya tiga anak dari dua pernikahannya. ”Tapi dua pernikahan saya dulu itu bubar semua. Ya karena kelakuan saya ini,” pahit Bas mengenangkan.

Hingga akhirnya dia sampai pada pelanggaran berikutnya yang bisa menggiringnya pada masa tahanan ke-13. Atasannya tak bisa mentolelir lagi. ”Pilihan waktu itu ada dua, saya masuk penjara lagi dengan hukuman berlipat-lipat kali lebih berat dan bisa membuat saya gila, atau saya mengundurkan diri. Akhirnya saya mengambil pilihan kedua. Siapa orang yang mau jadi gila?” katanya.

Lepas dari seragam, tahun 2002, dunia Bas berbalik arah 180 derajat. Seluruh pintu kemudahan yang didapatkannya kala berlabel ‘anggota’ tertutup. Frustasi dia. Cari pekerjaan sulit juga, karena dia tak punya keterampilan selain menghabisi orang dan mabuk-mabukan. Memanfaatkan statusnya sebagai bekas anggota juga tidak manjur. Anggota kan dulu, sekarang dia bukan siapa-siapa.

Akhirnya dia pontang-panting ke sana ke mari mencari sumber penghidupan. Seringkali dia menjadi tukang atau kuli bangunan, bahkan sampai ke Papua sana. Semua demi melanjutkan untaian jatah hidupnya yang masih belum selesai.

Selama empat tahun, 2002-2006 dia keliling Indonesia mencari kerja dengan bekal sisa pesangon. Hingga akhirnya semua benar-benar habis, dan dia yang frustasi pulang kembali ke Bantul. Hidupnya hanya diisi mabuk dan mabuk minuman keras. ”Saya sudah tidak melihat masa depan waktu itu.”

Dia juga tak punya teman hidup. Perempuan mana yang mau hidup dengan laki-laki yang menganggur? Saat itu dia benar-benar merasa kesepian. Ada sesal yang muncul tiap teringat dua pernikahannya yang gagal karena keberandalannya sendiri. Yang membuat dia semangkin nelangsa, bahkan dia tak pernah diizinkan bertemu dengan anak-anaknya.

Hingga akhir Mei 2006, dalam mabuk berat tiba-tiba Bas mengalami perubahan spiritual yang cukup frontal. Kala kepalanya masih pening dihajar alkohol, dan mimpi-mimpinya kian buruk saja, saat pagi masih sangat muda, 27 Mei 2006, dia merasakan ranjangnya bergoncang dahsyat. Awalnya dia mengira itu hanya perasaannya saja yang sedang mabuk berat. Tapi, lama-lama goncangan semakin dahsyat. Gempa!

”Mungkin seperti itulah rasanya kiamat. Getarannya luar biasa. rumah saya ambruk, untungnya keluarga saya tak ada yang tertimpa. Semua orang menjerit-jerit ketakutan. Seketika itu juga saya langsung sadar, mabuk saya hilang sama sekali. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Saya berteriak-teriak seperti itu. Tiba-tiba saya teringat pada Tuhan,” kisahnya.

Dengan mata kepalanya sendiri Bas melihat amuk alam itu. Banyak orang mati. Emas dan uang bertebaran di jalan tak ada yang mempedulikan. Semuanya berusaha mencari selamat sendiri-sendiri. Dan dia seperti dibukakan mata, bahwa duniawi tak ada artinya ketika Tuhan sedang menunjukkan kebesaran-Nya.

”Waktu itu saya langsung teringat dosa-dosa saya. Saya ingat bagaimana waktu menghabisi nyawa orang. Saya ingat bagaimana gilanya saya hidup di dunia malam Jakarta. Saya ingat bagaimana saya telah menyakiti mantan-mantan istri saya. Saya hanya bisa memohon, Tuhan jangan ambil dulu nyawa saya. Saya belum siap…”

Tuhan Maha Mendengar, Maha Pengasih. Dia mendengar doa Bas yang terucap dalam panik itu. Dia sepertinya memberi Bas kesempatan untuk memperbaiki diri. Kala itu ada isu gempa akan diikuti tsunami. Bas yang panik melarikan diri ke dataran tinggi Wonorejo. Di situ gempa tak begitu berdampak. Dia terdampar di situ. Dan Wonorejo jugalah dia bertemu dengan seorang perempuan yang akhirnya menjadi istri ketiganya.

”Waktu dipertemukan dengan istri saya yang ini, saya seperti mendapatkan bisikan bahwa inilah kesempatan saya untuk memperbaiki diri. Dan saya berjanji akan memperbaiki diri. Saya selalu berusaha untuk itu.”

Dia menikah dan mulai menekuni usaha ternak ayam aduan untuk menyambung hidup. ”Saya punya kemampuan untuk membentuk ayam aduan yang sangat jago. Ayam bentukan saya jarang kalah,” katanya bangga.

Tapi, meniti jalan Tuhan itu memang banyak ujiannya. Status Bas yang tak memiliki pekerjaan jelas membuat dia lama-lama ditolak oleh mertuanya. Setelah anaknya lahir, seorang bayi perempuan, istri Bas langsung disuruh untuk pisah ranjang. Usaha ternak ayam aduan itu tak bisa diterima. ”Kata mertua saya, itu haram. Kalau saya mau kumpul kembali dengan istri dan anak saya, saya harus mencari pekerjaan tetap,” kenangnya. Lalu dia hisap rokoknya. Dalam sekali.

Bila dia kangen anaknya, malam-malam dia menyelusup ke rumah mertuanya, di mana anak dan istrinya tinggal. Dia tempelkan kupingnya di jendela kamar. ”Saya hanya ingin mendengar suara anak saya. Entah itu menangis, entah tertawa, itu sudah cukup untuk menghibur saya. Menemuinya saya sudah tak mungkin. Bahkan, tiapkali anak saya menanyakan bapaknya, mertua saya selalu menjawab, ”Bapak kamu sudah mati.” Yah…”

Bas pun berusaha menerima takdirnya. Satu-satunya jalan untuk bisa memeluk anaknya adalah dengan mendapatkan pekerjaan tetap. Tapi, cari kerja zaman sekarang, tanpa kemampuan khusus dan koneksi, itu sangat sulit. Dia sudah berusaha, namun tak juga menemukan jalan. Bas sekarang bukan siapa-siapa. Bukan lagi anggota yang jumawa.

Saking frustasinya, dia sempat hendak nekat ikut gerombolan perampok. ”Saya bisa melakukan kekerasan yang diperlukan untuk merampok. Saya sering membunuh orang. Tapi, tiapkali saya teringat peristiwa gempa itu dan senyum anak saya, saya melupakan angan-angan gila itu.”

Hingga akhirnya, di tengah putus asanya, Bas bertemu dengan seorang ahli spiritual, yang akhirnya membimbingnya dan mengajaknya ke Depok. Oleh orang yang menolongnya, Bas hanya diminta bersabar, berusaha, dan membersihkan dirinya dengan terus mendekatkan diri pada Tuhan.

”Rasanya seperti dipenjara. Saya tidak bisa apa-apa. Tapi ini adalah proses saya mendekatkan diri pada Tuhan dan untuk kehidupan yang lebih baik. Saya bersyukur telah dipertemukan dengan Bapak itu,” katanya.

Inilah Bas sekarang. Bas, yang mantan Paspampres jumawa itu, menekur di sebelah saya merenungi perjalanan hidupnya. Aktivitasnya sekarang adalah melayani orang yang menolong dan membimbingnya itu, seperti menemani pergi ke mana saja, membersihkan rumah, menyiapkan makan, dan menyeduh kopi untuk Bapak penolongnya. Semacam pembantu lah.

Saat ini memang hanya itu yang dia bisa; bergantung dan pasrah. Bersama itu, dia selalu dihantui rindu pada anak-istri yang sering merampas lelap tidurnya.

Kadang dia meratap, tapi akhirnya dia sadar ratapan bukan jalan untuk menyelesaikan masalah. Dia terus berusaha; mencari kerja dan mendekatkan diri pada-Nya.

Sahur, sahur…” suara takmir masjid berkumandang di awang-awang kampung kawasan Arman, Kelapa Dua, Depok. Kami pun bersiap santap sahur.

”Ini pertama kalinya dalam hidup, saya berpuasa Ramadan. Mudah-mudahan dengan ini Tuhan sudi mengampuni saya dan membukakan jalan untuk saya berkumpul lagi dengan anak dan istri saya…”

”Amin,” saya hanya bisa mengamini.

Allah Maha Penerima Taubat. Dia selalu membuka pintu pada insan yang mau memperbaiki diri.

Allah Maha Pengasih. Allah Maha Penyayang. Dia selalu bersama orang-orang yang berusaha meniti jalan-Nya dengan sabar.

Inallaha ma’ashobirin

masjidqolbunsalim.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s