Tipis

DUA hari terakhir saya seperti diingatkan pada sebuah ihwal penting; bahwa jarak antara hidup dan mati begitu tipisnya.

Sejak tahun hijriyah terhitung memasuki bulan Ramadhan, saya sengaja mengurangi porsi mengakses internet. Sebab itu akhir-akhir ini saya jadi ndeso, nggak gaul, musnah dari peradaban virtual, dan ketinggalan informasi. Tapi tak masalah buat saya. Sebab, dengan begitu saya tidak terpancing untuk menggunjing, seperti yang biasanya otomatis terpantik oleh respons saya tiap kali menyimak informasi palsu yang disebut ‘berita’ itu. (Nah, kan, nggunjing lagi. Astaghfirullah…)

Akan tetapi, Saudara-Saudara, puasa informasi itu ternyata jauh lebih berat daripada puasa makan, minum, atau menahan syahwat intuitif. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berbuka informasi dan membuka laptop. Klik, berselancarlah saya di dunia virtual.

Baru saja berangkat berselancar, saya terantuk oleh sebuah informasi yang membuat saya ternganga; seorang teman meninggal dunia. Dia masih muda, belum ada empat puluh tahun, dan dua anaknya masih sangat kecil.

Dulu kami adalah rekan satu kantor di sebuah surat kabar nasional. Kursi kami di kantor saling memunggungi, saya menghadap barat, dia ke timur. Sebagai sesama trah Jawa, kami cepat akrab. Dia dari Semarang, saya dari Madiun. Orangnya sopan. Untuk ukuran orang-orang dunia media yang umumnya pethakilan (banyak tingkah—red), dia termasuk pribadi yang anteng (tak banyak tingkah—red). Ya karena itu juga karirnya pun anteng-anteng saja alias sulit maju. Di Ibukota, orang penurut itu selalu terenggut. Tapi dia menerima itu. Dia memilih anteng, nerimo, menurut.

Sejak akhir 2010, atau sejak saya pensiun dini, kami tak pernah lagi terhubung dalam komunikasi langsung. Paling hanya saling sapa via sosial media. Dalam persepsi saya, sejauh komunikasi tersebut, kawan bertubuh tambun dan sering terkantuk itu baik-baik saja menjalani karirnya yang anteng.

Setelah sekian lama (saya lupa persis durasi waktunya) tak berhubungan, namun beberapa kali mendapatinya memperbarui status di sosial media —terakhir kali berkicau pada 16 Februari lalu– dan karena itu saya berpikiran dia masih baik-baik saja, tiba-tiba Rabu, 17 Juli 2013 kemarin ada kabar dia telah sampai pada puncak gelarnya sebagai manusia; Alm. alias Almarhum. Gelar yang pada akhirnya menisbikan gelar Profesor, Doktor, Ing, MSc, MBa, MHum, dokter, SH, SE, ST, SSos, atau S apa sajalah yang selalu diburu manusia hidup itu. Ya, Alm. adalah gelar yang tak pernah diburu oleh siapapun, namun sudah pasti akan mendatangi siapapun itu. Inalillahi wainailaihi rojiun.

Awalnya saya percaya nggak percaya. Kok bisa? Kawan saya itu masih muda. Seingat saya ketika terakhir bertemu, dia juga masih gemuk dan sehat.

Tapi, akhirnya saya wajib maklum, bahwa ihwal kematian adalah sesuatu yang tak pantas untuk tidak dipercayai. Itu keniscayaan, itu takdir, dan takdir adalah satu dari enam rukun iman agama Islam. Akhirnya saya percaya.

Menurut informasi yang saya dengar dari kawan-kawan lama, dia meninggal karena gagal ginjal dan harus selalu cuci darah untuk itu.

Lalu berlangsunglah diorama standar dalam benak manusia yang ditinggal mati orang yang dikenal; kenangan-kenangan berkelebat. Saya ingat waktu kami sering guyonan dengan bahasa Jawa di dalam kantor, atau sekadar diskusi ringan tentang tema berita yang hendak diangkat, atau tentang gadget, atau sekadar membicarakan bab-bab stensilan hanya sebagai pelepas penat saja. Dan, tentu saja, saya teringat tubuhnya yang tambun itu. Yang tampaknya sehat, tapi ternyata mengemas sebuah sakit yang akhirnya membawanya pulang pada Sang Pemilik di usia yang masih sangat muda.

Saya setuju dengan status seorang teman di Facebook; ‘Orang baik dipanggil di bulan baik’. Ya, menurut saya, almarhum kawan saya itu orang baik, nggak neko-neko. Menurut teman yang takziyah dan sempat membuka penutup muka jenazah, tak ada bedanya antara ekspresi almarhum kawan saya setelah meninggal dengan ekspresi yang biasanya dipajangnya ketika tertidur dalam kantor, tepat di belakang punggung saya itu.

”Gue buka penutup muka jenazahnya. Dan, yah, gue jadi paham, jarak antara kehidupan dan kematian itu tipis banget, Bro. Nggak ada bedanya antara orang tidur dan mati,” kata kawan yang melayat tadi. Dia menyimpulkan itu juga karena tak pernah menduga kematian begitu lekas menyambangi kawan penurut bertubuh tambun itu.

Tapi, siapa yang cakap memprediksi ajal? Bisa jadi jaraknya dengan kehidupan ini sangatlah tipis. Pendek. Atau bahkan menyatu dengan kehidupan itu sendiri, yang selalu hadir tiba-tiba.

Setelah kabar tentang kematian kawan itu, di hari yang sama, ada lagi kabar tentang kematian yang tibanya tiba-tiba. Di negara bagian Bihar, India, 25 bocah tewas setelah menikmati makan siang gratis. Santapan cuma-cuma itu merupakan program perbaikan gizi yang digalakkan pemerintah negara bagian setempat.

Nahas, bukan gizi yang diserap dari acara bersantap bersama itu, namun kandungan insektisida jenis organophosphorus merasuk ke dalam tubuh anak-anak itu. Mereka mati.

Tentu ini juga cara kematian yang tak terprediksi juga. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi para ibu miskin di Bihar yang melepas anaknya berangkat sekolah dengan senyum karena anaknya akan mendapat makan siang gratis, yang itu artinya penghematan untuk keluarga mereka, tapi bocah-bocah itu malah pulang dalam bentuk jenazah.

Ah, memang benar kata kawan saya yang takziyah itu; ‘Jarak antara hidup dan mati itu sangat tipis.’ Kematian seringkali mengejutkan manusia, terutama kita yang selalu terpesona pada gemerlap dan gebyar riasan dunia, sehingga tak pernah menyadari bahwa jarak hidup dengan mati begitu dekat.

Dalam keadaan seperti ini, saya teringat salah satu bait dalam Syi’ir Tanpa Waton milik Gus Ishom itu;

Ayo Sedulur, ojo ngelalekake wajib’e ngaji sak pranata’ne.

Gawe ngandelake iman tauhid’e.

Bagus’e sangu, mulyo mati’ne…

(Mari, Saudara, jangan melupakan wajib mengaji dan tata caranya

Untuk mempertebal iman dan tauhid

(Jika) bekal (kehidupan) bagus, mati pun akan mulia…)”

Semoga kita senantiasa menjadi makhluk yang berfikir dan berzikir.

Amin.

 

Gambar fitur pinjam dari manado.tribunnews.com

Advertisements

2 thoughts on “Tipis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s