Merindukan Sastra yang Peduli

SAYA akui bahwa saya adalah tipikal pembaca yang ‘rewel’. Saya selalu mempertanyakan sebuah wacana yang menurut saya ’mengganjal’, dalam arti ketika saya mendapati semacam ‘keanehan’ dalam wacana yang dibangun tersebut dan  korelasinya dengan realitas dan fenomena di sekitar saya.

Saya adalah seorang penikmat sastra amatir. Bukan pengamat, apalagi ahli. Saya hanya penikmat. Akan tetapi, dalam posisi saya tersebut, saya bisa merasakan semacam ’keganjilan’ dalam fenomena sastra kekinian.

Sebuah teori sosiologi sastra menyebut: ”Sastra dapat dipandang sebagai  suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat pula.” (Luxenburg, Bal, dan Willem G. W. – terjemahan Dick Hartoko. 1084: 23)

Saya masih percaya pada premis tersebut. Sastra adalah cerminan kondisi sosio-psikografis masyarakat di mana karya sastra itu hidup dan tumbuh. Sastra adalah suatu gejala sosial. Wacana yang diangkat dalam sastra itu semestinya adalah representasi dari apa saja yang terjadi di sekitar kita.

Cobalah Anda jalan-jalan ke toko buku. Simaklah di bagian ‘buku laris’ atau ‘buku baru’. Saya berani menduga, bahwa buku-buku yang dipampang di bagian tersebut adalah buku-buku sastra penulis-penulis modern, sebut saja Dee Lestari, Ayu Utami, Andrea Hirata, A Fuadi, atau penulis lain yang sekarang lagi ’in’, yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Dari segi diksi dan bahasa mereka sangat patut mendapatkan angkat topi. Tabik. Bahasa indah, bernas, kenes, pokoknya memenuhi seluruh unsur-unsur keindahan bahasa dalam sebuah karya sastra.

Koleksi Pribadi.

Koleksi Pribadi.

Suatu hari, masih belum lama juga, saya terlibat diskusi ringan dengan salah seorang kawan dari sebuah penerbitan terkemuka di Indonesia. Kami membahas sastra-sastra modern tersebut. Dan, dari percakapan ringan di sebuah kedai kopi pada suatu sore yang lembayung itu, kami menarik sebuah hipotesa, karya-karya para penulis kekinian cenderung membawa misi memompa optimisme pembaca Indonesia yang sedang kembang-kempis. Upaya tersebut memang berhasil, terutama melalui tetralogi Laskar Pelangi besutan Andrea Hirata dan trilogi Negeri Lima Menara karya A Fuadi.

Hipotesa kami berangkat dari pencermatan terhadap tema-tema yang diangkat oleh penulis-penulis hebat tersebut. Yaitu tentang motivasi perjuangan tanpa lelah yang membawa hasil menggembirakan. Man jadda wa jadda. Siapa yang percaya, dia pasti berhasil.

Lalu, kami mencoba untuk mengulasnya lebih jauh. Memang, sastra tersebut adalah wacana yang positif. Mereka berangkat dari kenyataan sosial yang berkembang di tanah air dengan mengangkat kisah bocah-bocah miskin yang berhasil di kemudian hari. Atau juga mengangkat tentang kearifan lokal Indonesia-Melayu. Bagus, sangat realistis.

Namun, akhir dari cerita itu membuat kami sedikit ’kecewa’. Sebab, ending dari cerita-cerita yang menggairahkan tersebut terkesan seperti ‘mengajak lari dari kenyataan’. Mengapa kami berhipotesa demikian? Sebab, menurut kami, pembaca terkesan ‘diiming-imingi’ untuk hidup ala luar negeri. Bahkan, pembaca terkesan digiring untuk hidup di sana, atau setidaknya hidup ’ala Barat’. Kesan yang timbul pun semacam ada pengalihan isu; bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari ‘kesengsaraan lokal’ kita adalah bercumbu dengan ilusi hidup enak ala modernisasi Eropa, yang tanpa sadar (atau bahkan mungkin sepenuhnya disadari) malah meninggalkan kearifan kita sendiri. Kesannya, kearifan Nusantara ini hanyalah masa lalu yang perlu ditinggalkan jauh-jauh.

Wacana yang disajikan dalam sastra-sastra tersebut, setidaknya menurut saya dan kawan saya, cenderung mengajak ke sikap individualistis. Sepertinya pesan yang diusung adalah; ”Berbuatlah yang terbaik (hanya) untuk dirimu sendiri”. Belum terlihat kesadaran sosial dibangun di dalamnya.

Kesadaran sosial yang saya maksud, misalnya, setelah tokoh-tokoh dalam cerita berhasil, mereka berbuat untuk kemaslahatan masyarakat daerah asalnya demi menuju kehidupan sosial-ekonomi yang lebih baik. Kira-kira seperti tokoh Minke dalam tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer itu, atau karakter Tetuka alias Teto dalam Burung-Burung Manyar YB Mangunwijaya. Atau Rasus dalam Ronggeng Dukuh Paruk maupun Karman dalam Kubah besutan Ahmad Tohari itu. Karakter-karakter seperti itu tampaknya tak muncul.

Memang, kearifan budaya berhasil dimunculkan dalam karya sastrawan-sastrawan kini. Namun, upaya untuk membangun budaya kita, agar tetap memiliki harga diri, mendapatkan posisi di tengah modernisasi itu, sepertinya, masih belum terlihat. Mendapatkan posisi beda dengan larut. Memiliki posisi adalah, budaya Nusantara kita masih begitu kokoh dan berdiri berdampingan dengan Barat. Upaya memperkuat karakter kearifan lokal itu, setidaknya masih menurut saya dan kawan saya, belum muncul.

Sastra kekinian hanya menyinggungnya. Seperti Andrea Hirata yang dengan teliti menggambarkan budaya Bangka-Belitung, A Fuadi dengan bernas menceritakan budaya pesantren di Jawa, atau Dee Lestari menggambarkan kearifan lokal masyarakat Jawa Tengah yang memiliki kopi tiwus dalam Filosofi Kopi-nya. Tapi, ya cuma deskripsi. Hanya menggambarkan bahwa itu ‘ada’. Namun, belum terlihat upaya untuk mengurai problematika yang berlangsung di dalamnya, alih-alih memperkuat karakter budaya tersebut. Apalagi menyusun usulan solusi yang berdampak pada kehidupan sosial-budaya tersebut.

Jika dikupas dari sisi sosiologi pembaca dengan analisa Wellek dan Werren (1990: 111), yaitu melihat posisi pembaca dan pengaruh sosial karya tersebut, sejauh mana dampak sosial sastra bagi masyarakat pembacanya, di sinilah  kami seperti melihat sebuah ’keganjilan’. Karya-karya sastra modern tersebut jelas berpengaruh luas pada pembaca. Indikasinya adalah tingginya serapan karya-karya tersebut di kalangan konsumen penikmat karya sastra.

Wacana dalam karya-karya tersebut berhasil membangun posisi yang begitu kukuh. Dan, menurut pendapat kami, kesan yang dibangun adalah semangat untuk individualistis. Jika benar seperti itu yang terjadi, dan jika mengingat sastra adalah cerminan fenomena sosio-psikografis masyarakat, apakah memang yang hidup di sekitar kita sekarang ini adalah masyarakat yang ‘sangat aku’? Kesadaran sosial tumpul?

Sekali lagi, saya hanya penikmat sastra amatir. Sangat mungkin hipotesa saya dan kawan saya itu terlalu tergesa-gesa.  Namun, sebagai seorang amatir, terus terang kami merindukan sastra-sastra yang ’peduli’.

Lama kami tak mendengar kabarnya, setelah era Pram, Romo Mangun, Ahmad Tohari, dan Umar Kayam berlalu.

Koleksi Pribadi.

Koleksi Pribadi.

 

Referensi:

Sosiologi Sastra (pusatbahasaalazhar.wordpress.com)

 

Advertisements

4 thoughts on “Merindukan Sastra yang Peduli

  1. ouch! Tertohok tepat pada sasaran. Saya penikmat sastra kekinian. Hanya segelintir sastra lama yang saya nikmati (berterimakasih saya pada Umar Kayam). Entah bagaimana cerita bermula, tp pembaca sekarang memang ‘menuntut’ yang demikian. Sayangnya, penerbit justru sengaja ‘memanjakan’ pembaca dengan cerita demikian juga. Coba saja kalau kita idealis mencoba menerbitkan buku yang ‘nyastra’ sedikit saja. Yang membahas sosial dengan apik macam pram atau ahmad tohari, pastilah pembaca langsung pasang tameng tinggi2. 😀

    • Lho, nggak usah merasa tertohok. Semua berhak buat menikmati apa saja yang diminati. Sastra-sastra kekinian juga bagus-bagus. Bukan kemasan sastranya yang jadi masalah. Mungkin lebih pada soal misinya. Atau mungkin juga hipotesa di atas keliru. Bisa jadi, kan kesimpulan itu hanya diambil dari observasi dan diskusi ringan. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s