Menikmati Geledek ala Kota Belimbing

KALAU Anda berdomisili di Depok, dan Anda belum ikhlas lepas dari kenikmatan duniawi, plis, jangan sekali-sekali mengobral sumpah, apalagi berucap; ”Sumpah, berani samber geledek!” hanya untuk cari selamat Anda sendiri, kendati Anda menyadari apa yang Anda sumpahkan itu bohong. Anda bisa disamber betulan lhoDUARRRRRR!

Wilayah yang merdeka sejak tahun 1714 ini –jauh sebelum Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia—punya ’koleksi’ petir yang ruar biasah! Pada tahun 2002 kota ini mendapat kehormatan dinobatkan sebagai kota dengan petir paling ganas sedunia. Sangar. Petir di sini nggak main-main lho. Tidak dipakai untuk jaminan sumpah pun sudah menyambar-nyambar, apalagi ’diagunkan’. Bahaya.

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Peneliti dari Laboratorium Arus Tinggi dan Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Listrik Fakultas Teknik Industri ITB Dr. Ir. Dip. Ing Reynaldo Zoro pernah ‘mengautopsi’ fenomena petir-petir yang membahana di Kota Belimbing Mahkota ini. Kata dia, arus petir negatif di Depok berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positifnya mencapai 441,1 kA.

Jujur saja ya, saya sendiri nggak ngerti berapa takaran petir ideal yang dalam batas aman. Akan tetapi, kata Pak Zoro; ”Sejauh pengetahuan saya, itu terbesar di dunia. Dengan kekuatan arus sebesar itu, petir mampu meratakan bangunan gedung yang terbuat dari beton sekalipun.” Itu yang ngomong ahlinya lho ya. Gelarnya puanjang juga. Jadi percaya aja deh

Di awal-awal tinggal di kota yang dulunya merupakan wilayah Padepokan Agama Nasrani ini (De Eerste Protestante Organisatie van Christenen (Organisasi Kristen Protestan Pertama) atau disingkat DEPOC/Depok) saya sempat terkagum-kagum dengan geledek yang sangat jumawa ini. Saya selalu ciut nyali pas dia datang. Mangka dari itulah, setiap kali hujan datang, dan pasti dengan kawalan Mister Geledek, saya memilih meringkuk di dalam kamar kos saya di kawasan Margonda, sambil sesekali menikmati suara drrrrrrr dari kaca nako kamar saya yang bergetar pasca-petir.

Pak Zoro awalnya pernah menduga kalau pusat petir di Indonesia itu ada di kawasan Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Sebab, sambaran petir di daerah itu memang sangat besar –dan saya membuktikan sendiri ketika menjajah daerah itu awal tahun ini. Tak dinyana, dia justru menemukan daerah Depok, khususnya selatan seperti Sawangan dan Cinere, adalah basecamp biangnya petir di seluruh dunia.

Menurut Zoro, Depok dipengaruhi angin regional dan angin lokal, yaitu angin dari lembah dan angin gunung dari Bukit Barisan, serta angin lokal dari angin darat dan angin laut Kepulauan Riau dan Selatan Malaka. Gerakan angin itulah yang menyebabkan pembentukan awan petir dengan kerapatan dan sambaran petir sangat tinggi.

Fenomena ini menyebabkan banyak kerugian, mulai dari bangunan rusak, peralatan elektronik rumah tangga hancur, bahkan bisa merampas nyawa seseorang.

Ekstrim memang cuaca Depok ini. Kalau kadung panas nauzubillah, seperti cuaca waktu saya menulis posting ini tanpa alasan yang jelas. Tapi, biasanya tiba-tiba mak syut awan comulunimbus itu datang menggulung langit kota Depok dan bres, hujan deras menghujam. Tentu saja tak ketinggalan Mister Thunder menyalak-nyalak, jger, jger, jgerrrr, duaaarrrr,  menggetarkan seantero Depok City dan kaca nako kamar kos saya yang mojok di Margonda itu. Astaghfirullah…

Mungkin, ini mungkin lho ya, kalau diulas dari kacamata mistis-historis, mungkin petir sangar di Depok ini adalah ‘kutukan’ Mbah Moyangnya nDepok. Meneer Cornelis Chastelein –yang memerdekakan dan babad tanah Depok— pernah berwasiat pada anaknya, Anthony Chastelein, sebelum meninggal tahun 1714, di mana dia mewanti-wanti agar hutan sebelah timur sungai di Krukut, Kecamatan Limo, Depok, jangan ditebang dengan alasan apapun. Bunyi wasiatnya begini: “…Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…

Mbah Depok itu mungkin tahu, atau bahkan bisa memprediksi, hutan itu bisa mengurangi tekanan udara di Depok dan sekitarnya dan bisa meminimalisir petir. Ini mungkin lho ya, lha wong saya juga belum nemu referensi yang pas soal itu, hehehe

Tapi, terlepas dari analisa ilmu gatuk saya itu, nyatanya, yah, di daerah yang disebut Meneer Chastelein itu sekarang jadi areal perumahan. Hutan dihabiskan pengembang perumahan yang makin akas membangun saung-saung permanen untuk orang-orang Indonesia yang semangkin tersepona pada ngurbanisasi ini –seperti saya ini, hahaha

Atau bisa saja jika dulu Ki Ageng Selo si penakluk petir dari Mataram itu hidup di Depok, bukan di Demak, petir nggak bakalan neko-neko di sini. Pasti petir-petir itu sudah diamankan dalam batang-batang padi Ki Ageng. Tapi, kalau itu yang terjadi, bisa jadi malah Demak yang dihajar geledek sepanjang masa. *Guyon 

Depok City (tribunnews.com)
Depok City (tribunnews.com)

Sumber:

Foto Pinjam Dari:

commons.wikimedia.org

tribunnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s