Berkarya Itu Sederhana

My Simple Studio

My Simple Studio

DARI ‘meja kerja studio sederhana’ di dalam sebuah rumah kos, di salah satu sudut kawasan Margonda, Depok, yang hanya terdiri dari sebuah meja kayu berkaki pendek, netbook (pinjaman dari seorang kawan yang baik hati), modem, buku-buku, buku catatan, styrofoam, kipas angin, botol minum, galon, rokok, dan tisu, karya-karya sederhana saya lahir.

Memang jauh dari kesan luar biasa. Tak ada AC, partisi, meja yang wah, atau kursi empuk yang sandarannya bisa dinaik-turunkan. Namun, semua perkakas itu sangat berguna dalam mendukung karya-karya saya –pria biasa yang memilih jalan hidup mandiri ini.

Meja sebagai tempat nangkring semua peranti yang saya butuhkan. Neetbook dilengkapi modem memberi saya banyak ‘bahan belanjaan’ informasi dan referensi yang akan saya ‘masak’ menjadi tulisan. Buku-buku, selain sebagai sumber informasi tambahan, juga berfungsi sebagai hiburan. Buku catatan untuk mencorat-coret hal-hal penting yang sekiranya perlu diingat dengan cepat, yang lalu saya sobek untuk ditempelkan pada styrofoam yang terpampang persis di depan muka saya.

Kipas angin menjadi ‘dayang’ saya yang paling kerasa faedahnya di tengah cuaca Depok yang anguzubillah setan panasnya. Galon dan botol minum memberi saya peranti untuk menenggak sebanyak-banyaknya air mineral, agar saya yang seringkali duduk dalam waktu yang sangat lama ketika ‘belanja’ dan ‘memasak’ tidak dijahili oleh gangguan ginjal. Rokok memberikan saya sedikit ketenangan dan inspirasi lewat nikotinnya. Tisu mengusir keringat saya yang tak sempat ditiup oleh kipas angin.

Yap, sederhana. Tapi itu semua sudah cukup untuk meneruskan napas saya dalam berkarya. Oh, iya, masih ada satu lagi; ponsel yang tak ikut terpotret sebab benda itulah yang saya gunakan untuk menjepret gambar itu. Ponsel memberi saya banyak kabar dan komunikasi dengan dunia luar sembari saya ‘berburu dan meramu’ dalam ‘studio’ saya. Silaturahim saya dengan orangtua, saudara, kekasih yang kadang menengok saya di ‘studio’ saya ini, kawan-kawan, dan narasumber tak putus, meskipun saya masih sedang dalam proses bekerja. Memang tak ada OB yang melayani kebutuhan konsumsi saya, atau sekretaris yang selalu mengingatkan saya. Tapi, ada Emak yang penuh dedikasi itu, yang bisa menjalankan peran sebagai ‘sekretaris’ sekaligus ‘OB’.

Dari kesederhanaan ini pulalah karya-karya sederhana dalam blog ini dan tiga buku; Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu, Hugo Chavez: Malaikat dari Selatan, dan Rekam Jejak Mun’im Idries: Forensik Itu Lucu (segera terbit), tersusun. Beberapa naskah karya penulis lain yang masih setengah matang, yang oleh penerbit dipercayakan pada saya untuk menghaluskannya, juga saya ‘setrika’ di dalam kesederhanaan sini.

Berangkat dari kesederhanaan inilah saya ‘menjadi ada’, berbagi ilmu, cinta, dan menjemput jatah rezeki yang telah dialokasikan Penguasa Langit untuk saya.

Pada dasarnya, siapa saja bisa berkarya dalam situasi dan kondisi apa pun. Semua itu tinggal kemauan. Berkarya bukan soal peranti. Bukan soal gengsi. Tapi soal niat dan konfidensi dalam dosis yang wajar.

Selamat berkarya bagi siapa saja yang mau. Semoga selalu mendapat dukungan penuh dari orang-orang tercinta dan Tuhan Sang Penyayang. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s