Di Balik Sampul Indonesia X-Files

MEMBUKA kebenaran itu sulitnya minta ampun. Ada saja halangannya, dari sisi teknis maupun non-teknis. Butuh kesabaran dan tempo yang cukup lama untuk bisa benar-benar memaparkannya gamblang segamblang-gamblangnya.

Nih, simak saja pengalaman dr Abdul Mun’im Idries, Sp.F, penyusun buku Indonesia X-Files yang ‘vulgar’ itu. Sesaat sebelum acara peluncuran bukunya di perpustakaan Universitas Indonesia, Depok, Kamis, 27 Juni 2013 kemarin, Pak Dokter Nyentrik yang jarang mengenakan jubah kebesaran dokter ini sempat sedikit ‘curhat’ sama saya –yang kebetulan waktu itu didaulat jadi moderator sama yang punya gawe.

loncing x-files-2
(Kanan-kiri) CEO Noura Books Deden Ridwan, dr Abdul Mun’im Idries, dan penulis blog.

”Seharusnya buku ini terbit tahun lalu, pas perayaan ulang tahun saya yang ke-65,” bisiknya pada saya.

Lho, kenapa kok baru sekarang, Dok?”

Wah, ceritanya panjang. Sebenarnya proses pengumpulan data ini sudah dimulai sejak tahun 2011.”

”Lantas?”

Nah, itu dia. Dua kali buku ini gagal terbit.  Dulu awalnya ada seorang wartawan yang mau menuliskannya. Saya sudah ngumpulin semua data yang dibutuhkan, dibantu oleh teman saya, Reza Indragiri Amriel (psikolog forensik).”

”Lalu data itu saya kasih ke wartawan yang mau menuliskan. Dia juga sudah mendokumentasikan semua hal yang diperlukan untuk penulisan buku itu. Ambil foto, rekam video segala. Tapi, eh, di tengah-tengah prosesnya, wartawan itu memanfaatkan data-data tersebut untuk cari duit. Ya saya tidak mau!”

Oalah…

”Lalu, Dok?”

Nah, setelah itu saya dan Reza Indragiri berusaha mencari penulis lagi. Yang kira-kira benar-benar mau nulis. Bagus yang masih idealis. Akhirnya saya ketemu sama seorang mahasiswa, pemusik jalanan, aktivis. Namanya Syarif Hidayatullah Nasution, nama jalanannya Kodok. Dia senang menulis. Pernah nulis buku juga, katanya. Semua data yang pernah pernah saya berikan ke wartawan yang mau nulis pertama dulu, saya berikan ke dia. Termasuk kliping berita kasus-kasus yang pernah saya tangani.”

”Setelah semua data saya serahkan, dia susun menjadi tulisan. Saya kirimkan naskah itu ke penerbit Gramedia. Tapi ditolak. Katanya terlalu tebal dan tidak ada human interestnya.”

”Selanjutnya saya dibantu Reza memilah-milah kembali naskah itu supaya bisa lebih tipis dan bisa diterbitkan beberapa seri. Tapi, penerbit ganti bilang diminta tulis ulang. Selain itu, kata penerbitnya, momentumnya juga kurang tepat. Akhirnya naskah tersebut dikembalikan.”

”Saya dan Reza malah sempat berpikiran, kalau tidak ada penerbit yang mau menerima, kami mau menerbitkan buku ini secara indie. Buku ini harus terbit, apapun yang terjadi. Kebenaran harus dibuka selebar-lebarnya.”

HmmmGitu ya, Dok. Kok akhirnya ketemu Mas Cecep (dari penerbit Noura Books, Mizan)?”

”Saya nggak tahu, tiba-tiba saja Cecep hubungi saya, dan bilang mau menerbitkan buku ini. Nggak tahu tuh dia tahu dari mana.”

Alhamdulillah ya, Dok. Akhirnya bisa terbit.”

Yak. Kebenaran harus dibuka. Mumpung masih ada kesempatan, saya harus mengungkapkan seluruh kebenaran yang saya ketahui. Memang prosesnya panjang, sampai dua tahun. Tapi alhamdulillah bisa terbit juga.”

Saya manggut-manggut menyimak perjuangan dan motivasi dr Mun’im menerbitkan buku itu.

”Dulu waktu mau tampil di TV One, pas masih di belakang (layar) ada purnawirawan perwira tinggi nyeletuk ke saya, ’Dok, ini bukannya saya nyumpahin Dokter cepet mati ya. Tapi, mumpung masih ada kesempatan, tulis semua yang Dokter tahu. Biar semua orang tahu kebenaran.’ Hahaha. Maka dari itulah saya termotivasi untuk menulis ini. Kebenaran harus dibuka.”

Akhirnya lahirlah Indonesia X-Files. Buku yang jujur. Meminjam istilah salah satu budayawan kita yang melegenda, almarhum Umar Kayam, Indonesia X-Files ini ’ringan namun padat gizi dan penuh daging’. Bahasanya sederhana, gampang dicerna awam, isinya berbobot. Agak menakutkan, memang. Karena banyak ’aib’ negeri ini yang terkuak setelah dibedah oleh ‘visum et repertum’ kebenaran ala Mun’im Idris, dan disajikan secara blak-blakan. Banyak borok politik yang dikuak oleh pisau forensik Mun’im Idries.

Beberapa abad lalu, senator besar Romawi, Markus Aurelius Cicero pernah berujar; ”Mimpi buruk politisi adalah berkata jujur.” Mungkin, kalau Cicero masih hidup, di Indonesia, dan membaca buku besutan Mun’im Idris itu, dia akan merevisi pendapatnya itu menjadi; ”Mimpi buruk politisi adalah Abdul Mun’im Idries.”

”Tapi, buku ini belum selesai kan, Dok? Masih ada kelanjutannya bukan? Sekuel. Lebih vulgar…”

Ah, kalau itu sih situ juga tahu. Hahaha…”

”Hahaha…”

Kami pun tertawa bersama, senang karena perlahan namun pasti kebenaran telah terbuka. Memang, kerap kebenaran itu menyakitkan. Tapi, itulah kebenaran.

Noted: Foto dipinjam dari sini.

Advertisements

2 thoughts on “Di Balik Sampul Indonesia X-Files

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s