Perjuangan Edi: Enaknya Dikit

APAKAH Anda percaya bahwa netralitas media mainstream itu bukan hanya mitos? Coba tanyakan pada Edi. Menurut saya, dia itu wartawan paling sial yang pernah saya kenal. Menurut saya lho ya

Edi aseli Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Dia jebolan Pondok Modern Gontor, Ponorogo, yang kemudian mencoba mengadu nasib di Ibukota menjadi kartawan. Eh, wartawan.

Kami dulu satu kantor di sebuah surat kabar nasional (yang mengaku besar dan berpengaruh) milik salah satu kerajaan media di Jakarta. Kami juga tinggal satu kos di kawasan Jl Pramuka, Jakarta Timur. Dia itu lucu. Menggemaskan. Gemuk, tak sebegitu tinggi, berewokan, dan agak polos. Agak sih

Hobinya main Play Station. Kalau sudah nancep di kamar saya, dan dua jempolnya mencat-mencet setik menjalankan tim kesayangannya dalam permainan sepakbola Winning Eleven itu, weh, hanya telepon emaknya dari timur sana yang bisa memenggal kekhusyukannya! Padahal, kalau main dia itu tidak pernah menang lho. Di kos kami, dia disahkan sebagai anak bawang dunia per-PS-an.

Sebagai wartawan debutan yang baru mengenal dunia media, lumayan lah dedikasinya itu. Dia tipikal petarung, suka berburu berita. Tapi, sayang sekali redaktur dia tak pernah memuat berita Edi dalam halamannya. Katanya; ”Beritamu nggak mutu!” Widih, kalau saja saya yang dibegitukan, serius deh, sudah saya gejrot tuh redaktur. Pernyataan itu menghina banget lho ya

Tapi, untung Edi bukan saya. Dia terlalu polos untuk berpikiran seperti saya. Maklum, bocah baru dengan kadar ketakutan terhadap redaktur yang masih sangat tinggi. Edi juga tidak patah arang. Dia terus dan terus berburu berita karena yakin suatu saat beritanya akan dimuat. Semangat, kawan!

Sebagai jebolan ponpes paling setil se-Indonesia, Edi percaya Tuhan Pengasih tak akan menutup mata pada segala usaha kerasnya. Semua akan indah pada waktunya. Man jadda wa jadda, siapa yang percaya, dia akan berhasil.

Dan… Edi berhasil! Dia akhirnya berhasil menyumbangkan satu berita yang –setidaknya menurut redaktur dia– layak muat! Berhasil, berhasil, berhasil! Hore! *gaya Dora the Explorer* Setelah susah payah dengan segenap peluh dan air mata, akhirnya Edi diakui… Selamat, Nak…

Tapi, ya begitu lah, berita debutnya itu tak begitu menonjol. Cuma berita kecil di sayap halaman. Satu kolom. Berita lintas di koran edisi salah satu hari di bulan Juni 2009 itu. Tapi, lumayan lah, dimuat. Daripada tidak sama sekali. Dia menulis tentang musibah banjir di sebuah kampung di Jakarta Utara akibat dampak proyek pembangunan apartemen. Berita yang merakyat!

Akan tetapi, kabar tentang penindasan orang kecil, di koran kami waktu itu, kurang mendapat tempat. Kurang elit, kata pimpinan redaksi. Sepertinya, berita Edy itu hanyalah penambal halaman karena pasokan berita sedang kurang. Semacam tambal butuh lah

Tapi… Kebanggaan Edi setelah beritanya termuat itu berbuntut gawat! Setelah berita dibaca banyak orang, redaktur halaman itu dipanggil menghadap pimpinan redaksi.

Sepertinya si redaktur kualat sama Edi. Kalau sebelumnya dia menghina Edi dengan menyebut beritanya nggak mutu, kali itu oleh bos besar dia dihujat; ”halamanmu nggak mutu!” Lho, apa sebab? Ternyata, eh, ternyata, penyebab ketakmutuan halaman si redaktur, menurut versi big boss, karena ada berita Edi yang termuat nyempil di situ. Berita itu bagaikan nila setitik yang merusak berita sebelanga halaman si redaktur. Selusur punya selidik, ternyata pemilik proyek apartemen penyebab banjir yang dikritisi oleh Edi si wartawan baru itu tak lain tak bukan adalah…. Pemilik media itu sendiri! Duh, ruwet urusannya… Jeruk makan jeruk.

Si redaktur, ya tentu saja tak mau disalahkan sendirian. Bukankah sudah menjadi hak istimewa redaktur untuk menumpahruahkan kesalahan pada reporter ketika dia menghadapi masalah karena kekurang-telitian dia sendiri?

Edi merayakan pemuatan berita pertamanya dengan main PS full time di kamar saya. Kebetulan, saya sedang dapat jatah libur. Kegembiraannya jadi berlipat setelah tim Juventus yang dijalankannya dalam pertandingan virtual tersebut menang tipis atas tim Real Madrid yang saya jalankan. Akhirnya si anak bawang bisa menang! Sebenarnya kemenangan itu saya kasih, sih. Kasihan, dia tidak pernah menang. Sekali-sekali dikasih menang, tak apa lah… *jumawa*

Di tengah gemuruh gembiranya, krrriiiinnngggg, nada dering lawas di ponselnya menjerit. ”Ha, Mas Redaktur? Ada apa ya?” dengan tanya-tanya dia bawa ponselnya keluar dari kamar.

Selanjutnya yang saya dengar hanya; ”Siap, Mas. Baik, Mas. Segera…” Nadanya terdengar ketakutan. Dia langsung lari ke kamar dan berganti pakaian. Buk, buk, buk, suara kaki besar yang menopang tubuh beratnya beradu dengan lantai rumah kos.

”Ada apa, Ed?”

”Gawat, Mas, gawat!” hanya itu responsnya. Plencing!

Saya hanya mikir, ah, mungkin perkara kecil soal berita. Biasa. Kepanikan khas wartawan baru, pikir saya. Ah, saya sih sudah pernah melewati masa-masa seperti itu. Lalu saya tertidur.

Sekitar empat jam setelah panggilan darurat itu, Edi pulang. Pas saya bangun. Mukanya layu sekuyu-kuyunya. Jalannya menunduk.

Lho, ada apa to, Cah Bagus…?” saya tanya dia.

”Aku dikeluarkan e, Mas…” jawabnya lirih.

Waduh?! Ciyus? Suarez?

”Katanya beritaku bikin situasi perusahaan kacau. Bos besar marah besar gara-gara beritaku yang cuma dimuat seupil itu. Saya diminta mengundurkan diri. Bla, bla, bla…”

Alamak… Saya menyimak confession of Edi sembari terenyuh, terharu mendengar balada Edi dan berita pertamanya. Setelah berjuang keras sekian lama demi mendapatkan tempat di dalam halaman, begitu kesempatan itu datang, dia langsung end.

Dan, ajaibnya, redaktur yang seharusnya lebih bertanggung jawab dari Edi itu selamat dari hukuman ‘diminta mengundurkan diri’ (alasan klise perusahaan yang kepingin memecat karyawan tapi ogah keluarin pesangon). Dia hanya dimutasi ke desk lain.

Edi memutuskan pulang ke Sumbawa sebagai serdadu yang kalah perang. Dia tidak dapat pesangon, sebab ‘judulnya’ dia itu mengundurkan diri, bukan diberhentikan. Lagipula, dia masih dalam masa kontrak. Belum diangkat sebagai karyawan tetap.

Saya cuma bisa prihatin dan memberinya ’kenang-kenangan’ PS saya yang masih baru itu, yang ditebusnya dengan duit 400 ribu.

”Di sana latihan yang bener ya, Le. Nanti kalau jumpa lagi kita tanding lagi.” Dia menjawab dengan senyum yang sangat galau.

Oalah Edi, Edi…. Enakmu kok ya cuma dikit….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s