Bronx Love Story #1: Jimmy & Lorna

bourrastomasson.skyrock.com

BROOKLYN tak pernah tidur. Dan Brooklyn di tahun 1960-an selalu rusuh.

Kubah malam yang menelingkupi salah satu sudut New York yang paling padat dan semrawut itu senantiasa dikudeta oleh gemerlap lampu yang menyeruak sombong sepanjang kala. Gelap malam tak pernah mendapat tempat di antara sekitar 2,5 juta manusia yang hidup dan bertarung di sini, di tahun 1960-an.

Brooklyn adalah sebuah prosa yang gempita. Lalu lintas kendaraan yang dikebut oleh manusia-manusia malam tak pernah stop meriuhi lalu lintas. Padat dan bising. Di beberapa sudut kota terjadi keributan-keributan kecil antar-anggota geng. Di sisi lainnya, beberapa gangster kelas teri beradu mulut dengan polisi yang mengacungkan pistol ke muka mereka, ketika mendapati mereka bertransaksi heroin dan mariyuana. Di sudut jauh yang lebih gelap, nyawa seorang kulit hitam minggat dari tubuhnya setelah sebuah pertarungan tanpa orientasi. Dan di ruang publik, bentrok rasial berlangsung dengan sengit. Di langit, bintang-bintang menatap mereka dengan rasa iba.

Brooklyn tahun 1960-an adalah arena ’pertempuran’ kaum imigran yang ingin mendapat tempat dan mencicipi gemuruh New York yang sedang lekas-lekas bergegas membangun diri. Manusia-manusia dari seluruh penjuru dunia, kulit putih, Latin, Afro-Amerika, Yahudi, Semit, semua tumplek blek, berkumpul, berkompetisi, dan berjubel seperti ikan tuna dalam kotak es. Di Brooklyn sini.

Sepasang Afrika-Amerika, Jimmy Kirkpatrick dan Lorna Smith, hidup berdesakan di antara kepadatan Brooklyn dengan sentimen rasial yang masih begitu congkaknya. Dan rewel.

Dilahirkan berkulit gelap bukan takdir yang menguntungkan untuk Jimmy dan Lorna yang memilih Brooklyn untuk hidup. Mereka harus masuk dalam penjara diskriminasi ekonomi dan pergaulan sosial Brooklyn. Total populasi ras hitam yang cukup besar, 35% dari total penduduk Brooklyn, belum cukup untuk memperkuat posisi tawar mereka, yang bisa membuat mereka setara dengan kulit putih non-Hispanic, yang populasinya hanya beda tipis; 40%. Bahkan, posisi mereka jauh lebih sub-ordinat daripada ras Latin dan Semit yang merupakan kelompok-kelompok kecil.

Jimmy dan Lorna digencet tuntutan ekonomi yang selalu terasa sulit mereka penuhi. Tambang-tambang uang strategis hanya milik mereka yang dilahirkan berkulit terang. Finansial menipis yang kian tipis adalah lagu lama yang sehari-hari melantun sengit di rumah-rumah sempit keluarga negro. Mengejek dan menyayat, seperti yang berlangsung dalam rumah Jimmy dan Lorna.

Kehidupan rumah tangga mereka rutin diisi perselisihan hingga keributan, hanya karena hal-hal sepele. Misalnya, karena Jimmy lupa membeli roti, atau Lorna yang lupa menyeduh kopi. Impitan ekonomi memang kerapkali membuat manusia-manusia serba-panik dan mengobral emosi.

Ketika bertemu Kirkpatrick, tahun 1960, Lorna bukanlah seorang gadis perawan. Dia adalah janda dari seorang pria kulit hitam bernama Percel Tyson. Lorna menyimpan seluruh kisah cinta dan rumah tangga masa lalunya itu diam-diam dan begitu rapat, dalam brankas memorinya –yang kuncinya hanya dia sendiri yang memegang.

Setelah perceraian dengan Percel Tyson, Lorna menjalani hidupnya sebagai perempuan single. Dia berjanji tidak akan menikah lagi. Entah, apa alasannya untuk itu. Bisa jadi karena masih ada cinta yang mengakar untuk mantan suami, bisa juga trauma terhadap rasa sakit. Dia melakoni kesendiriannya selama beberapa tahun. Hingga akhirnya, waktu menggiringnya pada pertemuan dengan Jimmy Kirkpatrick. Untuk kedua kalinya, Lorna seperti merasakan rasa yang sama dengan yang pernah dia rasakan pada Percel Tyson. Dia jatuh cinta.

Cinta yang absurd dan serba repot.

Sebelum bertemu Lorna, lakon masa lalu Jimmy Kirkpatrick tak jauh beda dari perempuannya itu, tapi dalam kadar yang jauh lebih ruwet. Kirkpatrick adalah seorang pria absurd dari Grier Town, North Carolina. Dia merupakan salah satu pemain bisbol kelas atas di lingkungannya.

Kirkpatrick pernah menikah dan memiliki seorang putra bernama Jimmie Lee Kirkpatrick –yang sukses sebagai pemain American Football di tahun 1960-an. Pada tahun 1959, Kirkpatrick minggat tanpa alasan, meninggalkan istri yang tak pernah dia ceraikan dan anaknya yang meraung-raung menangisi kepergiannya. Dia kabur ke Brooklyn. Di Bedford-Stuyvesant, bagian Brooklyn suram, Jimmy ’si pelarian’ bertemu dengan Lorna si janda. Mereka memutuskan hidup bersama tanpa menikah. Lorna masih trauma dengan kegagalan rumah tangganya, sementara Jimmy terkesan tak mau terkungkung dalam lembaga pernikahan. Tapi, mereka sama-sama ingin hidup bersama. Hubungan cinta pria dan wanita kulit hitam itu berjalan rumit di tengah situasi sosial dan ekonomi yang serba sulit.

Setahun setelah hidup bersama, Rodney, anak pertama mereka, lahir di tahun 1961. Si sulung hadir ke dunia ketika perang antar-geng yang cukup besar dan gemuruh meletus di Bedford-Stuyvesant, Broklyn. Dar, der, dor dan percikan darah setelah ada tubuh yang tersayat atau terpenggal senjata tajam, atau setelah ada kepala yang dipukul tongkat bisbol, menyebar di mana-mana. Bedford-Stuyvesant yang miskin kian mencekam. Peristiwa itu adalah kerusuhan perkotaan pertama di era tersebut. Kerusuhan yang sangat menggiriskan hati, apalagi kemudian meluas pada bentrokan antar-kelas sosial dan ras. Alfred E Clark, wartawan New York Times waktu itu, mencatat kerusuhan itu dan menyebutnya sebagai ”Broklyn’s Little Harlem”.

Situasi kian tanpa kendali ketika siswa-siswa sekolah dan aktivis kulit hitam, baik dari dalam maupun luar daerah, bentrok dengan guru-guru di sekolah yang mayoritas berkulit putih berdarah Yahudi. Isu yang diangkat sangat sensitif; rasisme dan menuntut persamaan hak ekonomi. Brooklyn mendadak menjadi ring pertarungan antar-kelas dan antar-ras.

Kerusuhan demi kerusuhan yang bising berdesing menjadi menu harian pasangan Jimmy dan Lorna yang makin cemas menghadapi situasi yang kian rumit, terutama Lorna. Sebab, kerusuhan di Bedford-Stuyvesant tidak hanya terjadi di luar rumah saja, tapi di dalam juga. Dia sering jadi sasaran pelampiasan emosi Jimmy yang kerap frustasi karena keadaan. Tamparan, pukulan, tendangan, adalah makanannya sehari-hari. Lorna diimpit dua ketakutan, takut akan keselamatan mereka dan takut pada makin kejamnya fakta ekonomi kehidupan mereka. Kehidupan ekonomis di Brooklyn sangat mengenaskan, buntut dari kerusuhan-kerusuhan rasial yang seolah tak akan pernah berakhir.

Jimmy dan Lorna masuk dalam kerangkeng masyarakat miskin perkotaan kulit gelap di Bedford-Stuyvesant yang tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah federal. Padahal, komunitas mereka adalah mayoritas di kota itu.

Tiga tahun setelah kelahiran Rodney yang dibarengi kerusuhan pada 1961, beriring dengan rumah tangga palsu yang sarat keributan, pada tahun 1964, anak kedua pasangan tidak sah ini lahir. Dia seorang putri yang diberi nama Denise. Sama seperti momen kelahiran Rodney, hadirnya Denise di dunia ini juga ditandai oleh kerusuhan. Kisruh antar-ras kembali pecah di lingkungan Manhattan Harlem, bagian New York yang lain. Pertikaian terjadi setelah seorang anggota New York Police Departement (NYPD) berdarah Irlandia-Amerika, Thomas Gilligan, menembak dan membunuh seorang remaja Afrika-Amerika yang baru berumur 15 tahun, James Powell. Si remaja dituduh sebagai pengedar narkoba tanpa ada secuil pun barang bukti. Tentu saja, tuduhan itu hanya sebagai pembenar kelakuan polisi kulit putih berpangkat letnan itu.

Kemarahan kaum kulit hitam kian menjadi. Mereka merasa makin digencet dalam posisi sub-ordinat. Kerusuhan menyebar ke Bedford-Stuyvesant, tempat di mana Jimmy dan Lorna hidup dalam ketakpastian. Perusakan dan penjarahan di mana-mana. Aset-aset milik Yahudi menjadi sasaran utama perampokan. Jimmy yang menganggur, setelah memutuskan untuk meninggalkan dunia bisbol, tak ketinggalangan nyemplung dalam kerusuhan itu untuk mendapatkan keuntungan dari barang-barang bagus yang tak pernah mampu dia beli tapi bisa dia dapatkan dengan gratis. Sementara Lorna berusaha terus bertahan dengan sumber penghidupannya yang halal sebagai pelayan toko. Beruntung, toko tempatnya bekerja milik kulit hitam yang luput dari upaya penjarahan.

Hubungan antara NYPD dan Black Community atau komunitas kulit hitam kota semakin tegang. Tensinya nyaris mencapai pucuk. Polisi dipandang sebagai penjajah ras kulit gelap. Penegakan hukum sangat bias rasial. Ketika seorang kulit hitam tertangkap dan diadili karena kasus narkotika, bisa dipastikan vonisnya jauh lebih berat dari kulit putih yang melakukan pelanggaran dalam kadar yang sama. Sementara polisi-polisi berkulit hitam tak pernah mendapatkan pangkat yang lebih tinggi dari kopral.

Setelah pemilu 1964, Robert F Kennedy terpilih sebagai Senator AS untuk Negara Bagian New York. Harapan kaum kulit hitam untuk mendapatkan persamaan hak mulai tumbuh. Tugas terbesar Kennedy adalah menjaga harapan itu agar terus tumbuh, berjuang melawan kemiskinan dan kerusuhan rasial pecah di bagian utara kota. Di saat bersamaan, isu-isu gerakan hak-hak sipil di negara-negara selatan jadi prioritas aktivis hak kaum Afrika-Amerika. Situasi sulit dihadapi sang senator, sementara kaum kulit hitam masih ’setia’ hidup dalam kondisi yang serba rumit.

Suasana hidup yang tak menentu rupanya membuat pribadi Jimmy Kirkpatrick kian sengkarut. Hidupnya makin ’tidak tertib’. Tanpa orientasi. Kerjanya makin tidak jelas setelah dia tinggalkan dunia bisbol dengan keputusasannya menghadapi fakta rasial di Brooklyn. Sumbangan untuk ekonomi keluarga sangat minim. Dia gemar berlama-lama di kolam renang, berjudi, dan nongkrong di jalanan. Dan, tentu saja, dia semakin ’ringan tangan’ pada Lorna. Plak, plak, bak, bik, buk, adalah suara yang kerap didengar Rodney dan Denise di kala bapak dan ibunya berterngkar. Biasanya, setelah itu Jimmy kabur, sementara Lorna meringkuk dalam tangis.

”Jimmy adalah pria jalanan biasa yang terjebak dalam dunia jalanan yang non-orientasi,” keluh Lorna terlontar pada suatu hari, ketika dia nyaris merasa tak sanggup lagi menghadapi kebiasaan Jimmy yang hobi main pukul. Tapi, apa daya, dia kadung jatuh cinta dan hidup bersama pria yang dikeluhkannya itu.

Lorna berusaha untuk bertahan demi anaknya yang masih membutuhkan figur seorang ayah, kendati sebenarnya figur Kirkpatrick itu tak bisa diterima akal sehat. Senyampang itu, dia terus bersusah payah bekerja sebagai pelayan toko demi menyambung napas ekonomi keluarganya.

Hingga akhirnya Kirkpatrick harus menuai tuah dari pola hidupnya yang umbar-umbaran tak menentu. Alkohol dan udara malam menjadi semacam jab untuknya ketika dia kena penyakit jantung dan langsung knock out. Dia harus sering terkulai lemah di rumah. Keluar-masuk rumah sakit juga menjadi rutinitas barunya. Beban ekonomi keluarga yang jarang dia sokong kian bertambah monyong. Lorna makin terengah mencambuk dirinya sendiri demi makan-minumnya, suami, dan anak-anaknya. Tapi, dalam situasi seperti itu, setidaknya dia bebas satu beban. Jimmy yang makin lemah tak lagi punya tenaga untuk melayangkan jab pada wajahnya.

Sial, di dalam sakitnya, tabiat nyentrik Kirkpatrick itu muncul lagi. Sejarah hidupnya yang memalukan, di masa sebelum bertemu Lorna, terulang. Minggat meninggalkan keluarga begitu saja sepertinya sudah jadi hobinya. Kali ini kesempatannya untuk kabur dari tanggung jawab lebih besar daripada kehidupannya terdahulu. Toh, dia tak menikahi Lorna. Tak ada legal formal yang menghalangi kepergiannya. Apalagi, di masa itu legal formal untuk mereka yang berkulit hitam juga tidak berjalan.

Dan, pada suatu hari yang sangat sangat jengah, dengan rasa percaya diri yang tak tahu malu, tiba-tiba dia memutuskan untuk meninggalkan Lorna, Rodney dan Denise yang masih sangat kecil, serta seorang jabang bayi yang masih mendekam dalam rahim istrinya, begitu saja.

”Aku harus pergi,” pengumuman Jimmy Kirkpatrick pada suatu malam yang profan itu, yang diucapkan dengan begitu entengnya, membuat Lorna yang hamil tua anak ketiga mereka terperangah. Di luar riuh kendaraan masih bising berlalu lalang. Dari jauh lamat-lamat terdengar keributan antara warga kulit hitam dan polisi. Tapi, senyap di ruang antara Jimmy dan Lorna. Tak ada suara barang pecah, karena mereka tak punya sesuatu apa pun yang bisa dibanting.

”Kenapa…? Sadarkah apa yang baru saja kau katakan?!”  Lorna bertanya masih dalam perangahnya. Setengah menjerit, tapi tertahan. ”Ada tiga anak yang harus aku hidupi sendiri kalau kau pergi…”

Suara kucing yang bertengkar di luar pintu menyela. Miawwww

Sebelum menjawab, Jimmy mengambil ancang-ancang. Dia seperti tak peduli dengan kemelasan perempuannya. Lalu ditumpahruahkanlah alasannya yang konyol itu. ”Aku ini pria yang sudah tak berguna! Aku lemah! Aku tak bekerja! Sakit jantungku ini membuatku benar-benar menjadi sampah! Aku hanya akan menjadi bebanmu! Aku tak bisa menghidupimu dan anak-anak!”

”Ah, itu alasanmu saja! Apakah aku pernah menyumpahimu karena itu? Apakah aku pernah mengeluhkanmu? Dan, apakah kamu tidak mau menunggu kelahiran anakmu ini?” Lorna merespons miris, menahan tangis, sembari mengelus si jabang bayi di balik perutnya yang besar. Dia rasakan tendangan kecil dari balik perutnya.

Jimmy terhenyak. Terkesiap dia untuk sekejap. Hanya sekejap. Dia tatap sejenak mata Lorna, lalu melebar menjelajahi ke seluruh ruang wajah perempuan yang tak pernah dinikahinya itu, yang kian kelam dalam kulit gelapnya, dan turun perlahan ke perut Lorna yang semakin buncit dan matang. Seperti bisul yang hendak pecah. Dia diam. Dia tatap perut itu. Ada anaknya di situ. Sepertinya dia tercenung. Tidak ada tangan yang turun dalam perselisihan kali itu.

Setelah beberapa saat yang senyap, dia mendongak, menatap langit-langit ruangan dalam rumah sewaannya yang semakin lusuh. Dia hela napas, lalu mengembuskan kuat-kuat. Sebuah keputusan telah diambil oleh lelaki tak bertanggung jawab itu; ”Biarlah aku pergi mencari kebebasanku. Aku ingin hidup bebas, keluar dari kenyataan yang semakin gila di dalam rumah ini!”

Lorna diam menatap nanar Jimmy yang kurang ajar. Sementara Rodney dan Denise tak tahu apa yang sedang terjadi. Rodney sedang bermain basket dalam mimpinya, sementara Denise menikmati kembang gula.

Alasan bodoh Kirkpatrick itu sebenarnya tak pernah bisa diterima Lorna. Bodoh, sebab dalih itu dibuat-buat. Pada kenyataannya, Jimmy baru benar-benar dijemput ajal tahun 1992, hampir tiga dasawarsa setelah dia kabur dari tanggung jawab itu dengan alasan bodohnya. Atau sedasawarsa setelah Lorna dijemput kematian lebih dulu, tahun 1982.

Lorna menanggapi kaburnya Jimmy dengan bijak. Setidaknya, berusaha untuk bijak dan bisa menerimanya. Dia berpikir, untuk apa menahan kepergian seorang pria tak bertanggung jawab, yang hanya sibuk memikirkan pribadinya sendiri, yang sibuk mengurus kebebasannya, yang mungkin malah membuat hidupnya dan anak-anaknya makin berat? Sakit-sakitan lagi. Kesimpulan itu dia ambil dalam sakit hati. Bersama itu pula, dia merasa harus membenarkan alasan suaminya untuk pergi. Hanya upaya untuk menghibur diri saja, sebenarnya.

Jimmy Kirkpatrick pun minggat. Lesat. Dan hilang dari fragmen keluarga Lorna yang kian merana.

Tinggallah Lorna sebagai perempuan hamil tua yang tak bersuami. Lorna menunggu kelahiran si jabang bayi bersama kesibukannya sebagai pelayan toko, Rodney yang masih sangat kecil dan sibuk bermain dan Denise yang sibuk dengan imajinasi bocahnya. Lorna dalam kesepian dan melarat. Dan sakit hati.

Suara penyeru persamaan hak asasi warga kulit hitam membahana di Brooklyn, pada suatu malam di 30 Juni 1966. Suara ramai di jalanan menuntut persamaan hak. Di bagian lain kota, dua kelompok geng salih adu tembak.

Di antara desing kemelaratan dan keributan yang begitu khusyuk menggelayuti langkah kaki Brooklyn yang beradu-pacu dengan globalisasi itu, malam itu, Lorna mengalami kontraksi. Tetangga melarikannya ke Rumah Sakit Cumberland Catskill, Brooklyn, New York City. Setelah melalui sebuah proses persalinan yang tidak terlalu sulit, seorang bayi laki-laki lahir dari rahimnya.

Michael Gerard Tyson…” bibir pucat Lorna yang baru melahirkan menyebut satu nama untuk anak keduanya yang lahir tanpa ayah, tapi memerlukan nama seorang ayah untuk keperluan administrasi. Tangis si bocah miskin meraung memecah malam, lalu lekas hilang diterkam gemuruh New York yang angkuh.

Lorna tak memilih Kirkpatrick untuk nama si orok. Ayah biologis yang minggat itu tak pantas dibingkai dalam kenangan. Si bocah juga tak pernah mengenal bapaknya. Dan, Lorna sempat berpikir, memang sebaiknya si kecil itu tak tahu.

Lorna memilih nama mantan suaminya, Tyson, untuk disematkan di belakang nama si bayi. Dia merasa Tyson lebih pantas, karena dia adalah sosok yang bertanggungjawab, setidaknya dibanding Kirkpatrick. Lorna berpisah dengan Tyson baik-baik, melalui sebuah proses perceraian resmi. Bukannya diajak hidup bersama tanpa pernikahan, lalu ditinggal minggat ketika dia sedang hamil tua. Penanda nama anaknya itu sekaligus membuktikan bahwa masih ada sisa-sisa cinta untuk suaminya yang telah berlalu.

”Anak-anakku, Ibu selalu bersama kalian. Ibu akan membesarkan kalian. Sendiri. Seberapa pun keras kehidupan ini, Nak,” air mata Lorna membanjir ketika dia mengucapkan sumpah sebagai seorang ibu yang berusaha untuk bertanggung jawab di tengah kemiskinan dan rewelnya bias rasial, di hadapan Rodney dan Denise yang menanggapinya dengan tanya-tanya, dan bayi merah yang menjawabnya dengan tangis menjerit-jerit.

Haru biru mendayu-dayu di tengah Brooklyn yang tak pernah tidur, rusuh, bahkan saling bunuh. Brooklyn yang sebenarnya lelah, tapi terlalu sombong untuk beristirahat, demi mengejar tuntutan gaya hidup New York yang hedon akut dan tahu diri.

Pada sebuah masa ketika peradaban kulit putih Amerika memicing pada mereka-mereka yang berkulit hitam itu, seorang juara dunia sejati dilahirkan oleh seorang ibu kulit hitam yang perasaannya sedang tergencet.

Mike Tyson.

image (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s