Keep the Indonesian Pot Boiling

sukarnoyears.com

FAKTA politik-ekonomi negara kita ini bener-bener seperti dagelan yang ajaib lho. Mengheranken!

Leluhur kita dulu kan meriwayatkan, tanah kita ini tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Tinggal ditancepin saja, jleb! Langsung tumbuh berseroja menjadi sumber penghidupan yang tiada habisnya.

Kedigdayaan Sriwijaya di Sumatera yang dilanjutkan Majapahit di Jawa membawa negeri bahari ini berlayar menuju surga kemakmuran. Rakyat hidup berkecukupan dari hasil bumi dan perdagangan. Bahkan, seperti yang dikisahkan eyang Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik, Nusantara menjadi pusat peradaban dunia, di mana bangsa ngEropah sampai harus nyantrik, berguru di sini. Mbois to?

Tapi, itu dulu…

Kini? Pinjam lirik hits duet Reza dan Masaki Ueda; biarlah menjadi kenangan… Apes tenan, je

Ya, bagaimana lagi? Wong semua itu memang tinggal kenangan. Memori yang menjadi hiburan kita di tengah situasi yang semangkin semrawut ini. Ketika membandingkan kemakmuran Nusantara ala riwayat para sesepuh dengan kondisi kekinian, oh, kesannya gemah ripah loh jinawi, tanah subur dan sentausa itu hanya mitos, hoax yang tak pernah terjadi.

Kalau dulu dunia Barat nyantrik pada kita, menghamba-hamba minta ilmu pengetahuan dan hasil Bumi, lha kok sekarang kondisinya dibalik ekstrim; kita mbabu. Bukan lagi nyantrik, tapi mbabu, derajatnya jauh lebih hina, hina, dan hina lagi! Tahu babu? Kacung, kacung… Jongos. Ketiplak, yang kerjaannya cuma diinjak-injak untuk memberi kesenangan pada tuannya. Atau, lebih ekstrim lagi jadi paidon, tempat untuk idu, meludah, para juragan. Ya gitu itu, kita mengacungkan diri di istana surga kita sendiri.

Semua serba kancrut. Kita, rakyat sebuah negeri yang kaya sumber daya alam ini, selalu gerah dengan kebijakan harga. Ketika ada pengumuman harga naik, weh, langsung pontang-panting semua. Potensi rusuh terjadi di mana-mana. Dan itu adalah ciri khas negara dengan fondasi ekonomi yang rapuh.

Membabukan Diri

Ramai-ramai ribut dan panik kenaikan BBM ini tiba-tiba mengingatkan saya pada sebuah buku yang menceritakan bagaimana fondasi ekonomi negeri ini dibangun oleh ’kedermawanan yang ajaib’, hingga akhirnya terjerembab dalam dilema ekonomi tak berkesudahan. Buku itu adalah Cold War History: ‘Keep the Indonesian Pot Boiling’, Western Covert Intervention in Indonesia, October 1965-March 1966. Kira-kira artinya; Menjaga Periuk (Ekonomi) Indonesia Agar Tetap Mendidih’. Biar tetap hangat. Matang. Caranya adalah…..*drumroll*…. Eng ing eng; mengobral semua aset negara untuk asing! Katanya, ini buku ’berbahaya’. Weleh, weleh

Buku besutan David Easter itu menceritakan babak paling dramatis dalam perubahan fundamental sistem ekonomi Indonesia dari era Orde Lama ke Orde Baru. Alkisah, menyusul peralihan tampuk kekuasaan Indonesia dari Soekarno ke Soeharto, ketika ekonomi domestik kita sedang remuk kronis, parah sekali, diselenggarakanlah sebuah pertemuan antara para ekonom Orde Baru dengan para CEO korporasi multinasional di Swiss, Nopember 1967. Korporasi multinasional itu diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, antara lain, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, dan Chase Manhattan.

Nah, dalam pertemuan itu, jelas betul sifat ‘dermawannya’ ekonom negeri ini; Tim Ekonomi Indonesia menawarkan tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar. Sementara kekayaan alam Indonesia dibagi-bagi pada perusahaan asing bagaikan rampasan perang. Freeport mendapat emas di Papua Barat, Caltex mendapatkan ladang minyak di Riau, Mobil Oil mendapatkan ladang gas di Natuna, perusahaan lain mendapat hutan tropis.

Baik hati to para ekonom kita pada masa itu? Dermawan to? Atau pasrah? Secara sadar diri membentuk mental babu? Silahken menyimpulken sendiri.

Yang jelas, sejak seremonial ‘bagi-bagi rezeki’ di ngEropah itu, langsung saja kapitalis-kapitalis Barat yang sudah sejak lama gemes kepingin menggerogoti negeri kita, tapi terbentur tembok tebal bernama Soekarno yang nasionalis itu, membabibuta. Kemaruk. Seluruh kekayaan alam kita yang indah ini langsung diganyang, dibabat habis hingga ke akar-akarnya. Dan kita, ya kita waktu itu, dengan senang hati mempersilahkan dan menonton penggerogotan itu. Kita dengan riang mempersilahkan orang asing ‘menggagahi’ surga kita. Monggo, monggo, sekeca’aken, selamat menikmati…

Fakta itu juga didokumentasikan dengan apik oleh Jhon Pilger dalam film The New Rulers of World (lagi-lagi tak boleh diputar di Indonesia, tapi tersedia di situs video Google) yang menggambarkan bagaimana awal negara kita membabukan diri di telapak kaki asing. Kebijakan ekonomi pro-liberal sejak saat itu diterapkan.

Hingga kini.

Orientasi pertumbuhan ekonomi hanya pada modal-modal yang terkonsentrasi, milik sekelompok kecil aristokrat modern, bukan untuk kemaslahatan rakyat. Apakah memang hanya itu cara untuk menjaga ‘periuk nasi’ negeri ini?

Pemahaman keep the Indonesian pot boiling yang mengurat akar hingga sekarang itu telah membentuk pribadi-pribadi penentu kebijakan selanjutnya dalam mental babu. B-A-B-U, babu. Seluruh kebijakan yang diambil selalu berdasarkan kepentingan modal, domestik maupun asing, bukan demi kemaslahatan rakyat. Ya, memang, negara telah menjalankan fungsinya sebagai pelayan dengan baik. Tapi, pelayannya juragan, bukan rakyat!

Nih, contohnya nih. Ketika semua pada ribut, fokus hanya pada kenaikan BBM, ada yang sedang senang menggerogoti duit subsidi, lho

Subsidi BBM 2013 hanya Rp198,3 triliun untuk 250 juta rakyat itu diributkan, katanya salah sasaran. Tapi, subsidi Rp155 miliar untuk Pemilik Group Lapindo –yang masuk 40 orang terkaya di dunia dengan jumlah total kekayaan Rp7,355 triliun itu– tidak diributkan! Katanya untuk bantuan menyelesaikan masalah di Porong. Lha wong swasta yang bikin masalah lho, kenapa pemerintah ikutan rempongWeleh, weleh

Inilah bukti bahwa subsidi bahan bakar minyak itu tidak tepat sasaran. Hanya alasan rezim babu kapitalis itu.

Lalu, kapan kita para jelata mendapatkan hak untuk rediscovery of urip gemah ripah loh jinawi seperti zaman kedigdayaan Nusantara dulu?

Kalau yang menjawab Koes Plus; kapan-kapan, kita berjumpa lagi. Kapan-kapan, kita bersama lagi….

Dan dengan optimisme yang nyaris putus asa, kita akan selalu bertanya; kapan, Gan…? Kapan….?

Ah, menyadari situasi ini, saya teringat sebuah petuah bijak: ”Pemerintah yang baik ialah yang berorientasi kepada kepentingan rakyat banyak, bukan berorientasi kepada sekelompok kecil tuan-tuan besar yang hidup di gedung bertingkat dilingkungi kaca seperti permen dalam peles.” (Mahbub Djunaidi)

Kita, setidaknya saya, sangat merindukan pemimpin seperti itu. Kok rasanya agak gimana gitu, kalau dalam pesta demokrasi bernama Pemilu itu ternyata kita urun suara untuk milih babu-babu kapitalis baru. Sementara kita, para pemilik suara penentu ini, para stabilisator iklim (yang katanya) demokratis ini, masih terus, dan terus, dan terus bertanya bersama harapan-harapan yang semangkin cemas; kapan giliran kami, Gan…?

Mungkin yang menjawab pertanyaan itu malah Mas Joyoboyo, proletar legendaris penjaja panggang ayam khas Klaten dalam sketsa-sketsa Umar Kayam itu: penggeng eyem, penggeng eyem….

calltohumanity.wordpress.com
Advertisements

3 thoughts on “Keep the Indonesian Pot Boiling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s