Mbok Ya Mikir, Mikir….

SAYA itu tidak pernah setuju sama aksi turun ke jalan memprotes kebijakan kenaikan bahan bakar minyak itu. Ciyus… *halah*

Sampeyan semua mau menuduh saya tidak nasionalis, monggo, terserah. Saya ini tidak setuju aksi turun ke jalan itu justeru karena saya ini cinta negeri ini.

Kenapa saya tidak setuju? Sebab, aksi-aksi seperti itu banyak mudaratnya. Banyak yang menunggangi untuk kepentingan politis, bukan untuk kepentingan kita-kita para jelata ini. Sekarang coba sampeyan pikir dengan akal sehat dan hati nurani yang luhur, apa sih faedah aksi-aksi seperti itu, selain hanya untuk gaya-gayaan?

Aksi turun ke jalan, jelas, membuat lalu lintas terganggu. Mobilitas ekonomi, seperti angkutan umum atau barang dan jasa, akan tersendat. Perputaran kapital, khususnya di wilayah-wilayah pusat perputarannya seperti Jakarta, akan terhambat. Ini buruk. Kalau perputaran kapital terhambat, posisi rupiah akan melemah. Dan, itu artinya moneter kita makin nyungsep.

Kalau terus-terusan seperti itu, investor bakalan mikir berjuta kali mau nyumbang modal. Kalau investasi kabur, lapangan kerja bakal makin sempit. Tak percaya? Hayo, coba sampeyan tanya langsung sama para begawan ekonomi sana. Saya berani bertaruh mereka bakal mengamini. Kalau lapangan kerja kian terkikis, bisa-bisa sampeyan yang merasa gagah ikutan aksi itu malah menambah panjang daftar sarjana nganggur pas lulus nanti.

Selain itu, aksi turun ke jalan, yang katanya mengatasnamakan rakyat itu, justeru menzalimi saudara sendiri. Ini menurut saya lho ya. Seperti disinggung tadi, aksi itu menghambat mobilitas. Masyarakat yang menggantungkan hidupnya di jalanan, seperti sopir yang harus kejar setoran, kan rugi. Mereka kena macet. Trayek tak tepat waktu. Setoran kurang, mereka kena damprat juragan. Apa sampeyan, hai para pendemo, tidak memikirkan itu? Mereka itu rakyat juga lho, yang katanya sampeyan wakili dalam aksi itu. Ngaku ngewakilin kok malah bikin susah…..

Juga, yang terhormat para pengunjuk rasa, aksi sampeyan-sampeyan itu menimbulkan ketakutan dan keluhan dari saudara-saudara sampeyan sesama rakyat sendiri. Mereka was-was keluar rumah, padahal bisa saja harus ada keperluan penting di luar rumah yang harus mereka selesaikan. Urusan mereka itu terganggu gara-gara ulah pendemo.

Belum lagi aksi yang ujungnya rusuh, sampai ada pengunjuk rasa yang kebedil, seperti di Ternate sana. Situasi jadi tambah keruh kan? Sudah nekat, rugi, apa faedahnya? Nggak ada! Yang ada situasi makin rusuh, makin keruh, saling curiga, konstelasi politik semakin panas, sementara harga BBM tetap saja naik to? Malahan, bisa jadi aksi itu bakal melenceng dari sasaran. Bukan fokus protes pada kebijakan, tapi mbleber menuju aksi solidaritas. Apalagi kalau pers ikut kipas-kipas, wes, alamat tambah suedep!

Kita semua merindukan perdamaian. Kita semua, rakyat Indonesia, sama-sama mendambakan kehidupan ekonomi yang lebih baik. Bukan kerusuhan-kerusuhan mudarat seperti itu. Rakyat Indonesia itu sudah terlalu lama hidup dalam kecemasan-kecemasan. Janganlah ditambah cemas dengan aksi turun ke jalan seperti itu.

Alur cerita negeri ini bukankah membuktikan jelas bahwa kenaikan harga BBM itu tak pernah bisa dihentikan dengan aksi seperti apapun? Bukankah kejadian itu terjadi berulang dan berulang? Tidakkah kita belajar bahwa aksi turun ke jalan menolak kenaikan BBM itu bukan solusi, malah menghadirkan kekacauan? Maka dari itu, ingat wejangan Bung Karno; belajarlah dari sejarah!

Daripada demo-demo nggak jelas seperti itu ya, adik-adik mahasiswa, mending sampeyan lebih tekun belajar di kampus. Belajar untuk mengurai, kenapa ekonomi negeri kita ini bisa kocar-kacir seperti ini. Kenaikan BBM itu hanya pucuk gunung es dari  keseluruhan masalah politik dan ekonomi Tanah Air. Daripada menghabiskan energi untuk demo yang berujung rusuh itu, bukankah lebih baik sampeyan semua belajar di kampus, analisis akar masalahnya, lalu carilah solusi? Lihatlah permasalahan secara komperehensif, jangan berkacamata kuda dan menjustifikasi sebuah problematika dari sudut pandang parsial!

Sekadar sampeyan semua tahu, ya. Kenaikan BBM ini perlu untuk menekan laju inflasi. Kalau harga bahan bakar tidak naik, lalu inflasi menggila, apalagi sampai tembus 650% seperti di akhir Orde Lama itu, buntutnya harga sembako menggila, kemiskinan meluas, barisan pengangguran semakin panjang, apa sampeyan tidak mikir sampai situ?  Sekali lagi, kalau sampeyan mahasiswa itu merasa gagah sebagai cendekiawan, belajarlah untuk melihat permasalahan secara utuh!

Harusnya yang sampeyan serang itu bukan kebijakan kenaikan harga BBM itu. Tapi, kebancian pemerintah yang takut menasionalisasikan ladang minyak kita yang begitu melimpah. Investasi asing menggurita di sumber-sumber kekayaan negeri ini, sehingga kita tidak punya kedaulatan untuk mengendalikan harga. Dalam aksi, harusnya itu yang dibidik, bukan soal kenaikan harga BBM-nya. Selama sumber-sumber alam kita masih dikuasai asing, ya selama itu pula kita bakal mbabu di negeri sendiri, dan digencet kebijakan harga bahan bakar.

Inilah yang menjadi tugas Anda semua, hai mahasiswa yang hobi turun ke jalan. Daripada menghabiskan energi dan waktu untuk aksi yang tak ada faedahnya sama sekali, belajarlah untuk berpikir panjang, mengurai permasalahan secara utuh dan mendasar, lalu cari solusi untuk jangka panjang. Mbok ya mikir to, mikir….

Ah, sepertinya memang ’cendekiawan muda’ kita terlalu terpesona pada momen-momen insidentil dan tergila-gila pada upaya tampil gagah-gagahan, tapi (sengaja atau tidak) malah lupa pada nasib saudara-saudara sesama rakyat Indonesia. Hanya mengedepankan intelektualitas bernalar pendek tapi abai pada pertumbuhan sikap yang sehat.

Kalau mahasiswa-mahasiswa peserta aksi itu hanya patuh pada momen-momen pendek –seperti terpaku pada kebijakan kenaikan harga BBM–, enggan berpikir panjang, saya berani bertaruh, kelak ketika mereka menjadi bagian dari pengambil kebijakan, kelakuan mereka akan sama persis, bisa jadi jauh lebih memalukan, daripada birokrat-birokrat sekarang yang selalu mereka hujat itu.

Kita, setidaknya saya, hanya bisa berharap semoga saja itu tidak terjadi. Hujatan tanpa solusi dan berujung konflik itu hanya kelakuan para durjana. Dan, saya yakin, cendekiawan itu bukan durjana.

Sekian.

Wartawan Trans 7 terkena tembak aparat. Aksi gagah-gagahan makan korban, tapi harga BBM tetap naik.(news.viva.co.id)

Advertisements

8 thoughts on “Mbok Ya Mikir, Mikir….

  1. ga setuju ga bakal dituduh ga nasionalis juga mas,ya salah satu buktinya yang sepakat di dewan semalam juga lebih banyak 🙂 setauku ga perlu dari luar ada yg menunggangi kegiatan mahasiswa berdemo, niat awal emang sudah macam2,ada yang benar berangkat dari kegelisahan dan memikirkan beban hidup entah itu masyarakat kebanyakan atau mikir diri sendiri,ada juga yang memang by order demonya. dari bukunya mas kalo aku ga salah mengerti, almarhum hugo pun sebelum akhirnya bisa menasionalisasikan tambang2 minyak di negaranya,meretas jalan melalui kudeta meskipun gagal,itu bentuk lain dari demo atas segala ketidakbecusan yg terjadi di negaranya includ masalah minyak.
    cuman mahasiswa sekarang memang perlu mencari alternatif cara berjuang yang lain(demo damai misalnya).tapi apa ia berhasil jika damai?yang ga damai aja ga diperhatiin,hehehehe pemerintah kadung muka tembok. kalo ga salah jg dibuku hugo itu mas nulis “kita tinggal milih jalan mana yang akan kita pakai untuk berperan atau menang dalam medan perang kehidupan yg ada saat ini (semoga aku ga salah mengadopsi,hehehee),nah mungkin peran itu yg dipilih oleh ade2 mahasiswa 🙂 btw…..senang bisa baca tulisannya hampir tiap hari

    • Yap, setuju. Tapi ada permasalahan fundamental yang membedakan antara Indonesia dan Venezuela; Hugo Chavez tahu apa semangat nasionalisme, dan ketika berhasil mengambilalih kekuasaan, dia langsung bergerak cepat menasionalisasi semua kekayaan alam. Kita? Setelah berhasil mengambil pucuk kebijakan, bukan merombaknya, tapi malah meneruskan metode sistem yang dijatuhkan itu hanya dengan kemasan baru. Meminjam istilah dua album Cokelat; “Luka Lama, Rasa Baru” 🙂 Siapa yang berupaya merombak malah digilas oleh sejarah. Contoh; almarhum Gus Dur. Dia berusaha mengubah pandangan politik ekonomi negeri ini yang kadung salah urus, tetapi dia malah dijungkalkan dengan cara memalukan toh?

      Oiya, soal sasaran, juga beda. Chavez membidik penggulingan sistem pemerintahan yang sangat menghamba pada barat. Dia benar-benar menyasar akar permasalahan. Kalau mau kebijakan ekonomi berganti, ya pengambil kebijakannya yang harus diganti. Dia berpikir dalam kerangka jangka panjang. Kita? Yang kita bidik hanya kebijakan-kebijakan insidentil, tapi tidak menyentuh akar permasalahannya. Dan ketika tujuan berhasil, ya sudah, tidak ada upaya untuk menjaga prinsip awal yang dibela.

      Demonstrasi negeri ini sudah melenceng dari khitahnya. Politik itu dunia akting. Mereka berteriak-teriak mengutuk ketidakadilan, tapi melempem ketika mendapat jatah kue kekuasaan. Maka dari itulah, kalau Mbak sempat baca ‘Catatan Seorang Demonstran’ besutan almarhum Soe Hok Gie, dia kecewa dengan rekan-rekan perjuangannya. Karena itulah dia memilih untuk pensiun dan menikmati gunung hingga akhir hayatnya.

      Terima kasih sudah sudi mampir. Senang bisa berbagi. Dan saya lebih senang lagi jika ada masukan untuk saya. Salam. 🙂

  2. ya,kalo dipikir pikir seharusnya waktu demo 1998 kita bukan mereformasi tapi revolusi,karena ya begini akhirnya sejarah seperti mendaur ulang.yang bisa cuci tangan ya cuci tangan,yang merasa tangannya harus di amputasi ya memotong tangannya,agar bisa eksis di dunia reformasi.dan seharusnya memang mahasiswa berdemo bukan hanya soal kebijakan musiman ini.
    dan kalo bisa sebenarnya mahasiswa lebih baik mengambil peranan yg sedikit lebih tinggi yaitu mengedukasi masyarakat,entah dengan pamflet atau pendekatan2 ketika sedang praktek lapangan semisal kkn jadi masyarakat melek dengan kondisi yg ada dan bisa satu rasa,aksi untuk berjuang dari dan untuk atas nama rakyat,tidak seperti saat ini.
    selain menguatkan idealisme,niat mereka sendiri hingga kejadian pada era soekarno yg di gambarkan gie tidak terulang,jg era 1998(liat saja yg ada di dewan rata2 pernah berdiri di lapangan di mei berdarah waktu itu)sayangnya bapak amien rais pun tdk mampu atau menghianati seperti soekarno(dlm pemikiran gi)
    “mereka generasi tua(soekarno dll)semuanya pemimpin yg harus ditembak dilapangan benteng….bla bla aku lupa :)kebenaran hanya ada dilangit dan dunia hanyalah palsu,memberantas generasi tua yg korup adalah tugas kita kata gie kurang lebih begitu kalo ga salah.atau ahmad wahid di buku pergolakan pemikir islam hampir mirip2 dengan soe hok gie,cuman lupa deng kalimat mana yg bagus dikutip untuk kasus ini,:)

    • Ya, beginilah Mbak, sejarah kita ini dibangun dengan pondasi yang keliru, setidaknya menurut saya setelah baca-baca sejarah yang udah ‘bebas dari hijab’. Setelah Soekarno lengser, hal pertama yang dilakukan Soeharto kan ‘bagi-bagi kue rampasan perang’ yang sempat hendak dinasionalisasi. Emas Papua buat Freeport, Natuna buat Exon, bla, bla, bla. Ya akhirnya jadi begini ini fakta ekonomi dalam negeri. Kita jadi semacam pembantu di rumah kita sendiri. Yang diupah di bawah standar. 🙂

      Soal pergulatan reformasi, itu ya sandiwara juga, Mbak. Pemainnya ya itu-itu saja. Kalau kepingin tahu lebih jauh tentang fakta-fakta di balik ‘peletakan pondasi reformasi’ kita, Mbak bisa simak buku yang baru terbit “Indonesia X-Files” tulisan dokter Mun’im Idris. Kebetulan saya yang menyunting itu. Sampeyan bakal tahu bahwa reformasi itu juga dagelan yang sudah diatur kok, hehehe. Atau insya Allah bulan depan buku saya berikutnya “Forensik Itu Lucu”, memoar dr Mun’im Idris. Dia dokter forensik yang sering dilibatkan dalam ‘sandiwara politik’ terutama terkait kasus kematian, seperti kematian Munir, Marsinah, Nasrudin Zulkarnaen (tersangkanya Antasari) dan lain-lain.

      Makanya, orang-orang punya prinsip dan bener-bener ngerti sosio-psikografis rakyat Indonesia ini selalu tersingkir. Seperti Gie, Gus Dur, atau lebih jauh ke belakang ada Tan Malaka. Politik ekonomi kita ini dibangun dengan pondasi keliru dan paranoid. Ketika ada pandangan baru, langsung ditolak. Wong saya sebelum launching buku Hugo Chavez saja sudah dituduh menyebarkan propaganda komunis sama beberapa ‘intelektual terkemuka’ di Jakarta kok. Gara-garanya soal wacana nasionalisasi minyak PDVSA dan emas di Venezuela. Kan repot…. 🙂

  3. 🙂 mungkin ini pembelaan diri,hehehe maaf makassar terkenal dengan demo rusuh belakangan ini,tapi kalo mau melihat sejarah pergerakan sebelum akhirmya momentum itu bernama reformasi di mei 1998.sekelompok pemuda yg berisi 9 orang memberi nama diri mereka “fosis” seingatku kelompok inilah yg duluan turun kejalan dengan spanduk besarnya longmarch dari kampus mereka menuju dprd mengritik kebijakan2 pemerintah saat itu.meminta soeharto turun dan tidak mencalonkan diri lagi,gerakan yg banyak organisasi mahasiswa dipusat belum melakuannya,bahkan aku ingat anas urbaningrum yg waktu itu ketua hmi sungkeman dan mengucpkan selamat pada soeharto atas terpilihnya kembali beliau,meski tidak bergaung kalo tdk salah mengingat demo ini dimuat dimajalah tempo.jadi.jadi sbelum pergerakan itu ahirnya ditunggangi oleh muatan2 politik,niat awalnya ya benar2 demi rakyat dan kprihatinan mendalam atas masalah negeri dan mahasiswa setidaknya mengambil perannya sebagai sosial of control…itu yang kupahami,itu yang menjadi niat ketika aku berdiri di jalanan bersama 8 0rang teman yang lain dengan menggunakan baju yg disablon “turunkan soeharto”!!!.saat itu aku semester 3,selebihnya ya perjuangan menjadi milik teman2 yg lebih dekat dengan kekuasaan dan mengklaim hal2 tertentu(jd curhat)dan ku akui teman2 jd bablas dan rasanya menjadi lebih jahat drpd pemimpin2 atau yg berada di lingkar kekuasaan dlm mengambil kebijakan.karna mereka pernah dijalan tapi lupa dengan niat dan apa2 yang mereka perjuangkan ketika berada di lingkaran kekuasaan itu sendiri#miris. insyaallah kalo sempet ke gramedia aku bakal nyari buku yng sudah dirkomendasikan,makasih infonya mas.

    • Yah itu mbak. Niatnya memang baik, kita semua harus mengakui dan salut untuk itu. Saya secara pribadi, yang ketika momen itu baru saja lulus SMA, pun angkat tabik. Tapi, yang terjadi pada kebanyakan pada demonstran kini, mereka kurang bisa menjaga konsistensi niat baik itu. Ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk berkuasa, yah begitulah, hehehe 🙂

      Oh iya, Mbak di Kalimantan kan? Barangkali ada info tentang Blok Mahakam dan rencana nasionalisasinya, mungkin bisa di-sharing. Terima kasih sudah mau berdiskusi. 🙂

  4. saat ini aku di kota wajo mas,sebuah kota kabupaten dari prop sulsel.nanti saya tanya2 deh mengenai blok mahakam.insyaallah besok mau ke balikpapan.sama sama maksih sdh bisa baca buku dan catatannya mas,itu anugrah buat saya yg jauh dari kota dan sangat susah nyari buku.kemarin beli bukunya mas nitip temen kebetulan sy follow penerbit imania dan ada informasinya..sekali lagi makasih karena mas saya bisa berkenalan dengan jo dan bikin blog 🙂

    • Kembali kasih, Mnak. Senang bisa kenal dengan saudara di luar Jawa. Semoga kita terus bisa berbagi tentang Indonesia tercinta ini melalui tulisan-tulisan yang menyegarkan. Terus menulis, Mbak. Karena menulis itu proses membebaskan. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s